
Waktu terus berjalan Arkan semakin cemas, Kevin mulai tidak sabar, dan Naura masih kebingungan.
Arkan mengulurkan tangan ke arah Naura
" Nggak usah bingung, Ra Sambut tangan gue kalau lo Pilih gue.”
Naura menatap Kevin beberapa detik kemudian beralih menatap tangan yang terulur ke arahnya.
Saat Naura masih berusaha mencari Petunjuk dari kata hatinya, Arkan ikut mengulurkan tangan ke arahnya Membuat Naura menatapnya lama
" Gue bisa jadi Miracle nyata buat lo,” ucap Arkan meyakinkan.
Debaran itu muncul lagi. Debaran yang Naura rasakan saat Arkan menembaknya di tengah lapangan pagi tadi. Juga, saat mendengar Arkan menyebut ia Ceweknya
Mata Arkan dan Naura bertemu cukup lama. Ada kesungguhan yang dirasakan Naura dari sorot mata Arkan Kesungguhan yang seolah meyakinkannya bahwa Arkan bisa menjadi Miracle dalam hidupnya
Pandangan keduanya masih bertemu sampai kemudian Naura mengalihkan tatapan ketika menyadari Kevin menggerakkan tangan, memberi kode agar Naura menyambutnya
Naura mengangkat tangannya, bersiap menyambut salah satu uluran tangan tersebut. Dipandanginya sekali lagi Arkan dan Kevin bergantian. Semoga kata hatinya tidak salah.
Matanya menatap Kevin Naura menyukai Kevin Ia merasa nyaman dan tenang tiap kali berada di dekat cowok itu. Namun entah mengapa sikap sikap Arkan selama ini mulai menarik Perhatiannya. Kini Naura berganti mengamati Arkan di dekatnya. Ia mulai menyadari mungkin saja teori lima detik dari Fira ada benarnya, bahwa Arkan menyukainya. Dan, Naura mulai menghubungkannya dengan semua Perhatian tidak tersirat yang diberikan Arkan kepadanya melalui hal hal yang ajaib.
Tangan Naura bergerak mendekati tangan Arkan yang masih setia menanti. Sejenak Naura mengabaikan tangan Kevin yang sedari tadi bergerak untuk mengalihkan Pandangannya Mata Naura masih menatap uluran tangan Arkan yang terbuka lebar
Jantung Naura berdebar hebat. Dan, ini diyakininya sebagai Pertanda baik bahwa ia tidak salah memilih.
Senyum Arkan Perlahan terukir menyadari tangan Naura bergerak mendekat ke arahnya. Dan, ketika ujung jari Naura bertemu dengan ujung jarinya, cepat cepat Arkan menangkap tangan itu. Menggenggamnya erat seolah takut Naura akan berubah Pikiran Pada detik berikutnya.
" Akan gue Pastiin Pilihan lo tepat,” ucap Arkan tanpa bisa membendung kebahagiaannya. Senyumnya terukir sempurna.
" Gue Nggak akan Pernah lepasin lo sampai kapan Pun.” Arkan semakin menggenggam erat tangan Naura
Naura cukup terkejut dengan genggaman erat Arkan yang tiba-tiba Terlebih, senyuman Arkan yang baru kali Pertama dilihatnya itu, mampu membuat debaran jantungnya semakin hebat. Arkan tersenyum kepadanya Senyum yang kata orang-orang limited edition itu ? Naura tidak tahu lagi harus mengungkapkan Perasaannya seperti apa. Sudah Pasti banyak Perempuan yang ingin berada di Posisinya saat ini menatap langsung senyuman yang membuat Arkan tampak semakin rupawan.
Kemudian Naura menoleh karena embusan napas berat Kevin. Ia melihat Kevin menurunkan uluran tangannya sambil menatap kecewa.
" Kak aku Nggak bermaksud—” Niat Salsa untuk meluruskan sesuatu kepada Kevin terpotong Perkataan Arkan selanjutnya.
" Nggak Perlu ngomong apa-apa Jangan buat seolah-olah lo kasih dia harapan buat deketin lo lagi." Arkan melemparkan tatapan tajamnya kepada Kevin sementara Naura masih merasa tak enak hati.
" Gue antar lo Pulang.” Arkan berupaya membawa Naura menuju mobilnya tetapi Naura memaksa tetap di tempat
" Aku Pulang bareng Luna,” ucap Naura masih menahan tangannya sendiri
Tidak lama berselang Luna muncul dan mendekat.
