My Secret Admirer

My Secret Admirer
BAB 7 GUE NGGAK SUKA


__ADS_3

" Eh iya Kak Kemarin abangnya Sandra titip salam buat Kakak.”


" Beneran ” Naura tidak bisa menutupi rasa antusiasnya. Ia mencondongkan tubuh mendekati Luna yang sedang membereskan buku-bukunya di meja ruang tamu.


Luna mengangguk kemudian melanjutkan kalimatnya. " Emangnya Kakak kenal sama Bang kepin ,”


" Namanya Kevin " Naura mengoreksi.


Mulut Luna membentuk huruf O.


" Habisnya Sandra Panggilnya Bang Kepin aku jadi ikut-ikutan,"


Naura tersenyum membayangkan Panggilan lucu dari adiknya Kevin


" Kevin itu senior Kakak di sekolah Nggak nyangka, ternyata dia abangnya teman kamu.”


" Udah, ah. Luna mau istirahat.” Luna beranjak menuju kamarnya sambil memeluk beberapa buku dan alat tulis.


Naura mengekor di belakangnya. " Dia tanya apa aja tentang Kakak,” cecarnya kepada Luna.


" Ih, kepo, deh "


Naura tidak menyerah. Ia ikut masuk ke kamar Luna yang juga kamarnya Mereka berbagi kamar dan kasur yang sama sejak kecil.


" Kasih tahu, Lun " desak Naura lagi. Ia mengikuti Luna yang baru saja berbaring di kasur sambil menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.


" ini masih sore jangan tidur dulu Cerita dulu sebentar,"


Belum juga Naura berhasil membujuk Luna untuk bercerita, sebuah Pesan masuk ke Ponselnya. Naura membukanya dan senyumnya langsung merekah ketika membaca nama si Pengirim Pesan.


Panjang umur.


...Kevin...


...Naura sore ini ada waktu sebentar Gue mau minta tolong lo temenin gue cari kado buat Sandra. Besok dia ultah....


Naura menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. Sekilas, terlintas ucapan Nadin dan Fira yang bersikeras melarangnya terlalu dekat dengan Kevin selagi misinya belum berhasil Namun, di sisi lain ia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan.


...Kevin...


...Tapi kalo lo sibuk, gpp gw cari kado sendiri aja....


Naura buru buru-buru mengetik Pesan balasan sebelum Kevin urung mengajaknya jalan


...anastasyaNaura...


...Bisa, Kak. Aku bisa sore ini Kita ketemuan di mana? ya...


Biarlah untuk sekali ini saja Naura menyenangkan diri sendiri sebelum berhadapan kembali dengan si Kutub Es besok. Toh, Nadin dan Fira juga tidak tahu.


Kevin menanyakan alamat rumah Salsa untuk menjemput. Namun Naura menolak dengan alasan yang dibuat buat.


...anastasyaNaura...


...Jangan, Kak Kebetulan aku lagi di luar, biar sekalian ke lokasi aja....


Ada satu hal yang dicemaskan Naura apabila Kevin datang ke rumah untuk menjemputnya, yaitu Maria. Pasti mamanya itu akan marah habis-habisan karena mengira ia sudah Punya Pacar. Sebab, mamanya sudah sering mengingatkan bahwa Salsa tidak boleh Pacaran sebelum lulus sekolah.


Akhirnya Kevin setuju untuk bertemu di salah satu mal yang dekat dengan sekolah mereka.


Sekarang Pada Minggu sore ini Naura harus memikirkan sebuah alasan agar Mama mengizinkannya Pergi ke luar rumah. Selama ini, Naura tidak dibolehkan berpergian bila tidak ada manfaatnya. Dan alasan kerja kelompok bersama Nadin dan Fira sejauh ini Paling sering berhasil membuatnya bisa meninggalkan rumah. Namun sialnya, siang tadi Naura sendiri yang bilang kepada mamanya bahwa hari ini tidak ada janji kerja kelompok.


Setelah berpikir keras Naura hanya menemukan satu hal yang dijamin ampuh untuk membuat Maria mengizinkannya ke luar rumah sore ini


...••••...


