My Secret Admirer

My Secret Admirer
bab 45 sentuhan lembut


__ADS_3

"Baiklah, aku tidak akan menghubungi keluarga mu. Kamu tanggung jawab ku sepenuhnya sekarang! Apapun yang kamu butuhkan katakan saja padaku." Ucap Rakana secara tegas.


"Emh bukan seperti itu pak, tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi." Sela Rakana memotong ucapan Rayna yang selalu merasa tidak enak padanya.


"Lebih baik bapak pulang dan beristirahat, saya tidak mau terus menerus merepotkan bapak." 


"Siapa yang merepotkan? Aku tidak merasa di repot kan!" Rakana pun kembali berucap.


"Tapi..." 


Saat Rayna akan berbicara kembali, tiba-tiba Shandy datang dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.


"Tuan saya membawa apa yang anda butuhkan." Ujarnya seraya menyerahkan paper bag itu pada bosnya.


Rakana menerima paper bag itu. "Terima kasih." Ucapnya.


"Tuan, saya ingin berbicara kepada anda tentang kasus..."


"Aku ingin mandi, setelah selesai kita bicara di luar." Potong Rakana, ia tak ingin Rayna mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"Baik tuan." Shandy mengangguk pelan dan menunduk, ia paham jika pembicaraan mereka nantinya tak boleh Rayna ketahui, walaupun ini menyangkut dengan diri Rayna.


Rakana langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tubuhnya terasa lengket dan merasa tidak nyaman, apalagi ia akan menunggu Rayna di kamar inap nya. Ia harus memastikan jika dirinya harus tampil mempesona dan juga wangi dalam keadaan apapun.


Shandy menatap ke arah Rayna. "Bagaimana keadaan anda nona?" Tanyanya dengan begitu formal membuat Rayna merasa tak nyaman.


"Saya baik-baik saja, tapi tolong jangan memanggil saya begitu, saya merasa tidak enak." Ucapnya.


Shandy tersenyum. "Saya memang harus sopan kepada anda nona Rayna." 


Rayna bingung harus menanggapinya seperti apa, ia sudah lelah dengan semua kejadian yang menimpa nya, terserah lah dia mau memanggilnya apa.


Rayna yang kesal langsung meminta ijin untuk beristirahat, ia yang tadi duduk bersandar pun kembali berbaring, miring membelakangi asisten sekaligus sekretaris nya Rakana itu, mencoba untuk memejamkan kedua matanya dan menganggap Shandy tidak ada, terserah jika dirinya di nilai tidak sopan.


Tak lama semilir aroma wangi sabun dan sampo menguar di dalam ruangan kamar inap Rayna. Terasa segar saat menghirupnya. Rakana sudah selesai membersihkan dirinya.


Rakana melihat ke arah Rayna yang membelakanginya, lalu menatap ke arah Shandy.


"Nona Rayna ingin beristirahat." Jelas Shandy tiba-tiba, ia paham jika tatapan bos nya sedang bertanya tentang Rayna.


"Kita bicara di luar." Titahnya dengan cepat seraya melangkahkan kakinya ke arah luar.


***


Ada apa?" Tanya Rakana menatap ke arah Shandy, mereka berdua kini tengah berbicara.


"Besok anda di panggil polisi untuk memberikan saksi dan memberikan bukti atas kasus yang menimpa nona Rayna." Jelas Shandy.


Rakana mengangguk. "Baiklah. Tolong siapkan pengacara hebat untuk membantu kasus ini. Aku akan membuat Jo tidak bisa memenangkan kasus ini jika dia tidak terima. Aku mau bukan hanya pihak luar yang menangani kejahatan Jo tapi kepolisian dalam juga. Aku tidak mau kasus seperti ini terjadi kembali." 

__ADS_1


"Baik tuan." Balas Shandy. "Tuan apa anda membutuhkan sesuatu lagi?" Tawar Shandy.


"Perintahkan pelayan rumah ku untuk membawakan aku dan Rayna makanan. Aku akan bermalam di sini untuk menjaga Rayna." Titahnya.


"Jika anda mau beristirahat saya bisa menyuruh seorang pelayan untuk menjaga nona Rayna." Tawar Shandy yang tahu jika tuannya begitu sibuk mengurusi Rayna.


"Tidak perlu, biarkan aku yang menjaga Rayna." Tolaknya.


