
"Brengsek!" Emosi Rakana melangkahkan kakinya lalu tanpa ba-bi-bu ia mendaratkan sebuah pukulan keras pada wajah sahabat nya hingga terjengkang ke lantai.
"Auh." Lenguh Jo merasakan sakit di wajah dan bokong nya karena pukulan Rakana yang mengakibatkan bokong nya mencium lantai dengan keras.
"Bajingan!" Kembali Rakana memberikan pukulan nya sekuat mungkin, dengan membabi buta.
"Laki-laki sialan!" Umpat Rakana dengan terus memukulnya.
"Tunggu Raka! Aku akan menjelaskan padamu." Jo membela diri mencoba menghentikan pukulan Rakana padanya.
"Tidak perlu kamu jelaskan, aku sudah melihat keburukan mu!" Geram Rakana sungguh ia tak menyangka akan melihat hal seperti ini.
Rayna langsung bangkit, dan mencoba menutupi semua bagian tubuhnya yang terekspos. Pakaian nya kini sudah tak terbentuk, sobek dimana-mana. Namun bersyukur rok yang ia gunakan masih utuh tak koyak sedikit pun.
"Dia yang menggoda ku." Kilah Jo membela diri.
Bug. Kembali Rakana memberikan pukulan dengan emosi semakin menjadi dengan pengakuan sahabatnya itu.
Lalu Rakana beralih melihat Rayna yang memojokkan dirinya di dekat lemari, ia melihat gadis itu duduk mendekap tubuhnya dengan ketakutan seraya terisak karena tangisannya.
Rakana kembali menatap ke arah dimana Jo kini tengah meringis. Lalu menarik pergelangan tangan pria itu agar berdiri.
"Auh kamu memukul ku karena perempuan seperti dia!" Hina Jo dengan ringisan.
Bug... Rakana meninju mulut sahabatnya itu.
"Ah sial!" Umpat Jo.
Jo pun mencoba memukul Rakana karena merasa tidak terima, namun pukulannya meleset, mendapatkan pukulan dari Rakana membuat tubuhnya lemas.
"Aku ini sahabat mu Raka! Dan dia hanya karyawan mu. Tapi kamu malah memukulku seperti ini." Ucap Jo merasa tidak bersalah.
Bug... "Ini pelajaran bagi seorang bajingan seperti mu!" Ucap Rakana tanpa mendengar ucapan Jo.
"Ah sialan kamu Raka!" Jo mulai terpancing karena seluruh tubuhnya sakit apalagi bagian wajahnya.
"Jika kamu terus memukul ku dan terus membela perempuan murahan itu, kerja sama kita batal dan aku tidak akan mengakui mu sebagai sahabatku lagi!" Ancam Jo dengan mengusap bibirnya yang mengalir darah.
__ADS_1
Bug. Kembali Rakana memberikan bogem mentah pada Jo.
"Aku tidak peduli!" Jawab Rakana, ia sungguh sangat ingin membunuh pria bule di hadapannya itu.
"Demi seorang karyawan murahan, hahaha. Bodoh kamu Raka!" Umpat Jo menertawakan sahabatnya itu. "Kamu akan merugi!"
Bug... "Ini pelajaran untuk orang bejat seperti mu!"
Bug... "Ini pelajaran untukmu karena sudah menyakiti perempuan yang aku cintai!" Aku Rakana tanpa sadar karena saking emosi.
Bug... "Ini pelajaran untuk mu karena sudah melecehkan perempuan yang aku jaga selama ini!" Geram nya. "Aku selalu menjaga nya tapi kamu malah ingin merusak nya. Aku tidak akan pernah memaafkan mu!" Emosi Rakana tak terkendali.
"Aku tidak terima, aku akan melaporkan mu karena sudah memukul ku Raka!" Ancam Jo masih saja membuat Rakana emosi.
"Aku tidak peduli, aku akan melaporkan balik kejadian ini dan menjebloskan mu ke penjara!" Ancam balik Rakana.
Rayna terisak namun dengan jelas mendengar apa yang dua pria tampan itu bicarakan.
Rayna yang tadi tak bisa mengendalikan rasa takutnya mencoba untuk sadar bahwa dirinya sekarang selamat dari pelecehan pria bule itu.
"Sudah tuan, hentikan! Tuan Jo bisa mati." Ucap Shandy dengan mencoba menghentikan pukulan tuan nya yang begitu emosi dan membabi buta.
"Itu yang aku mau! Aku ingin membunuhnya!" Teriak Rakana benar-benar sangat marah.
"Tuan cukup, anda bisa mendapatkan masalah jika anda tidak bisa mengontrol emosi anda." Kembali Shandy mengingat tuannya, namun lagi-lagi Rakana tak menggubris perkataan asistennya itu, karena otak dan hati nya tengah di liputi dengan emosi.
"Tuan!" Cegah nya. "Tolong siapapun, tolong saya." Teriak Shandy yang terus mencoba menjauhkan diri Rakana pada Jo yang terlihat sudah lemas terkulai tak berdaya.
Rayna yang dari tadi menunduk dengan kesedihan dan ketakutannya, mencoba melihat ke arah dimana orang-orang yang saling berteriak dan mendengar umpatan Rakana, terkejut karena keadaan semakin tak terkendali, melihat bagaimana emosi dan marahnya di wajah Rakana, dan melihat Jo yang sudah terkulai lemas tak berdaya, membuat Rayna berlari dan langsung memeluk belakang tubuh Rakana dengan eratnya, menarik tubuh itu dengan tenaga yang ia miliki.
