
Rakana menyalakan mesin mobilnya setelah berpamitan dengan ibunya, Rayna yang lebih dulu berpamitan dan berterima kasih kepada mama Mayang pun hanya bisa duduk dengan rasa canggung nya, canggung karena mereka duduk berdua bersebelahan dalam satu mobil dalam keadaan sadar.
"Pak saya turun di jalan xxx saja." Pinta Rayna menyebutkan jalanan yang hampir dekat dengan hotel.
"Kenapa turun di sana, apa kamu mau menemui seseorang atau ada keperluan dulu?" Rakana pun ingin tahu.
Rayna menggeleng. "Tidak, hanya saja saya tidak mau nanti ada yang lihat kalau saya dengan pak Rakan satu mobil, saya takut ada omongan dari orang." Jelas Rayna.
"Kamu malu jika ada orang yang tahu kamu satu mobil denganku?" Kecewa Rakana.
"Bukan, bukan seperti itu pak, saya yang khawatir nanti pak Rakan yang akan malu gara-gara saya numpang mobil bapak." Kembali Rayna menjelaskan.
"Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Jawab Rakana terus melajukan mobilnya sampai benar-benar di parkiran hotel.
"Rayna tunggu!" Cegah Rakana saat mobil terparkir dan Rayna akan segera turun.
"Ada apa pak?"
"Maafkan aku atas kejadian tadi malam, maaf jika aku membuat mu tidak nyaman." Rakana meminta maaf akan kejadian ciuman di gajebo semalam.
"Tidak apa-apa pak, tidak perlu di bahas lagi." Pinta Rayna, ia bukan marah tapi malu jika harus membahas masalah itu.
"Kamu jangan marah Rayna, aku tidak bermaksud untuk melecehkan mu, aku..." Rakana bingung harus mengatakan apa.
__ADS_1
"Saya tidak marah, saya tidak bisa marah sama pak Rakan. Ya sudah pak jangan di bahas lagi. Terima kasih atas tumpangan nya dan terima kasih atas kebaikan pak Rakan." Ucap Rayna dengan tulus. Lalu ia pun turun dari mobil Rakana dengan wajah memerah kejadian malam tadi jadi terlintas begitu saja gegara Rakana yang membahas nya.
Ntah kenapa ia tidak marah saat Rakana mencium bibir nya, sedangkan dulu bersama Yoga ia mencoba tidak melakukan hal itu sebelum mereka menikah, apalagi saat Jonathan yang memaksa mencium nya rasanya ia tak rela dan merasa terhina, tapi kenapa dengan Rakana ia malah berdebar-debar saat merasakan nya.
"Rayna! Kamu bisa di nilai wanita gampangan dan murahan di mata pak Rakan." Sesal Rayna. "Harusnya kamu dorong tubuh nya lalu kamu tampar pipi nya dan maki di depan wajahnya saat dia mencium mu! Tapi sayang aku malah pasrah begitu saja. Hah benar-benar tidak punya pendirian!" Kesal Rayna pada dirinya sendiri ketika langkah cepatnya menuju hotel.
***
"Mas kita beruntung ya bisa menginap di hotel semewah ini, voucher menginap dua malam di hotel baru milik tuan Rakana, mimpi apa semalam aku mas..." Heboh seorang wanita yang usianya tidak jauh dengan Rayna, dia adalah Inge dengan memakai pakaian seksi nya tengah berfoto ria mengabadikan kegiatannya hari ini.
"Ini harus di abadikan mas, lalu aku upload di medsos biar semua tahu dan iri. Jarang-jarang kan kita menginap di hotel kalau gak dapet voucher seperti ini." Inge begitu antusias di buatnya.
"Tapi jangan bilang kalau kita menginap karena dapat voucher." Yoga sang suami melarang keras Inge.
"Ya gak lah mas, bisa malu dong kalau kita menginap di hotel mewah karena dapat gratisan." Sahut Inge masih berselfi ria.
"Iya suamiku memang keren..." Puji Inge yang membuat Yoga berada di atas angin.