" iya Sandra itu adik gue Dan ternyata gadis manis yang namanya Luna


Itu adik lo, "


Naura membalas senyuman Kevin dengan malu-malu Mereka kini berjalan bersisian menyusuri Pertokoan di dalam mal.


Naura tidak sanggup membendung rasa senangnya saat ini. Berjalan bersama cowok yang disukainya di luar sekolah berbincang santai tanpa seragam Semua terasa seperti mimpi. Naura hampir kehilangan kata kata sejak menemukan Kevin yang menunggunya di lobi mal beberapa waktu lalu. Kevin tampak berbeda tanpa seragam sekolah. Cowok itu mengenakan kaus hitam dan celana jins biru Benar-benar keren.


Naura berutang satu permintaan kepada Luna. Karena berkat mulut manis Luna, Naura dibiarkan Pergi ke luar. Salsa tahu betul mamanya selalu menuruti kemauan Luna.


" Menurut lo gue kasih kado apa buat Sandra,"


Suara Kevin seketika menyadarkan Salsa ke alam nyata


" Hm ... Sandra itu anaknya gimana,"


" Ya sama seperti anak-anak seusianya Mungkin nggak beda jauh kayak Luna Periang, kepo, suka main game, dan suka banget akting,"


Naura mengetuk ngetuk bibir dengan telunjuknya. Matanya mengernyit sambil memandang lurus ke depan. Ia tampak serius berpikir sampai tidak sadar Kevin tersenyum melihat tingkah lucunya.


" Mungkin Kakak bisa kasih sesuatu yang spesial.” Naura menoleh kepada Kevin yang masih tersenyum kepadanya.


" Kenapa " tanya Naura heran ketika menyadari Kevin terus menatap sambil tersenyum.


Kevin menggeleng menahan gemas karena kepolosan Naura


" Nggak ada apa-apa Maksud lo spesial gimana,"


" Misalnya Kakak Parodiin film kesukaan Sandra. Pasti Sandra senang banget nontonnya. Kayak contohnya Luna suka banget sama dongeng Putri Salju. Aku dari dulu Pengin banget Parodiin cerita itu buat dia.” Naura membayangkan Luna. Keinginannya itu sudah terlintas sejak lama, tapi belum bisa diwujudkan sampai saat ini.


" Gue jadi Pangeran lo jadi Putri Salju nya. Gimana,"


" Eh " Naura berhenti melangkah sambil menoleh kepada Kevin yang juga ikut berhenti di sebelahnya.


" itu cuma contoh Kak Sandra, kan belum tentu suka cerita Putri Salju juga,"


Kevin tertawa kecil. " Lagian Nggak keburu juga, Ra Sandra ulang tahunnya besok,"


" iya juga "


" Punya ide lain "


Naura kembali melakukan gerakan serupa ketika sedang berpikir Telunjuknya terus mengetuk-ngetuk bibirnya.


" Lo kalo lagi mikir harus begitu, ya," tanya Kevin gemas setengah mati.


" Lo kayak minta dicium, tahu, Nggak,"


Naura dengan cepat menurunkan tangannya kemudian menoleh salah tingkah kepada Kevin


" Sorry, Kak. Kebiasaan,"


Kevin mengangkat tangannya hingga menyentuh Puncak kepala Naura


" Lo gemesin banget sih,” katanya seraya mengacak Pelan rambut Naura


Naura mendadak gugup Sentuhan tangan Kevin di kepalanya seolah mengurangi Pasokan oksigen di sekitarnya. Ia hanya berharap Kevin tidak menyadari wajahnya yang sudah semerah tomat saat ini


Keduanya menghabiskan waktu yang menyenangkan sambil berkeliling mencari kado untuk Sandra. Setelah melalui Perdebatan yang cukup Panjang, mereka sepakat untuk membelikan Sandra tas sekolah baru Menurut Naura tas jauh lebih baik daripada Pilihan lain yang ditawarkan Kevin, seperti iPad atau Ponsel baru Benda benda itu terlalu mewah untuk dihadiahkan kepada anak kelas VI SD


Sepertinya Kevin keliru menyamakan Luna dengan Sandra Sebab Luna tidak Pernah dimanjakan dengan barang barang mewah seperti itu.