***


Setelah kepergian Rakana berserta Shandy, Rayna yang memang tidak tidur pun kembali duduk di tempat ranjang pasien. Lalu seorang suster masuk untuk mengecek kembali kondisi Rayna.


"Sus saya sudah baik-baik saja kan? Apa saya boleh pulang?" Pinta Rayna.


Suster yang sedang memeriksa keadaan Rayna pun tersenyum lembut. "Kondisi nona Rayna masih lemah, tekanan darah nya masih rendah. Besok pagi dokter akan mengecek kembali keadaan nona. Jika keadaan nona masih seperti ini kemungkinan dokter tidak akan mengijinkan anda pulang." Urai sang suster.


Rayna menghela nafasnya, pantas saja ia masih terasa pusing jika mencoba untuk berdiri. "Bagaimana caranya agar darah saya tidak rendah?" Rayna ingin sekali cepat pulang. Ia tak mau merepotkan banyak orang.


"Anda bisa makan coklat, bubur kacang hijau atau buah alpukat." Jawabnya.


Setelah menjawab pertanyaan Rayna, suster yang sudah selesai memeriksa Rayna pun keluar ruangan meninggalkan Rayna sendirian di sana. Rakana tak kunjung datang setelah dirinya dan Shandy keluar.


"Mau beli coklat atau bubur kacang hijau, badan lemes begini gimana caranya." Keluh Rayna menyadari kondisinya yang masih terasa lemas.


"Ayo Rayna kamu harus kuat!" Gumam nya menyemangati dirinya sendiri. "Handphone ku mana ya?" Rayna pun mencoba mencari handphone nya, dengan perlahan ia menurunkan kedua kakinya ke lantai, dengan infus yang menggantung membuat ia sedikit kesulitan.


"Ah pusing sekali." Keluh nya. Rayna terhuyung dan hampir jatuh namun Rakana yang baru saja datang dengan sigap menangkap tubuh Rayna.


"Kamu mau kemana? Kenapa tidak menunggu ku saja!" Omel Rakana. Rakana membawa tubuh Rayna dengan menggendongnya dan membaringkan nya di ranjang pasien.


"Kamu mau minum? Ke toilet? Atau apa?" Tawar Rakana dengan sigap dan cepat.


Rayna menggeleng, ia tak mungkin mau membuat Rakana repot. Rayna merasa canggung berdekatan dengan Rakana.


"Lalu tadi kamu mau kemana?" Tatap Rakana.


"Saya cuma mau cari handphone saya." Jawab Rayna.


Rakana langsung membuka laci meja dan meraih handphone itu lalu memberikan nya pada Rayna.


"Ini handphone kamu." Serah nya. "Tapi sebelum itu kita makan terlebih dahulu." Rakana membuka makanan yang pelayan berikan.


"Ini semua makanan sehat, pelayan rumah yang membawanya." Beritahu Rakana seraya membuka kotak makanan itu. "Aku takut kamu tidak suka dengan makanan rumah sakit." 


Rayna diam memperhatikan Rakana yang cekatan melayani nya.


"Aaa. Buka mulut kamu." Titahnya dengan sendok yang berisi makanan di hadapkan ke arah Rayna.


Rayna ragu dan juga canggung. "Saya bisa makan sendiri pak." Tolaknya pelan mencoba meraih sendok itu.


Rakana membiarkan gadis itu menyendokkan makanan untuk ia makan, namun jarum infus Rayna tepat di tangan kanannya membuat ia pun kesulitan.

__ADS_1


"Gadis ngeyel." Omel Rakana mengacak-acak pelan rambut Rayna seraya merebut kembali sendok itu. 


"Ini suster salah pasang jarum infusnya. Harus nya di tangan kiri saja." Ucap Rayna beralasan.


"Suster tidak salah, menurut ku ini sangat tepat." Bela Rakana, ia senang karena kesempatan bagus baginya. "Ayo buka mulut mu!" Titahnya. Dan Rayna dengan ragu membuka mulutnya.


"Bagaimana rasanya, enak?" Tanya Rakana dengan senyum membuat wajah tampan nya semakin tampan. Rayna mengangguk sambil mengunyah makanan yang memang terasa enak. Makanan rumahan sehat yang Rayna rindukan.


"Pak Rakan sudah makan?" Tanya Rayna dengan mulut penuh nya.


"Belum, aku akan menyuapi mu setelah itu nanti aku akan makan." Jawabnya santai.