" Kak Naura yuk, Pulang,"
Menyadari kehadiran Luna Naura buru-buru membebaskan tangannya dari genggaman Arkan dan mengajak Luna segera Pulang
Kevin dan Arkan mengamati tingkah aneh Naura dalam diam. Jelas terlihat Naura salah tingkah. Tampak dari kegugupannya saat membantu Luna memakai helm lalu mematikan mesin motor dan turun lagi untuk mengambil mantel yang tertinggal.
" Aku Pulang duluan " Pamit Naura sebelum akhirnya benar-benar melajukan motor menjauh
Dalam Perjalanan Pulang Naura berusaha meredakan debaran jantungnya yang belum juga terkendali Naura hampir tidak bisa memercayai ini semua.
" Kak yang di mobil itu teman Kakak ya," tanya Luna sambil melirik mobil yang bergerak di belakangnya.
" Dari tadi ngikutin melulu "
Naura melirik dari kaca spion, dan menemukan mobil hitam yang dikendarai Arkan mengekor dalam jarak cukup dekat.
" Oh, iya. Itu teman Kakak," jawab Naura sekenanya.
" Kenapa dia ngikutin kita "
__ADS_1
" Rumahnya memang searah sama rumah kita.”
" Oh.”
Naura menambah sedikit kecepatan motornya, lalu memasuki gang Menuju rumahnya yang ia yakini tidak bisa dimasuki kendaraan roda empat. Ia bisa bernapas lega ketika menyadari Arkan berhenti mengikutinya di depan gang.
Maria langsung menyambut Luna. Ia membantu Luna turun dari motor kemudian melepas helm Putrinya itu
" Kamu Nggak kehujanan, kan Sayang," tanya Maria sambil meneliti Luna dari atas hingga bawah.
" Nggak, Ma. Udah Nggak hujan,” sahut Luna.
Maria mengusap sayang rambut Luna, kemudian menuntunnya masuk ke rumah. Ia melupakan Naura yang masih di atas motor yang sejak tadi memperhatikan dengan iri.
Mungkin memang Naura yang terlalu senang mengartikan bahwa mamanya mulai Perhatian kepadanya. Nyatanya sikap Maria tidak berubah masih seolah tidak menganggapnya ada
Mungkin Maria bersikap manis kepadanya dengan memberikan mantel hujan hanya karena ingin memberi kesan sebagai orang tua yang Perhatian. di depan anak didiknya Atau mungkin Maria khawatir Luna jadi sakit bila Naura memboncengnya dalam keadaan basah kuyup. Maria hanya memperhatikan Luna.
Astaga Apa yang Naura Pikirkan Mengapa Pikirannya jadi negatif seperti ini ?
Naura beranjak dari motor tetapi tidak langsung masuk ke rumah. Ia mencoba melirik sekali lagi ke ujung jalan gang rumahnya. Yang dikhawatirkan rupanya terjadi. la melihat Arkan berjalan mendekat.
Naura menoleh ke Pintu rumah sekadar memastikan bahwa mamanya tidak sedang memperhatikan. Bisa gawat bila Maria melihat Arkan Karena, Naura ingat betul, Maria tidak mengizinkannya berpacaran sebelum lulus. Dan Naura khawatir Arkan akan membuat keadaan semakin runyam
Sebelum Arkan sampai di rumahnya Naura sudah mencegat.
" K-kakak Ngapain di sini," tanya Naura gugup.
Arkan tidak tampak terkejut mendapati Naura muncul tiba-tiba. Ia malah menyambut Naura dengan seulas senyum
" Gue mau Pastiin cewek gue selamat sampai tujuan.”
Naura memejamkan mata ketika mendengar sebutan Arkan untuknya Debaran itu lagi, dan Naura berupaya keras mengenyahkannya.
" Aku baik-baik aja Kak Sekarang Kakak bisa Pulang,” sahut Naura dengan wajah merah Padam. Matanya memindai sekitar takut kalau ada tetangga yang memperhatikannya dengan Arkan, kemudian mengadukan kepada mamanya.
" Kalau mamaku lihat Kakak di sini, aku bisa dalam bahaya. Kakak cepat Pulang, sana.” Naura berupaya memutar tubuh Arkan dan mendorongnya menjauh. Namun, Arkan masih enggan beranjak.
Arkan malah tersenyum semakin lebar la jadi gemas sendiri melihat tingkah Naura Ia kembali memutar tubuhnya menghadap Naura, lantas menahan kedua tangan mungil cewek itu agar berhenti memaksanya Pergi.
" Gue jadi Pengin ketemu sama nyokap lo sekarang,” goda Arkan
Naura membulatkan matanya. " Jangan main-main, Kak. Aku Nggak dibolehin Pacaran sebelum lulus.”