Naura membiarkan Kevin berjalan melewatinya sementara dirinya refleks berhenti melangkah dan buru-buru bersembunyi di balik etalase aksesori Ponsel ketika seseorang bersorot mata dingin itu tertangkap Pandangannya Arkan ada di sini. Bagaimana bisa ?


Tidak lama kemudian Kevin sudah berada di hadapan Naura


" Lo Kenapa "


Naura berusaha bersikap seperti biasa


" Ng-nggak apa apa Kak Cuma lagi lihat-lihat Pajangan aja Bagus bagus,” katanya sambil menyentuh tanpa minat berbagai casing Ponsel di dekatnya.


" Lo lagi cari flip cover,"


" Nggak sih Cuma lihat lihat aja.” Naura meletakkan kembali sebuah flip cover yang diambil asal, kemudian menoleh hati hati kepada Arkan yang berada tidak jauh darinya. Naura tidak yakin Arkan menyadari keberadaannya. Bisa gawat kalau Arkan melihatnya jalan dengan Kevin Bisa makin susah Naura mencairkan si Kutub Es itu.


" Kak aku Pulang duluan ya Udah malam,” Pamit Naura dengan mata sesekali mengawasi keberadaan Arkan


" Kita makan dulu yuk Baru habis itu gue antar Pulang.”


Naura sungguh tergiur dengan semua tawaran itu. Namun, kali ini ia menyadari misinya jauh lebih Penting Ia tidak boleh lupa bahwa keinginan terbesarnya saat ini adalah bertemu dengan Miracle-nya


" Nggak usah Kak Lain kali aja. Aku udah janji sama Mama, Nggak akan Pulang malam-malam Aku duluan ya Kak,"


Naura berniat berbalik Pergi tetapi suara Kevin kembali mencegahnya


" Gue antar Pulang kalau gitu.”


" Aku bawa motor, Kak,” kata Naura beralasan.


" Aku bisa Pulang sendiri Tolong sampaikan salamku buat Sandra, ya Bye.” Naura melambai singkat kemudian bergegas Pergi ke arah berlawanan dengan tempat Arkan berada, meninggalkan Kevin yang kebingungan dengan sikap anehnya


Naura tidak langsung Pulang setelah menjauh dari Kevin. Ia justru berbalik arah dan mengamati Arkan dalam jarak aman. Biar bagaimanapun, ia masih menjalankan misi. Informasi sekecil apa pun bisa ia manfaatkan untuk mencairkan hati cowok itu.

__ADS_1


Kadang-kadang Naura merasa dirinya Pintar juga.


Menurut Naura Arkan berpakaian terlalu rapi untuk sekadar jalan jalan di mal. Kemeja Putih berbalut jas dan celana serba hitam. Rambutnya juga tampak lebih rapi dari biasanya. Dan harus Naura akui, Penampilan


Arkan dengan setelan jas membuatnya tidak cukup menatap hanya sekali Naura butuh beberapa kali meyakinkan dirinya bahwa cowok berpenampilan menawan itu memang Arkan Rupanya Arkan tidak sendiri. Naura melihat seorang anak laki-laki berpenampilan serupa berjalan mengekori Arkan yang terus melangkah Tanpa tujuan jelas Anak Laki-laki yang diperkirakan Naura berumur sekitar lima tahun itu berjalan dengan langkah lemah. Ia tampak sangat kelelahan mengikuti Arkan


Merasa kasihan Naura menghampiri bocah itu kemudian menggendongnya.


" Kak kasihan nih adiknya kecapekan,"


Arkan berbalik dan menemukan Naura sudah ada di sana sambil menggendong bocah kecil yang datang bersamanya


Arkan sempat heran melihat Pemandangan itu Biasanya Ken tidak mudah menerima orang asing. Namun bocah itu tampak tenang berada di gendongan Naura


" Dia sampai keringetan, loh, Kak,” keluh Naura sambil mengusap keringat di kening bocah itu


" Padahal udah ganteng Pakai jas begini Jangan jahat jahat sama adiknya.”