"Eh kenapa begitu, bapak makan saja, biar saya makan sendiri, saya bisa kok." Rayna mencoba merebut kembali sendok nya, namun Rakana tidak mengijinkan nya. 


"Kita makan bersama saja." Putus Rakana. "Aku naik ya." Ijin nya membuat Rayna mengerut.


Rakana naik ke atas ranjang pasien, duduk menyila berhadapan dengan Rayna yang kakinya di lipat. Di tengah-tengah mereka ada meja kecil dengan makanan di atasnya. Lalu tanpa canggung Rakana makan dari sendok yang Rayna gunakan tadi. Dan Rayna memperhatikan semua itu, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Rakana terus menyuapi makanan itu ke mulut Rayna, ia mencoba untuk santai sebisa mungkin, agar Rayna pun tidak merasa canggung padanya.


Tak sadar mereka berdua menghabiskan makanan itu, tanpa menyisakan sedikit pun makanan. 


"Ah enak sekali makanan nya. Kamu sudah kenyang?" Tanya Rakana memastikan Rayna benar-benar kenyang. Rayna mengangguk.


"Gadis pintar." Puji Rakana mengelus kepala Rayna dengan lembut, melihat makanan habis tak tersisa.


"Jika makan berdua seperti ini terasa nikmat sekali." Ucap Rakana dengan membereskan semua kotak makan nya.


Rakana pun mengeluarkan sesuatu. "Ini untuk kamu." Ia memberikan dua batang coklat pada Rayna. "Ini bagus untuk tekanan darah mu yang rendah. Ambillah." 


Rayna meraih coklat itu. "Terima kasih pak." Senyuman Rayna tampilkan ia senang Rakana begitu memperhatikan nya. Ia langsung membuka kemasan coklat itu lalu mempotek coklat batangnya untuk ia makan. Rakana memperhatikan nya, ia tersenyum senang karena Rayna langsung memakan coklat itu dengan lahap. "Kebetulan sekali, ini untuk menstabilkan tekanan darah saya pak." Seru Rayna penuh di mulutnya dengan coklat.


"Enak coklat nya?" Tanya Rakana yang senang sekali memperhatikan Rayna. Melihat Rayna begitu senang hanya mendapatkan sebuah coklat dari nya.


"Enak, pak Rakan mau?" Tawar nya. "Coklat nya ada dua saya akan berbagi satu untuk pak Rakan." Rayna mengulurkan coklat itu kepada Rakana, namun Rakana menggeleng menolak nya.


"Ini enak pak, sudah lama sekali saya gak pernah makan coklat. hihihi." Seru Rayna dengan berkelakar.


Rayna kembali mempotek coklatnya, namun saat ia sedang menikmati coklat itu tiba-tiba, hup! Rakana langsung memakan coklat yang ada di tangan Rayna dengan cepat, membuat Rayna terhenyak.


"Kamu benar coklat ini enak, apalagi dari tangan kamu." Seru Rakana menggoda Rayna seraya menikmati coklat yang meleleh di mulutnya. "Emh manis kayak kamu." Goda nya lagi.


"Saya baru tahu kalau bapak ini suka menggombal." Seru Rayna menanggapi gombalan receh Rakana dengan senyuman nya.


"Ya biar suasana nya meleleh seperti coklat ini, biar gak terlalu kaku." Rakana berusaha membuat Rayna nyaman dengan nya. "Aku ingin membuat kamu nyaman dengan ku, Rayna." Tatap Rakana lembut menatap wajah Rayna, tatapan nya begitu intens.


Rayna gelagapan saat di pandang seperti itu oleh Rakana, hatinya tiba-tiba saja berdebar-debar. Lalu dengan cepat Rayna memasukkan coklat yang ada di tangannya pada mulut Rakana, supaya mengalihkan perhatian nya namun kesalahan besar bagi Rayna karena Rakana semakin menatap nya dengan sangat intens seraya menikmati coklat yang Rayna berikan padanya.


Rayna melihat bagaimana tenggorokan Rakana yang menelan coklat itu terlihat begitu seksi di matanya, dengan tak melepaskan tatapan lembut Rakana padanya.


"Jangan berpikir macam-macam." Ucap Rakana dengan senyuman menggodanya, ia pun tak luput mengelus lembut kepala Rayna dengan sayang. Perlakuan itu membuat Rayna merasa tersentuh. Laki-laki di hadapannya itu selalu ada di saat ia mengalami kesulitan.


 

__ADS_1


__ADS_2