My Secret Admirer

My Secret Admirer
PART 30 DINGIN LAGI


__ADS_3

Kakinya melangkah cepat Naura sungguh tidak tenang selama mengikuti Ke bendera yang baru saja berakhir Pikirannya dipenuhi nama seseorang yang ia curigai sebagai Miracle yang dengan sengaja memasukkan lipatan kertas berbentuk Pesawat ke dalam tasnyani Naura berlari kecil ketika matanya menemukan sosok itu sedang berjalan di koridor menuju kelasnya


enahan bahu tegap itu dari belakang membuat si empunya berhenti dan menoleh.


Dengan napas naik turun Naura menatap cowok di hadapannya. Ia mengambil lipatan kertas yang sudah tidak lagi berbentuk Pesawat dari saku seragam, kemudian mengulurkan ke orang itu.


" Sebenarnya apa mau lo " tanya Naura bernada lelah bercampur emosi


Cowok di hadapan Naura tampak bingung dengan situasi ini. Ia belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi Apa maksud Perkataan Naura ?


Naura menempelkan kertas di tangannya ke dada orang itu


" Gue udah temuin lo sekarang Jadi apa mau lo, Aston,"


Kening Aston semakin berkerut. Ia mengambil alih kertas dari tangan Salsa, kemudian memperhatikan dua kata yang tertulis di sana.


" Kenapa lo selalu kasih gue misi dari Pesawat kertas ? Sebenarnya apa tujuan lo bantu gue selama ini," Naura sudah hampir menangis. Ia sungguh lelah dengan semuanya. Kali ini ia yakin tidak salah orang. Aston lah yang memasukkan lipatan kertas berbentuk Pesawat itu ke dalam tasnya. Naura yakin Aston mengambil kesempatan tadi.


Kening Aston masih berlipat ditambah ocehan Naura semakin membuatnya memutar otak. Beberapa saat berpikir Aston pun melipat kertas di tangannya hingga kembali membentuk Pesawat. Ia mengulurkan Pesawat kertas itu kepada Naura kemudian tersenyum Senyum yang tidak dimengerti Naura


...•••••...


" Jadi gimana, Ris ? Lo udah dapat datanya," tanya Arkan sambil berusaha mengimbangi langkah Haris menuju kelas seusai upacara bendera


" Nggak semudah itu Arkan Gue emang Pernah antar Cherry ke Perusahaan bokapnya yang ternyata itu tempat bokap gue kerja," jawab Haris sambil berbisik.


" Tapi level Posisi bokap gue di sana Nggak bebas buat akses data data Penting yang lo maksud kemarin.”


Arkan menghela napas gusar Langkahnya seketika melemah diikuti Haris. Padahal kemarin ia merasa Haris bisa membantunya mencari data data Penting mengenai hubungan kerja sama Hutama Company dengan Perusahaan Papanya. Mungkin saja data itu bisa dipelajari Arkan untuk menyelamatkan Perusahaan Papanya. Lalu, secara tidak langsung membebaskan dirinya dari Perjodohan dengan Cherry


" Tapi ada satu hal yang harus lo tahu.”


Kali ini langkah Arkan berhenti karena Penasaran dengan perkataan Haris. Ia menatap sahabatnya itu Penuh tanya.


" Semalam gue sempat curi dengar obrolan Bokap yang lagi teleponan sama seseorang Bokap gue sempat sebut sebut nama Perusahaan Pak Bagaskara. Perusahaan bokap lo memang lagi dalam masa kritis Selain Hutama Company sebenarnya ada satu lagi yang bisa selamatin Perusahaan bokap lo dari krisis.”


Arkan mendengar dengan cermat seolah kabar dari Haris merupakan harapan baru untuknya


" Siapa " Tanya Arkan tak sabar


" Manggala Grup milik Pak Bima Manggala."


Arkan menghela napas berat. " Gimana gue bisa minta tolong dia sementara gue nggak kenal orangnya.”


Haris menepuk bahu Arkan hingga kembali mendapat Perhatiannya. " Gue juga dengar anaknya Pak Bima baru aja Pindah ke sekolah ini Namanya Aston Manggala."


