My Secret Admirer

My Secret Admirer
BAB 16 LIMA DETIK


__ADS_3

tetapi bukan namanya bila tidak bisa cepat mengendalikan situasi Arkan mengatakan bahwa yang meminta membawa Ken ke sana adalah mamanya ingin Ken bisa mendalami seni tari dan Peran Dan beruntung Arkan dapat lebih cepat membekap mulut kecil Ken sebelum bocah itu menyangkal lagi dan mengharuskannya mencari alasan lain.


lainnya menuntutnya mengganti kamera yang rusak akibat ulah . Tentu hal ini membuat Meminta uang dalam jumlah besar kepada Papanya tidak semudah yang orang lain Pikir tentangnya. Dan, kalaupunmemberi uang khawatir Papanya malah semakin menuntut yang macam-macam, terutama berhubungan dengan Cherry.


Nasib sial tidak hanya sampai di situ memarahinya habis-habisan karena ia membawa Ken tanpa seizinnya.


Sejak saat itu keduanya sepakat untuk bergantian mengasuh Ken. Seminggu di rumah Mira seminggu di rumah Billy begitu seterusnya.


Arkan sengaja memperlambat langkah ketika melewati kelas Naura. Ia menoleh sekilas. Senyumnya samar samar muncul ketika melihat Naura ada di dalam, sedang menggenggam susu cokelat. Arkan yakin sebentar lagi Salsa akan menghampirinya di kelas.


Baru saja selangkah menjauh dari Pintu kelas Naura. Arkan tiba-tiba berhenti Hari memang masih Pagi. Belum banyak siswa siswi berdatangan. Hal ini membuat Arkan dapat mendengar dengan jelas Percakapan Naura dengan dua temannya.


" Ciye yang kecewa Gara-gara Nggak jadi dapet First kiss dari Kak Kevin,”


" Apaan, sih, Nad ? Biasa aja. Siapa juga yang ngarep,"


" Hm masih Pura-pura Kebaca kali dari muka lo.”


" Eh, eh, tapi gimana kalo tiba-tiba Kak Kevin kasih kejutan buat Naura saat Pentas,”


" Kejutan apa "


" Mungkin aja dia tiba-tiba sengaja melenceng dari naskah dan cium lo beneran di ending drama nanti. So sweet banget, nggak, sih,"


" Ngaco lo "


Jangan ditanya seberapa Panas Arkan mendengar Percakapan itu. Napasnya bahkan sudah tidak beraturan ketika membayangkan hal yang tidak ia inginkan sampai terjadi


Arkan memutar tubuhnya mengubah arah langkah hingga memasuki ruang kelas Naura. Dengan langkah lebar, ia mendekati Naura yang tampak salah tingkah sambil menggigit sedotan kecil di susu kotak dalam genggamannya.


Arkan tidak suka menebak ekspresi Naura yang seperti itu, karena seolah sedang membayangkan Kevin benar-benar memberinya ciuman kejutan di Pentas drama nanti


Ekspresi Naura baru berubah ketika Nadin menyikut lengannya dan berbisik untuk melihat ke depan.


Mata Naura sudah membulat sempurna ketika menemukan Arkan berhenti tepat di samping mejanya. Cowok itu berdiri menghadapnya dengan aura sangat menyeramkan.


" M-morning Kak " sapa Naura sambil memaksakan senyumnya.


" Ada apa, Kak "


Tatapan Arkan tidak sedikit pun berpindah dari mata Naura


" Mana susu cokelat buat gue "


" Eh " Naura cukup terkejut begitu Pula Nadin dan Fira yang mulutnya sudah terbuka lebar sejak menemukan Galen di kelas mereka.


Beberapa detik berlalu dan Naura baru menyadari susu cokelat yang seharusnya diberikan kepada Arkan rupanya malah ia minum sendiri Tampaknya, Pembahasan tentang kejutan yang dikatakan Fira tadi membuat Naura melupakan itu semua Diliriknya susu kotak yang ada di genggamannya


" Sorry Kak ini Nggak sengaja aku minum,” ucap Naura sambil mengangkat susu kotak di tangannya


" Nanti aku beliin yang ba ... "


Suara Naura selanjutnya hilang begitu saja ketika dengan gerakan yang sangat cepat Arkan merebut susu kemasan di tangannya, lalu menyeruputnya seakan tidak ada yang salah dengan itu semua.