"Lebih keren lagi tuan Rakana karena dia pengusaha muda. Kamu tahu tuan Rakana selalu menolak jika aku menawarkan pinjaman uang di bank, padahal aku selalu menawarkan pinjaman dengan limit besar padanya, dia akan menjadi nasabah dengan pinjaman tertinggi, tapi sayang dia tidak pernah mau menjadi nasabah ku." Puji Yoga pada Rakana, ia beberapa kali menawarkan dan beberapa bertemu dengan pria tampan, muda dan mapan itu namun selalu di tolak nya.
"Dia sudah kaya, jadi tidak membutuhkan pinjaman dana untuk perusahaan nya, lihat saja mewahnya hotel ini semewah Family's hotel, hotel milik ayahnya." Inge menatap bangunan mewah yang kini ada di depan matanya, ia mencari tahu tentang Rakana di media dan mencengangkan satu hal di benak perempuan muda itu.
"Ah beruntung sekali jika menjadi istrinya." Batin Inge ia penasaran siapa perempuan beruntung yang akan menemani hidup pria tampan dan mapan itu.
__ADS_1
Saat Inge dan Yoga menatap bangunan hotel mewah itu dengan rasa kagumnya, mereka mengunci pandangan pada sosok perempuan yang tengah berjalan ke arahnya dengan seragam yang membalut tubuhnya yang ramping. Di mata Yoga ia melihat perempuan itu semakin cantik pikirnya, ya dia memang cantik tapi membosankan bagi Yoga yang maniak dalam urusan cinta. Namun Inge melihat perempuan itu dengan tatapan sinis nya.
"Bukannya dia mantan mu yang membosankan itu mas?" Sinis Inge saat Rayna tengah berjalan mendekati mereka. Rayna menghentikan langkahnya ia terkejut beberapa saat, saat tahu siapa orang-orang yang ada di hadapannya itu.
Kembali Inge tersenyum sinis melihat keterkejutan Rayna. "Dia masih saja menjadi seorang pelayan!" Hinanya.
Deg hati Rayna.
Yoga pun tersenyum dengan sinis. "Masih betah dengan hidup sebagai pelayan hotel?" Sindir nya.
"Tidak di sana, tidak di sini kamu masih saja menjadi seorang pelayan!" Kembali Rayna mendapatkan hinaan namun bukan dari Inge melainkan dari Yoga.
"Memang nya jika aku menjadi pelayan apa merugikan kalian?" Rayna mencoba membalas hinaan dua orang yang sudah menyakiti nya, ya walaupun dia memang belum memiliki apa-apa yang bisa ia banggakan setidaknya ia tidak mau di hina oleh orang-orang tak bermoral seperti mereka.
"Hahaha, jadi pelayan hotel saja sudah sombong, bagaimana jika jadi istri pemilik hotel." Sinis Yoga dengan senyuman merendahkan.
"Lebih baik menjadi seorang pelayan dari pada menjadi seorang penipu!" Balas Rayna sengit.
"Hahaha. Bodoh kamu Rayna..." Ucap Yoga.
"Ia dia memang bodoh mas, mau saja di tipu." Sambung Inge.
"Bagaimana dengan hutang-hutangmu pada rentenir itu, apa kamu sudah melunasi nya?" Ledek Yoga yang membuat Rayna mengeram kesal. "Aku akan memberikan saran terbaik untukmu jika ingin melunasi semua hutang mu itu, karena jika hanya menjadi seorang pelayan kamu tidak akan bisa melunasinya, walaupun kamu bekerja seumur hidup mu." Yoga menatap Rayna dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1
"Apa itu mas..." Inge mengompori suaminya untuk memberi tahukan.
"Kamu mau tahu Ray?" Tatap Yoga dengan seringai licik yang di balas dengan tatapan sengit Rayna. "Jual keperawanan mu dengan harga tinggi pada om-om kaya, aku yakin semua hutang mu akan terbayarkan." Seringai licik sangat jelas di wajah Yoga dan itu membuat Rayna semakin marah dan ingin sekali menampar mulut kurang ajar mantan calon suaminya itu. Tangan Rayna mengepal dengan kuat, namun ia tahan dengan sekuat jiwa, ia tak ingin mendapatkan masalah baru lagi, sudah cukup membuat Rakana sibuk dengan masalah kemarin dan ia tak ingin membuat nya kembali bermasalah apalagi di dalam hotel Rakana yang bisa saja merugikan bagi Rakana nantinya.