Arkan termangu untuk waktu yang cukup lama


" Aston "


" Gue rasa ini kesempatan lo Mungkin aja anaknya Pak Bima bisa bantu lo keluar dari Permasalahan ini.”


...•••••...


Naura membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Matanya menatap langit langit kamar barunya yang Putih bersih. Pikirannya melayang mengingat Perkataan Aston Pagi tadi ketika Naura memastikannya sebagai Miracle selama ini.


" Kenapa lo selalu kasih gue misi dari Pesawat kertas,"


" Karena gue suka bentuk Pesawat," ucap Aston sambil tersenyum Tangannya yang memegang Pesawat kertas itu terulur ke arah Naura


" Sebenarnya apa tujuan lo bantu gue selama ini,"


" Nanti lo akan tahu sendiri "


Cklek


Suara Pintu kamar yang dibuka membuat Naura menoleh. Kepala mungil milik Ken mulai terlihat disusul tubuhnya masuk ke kamar Naura Tanpa sapaan atau salam, Ken masuk dan menutup Pintu kamar dari dalam


" Ken ? Belum tidur " tanya Naura sambil mengubah Posisi menjadi duduk Diperhatikannya adik laki-laki yang kini berjalan mendekat sambil tersenyum lebar itu.


Kaki dan tangan Ken tenggelam di balik Piama biru yang dikenakan. Naura jadi gemas sendiri melihat Ken berjalan mendekat dengan ujung celana yang terinjak kaki kecilnya


Ken melompat naik ke ranjang lantas ikut masuk ke balik selimut Naura


" Ken mau tidur sama Kak Naura " ucapnya dengan senyuman yang teramat menggemaskan.


Tentu Naura dengan senang hati mengizinkan Ken tidur di kamarnya, walau Peringatan Arkan tentang cara tidur Ken yang berantakan sempat terlintas dalam Pikirannya


" Mama tahu kamu tidur di sini " tanya Naura sambil membantu menyelimuti Ken hingga sebatas dada.


Ken menggeleng Pelan. " Jangan kasih tahu Mama.” Ia terkekeh Pelan di akhir kalimat. Persis seperti anak yang baru saja mencuri Permen temannya secara Diam-diam


Naura balas tersenyum. Ken lucu sekali Jadi, begini rasanya Punya adik laki laki? Padahal, ia sudah merasa bahagia Punya adik semanis Luna, dan kini rasa bahagianya bertambah karena kehadiran Ken.


" Ya udah, sekarang Ken bobok.” Naura mengusap kening Ken dan menciumnya. Ia ikut berbaring sambil menepuk nepuk Punggung Ken, membuat bocah itu merasa nyaman.


Seraya berusaha membuat Ken terlelap Naura kembali memikirkan sesuatu yang mengganggu Pikirannya sejak tadi. Tentang Aston Tentang Miracle nya.


" Kak " Panggil Ken Pelan


" Tidur, Ken, besok Pagi sekolah.”


Ken tertawa merasa senang karena impian untuk Punya kakak Perempuan akhirnya terkabul. " Hari Minggu nanti Bang Arkan mau ajak Ken main Temjon Kak Naura ikut juga, ya."


Tepukan tangan Naura di Punggung Ken Perlahan berhenti.


" Kenapa Kakak harus ikut "


" Supaya Bang Arkan Nggak jahatin Ken lagi Supaya Bang Arkan nggak bohongin Ken lagi.”


" Emangnya Bang Arkan tukang bohong," Pancing Naura jadi ingin tahu


Ken mengangguk kuat kuat hingga Naura terbahak.


" Bang Arkan janji mau ajak Ken main Temjon sepuasnya kalau Ken mau ikut ke istana, terus kasih Putri Salju susu cokelat,” celoteh Ken dengan menggebu-gebu


" istana ? Susu cokelat " Tanya Naura seperti tidak asing dengan itu semua


" iya, Bang Arkan yang suruh Ken begitu. Tapi, sampai sekarang Ken nggak diajak main Temjon. Bang Alen tukang bohong," kesal Ken.


Tok-tok-tok.


" Naura ..... "


" itu suara Mama " seru Ken Panik


" Kak, jangan bilang Ken ada di sini ya,” katanya sambil bersembunyi di balik selimut.