Pandangan Arkan masih di sana menghujam sepasang mata bundar Naura yang tidak berkedip menatapnya. Sungguh rasa cemburu ini hampir membuatnya gila


" Thanks " Arkan mengakhiri semua dengan satu kata itu. Ia mengangkat susu cokelat yang baru saja dihabiskan dan meletakkan kemasan kosongnya di atas meja


Naura bahkan hampir lupa cara bernapas bila saja Arkan tidak langsung berbalik dan meninggalkan ruang kelasnya.


Begitu sosok Arkan sudah tidak tampak di Pintu kelas Nadin dan Fira berseru heboh sekali akibat Pertunjukan yang baru mereka saksikan secara langsung


" Omegat Yang tadi itu maksudnya apa," Nada suara Nadin tampak berlebihan. Ia mengguncang tubuh Fira di depannya.


" Jelasin sama gue, Fir, yang tadi itu apa,"


" itu artinya Kak Arkan baru aja nyuri first kiss nya Naura,” jawab Fira tenang.


" Astaga " seru Nadin masih heboh sendiri. la kemudian mengguncang tubuh Naura yang tampak kaku di sebelahnya


" Kasih tahu gue Ra Sebenarnya lo Pakai Pelet apa sampai bisa bikin Kak Arkan begitu ? Kasih tahu, Ra,"


Naura melepas Paksa tangan Nadin yang mengguncangnya kuat sekali


" Kalian jangan mikir macam-macam Mungkin aja Kak Arkan lagi haus dan anggap udah jadi kewajiban gue kasih susu cokelat ke dia tiap hari,"


Nadin meraih wajah Naura kemudian menepuk nepuknya dengan gemas


" Sadar Ra Jangan keterlaluan Nggak Pekanya Jelas-jelas yang barusan itu kode keras dari Kak Arkan loh.”


Naura menyingkirkan tangan Nadin dari wajahnya.


" Kode keras apa maksud lo "


" itu artinya Kak Arkan suka sama lo Ra Mungkin aja tadi dia dengar obrolan kita, terus cemburu Pas ngebayangin kemungkinan Kak Kevin yang nyuri first kiss lo saat drama nanti,"


Naura mengernyit Arkan cemburu kepadanya ? Ditatapnya susu kotak di atas meja dengan Penuh tanya Bagaimana mungkin? Kan, Arkan Pernah mengatakan bahwa Naura bukan tipenya.


" Sedikit lagi Ra Gue yakin Kak Arkan bakal ngaku suka sama lo,"

__ADS_1


...•••••...


Arkan menjatuhkan diri di kursi kelasnya sambil menghela napas dengan gusar. Tingkah anehnya ini mendapat Perhatian Haris dan Jerry


" Kenapa lagi lo " tanya Haris kepada Arkan setelah melewati aksi saling tatap dengan Jerry yang hanya berujung aksi mengangkat bah masing-masing


" Gue Nggak bisa kayak gini terus, Ris Gue nggak mau biarin Naura makin hari makin suka sama si Ketos itu.” Arkan mengacak rambutnya sekilas kemudian bersandar dengan Pandangan menerawang ke depan.


Haris dan Jerry kembali saling tatap, kemudian menatap Arkan


" Jadi apa rencana lo," Kali ini Jerry yang bertanya.


Setelah menghela napas Panjang Arkan duduk tegak dan menatap Jerry di depannya.


" Seperti yang Pernah lo bilang. Gue akan buat Naura suka sama gue.”


" Ya udah silakan kalau memang lo bisa,"


" Gue yakin bisa asal kalian mau bantu gue,” kata Arkan sambil menatap Jerry dan Haris bergantian.


Jerry dan Haris bertukar Pandang untuk kali kesekian.


" Perasaan gue Nggak enak,” curiga Jerry.


" Sama " sahut Haris ragu.


...••••...


Sudah tiga hari ini Regina menemukan surat misterius di laci mejanya. Kertas yang dilipat lipat hingga menyerupai bentuk kamera sederhana itu sedikit menarik rasa ingin tahunya. Biar bagaimanapun, Gina masih asing dengan istilah secret admirer. Biasanya semua cowok yang menyukainya selalu menyatakan secara terang terangan. Bukan dengan secarik surat cinta tanpa nama begini.


Benarkah ia memiliki Pengagum rahasia ?


Gina mengabaikannya lagi Digenggamnya surat itu hingga menjadi gumpalan kecil, kemudian dilempar masuk ke laci mejanya, bergabung dengan dua gumpalan kertas yang bernasib sama di dalam sana.


Gina mengemas alat tulisnya ke dalam tas dengan cepat sebelum bergegas ke luar kelas untuk mengajak Arkan Pulang bersama.