"Pak Rakan hentikan!" Teriak Rayna dengan isakan, ia sedih, ia marah, ia kesal karena kejadian ini ada kaitannya dengan nya.
"Saya mohon pak hentikan." Ucap Rayna terus mendekap belakang tubuh kekar itu dengan begitu erat, berharap bos nya menghentikan pemukulan nya pada Jonathan.
"Hentikan pak, saya tidak mau anda mendapatkan masalah nantinya, sudah hentikan pak, saya mohon, saya tidak mau terjadi apa-apa pada pak Rakan, saya takut..." Lirih Rayna terus menenangkan emosi Rakana.
Mendengar Rayna yang terus memohon seperti itu membuat Rakana tersadar dan pemukulan itu pun berhenti. Ia terengah-engah dengan nafasnya yang masih memburu.
__ADS_1
"Dia harus mati Rayna! Dia harus mati karena sudah menyakiti mu dan mencoba melecehkan mu!" Ucap Rakana masih sangat emosi namun ia sudah tak memukuli Jonathan lagi. Rakana hanya menatap pria bule itu dengan kemarahan dan kebencian nya.
"Tidak! Jangan! Anda tidak boleh membunuh nya, anda bukan pembunuh, aku selamat aku tidak tersentuh sedikit pun karena pak Rakan datang menolong ku tepat waktu. terima kasih pak." Ucap Rayna berterima kasih, ia masih mendekap tubuh kekar itu. Terasa nyaman sekali pikir Rayna.
Nafas Rakana mulai mengendur, ia lega mendengar ucapan Rayna. Lega karena ia bisa menolong gadis pemilik hati nya.
"Bawa dia ke polisi!" Titah Rakana menatap tajam pada sahabatnya yang sudah sangat ia kenali sejak kecil, namun ia sungguh tak percaya jika sahabatnya itu menjadi laki-laki bejad seperti ini, apa karena gaya hidupnya di luar negeri?
Dengan tubuh lemas nya, dan babak belur di wajahnya namun Jonathan menyeringai menatap Rakana.
"Aku akan membuat mu menyesal Raka! Kamu pria bodoh!" Hina nya dengan tatapan sayu dan bengkak dimana-mana.
"Kamu yang akan menyesal Jonathan!" Tekan nya, Rakana tak takut dengan ancaman sahabatnya itu.
Shandy dan beberapa karyawan yang membantu membawa tubuh tak berdaya pria bule itu, setidaknya mereka akan membawanya ke dokter terlebih dahulu, setelah itu membawa nya ke pihak kepolisian untuk di tindak lanjuti. Kasus ini harus di proses dan jangan di biarkan begitu saja, karena ini menyangkut hak-hak sebagai wanita.
Rayna masih mendekap erat tubuh Rakana dengan isakan kecil nya serta kepala menelusup pada punggung lebar bosnya. Rakana membiarkan hal itu, jika di ijinkan ia ingin memeluk tubuh kecil itu dan memberikan dekapan hangat nya.
Rayna tersadar, saat keadaan sudah sepi, ia memiliki alasan kenapa masih memeluk tubuh bos nya itu, karena pakaian nya yang sobek dimana-mana, ia malu dan risih tentunya. Rayna melepaskan pelukannya langsung ia berbalik membelakangi tubuh Rakana.
"Terima kasih pak Rakan." Ucap Rayna kembali berterima kasih, ia sungguh sangat berterima kasih.
"Jangan berbalik pak." Pinta Rayna, saat ia mendengar dan merasa pergerakan tubuh Rakana. Ia pun memeluk tubuh bagian depannya untuk menutupi dadanya yang terekspos, sebisa mungkin agar tak terlihat oleh Rakana yang masih ada di dekatnya.
Namun Rakana tetap berbalik tak menerima permintaan Rayna untuk tidak berbalik. Ia melepaskan jas yang ia pakai saat ini. Lalu...
Pluk... Rakana memakaikan jas itu pada tubuh Rayna. Dengan bagian belakang jas ia gunakan untuk menutupi bagian dada Rayna. Rakana membalikkan tubuh Rayna setelah jas sudah menutupi bagian terekspos itu agar menghadap pada nya.
Tatapan Rakana menatap ke arah samping, ia tak berani melihat ke arah depan Rayna, namun dengan cekatan tangan Rakana merapikan jas yang menutupi tubuh Rayna itu dengan mengikat bagian kedua lengan baju pada leher Rayna dengan longgar namun kuat, sedangkan kancing yang berada di belakang tubuh Rayna, ia kancingkan satu kancing dengan kedua lengan kekar yang melingkar pinggang Rayna agar semua bisa tertutupi. Ya walaupun pergerakan Rayna nantinya terbatas, tapi ini cukup menutupi semua tubuh yang tak boleh di lihat orang.
Rayna memperhatikan kegiatan dan perlakuan Rakana padanya, ia melihat tatapan Rakana yang melihat ke arah lain.
Lalu setelah selesai membuat tubuh Rayna tertutup, barulah Rakana memberanikan diri untuk menatap wajah Rayna.
"Jika jas di pakai di tubuh mu seperti aku memakai jas ini, kemungkinan bagian depan jas tidak akan menutupi sepenuhnya bagian depan tubuh kamu. Kamu paham?" Sorot matanya lembut namun tegas. Pikir Rakana akan percuma ini lebih baik walaupun terlihat aneh.
Rayna mengangguk paham. "Terima kasih pak." Ucapnya lirih.
__ADS_1