" Naura " Panggil Mira lagi


" iya, Ma,” sahut Naura sambil mengubah posisi menjadi duduk bersamaan dengan Mira yang muncul dari balik Pintu kamar


" Kamu belum tidur " Tanya Mira sambil berjalan mendekat lalu duduk di tepi kasur.


" Sebentar lagi " jawab Naura sambil tersenyum.


Mira balas tersenyum, kemudian mengelus sayang rambut Naura


" Gimana sekolah hari ini ? Lancar kan,"


Naura mengangguk. " Semua lancar lancar, kok, Ma."


" Maaf kalau Mama seolah anggap kamu masih kecil dan harus ditanya seperti ini Mama cuma nggak mau terlewat momen sama kamu.”


Naura masih tersenyum. " Nggak apa apa, Ma Aku malah senang banget.”


" Sekarang kamu tidur, ya.” Mira mendekat berniat memberi kecupan selamat malam untuk Naura Namun tubuhnya tidak sengaja menekan sesuatu membuatnya kembali ke tempat semula. Apalagi ketika ia mendengar suara kesakitan yang tidak asing di telinga.


" Aaaw Sakit, Ma.”


Mira menyibak selimut yang awalnya dikira hanya menutupi bantal. Rupanya Ken yang bersembunyi di baliknya


" Ken " Seru Mira hampir tidak Percaya


" Mama kira kamu sudah tidur di kamar sebelah. Pantas aja, nggak biasanya kamu tidurnya anteng. Berarti yang kamu tutupi Pakai selimut itu bantal kamu,"


" Ken mau tidur di sini, Ma " Pinta Ken sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


" Kamu nakal banget kalau dibilangin Mama bilang jangan ganggu kakakmu Dia mau istirahat," omel Mira kepada Putra keras kepalanya itu.


" Sekali aja, Ma. Ken mau sama Kak Naura," Ken mulai merengek.


" Nggak Ayo kita balik ke kamar sebelah," Mira menariknya, tetapi Ken bangkit dan memeluk Naura erat.


" Ken mau di sini "


" Ya udah, Ma. Biarin Ken tidur di sini malam ini,” kata Naura


" Jangan ! Nanti kamu bisa menyesal.” Mira memaksa Ken untuk melepaskan Pelukannya Pada Naur


" Dia tidurnya suka muter-muter Tendangannya kuat banget.”


" Bohong " Ken menyahut tak terima Mamanya kini menjauhkan ia dari Naura


" Kamu langsung tidur, ya " Kata Mira kepada Naura Ia mengabaikan Ken yang terus meronta dalam gendongannya.

__ADS_1


Naura memperhatikan Ken dengan Prihatin karena hanya mampu membiarkan bocah itu dibawa keluar kamar oleh Mira


...•••••...


Keesokan harinya Naura masih merenungi tentang alasan apa yang Paling tepat hingga Aston membantunya selama ini


Aston mendadak sulit ditemui sejak Pagi tadi. Naura belum bisa kembali mendesak cowok itu untuk menceritakan semuanya


" Nggak mau Pesan makan Naura," tanya Nadin yang baru saja bergabung dengan Naura dan Fira di salah satu meja kantin siang itu. Ia meletakkan sepiring batagor di atas meja kemudian duduk di hadapan Naura


Naura menggeleng lemah. " Lagi Nggak nafsu makan.”


" Minum aja kalau gitu. Lo mau apa Biar gue Pesanin,” tawar Fira yang duduk di sebelahnya.


" Gue juga mau Pesan soalnya "


" Udah, beliin teh hangat aja, Fir. Kalau Salsa nggak mau, biar buat gue.” Nadin terkekeh di akhir kalimatnya.


Fira menyindir Nadin sekilas tetapi bangkit juga untuk menghampiri Pedagang minuman di sudut kantin


" Wah makasih Kamu baik banget.”


Suara yang jelas terdengar sengaja dinyaringkan itu menarik Perhatian setiap Pasang mata yang memenuhi kantin. Semua orang kini menatap ke arah Cherry yang baru saja menyambut sekaleng minuman bersoda dari Arkan Posisi keduanya tidak jauh dari tempat Naura duduk.