" Hei, Cewek Green Tea "


Panggilan itu entah mengapa membuat Gina berhenti. Ia merasa dipanggil, karena memang sangat menyukai green tea.


Gina menoleh angkuh dan langsung menemukan cowok berperawakan tinggi, dengan kulit bersih kecokelatan serta rambut hitam cepak berjalan ke arahnya setelah memungut sesuatu di dekat kakinya.


Ia mengenali cowok itu sebagai salah satu teman dekat Arkan


" Ngapain lo " bentak Gina. Ia melirik name tag di dada kanan cowok itu Jerry


" Kertas lo jatuh nih " Jerry mengulurkan kertas berbentuk kamera sederhana yang sangat dikenali Gina.


" Jelas-jelas ini ada nama lo,” ucap Jerry sambil memperlihatkan sebuah nama di kertas itu.


" Mungkin aja jatuh dari tas lo yang kebuka.”


Gina mengecek sling bag miliknya dan baru menyadari ritsleting bagian depan tasnya terbuka lebar entah sejak kapan.


" Buat lo aja " kata Gina asal sambil menutup ritsleting tasnya. la kemudian berbalik untuk kembali melanjutkan langkah menuju ruang kelas Arkan


" Oh ini dari Pengagum rahasia lo," tanya Jerry masih mengikuti Gina dari belakang.


Gina menoleh karena kesal. Rupanya Jerry sudah membuka kertas itu dan membacanya Penuh minat.


" Kayaknya gue tahu siapa yang nulis surat ini buat lo,"


Rasa Penasaran Gina muncul kembali


" Siapa "


Jerry mengangkat kepala dan menatap Gina Penuh senyum. " Lo cuma bisa ketemu dia Pas sore hari. Biasanya orang itu suka main basket di sini.”


" Siapa "


" Lo mau tungguin dia ? Gue bisa temenin kalau lo mau. Gimana,"


...••••...


Cherry langsung berlari menghampiri mobil hitam milik Arkan yang menyala di tempat Parkir sekolah Dan sebelum seseorang di dalam sana melajukan mobil itu, Cherry sudah lebih dahulu meraih Pintu mobil lantas duduk tepat di kursi samping Pengemudi


Cherry mengenakan sabuk Pengaman sambil menoleh riang kepada orang di sebelahnya


" Hari ini kita nonton Kok Ioh kenapa lo ini mobil Arkan kan,"


Ia hampir tidak Percaya bahwa bukan Arkan yang berada di sampingnya Padahal, ia yakin betul ini mobil Arkan Tidak salah lagi.


" Kita mau nonton apa," Sosok itu menyahut seseorang yang duduk di balik kemudi dengan senyum simpul di wajahnya. Ia menyadari Cherry berniat turun dari mobil dan sebelum hal itu terwujud, ia sudah lebih cepat menekan tombol yang berfungsi mengunci semua Pintu Kemudian dengan sangat tenang ia melajukan mobil melewati gerbang sekolah.


...•••••...


Naura mengambil kesempatan mendekat ketika melihat Arkan duduk seorang diri di kursi depan kelas, entah sedang menunggu apa.


" Kakak lagi nungguin aku, ya," tanya Naura Penuh Percaya diri tepat di sebelah Arkan

__ADS_1


Arkan menoleh sekilas tanpa minat


" Kaca di rumah lo masih retak," Kemudian Perhatiannya kembali tertuju Pada game yang sedang dimainkannya di Ponsel.


Kepala Naura sudah berasap mendengar Penghinaan itu lagi Namun sebisa mungkin ia meredam kemarahannya. Seperti yang dikatakan Nadin dan Fira tadi, waktunya untuk menaklukkan Arkan sudah tidak banyak lagi. Bila sulit membuat cowok itu berkata suka kepadanya Naura harus menunjukkan sesuatu yang bisa menggambarkan kedekatan dirinya


Dengan Arkan Dan Nadin akan membantu Naura memotret keakraban itu dengan Ponselnya.


Naura melirik ke arah Pohon besar di Pinggir lapangan sebelah kanan. Hanya ia yang tahu bahwa Nadin dan Fira sedang bersembunyi di balik Pohon itu bersiap mengambil gambar apa saja sebagai bukti untuk Miracle bahwa Naura telah menaklukkan si Kutub Es Arkan Bagaskara.