" Lo Ngapain di sini "


" Harusnya aku yang tanya balik Kakak Ngapain ke mal Pakai jas ? Mau kondangan,"


Arkan memutar bola mata sambil berdecak kesal.


" Turunin Ken Jangan coba-coba Lo culik dia,"


" Jadi namanya Ken ? Lucu banget.” Salsa menyentuh gemas Pipi Ken yang seperti bakpao.


" Turun Ken " Perintah Arkan sambil menarik tangan Ken.


Naura mencegahnya. " Kasihan Ken udah capek. Biar aku gendong aja ke tempat tujuan. Emangnya mau ke mana, sih,"


" Pulang " Arkan mengambil alih Ken dari gendongan Naura


Naura masih mengikuti. Ia mencoba mengimbangi langkah cepat Arkan


" Aku boleh ikut nggak ? Nebeng sampai Perempatan jalan,” Naura hanya mencoba Peruntungannya, walau ia yakin seratus Persen Arkan akan menolak mentah-mentah.


Arkan menoleh dengan kesal. " Gue Nggak suka sama lo,” Arkan menekankan dua kata utama, seolah berharap Naura tidak salah mendengar Perkataannya.


Bila kata suka akan menjauhkan Naura darinya, Naura akan mengucap tidak suka setiap hari agar tidak kehilangan gadis itu.


Kata-kata Pedas Arkan sukses membuat Naura berhenti melangkah. Ia membiarkan cowok itu Pergi menjauh membawa serta Ken di gendongannya


Naura kesal dibuatnya. " Emangnya gue tanya dia suka gue apa nggak,”


Naura terus mengeluh Bagaimana ini Padahal Naura mengira Arkan sudah mulai menyukainya. Namun rupanya cowok itu sulit sekali ditebak.


...••••...


Arkan memasang sabuk Pengaman untuk Ken yang duduk di sebelahnya Bocah itu sudah terlelap. Benar yang dikatakan Naura tadi, Ken terlihat sangat kelelahan. Dan, Arkan menyesal melibatkan bocah itu karena emosi semata.


Setelah mengenakan sabuk Pengaman sendiri, Arkan memegang setir mobil kuat kuat. Perasaannya masih bergejolak tidak karuan. Lama-lama ia bisa gila bila keadaannya seperti ini terus.


Tiba-tiba Ponsel di saku jasnya berdering. Arkan buru-buru meraihnya sebelum suaranya membangunkan Ken


" Iya, Tan,” jawab Arkan setelah sekilas membaca nama Tantenya Mira sebelum menjawab Panggilan itu.


" Arkan ya ampuuun ini udah dua jam tapi kamu belum muncul-muncul. Kamu bawa lari Ken ke mana,"


" Iya, ini sebentar lagi sampai kok, Tan.”


" Tante Cuma minta kamu ajak jalan jalan Ken sebentar, biar dia nggak ngambek karena dipaksa Pakai jas Tapi sampai dua jam kalian belum balik juga. Acaranya sudah hampir mulai Ingat, ini acara Penting. Kamu nggak boleh terlambat," Suara Mira di seberang telepon terdengar Penuh ancaman. Dan, Arkan Paham betul kali ini ia tidak bisa menghindar bila tidak mau hal buruk yang lalu terulang kembali.


Setelah mengakhiri Percakapan dengan tantenya, Arkan merenungi kembali semua sikap anehnya hari ini


Sore tadi ia hanya berniat mengajak Ken berkeliling sebentar. Namun, ketika tanpa sengaja melihat Naura menghentikan laju motor tepat di sebelah mobilnya Pada lampu merah Galen mendadak Penasaran. Apalagi ketika ia menyadari Naura tersenyum riang sepanjang Perjalanan. Belum lagi Naura tampak merias dirinya. Tanpa sadar, Arkan mengikuti laju motor skuter itu hingga memasuki mal


Arkan mengajak Ken turun dan masuk ke mal. Karena Parkir motor dan mobil berbeda lokasi Arkan sempat kehilangan jejak Naura. Ia pun berjalan tak tentu arah untuk mencari Naura dengan Ken yang mengeluh sepanjang jalan, tapi tetap berusaha mengejarnya dengan langkah langkah kecil.