Arkan tampak tidak nyaman dengan cara Cherry menarik Perhatian orang orang. Apalagi ia menyadari ada Naura di sana.


" Ra habis ini Pelajaran Matematika. Lo udah ngerjain PR," tanya Nadin berusaha mengalihkan Perhatian Naura


Sialnya suara menyebalkan tepat di balik Punggungnya membuat Nadin tidak tahan untuk tidak menoleh


" Tom, aku sakit hati, nih. Kamu selingkuh,” rengek Miko sambil memukul mukul lengan Tomo.


Nadin tidak habis Pikir dua makhluk itu masih saja hobi memarodikan kejadian di sekitarnya Namun yang kali ini seharusnya tidak Perlu


" Tom, kamu jahat "


Pletak ! Pletak


Nadin menepuk kepala dua teman sekelasnya itu, lalu memberi mereka Peringatan agar diam saja


Naura bangkit tanpa kata-kata Mengapa ia jadi kesal begini ? Jelas jelas Arkan bukan lagi Pacarnya


" Ra mau ke mana ? Gue belum selesai makan, nih," teriak Nadin kepada Naura


Naura tidak menghiraukan Nadin. Ia terus berjalan menuju Pintu keluar kantin. Namun, tepat ketika ia hampir melewati Posisi Cherry cewek itu mendadak bangkit berdiri hingga tubuhnya berbenturan dengan Naura Minuman soda di tangannya tumpah membasahi seragam Naura begitu Pula seragam yang dikenakannya


" Punya mata Nggak, sih " bentak Cherry kepada Naura


Naura ingin menimpali ucapan Cherry dengan tak kalah Pedasnya tetapi diurungkan seseorang yang tiba-tiba menghalangi Pandangannya. Ia jelas melihat Arka melindungi Cherry ke balik Punggungnya


Entah mengapa rasanya sakit bagi Naura menyadari hal itu. Apalagi mendengar ucapan Arkan


" Hati-hati kalau jalan " seru Arkan kepada Naura Bahkan Naura bisa melihat Cherry tersenyum di balik Punggung cowok itu.


Rasa sakit Naura bertambah berkali-kali lipat.


Jadi ini alasan Arkan bersikeras Putus darinya ? Karena Cherry ? Naura mendengkus tak Percaya dalam hati Rupanya semua laki-laki sama saja Mereka mudah terpikat Perempuan yang lebih seksi dan menantang Termasuk Arkan Pikir Naura


Mata Naura sudah memanas Rasanya ia ingin sekali menangis Namun, ia tidak akan membiarkan Arkan melihat air matanya.


" Tolong bilang sama Pacarnya dia yang seharusnya hati-hati," balas Naura dengan suara yang mulai bergetar


Sebelum air matanya tumpah Naura melanjutkan langkah menuju Pintu keluar. Hatinya hancur luar biasa Mengapa kata-kata Pedas dari Arkan kali ini bisa terasa begitu menyakitkan ?


Seharusnya Naura tidak Perlu menyempatkan diri menoleh lagi sebelum menghilang di balik Pintu kantin. Karena Pemandangan yang dilihatnya justru menambah Perih luka hati. Ia melihat Arkan melepas jaket yang dikenakan kemudian memberikannya kepada Cherry


Naura menunduk memperhatikan seragamnya yang jauh lebih basah dari Cherry. Naura yang seharusnya mendapat jaket itu bukan Cherry


Naura jadi teringat ucapan Arkan beberapa waktu lalu.


" Dengerin gue baik-baik " Arkan menghela napas sesaat tanpa mengalihkan sedikit pun tatapan dari mata Naura


" Cherry itu bukan tunangan gue. Gue sama dia nggak ada hubungan apa apa.” Arkan menekankan setiap kata berharap Naura memercayai ucapannya.


" Gue Nggak kenal cewek itu Dia cuma ngaku ngaku jadi tunangan gue. Lo harus Percaya sama gue.”


Naura segera menjauh dari sana Rupanya benar yang dikatakan Ken semalam Arkan tukang bohong


Naura bersembunyi cukup lama di salah satu bilik toilet untuk menumpahkan semua Perasaan sakitnya dengan menangis. Mengapa ia bisa sesakit ini Sejak kapan Perasaannya tumbuh begitu dalam untuk Arkan ?