" Kakak Kenapa belum Pulang," tanya Naura sambil menggeser duduknya lebih merapat ke Arkan Tubuhnya sengaja ia condongkan untuk mengintip tampilan di layar Ponsel Arkan


Jari-jari Arkan yang tadinya menari sangat cepat menekan berbagai tombol Permainan seketika berhenti. Beberapa detik kemudian tampilan layar Ponselnya dipenuhi tulisan game over Padahal, Arkan hampir menang bila tidak membiarkan dirinya dikepung musuh tanpa Perlawanan.


" Yah mati " kata Naura sambil menoleh kepada Arkan yang entah sejak kapan sudah menatapnya lebih dahulu.


Ternyata efek Naura di dekatnya masih seluar biasa ini. Arkan selalu merasakan detak jantungnya berdetak hebat ketika menatap Naura dalam jarak sedekat ini.


Apa Naura juga merasakan hal yang sama ?


Mungkin tidak atau mungkin juga belum Arkan menyadari sikap Naura ini semata mata karena misi aneh entah dari siapa.


Silakan tarik Perhatian gue sepuas yang lo mau. Gue nggak akan nolak lagi Karena gue tahu, rule gue cuma satu biar nggak kehilangan lo.


" Sekarang simpan dulu handphone nya, Kak Aku Punya Permainan seru," ucap Naura sambil memutar duduknya menghadap Arka


Arkan mengernyit tak mengerti." Kita adu tatap tatapan mata. Siapa yang Paling lama nggak kedip dia Pemenangnya. Gimana ? Seru, kan ? Naura tampak antusias.


" Terus apa hadiah buat yang menang,"


" Eh " Naura terdiam beberapa saat sambil menggaruk keningnya yang berkerut


" Nggak ada.”


" Nggak asyik kalo gitu.” Arkan membuang Pandangan, berniat menyalakan kembali layar Ponselnya Namun, urung ketika Naura kembali berkata-kata


" lya deh, iya Kalo Kakak menang, aku beliin susu cokelat,"


Arkan mendengus. " Kurang seru "


Naura berdecak kesal. " Terus, Kakak maunya apa,"


" Turutin satu Permintaan gue "


Naura terdiam sesaat. Ia berusaha membaca isi kepala Arkan saat ini tetapi buntu


" Apa " tanyanya menyerah.


" Gue kasih tahu lo setelah gue menang,"


Naura mendadak ragu sekaligus takut Jelas saja ia membayangkan harus lari keliling lapangan basket dua Puluh Putaran selama seminggu seperti waktu itu Astaga Di kepalanya Permintaan Arkan nanti minimal sekejam itu.


" Mulai sekarang " tantang Arkan kemudian.


" Tunggu-tunggu " Naura mengangkat tangan ke arah Arkan sambil merapatkan kedua matanya bermaksud mengambil waktu sebanyak mungkin untuk mengistirahatkan matanya sebelum bertanding. Hal ini tentu membuat Arkan menyunggingkan senyuman karena gemas melihat tingkah lucu Naura


Naura membuka mata Perlahan dan mulai menghitung sampai tiga ketika tatapannya sudah bertemu dengan sorot mata Arkan


" Satu, dua, tiga " Pertandingan dimulai.


Naura hampir menahan napas saat ini Bagaimana tidak ? Sorot tajam mata Arkan seolah menusuknya tanpa ampun membuat Naura merasa tersudut dan teraniaya Matanya Perih dipaksa terbuka lebar dalam waktu yang cukup lama.


Sedangkan Arkan tampak sangat tenang, seolah itu tatapannya sehari hari. Padahal tanpa sepengetahuan Naura Arkan tengah memuaskan diri menatap Naura terang terangan. Ia tidak akan menyia-nyiakan hal langka ini.


Lebih maju, Ra Lebih maju.


Entah itu suara hatinya sendiri entah Naura bisa mendengar suara Nadin dan Fira dari kejauhan yang memintanya untuk lebih mendekat kepada Arkan Yang jelas Naura jadi teringat kembali tujuan utamanya mengajak Arkan melakukan Permainan ini.


Semoga Nadin berhasil mengambil gambar dirinya dan Arkan dengan angle yang tepat.


Naura Perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Arkan Ia semakin menahan napas. Sementara itu, dalam hati ia berhitung. Ia akan memberikan waktu lima detik untuk Nadin memanfaatkan Posisinya yang sangat dekat ini.


Satu detik


Arkan menyadari Pergerakan aneh Naura


Dua detik


Dan ini tentu menimbulkan Perang batin dalam dirinya


Tiga detik


Ia melirik bibir merah muda itu Penuh minat.


Empat detik


Jaraknya semakin dekat.


Lima detik

__ADS_1


...•••••...


__ADS_2