Hingga kemudian rasa Penasaran Arkan hilang dan tergantikan Perasaan aneh yang menyelusup ke dalam dadanya ketika menemukan Naura tersenyum malu-malu di samping Kevin. Rupanya Naura dan Kevin ada janji bertemu hari ini.


Hati Arkan semakin Panas ketika melihat Naura tidak mencoba menepis tangan Kevin yang menyentuh Puncak kepalanya Naura justru terlihat sangat bahagia.


Bagaimana caranya membuat Naura tidak Pergi dari sisinya sekaligus tidak semakin dekat dengan Kevin ?


Lamunan Arkan buyar ketika membaca Pesan yang dikirimkan Tante Mira.


...Tante Mira...


...Arkan mereka sudah sampai. Tante harap kamu sudah persiapkan alasan yang masuk akal atas keterlambatanmu kepada mereka dan juga Papamu Jangan rusak semuanya lagi...


...••••...


Arkan tidak berniat untuk menghindar Ia hanya mencoba mengulur waktu


Arkan turun dari mobil kemudian menyusul Naura yang baru saja keluar dari mal menuju tempat Parkir motor


" Gue butuh bantuan lo "


Naura terlonjak kaget begitu menemukan Arkan sudah berada di hadapannya.


" Ada apa ? Bukannya tadi Kakak bilang nggak suka sama aku ? Kenapa sekarang malah mau minta bantu—”


" Ken sakit "


" Hah ? Sekarang Ken di mana " Naura mendadak Panik


" Dia masih di mobil Gue mau lo ikut ke rumah sakit.”


Naura belum sempat melirik jarum jam di tangan kirinya karena Arkan udah lebih dahulu meraih tangannya dan menuntun menuju mobil.


Naura membuka Pintu mobil Arkan untuk segera melihat kondisi Ken. Ia mengecek suhu tubuh bocah itu dengan menempelkan Punggung tangan ke dahi dan leher Ken.


" Normal " ucap Naura Tangannya kini mengusap keringat yang masih tersisa di kening Ken. Bocah itu tertidur Pulas sekali. Naura kemudian menegakkan kembali Punggungnya lalu menoleh kepada Arkan


" Nggak usah khawatir Kak Ken cuma kelelahan,"


" Dia sakit " kata Arkan bersikeras.


" Ken Nggak sakit Kak Suhu tubuhnya normal Napasnya juga teratur Dia cuma kecapekan aja Butuh tidur,"


" Gue bilang dia sakit Kita harus bawa dia ke rumah sakit Sekarang lo masuk ke mobil,"


Naura semakin heran dengan sikap berlebihan Arkan


" Buat apa ke rumah sakit,"


" Gue harus Pastiin Ken baik baik aja. Gue nggak Percaya sama lo. Karena lo bukan dokter,"


Naura baru membuka mulut berniat menimpali kata-kata Arkan Namun Arkan sudah lebih dahulu mendorong Punggungnya kemudian membukakan Pintu untuknya.


...••••...


Lelaki berjas Putih di dalam ruangan tampak berkali kali mengecek suhu tubuh Ken yang kini duduk bersila di ranjang. Kemudian detak jantung Ken juga dicek. Semua normal Bahkan lelaki itu bisa memastikan Ken adalah Pasien tersehat yang dilarikan ke rumah sakit ini.


Lelaki dengan name tag dr Irwan itu berbalik menghadap Arkan dan Naura yang sejak tadi setia menunggu


" Anak ini sehat sehat saja Suhu tubuhnya normal. Ia hanya kelelahan,” ucap Dokter Irwan.


Naura menoleh sebal kepada Arkan Matanya seolah berkata, Dibilangin Nggak Percaya, sih


" Tolong Periksa sekali lagi Dok,” Pinta Arkan untuk kali kesekian.


" Ken mau Pulang " Suara rengekan Ken terdengar.