Naura baru keluar dari tempat Persembunyiannya setelah bel tanda istirahat berakhir. Usai memastikan dirinya baik-baik saja lewat Pantulan cermin besar di dinding Naura kembali ke kelas.


Setiba di sana Naura berdiri terpaku di samping mejanya. la melihat seragam olahraga entah milik siapa terlipat rapi di atasnya.


Naura mengambil kaus olahraga itu kemudian membentangkannya. Kaus ini memiliki ukuran yang lebih besar dari tubuhnya. Sudah jelas ini ukuran cowok.


Namun siapa Pemilik kaus olahraga ini ? Miracle


...•••••...


Naura menyadari sesuatu Tentang kejanggalan selama ini tentang berbagai hal yang awalnya ia anggap biasa, tetapi kini mengusik rasa curiganya.


Tentang Perhatian tidak tersirat dari Arkan kepadanya


Naura tidak akan lupa wangi parfum maskulin milik Arkan. Karena wangi itu Pernah menemaninya sepanjang mengikuti kegiatan belajar ketika seragamnya basah akibat ulah Arkan Dan kini, hal serupa kembali terjadi Naura sudah mengganti seragam yang basah karena tumpahan minuman soda milik Cherry dengan kaus olahraga kebesaran yang tadi ada di atas mejanya.


Naura yakin kaus olahraga ini milik Arkan


Tiba-tiba saja Naura rindu Perasaan ini ia rindu menghirup aroma ini setiap kali mendekati Arkan. Rasanya tidak cukup ia memeluk diri sendiri. Naura ingin sekali memeluk Arkan langsung dan mengatakan, " Bisakah semua kembali normal dan baik baik saja,"


Sepanjang hari Naura seolah enggan mengganti kaus olahraga kebesaran di tubuhnya. Meski mamanya menegur untuk berganti Pakaian dahulu sebelum tidur siang. Meski Ken jadi ikut ikutan memakai seragam olahraga sekolahnya untuk meniru Naura. Toh, Naura masih ingin merasakan kehadiran Arkan di dekatnya.


Hari hari berikutnya adalah hari yang tidak diharapkan Naura. Keinginannya agar semua kembali normal tampaknya tidak terwujud. Nyatanya ia merasa jaraknya dengan Arkan semakin menjauh. Bahkan, Naura merasa Arkan semakin dekat dengan Cherry. Seperti hari ini Arkan ada di kelasnya, duduk berdampingan dengan Cherry. Tentu Naura berusaha keras agar tidak menoleh ke bangku Cherry


Naura jadi tidak seceria hari hari biasanya. Nadin dan Fira menyadari perubahan sikapnya. Mereka juga berusaha memaklumi ketika Naura menolak ajakan mereka untuk ke kantin Pada jam istirahat


Akan tetapi Naura jadi menyesal menolak ajakan Nadin dan Fira tadi Seharusnya ia ikut saja agar tidak terjebak suasana canggung yang menyayat hati seperti saat ini.


Naura berusaha keras untuk tidak beranjak dari bangkunya, walau suara cengkeraman Arkan dan Cherry mengusiknya sejak tadi. Naura berusaha cuek. Ia hanya tidak ingin membuat cewek itu merasa menang


" Bulan depan kita tunangan Aku jadi deg degan."


Suara manja Cherry membuat Naura memejamkan mata. Haruskah Naura menerima kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi harapan untuknya bisa bersama Arkan ?


Getaran Ponsel di saku seragamnya membuat Perhatian Naura teralihkan sejenak. Dibukanya chat dari seseorang yang sudah cukup lama tidak mengiriminya Pesan


...Kevin...


...Naura apa kabar ? Sori kalo gue ganggu Gue dengar dari Luna, kalian udah gak tinggal satu rumah ?...


...Kevin...


...Gue cuma mau sampein salam dari Luna Dia minta gue bilang kalo dia kangen bgt sama lo...


Naura tersenyum membaca Pesan Pesan itu. Tentu ia juga sangat merindukan Luna. Ia berencana akan berkunjung ke rumah lamanya nanti. Ia juga merindukan Mama Maria.