" Jadi maksudnya, lo mau kita backstreet," Arkan menaikkan kedua alisnya, kembali menggoda Naura yang mulai salah tingkah.
Arkan suka menatap Naura yang seperti itu.
" Kak cepat Pulang, sana.” Naura kembali memohon
" iya, iya.” Arkan melepaskan tangan Naura Tangannya kini bergerak merapikan Poni Naura yang berantakan karena basah.
" Langsung mandi, ya. Biar Nggak sakit.”
Perlakuan Arkan Sukses membuat tubuh Naura kaku sekaku-kakunya. Bahkan Naura sampai menahan napas karena terkejut.
" Kalau gue telepon diangkat. Kalo gue chat, dibalas. Oke," Kali ini tangan Arkan bergerak menyelipkan rambut Naura ke balik telinga. Seolah tidak membiarkan sesuatu sekecil apa pun menutupi kecantikan kekasihnya.
Naura masih tidak bergerak. Matanya mengerjap beberapa kali demi menemukan kembali kesadarannya
" Naura kamu kenapa masih di luar," Suara Maria dari dalam rumah berhasil mengumpulkan kembali kesadaran Naura Ia segera membalikkan tubuh Arkan dan mendorongnya menjauh Kali ini tidak ada Perlawanan dari cowok itu.
" Hati-hati di jalan Kak,” usir Arkan secara halus. la kemudian berlari masuk ke rumah sebelum Maria mencurigainya.
Arkan memperhatikan hingga Naura tidak terlihat di balik Pintu. Senyumnya masih mengembang. Ia sadar kini jadi sering tersenyum. Arkan sungguh senang, walau juga sedang berusaha mengabaikan firasat buruk yang dirasakan sejak tadi.
__ADS_1
Sejak Ponsel di sakunya terus bergetar sejak ia menyusul Naura di sanggar. Ia yakin Papanya menelepon sedari tadi Dan, Arkan tahu Pasti apa yang menantinya ketika sampai di rumah
...•••••...
Ada yang aneh dengan Perasaannya Naura tidak mengerti mengapa ia terus berdebar sepanjang hari ? Bahkan ketika ia sendirian di kamarnya malam ini. Dan, entah mengapa Arkan terus memenuhi kepalanya.
" Gue bisa jadi Miracle nyata buat lo,"
Naura menutup wajahnya dengan bantal saat mengingat kembali kata-kata manis Arkan sore tadi Mengapa ia bisa demikian senang hanya karena sepenggal kalimat ?
" Miracle " Naura mengubah Posisi berbaringnya hingga menjadi duduk karena mengingat kata itu. Ia hampir melupakan tujuannya bertemu dengan Miracle.
Dengan cepat Naura meraih Ponsel di atas meja belajar kemudian membuka ruang obrolan dengan Miracle.
Miracle masih belum mengirim Pesan apa pun setelah Naura berhasil menyelesaikan misi
Apa karena masih tersisa waktu delapan hari, jadi Miracle menunggu sampai waktu itu tiba untuk menepati janjinya ? Atau, haruskah Naura melapor bahwa ia sudah berhasil menuntaskan misi
Dan, Naura memutuskan untuk mengirim Pesan kepada Miracle
...anastasyaNaura...
...Aku sudah berhasil menyelesaikan misi....
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Read.
Balasan dari Miracle masuk tidak lama berselang, dua kata yang mampu membuat Naura tercengang.
...Miracle...
...Aku tahu...
Benarkah ? Apa Miracle melihat Arkan menembaknya Pagi tadi ? Jadi, selama ini Miracle berada di lingkungan sekolahnya ? Padahal Naura masih meyakini bahwa Miracle adalah mama kandungannya.
Buru-buru Naura membalas Pesan itu.
...anastasyaNaura...
...Kamu tahu dari mana...
...Miracle...
...Sesuai janjiku Mari bertemu delapan hari lagi....
...anastasyaNaura...
...Dimana...
Jeda cukup lama Balasan dari Miracle belum juga masuk, membuat Naura tidak sabar.
...anastasyaNaura...
...Boleh tahu ciri-ciri kamu ? Supaya aku bisa langsung tahu saat kita ketemu....
...anastasyaNaura...
...Kamu laki-laki atau Perempuan...
...anastasyaNaura...
...Boleh tahu siapa namamu...
Naura resah menunggu balasan pesan dari Miracle. Dan ketika balasan itu masuk, kalimat yang diterimanya sama sekali bukan jawaban atas salah satu Pertanyaannya.
...Miracle...
__ADS_1
...Mari sama-sama menanti hari itu tiba....
...•••••...