" Saya sudah memeriksanya berkali kali. Anak ini sehat.” Dokter Irwan tetap Pada Pendiriannya.


" Kalau begitu beri resep untuk Ken.”


" Dia tidak sakit "


" Resep apa aja. Tolong tulis, Dok,” Arkan berucap dengan nada memohon sekaligus memaksa


Dokter Irwan malas berdebat Panjang dengan Arkan. yang menurutnya sangat aneh. Akhirnya ia menuliskan resep vitamin anak dan menyerahkannya kepada Arkan Beruntung Arkan segera meninggalkan ruangannya setelah mendapat lembaran resep itu


Naura menggendong Ken ke luar ruangan. Ken masih tampak kelelahan Mata bocah itu cepat sekali meredup.


" Aku bilang juga apa Ken itu cuma kecapekan,” keluh Naura sepanjang Perjalanan menuju loket administrasi bersama Arkan


" Lo tunggu di sini Gue tebus resep sebentar," Arkan berhenti di dekat kursi tunggu di lobi utama


" Awas aja kalo lo berani nyulik Ken," ancamnya kemudian kepada Naura


Naura sebisa mungkin tidak menunjukkan ekspresi kesalnya di hadapan Arkan Baru setelah Arkan berbalik dan menjauh Naura tak tahan untuk tidak mengumpat kesal


" Dia kira muka gue ada tampang kriminal Apa Seenaknya aja nuduh gue Kalo nggak Percaya sama gue, ngapain juga dia nitipin Ken ke gue,"


Naura melirik Ken yang sudah tertidur Pulas di Pelukannya. Ia kemudian duduk di kursi Panjang bagian depan dan membaringkan Ken di kursi itu dengan kepala bertumpu di Pahanya

__ADS_1


Dipandanginya satu Persatu bagian wajah Ken yang sangat manis. Naura baru menyadari bulu mata Ken lentik sekali. Bibirnya tipis berwarna merah muda. Hidungnya mancung. Kalo sudah besar Pasti ganteng


Semakin lama memperhatikan Naura tidak menemukan bagian mana pun yang mirip Arkan. Hidung Arkan memang mancung, tapi tidak seruncing Ken. Bibir Arkan juga tidak setipis Ken Sebenarnya apa hubungan keduanya ?


Belum juga menemukan jawaban atas rasa Penasarannya Naura menoleh ke sebelah dan menemukan Arkan baru saja duduk di sana.


" Udah tebus resepnya Pulang yuk.” Naura bersiap menggendong kembali Ken, tetapi suara lemah Arkan tiba-tiba membuatnya urung.


" Tunggu sebentar lagi.” Tatapan mata Arkan menerawang lurus ke depan Ponselnya bergetar sedari tadi, bahkan sejak ia masih dalam Perjalanan menuju rumah sakit. Tanpa Perlu meraih benda itu, Arkan tahu betul siapa yang meneleponnya. Dan, ia Paham bahwa ia tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi.


" Ada apa lagi Kak ? Mending bawa Ken cepat Pulang. Biar dia bisa tidur dengan nyaman di kamar,"


Arkan Perlahan menoleh hingga matanya beradu beberapa detik dengan mata Naura Hal ini membuat Naura harus mengerjap beberapa kali bila tidak mau kalah dari sorot tajam mata itu.


" Lo lebih Pilih turutin keinginan orang tua atau kata hati lo sendiri,”


" Eh " Naura kebingungan


" Jawab aja "


" Ya turutin kemauan ortu,” kata Naura mantap.


" Meskipun itu bukan kata hati lo,"


Naura mengalihkan Pandangannya ke depan, kemudian mengangguk Pelan


" Nggak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang yang kita sayang bahagia,"


Arkan menggeram kesal di sebelah Naura. " Lo bisa bilang begitu karena lo belum ngerasain sendiri,"


Naura menoleh kembali. " Emangnya ada apa, sih ? Orang tua Kakak suruh Kakak ngapain,” tanyanya Penasaran


Arkan langsung mengunci tatapan mata Naura saat itu juga. Ia memutar tubuhnya hingga menghadap cewek itu sepenuhnya. Sudah lebih dari lima detik, dan Naura kini gugup setengah mati.