" Aku mau undang teman sekelas saat acara tunangan kita Kamu Nggak keberatan, kan,"


Lagi-lagi ucapan Cherry membuat hati Naura gundah. Ditambah suara Arkan yang terdengar tidak keberatan sama sekali.


" Terserah "


Tanpa sadar jari-jari Naura seolah bergerak sendiri membalas Pesan Kevin


...anastasyaNaura...


...Kakak bisa tolongin Aku...


Naura memejamkan mata rapat rapat setelah menekan tombol kirim. Namun hanya tiga detik. Pada detik berikutnya Naura membuka kembali matanya ketika merasakan Ponselnya bergetar cukup lama.


*Kevin 📞**📞*


Ragu ragu Perlahan Naura menempelkan Ponsel ke telinga setelah menggeser tombol jawab.


" Ada apa "


Naura menahan suaranya sendiri agar tidak bergetar


" Naura" Panggil Kevin


" Kak, aku ....." Naura tidak mampu mengendalikan getaran yang timbul dari suaranya.


" Lo lagi di kelas " tanya Kevin tidak sabar.


" Gue ke kelas lo sekarang Jangan ke mana-mana,"


Sambungan terputus bersamaan dengan Naura yang menempelkan dahi di lipatan tangannya di atas meja


Naura tidak menyadari bahwa Arkan memperhatikannya sejak tadi. Ia berjuang keras menahan diri agar tidak sampai berlari untuk memeluk Naura saat ini. la sungguh ingin kembali melihat keceriaan dari gadis itu


Naura tunggu sebentar lagi


" Nanti Pulangnya kita mampir dulu ke kantor Papaku, ya. Papa Pasti senang aku ajak kamu ke sana." Cherry menyandarkan kepala di bahu Arkan


Tidak lama berselang Kevin muncul di Pintu kelas. Ia berjalan terburu-buru hingga berhenti di samping meja Naura Diperhatikannya Arkan dan Cherry di bagian belakang kelas membuatnya dapat menebak apa yang membuat Naura tampak lesu.

__ADS_1


Kevin duduk menyamping di kursi Fira dengan tubuh menghadap Naura. la menyentuh Pelan tangan Naura


" Lo Kenapa "


Naura mengangkat kepala Wajah letihnya langsung tertangkap mata Kevin


" Lo Sakit "


Naura menggeleng


" Gue bisa bantu apa "


" Aku Nggak bisa cerita di sini, Kak,” ucap Naura lemah


Kevin melirik sekali lagi ke arah Arkan yang jelas-jelas memperhatikan interaksinya dengan Naura sejak tadi Tatapan mata Arkan tampak tidak suka.


Kemudian Kevin beranjak seraya menuntun tangan Naura untuk ikut bangkit


" Kalau gitu kita bicara di luar "


Naura tidak melawan Tubuhnya seolah bergerak sendiri mengikuti tuntunan tangan Kevin


Napas Arkan sudah naik turun melihat Kevin Punya kesempatan untuk mendekati Naura lagi. Ingin sekali ia menyusul kedua orang itu tetapi Cherry masih memeluk lengannya erat.


Arkan harus bergerak cepat sebelum Kevin memanfaatkan keadaan dan sebelum ia semakin sakit karena hanya bisa melihat Naura dari kejauhan


" Kenapa lo minta tolong gue soal itu "


" Karena Kakak sekelas sama Kak Arkan Cuma Kakak yang bisa bantuin aku."


Kevin terdiam sejenak. Ia memperhatikan Naura lekat-lekat Sejujurnya sejak Penolakan Naura beberapa waktu lalu Kevin berusaha sebisa mungkin menjauh. Karena ia menganggap Naura sudah menentukan Pilihan kepada Arkan dan mengharuskan dirinya mundur


Belakangan ini Kevin menyibukkan diri dengan kegiatan Pergantian Pengurus OSIS. Semua semata untuk melupakan Patah hatinya Namun melihat kenyataan Naura tidak lagi bersama dengan Arkan, ia ingin kembali berjuang. Ia tidak tega mendapati Naura tidak lagi ceria seperti biasa


Haruskah Kevin menolak untuk membantu Naura untuk menyelidiki sesuatu tentang Arkan ? Ataukah lebih baik ia meyakinkan Naura bahwa dirinya lebih baik daripada Arkan


" Kakak mau, kan, tolongin aku," Pinta Naura lagi


" Kalau sikonnya mendukung gue kirim fotonya," sahut Kevin singkat


" Makasih, Kak "


...•••••...


Ken menarik tangan Naura masuk ke area bermain Timezone dengan riang Bahkan, Naura sampai harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah cepat Ken. Sedangkan, Arkan memperhatikan keduanya dengan senyum tertahan dari belakang.


Arkan cukup senang karena Ken bersikeras memaksa Naura ikut menemaninya hari ini. Walau sudah menolak berkali-kali, akhirnya Naura kalah ketika Ken merengek.


Lagi-lagi Arkan harus berterima kasih kepada Ken.


Sepertinya Naura kebagian peran menggantikan Arkan menemani Ken bermain di Timezone. Ken cepat sekali bosan dengan satu Permainan meski waktu bermainnya masih banyak. Saat ini contohnya, ketika Ken memanfaatkan Powercard milik Arkan untuk bermain Time Crisis. Bocah itu langsung tidak bersemangat setelah kehilangan satu nyawa akibat ditembak musuh.


" Ken bosan Mau main yang lain aja,” kata Ken sambil meletakkan handgun ke tempat semula.


" Kamu masih Punya dua nyawa, Ken Ayo main lagi," seru Naura Namun Percuma karena Ken sudah berlari menuju Permainan lain.


Naura berdecak. Sayang sekali bila sisa nyawa Permainan Ken dibiarkan begitu saja. Kan, saldo yang dikeluarkan untuk satu kali Permainan tidak sedikit


Maka ia meraih handgun yang baru saja ditinggalkan Ken, kemudian melanjutkan Permainannya. Ini kali Pertama Naura memainkan game semacam ini. Cara ia memegang senjata masih kaku. Naura berusaha mengarahkannya ke monitor untuk membidik musuh. Belum sampai sepuluh detik nasibnya sama seperti Ken. Ia cepat sekali kehilangan nyawa begitu Pula Pada Percobaan di nyawa terakhirnya.


Naura memang tidak mengharapkan kemenangan. Paling tidak saldo yang dikeluarkan untuk bermain jadi tidak sia-sia


" Baru kali Pertama main, ya "


Naura terlonjak mendengar suara dari belakang. Bahkan handgun di tangannya hampir terlepas ketika ia berniat meletakkan kembali ke tempat semula.


Ia hanya tersenyum singkat menanggapi cowok yang baru saja mengajaknya bicara. Cowok yang kelihatan lebih tua darinya beberapa tahun itu kini mendekat, mengambil alih handgun dari tempatnya


" Gimana kalau gue ajarin cara mainnya," tawar cowok itu kepada Naura Tanpa menunggu persetujuan, ia menggesek Powercard ke mesin swiper Permainan Time Crisis untuk memulai Permainan baru.


Naura hendak menolak tetapi cowok asing itu mengulurkan handgun kepadanya. Mau tak mau ia menyambutnya.


Cowok asing itu mengambil handgun lain, kemudian mencontohkan cara menggenggam senjata kepada Naura


" Cara Pegangnya begini Tangan kiri lo Pegang bagian depan tembakannya." Ia mengarahkan tangan Naura untuk memegang senjata dengan benar membuat Naura sedikit terkejut


" Sekarang tembak musuhnya " Perintahnya sambil menembak musuh dengan handgun di tangan.


Setelah mengikuti arahan dari cowok asing itu Naura jadi lebih nyaman membidik musuh. Senyumnya mengembang. Ia mulai menikmati Permainan ini.


" Seru, kan " tanya cowok itu menangkap jelas senyuman di wajah Naura


Naura menjawab dengan anggukan Akhirnya mereka berhasil memenangi Permainan.


" Sesekali lo injak Pedalnya dan lepas kalau mau sembunyi atau mau isi Peluru."


Naura ikut menunduk untuk melihat Pedal yang dimaksud.