Gue salah apa lagi ?


Naura dibuat semakin terkejut ketika tiba-tiba Arkan menyentuh tangannya Salsa buru-buru menjauhkannya dari jangkauan Arkan


" Mau apa " tanya Naura bingung sekaligus gugup.


Tanpa suara Arkan kembali melakukan usahanya merebut salah satu tangan Naura


Naura sudah tidak bisa menghindar Sekuat apa pun ia menarik tangannya tangan Arkan lebih kuat menahannya


" Kakak bisa baca garis tangan, ya," tanya Naura ketika Arka menuntunnya membuka telapak tangannya sendiri.


Arkan tidak merespons Ia sedang mengumpulkan keberanian untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dilakukannya. Segalanya mungkin akan berubah bila ia bersikeras melakukannya. Termasuk sikap Naura kepadanya.


" Baca jodohku dong Kak Dia lagi ada di mana," Naura tersenyum mencoba menutupi kebingungannya


Arkan menahan napas ketika menempelkan jari telunjuknya tepat di telapak tangan Naura. Tindakannya ini mungkin saja membangkitkan


Memori yang sempat terkubur lama di benak Naura. Bila Naura tidak bisa mengingatnya sendiri Arkan akan membantu mengingatkannya


Senyum Naura seketika memudar ketika merasakan dan melihat jari-jari Arkan bergerak di telapak tangannya Naura tidak berniat mencari tahu huruf-huruf yang coba dituliskan di sana. Ia hanya menyadari telunjuk Arkan bergerak mengikuti gambar garis tangannya. Bergerak sangat Pelan Saking Pelannya Naura bisa merasakan aliran listrik yang merambat dari tangan menuju jantungnya


Telunjuk Arkan sudah berhenti menari di telapak tangan Naura Dengan Perasaan cemas sekaligus gugup Arkan mengangkat kepala untuk melihat reaksi Naura Mustahil cewek itu tidak menyadari sedikit Pun maksud tindakannya ini.


Arkan seolah kehilangan detak jantungnya tepat ketika Naura balas menatapnya dengan tatapan sedikit terkejut.


Apa Naura sudah mengingatnya ?


Beberapa detik berlalu. Naura tiba-tiba memperlihatkan cengar-cengirnya seraya berucap,


" Geli, Kak "


Arkan melepas tangan Salsa begitu saja. Ia sedikit kecewa. Sungguh respons yang tidak diharapkannya setelah ia memberi clue Paling nyata untuk membantu mengingatkan memori lama mereka.


Arkan bangkit dengan malas, kemudian menggendong Ken dan membawanya Pergi.


" Kak mau ke mana " Naura menyusul di belakang.


" Pulang "


" Terus aku gimana,"


Arkan berhenti kemudian menoleh


" Terserah lo "


" Ih Paling nggak antar aku mal. Motorku masih di sana,"


...••••...


Arkan sudah berniat membiarkan Naura naik angkutan umum untuk kembali ke mal. Namun, menyadari Naura masuk ke mobilnya tanpa dipersilakan, Arkan tidak Punya Pilihan lain. Setidaknya, ini bisa membantunya mengulur waktu sedikit lebih lama.


Dan kini Arkan membiarkan Naura duduk di bangku belakang sementara Ken masih tertidur Pulas di sebelahnya


Sudah larut dan Naura semakin gelisah Sudah Pasti ia akan dimarahi mamanya habis-habisan Naura harus beralasan apa lagi ?


Di tengah kekalutannya memutar otak untuk mencari alasan yang tepat Perhatian Naura kemudian teralihkan Pada chat yang masuk ke Ponselnya Chat dari seseorang yang selalu berhasil membuatnya tersenyum senang.


...Kevin...


...Udah sampai rumah...


Tanpa menunggu lama Naura segera mengirim Pesan balasan


...anastasyaNaura...


...Baru aja sampai Kakak sendiri...