" Oh, gitu "


" Kita main lagi yuk " ajak cowok asing itu yang dijawab Naura dengan anggukan kecil.


Akan tetapi sebelum Permainan benar-benar dimulai seseorang dengan cepat merebut handgun dari tangan Naura


" Kita ke sini buat temenin Ken main bukan lo," Suara dingin Arkan berhasil melenyapkan senyum di wajah Naura


Arkan meletakkan handgun ke tempatnya kemudian menatap cowok asing di sebelah Naura dengan tidak suka.


Dengan tak enak hati Naura meminta maaf kepada cowok asing itu karena tidak bisa bermain bersama.


" Kak, sori .... "


Akan tetapi Arkan buru-buru menghalangi Pandangan Naura kepada cowok asing itu.


" Ken nyariin lo dari tadi " ucapnya


Terpaksa Naura berbalik Pergi setelah menatap Arkan dengan tatapan kesal sekali.


" Tunggu dulu ! Kita boleh kenalan Nggak," seru cowok asing itu ke arah berlalunya Naura. Sayangnya suasana sekitar yang bising suara mesin berbagai Permainan menenggelamkan ucapannya


Arkan mencegah cowok itu, yang berniat menyusul Naura.


" Jangan ganggu dia," ucapnya Penuh Penekanan


Cowok yang rupanya sama tinggi dengan Arkan itu balas menatap dengan tidak suka.


" Emang lo siapanya "


" Gue Pacarnya "


Hanya dua kata tapi mampu membungkam cowok asing itu hingga mengurungkan niat untuk mendekati Naura


...••••...


Ken tidur di Pangkuan Naura yang duduk di kursi belakang mobil Arkan Bocah itu kelelahan setelah bermain hampir tiga jam di Timezone Sedangkan Arkan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju suatu tempat yang asing bagi Naura


" Kita mau ke mana " tanya Naura sambil memperhatikan Pemandangan di luar jendela. ini bukan jalanan menuju rumahnya.


" Lain kali kalau ada orang asing yang ngajak Lo ngobrol cuekin aja bisa kan Gimana kalau lo itu di Culik," ucap Arkan tanpa menoleh.


" Eh " Naura makin bingung Ucapan Galen barusan sama sekali bukan jawaban atas Pertanyaannya


" Kak Arkan Sebenarnya kita mau ke mana " ulang Naura


" Apa Lo bener-bener lupa gue Pernah bilang apa sama lo ? Jangan Pernah mau dipegang cowok lain Tepis aja tangannya Ngerti Patahin aja kalau Perlu," ujar Arkan Sesungguhnya ia sudah menahan kekesalan sejak tadi sejak melihat Naura didekati cowok lain di area Timezone.


" Kakak Kenapa sih ? Aku tanya apa jawabnya apa Nggak nyambung,"


Mobil Arkan menepi Naura memperhatikan sebuah rumah berpagar tinggi warna abu abu dari jendela mobil


" ini rumah siapa "


Arkan melepas sabuk Pengaman lalu menatap Naura dari kaca spion


" Tolong bawa Ken keluar Minggu ini giliran Ken tinggal di rumah Papanya."


Naura tercengang mendengarnya


" Giliran " Dipandanginya Ken yang masih Pulas tidur di Pangkuannya Mama Mira memang sempat cerita bahwa ia dan Papanya Ken sudah bercerai tahun lalu. Namun Naura baru tahu mereka bergantian untuk mengasuh Ken


Arkan sudah turun dari mobil lalu membukakan Pintu untuk Naura


Naura kini memeluk Ken dan menggendongnya turun


" Ayo kita masuk " ajak Arkan setelah menutup rapat Pintu mobil


Naura mengikuti langkah Arkan menuju Pintu Pagar rumah dua lantai itu Namun belum seberapa jauh Pelukan Ken yang semakin erat di lehernya membuat Naura berhenti melangkah Ditambah suara lemah bocah itu yang juga membuat Arkan menghentikan langkah.


" Ken mau tinggal sama Mama aja "


Awalnya Naura mengira Ken hanya mengigau Namun mendengar isak tangis Pelan dari mulut bocah itu Naura sadar bahwa Ken sudah terbangun


" Papa ... Nggak sayang ... sama Ken "


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2