Naura menggigit bibir bawahnya ketika memutuskan untuk mengetik Pesan dusta itu. Ia hanya tidak ingin Kevin mencemaskannya. Memang gue siapanya ?


...Kevin...


...Udah dari tadi, sih. BTW, makasih udah temenin gue cari kado hari ini....


Senyum Naura kembali merekah dan hal ini tertangkap jelas oleh Arkan yang memperhatikannya dari kaca spion


Arkan sengaja membunyikan klakson dengan nyaring walau jalanan malam ini tidak Padat. la sengaja menipiskan jarak mobilnya dengan mobil di depan kemudian membunyikan klakson lagi Walau sebenarnya bisa menyalip melalui sebelah kanan, Arkan tidak melakukannya. Ia sangat ingin mengalihkan Perhatian Naura


Sekian lama Arkan melakukan usahanya, tetapi Naura justru semakin tenggelam dalam Percakapan dengan seseorang yang diyakini Arkan sebagai Kevin. Arkan berhenti membunyikan klakson ketika menyadari Ken hampir terbangun karena bunyi berisik itu


Sesampainya di depan mal Arkan dengan sengaja menginjak rem dalam dalam sambil menahan tubuh Ken agar tidak berguncang terlalu kuat Tindakan ini membuat Naura jadi korban. Kepalanya terantuk kursi di depannya kemudian Ponsel di genggamannya terpental ke bawah kursi kemudi


" Aduh " keluh Naura sambil memegangi kening


" Ada apa, sih " tanyanya


" Udah sampai Turun " ucap Arkan dingin.


Naura menoleh ke samping dan baru menyadari sudah tiba di mal. Ia kembali menoleh kepada Arkan sambil mengulurkan tangannya.


" Tolong ambil handphone ku, Kak.”


Arkan berdecak sekali kemudian menunduk untuk mengambil benda yang dimaksud. Layar Ponsel itu masih menyala, menampilkan halaman Percakapan dengan seseorang yang memang diduga Arkan sebelumnya Dan, sebelum Arkan memberikan benda itu kepada Naura, jarinya seolah bergerak sendiri mengetikkan tiga huruf lalu menekan tombol kirim


...anastasyaNaura...


...Bye....


Naura menyergap cepat Ponselnya agar Arkan tak melihat isi Percakapannya Padahal, tanpa ia duga, Arkan sudah mengetahuinya.


" Makasih, Kak. Titip salam buat Ken kalau dia udah bangun, ya.”


Naura membuka Pintu di sebelahnya tapi tidak langsung turun karena suara Arkan berhasil menahannya.


" Hei "


Naura menoleh kembali dengan malas


" Aku Punya nama Kak Namaku Naura Anastasya.”


" Gue cuma mau bilang satu hal." Arkan melirik Naura dari kaca spion. " Gue nggak suka sama lo.”


Naura berusaha menahan kesal. " iya Kakak udah bilang dua kali hari ini,” Ia lalu turun dari mobil. Namun, baru ia ingin menutup kembali Pintu mobil dengan keras, suara Arkan membuatnya terpaksa menunduk untuk menoleh kepada cowok di balik kemudi itu.


" Satu lagi,” ucap Arkan Kali ini ia hanya melirik Naura sekilas. " Bedak lo ketebalan Nggak usah dandan kalo emang nggak bisa,”


" Masa sih," Naura memegangi kedua Pipinya. la menutup Pintu mobil kemudian buru-buru melihat Pantulan wajahnya dari kaca spion samping


Baru dua detik Naura melihat Pantulan wajahnya sendiri dengan sengaja Arkan malah melajukan mobilnya menjauh.


Sialan


Tentu saja Arkan berbohong Naura tampak sangat cantik dengan riasan tipis di wajahnya. Juga, bibir kecil yang semakin manis dipulas warna merah muda itu. Ia hanya tidak suka tujuan Naura merias diri bukan untuk dirinya


Kini tidak ada lagi alasan Arkan untuk mengulur waktu Sesuatu yang tidak diinginkannya sudah menunggu di rumah. Dan, ia tidak bisa menghindar lagi.

__ADS_1


...•••••...


__ADS_2