My Secret Admirer

My Secret Admirer
bab 39 kerjaan baru


__ADS_3

Saat pria bule itu akan menghampiri Rayna namun urung ia lakukan, karena Rayna tengah berbicara melalui handphone nya ntah dengan siapa Jonathan tidak mengetahui nya, ia menunggu saja sampai Rayna sudah selesai berteleponan.


"Ya Tyas, setiap bulannya aku tidak menerima gaji sepeserpun karena aku harus membayar uang hutang dan mengganti uang kerugian pada pak Rakana." Terdengar helaan nafas Rayna dengan jelas, Jonathan masih memperhatikan tanpa Rayna sadari.


"Sekarang aku bingung harus membayar tempat tinggal dengan apa." Kembali Rayna bercerita. "Jika makan aku tidak memikirkan nya karena aku bisa makan sepuasnya di hotel, ya walau terkadang jika aku lapar malam hari di tempat tinggal ku, aku akan menahan nya." Keluh Rayna.


"Ya ampun Rayna, aku baru tahu jika kamu memiliki masalah seperti ini, apa ayahmu tahu?" 


"Tidak, jangan beri tahukan pada ayahku, aku tidak mau membuat ayahku khawatir." Ujar Rayna.


"Jika aku memiliki uang banyak aku akan membayar semua hutang mu itu, tapi sayangnya aku masih susah Ray." 


Rayna tersenyum. "Tidak perlu melakukan hal seperti itu, ini masalah ku. Kamu mau mendengar keluh kesah ku saja aku sudah senang dan bersyukur masih ada orang yang peduli padaku." Rayna merasa senang memiliki sahabat seperti Tyas, walaupun dengan sahabat nya berjauhan tapi komunikasi mereka tetap terjaga dengan baik.


Mendengar semua pembicaraan Rayna membuat Jonathan pria bule itu menyeringai nampak di bibirnya menghias di wajah tampan nya. 


"Malang sekali." Gumamnya pelan dengan seringai masih terpancar di bibir nya.


"Kamu di sini? Aku mencari mu." Tepukan dan suara Rakana menghentikan seringai di bibir Jonathan, dan Rayna pun mendengar suara itu setelah handphone nya ia matikan, ia membalikkan tubuhnya melihat dua pria tampan yang sedang menatap ke arahnya, dengan tatapan mata yang berbeda saat menatap nya.


Rayna menundukkan tubuhnya sebagai hormat nya ia pada Rakana dan sahabat nya itu, lalu ia pergi dari tempat itu karena tak ingin menggangu.

__ADS_1


"Ya, aku melihat tempat-tempat menarik di sini." Jawab Jonathan menatap ke arah lain, ia tak ingin jika Rakana tahu bahwa ia sedang tertarik pada karyawannya. "Lebih indah dari semua pemandangan yang pernah aku lihat." Sambung nya. Rakana mengerutkan keningnya.


"Lebih baik kita ke ruangan mu saja, aku akan memberikan 50% untuk dana kerjasama bisnis kita ini." Ujar Jonathan penuh semangat.


"Woow kamu seserius itu tertarik untuk bekerjasama dengan ku." Rakana menyambut hal itu dengan baik.


Mereka pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Rakana untuk membicarakan dan menandatangani sebuah surat perjanjian.


"Sudah selesai kan, sekarang aku ingin istirahat." Jonathan merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah, setelah ia menandatangani surat perjanjian dengan Rakana.


Rakana mengecek kembali surat perjanjian itu dengan adanya tanda tangan sahabatnya tertera di sana.


"Tidak perlu, aku percaya padamu." Jawab nya.


"Hahaha Jo kamu ceroboh, bagaimana jika aku menipu mu." Sarkas Rakana dengan senyum licik ia tampilkan.


"Hahaha sepertinya kamu tidak akan berani menipuku Raka!" Jonathan sudah sangat percaya pada Rakana, lelaki itu tidak akan menipunya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar." Rakana memang tidak akan menipu siapapun apalagi sahabatnya sendiri.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Rayna siang ini mendapatkan jam kerja siang sampai malam, sif malam masuk nya.  Saat ini ia memiliki pekerjaan baru yaitu menjadi tukang ojek dadakan, ia bercerita pada bang Ali tukang ojek langganan nya ketika ia malas membawa motor. Rayna bercerita jika ia butuh pekerjaan lain untuk menambah pendapatan nya, dan singkat cerita di sinilah sekarang ia tengah berada di sebuah pasar mengantarkan seorang ibu penjual warung di daerah tempat ia ngekos.


Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, dimana keadaan pasar sudah ramai dengan pembeli, kebanyakan pembeli adalah penjual, seperti Bu Minah.


"Ini semua muat di bawa gak?" Ibu penjual warung bernama Bu Minah itu bertanya dengan menenteng barang belanjaan yang banyak itu.


Rayna meringis. "Memangnya harus sekaligus di bawa ya Bu?" Ia takut jatuh jika semua barang di angkut sekaligus.


"Kalau saya tinggal sebagian barang nya di sini nanti ada yang ambil, terus kalau gak sekaligus di bawa waktu saya jadi terbuang, saya harus siap-siap buat buka warung." Terangnya merasa keberatan jika harus bolak-balik.


"Ya udah Bu, saya paking dulu ya biar barangnya semua ke bawa." Rayna pasrah saja, yang penting ia dan ibu itu selamat dan pagi ini ia akan mendapatkan dan mengumpulkan uang untuk membayar kosan nya.


Rayna pun mengangkut semua belanjaan ibu Minah itu, sampai ia pun tertutup oleh daun-daun hijau di depannya, sayuran segar yang Bu Minah beli apalagi dengan kerupuk yang banyak di beli itu, memang tidak berat namun membuat motor nya penuh dengan berbagai bahan jualan Bu Minah.


"Ibu sudah siap? Aman-aman kan!" Tengok Rayna ia harus mengamankan Bu Minah agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.


"Iya ibu sudah siap. Aman!" Jawabnya wajah nya terhalang oleh makanan ringan yang ia beli.


Rayna menyalakan mesin motor nya lalu.


"Berangkat..." Ayun Rayna berucap memperagakan Entis tukang ojek tak lupa ia pun memukul pelan motor bagian depannya. Ibu Minah yang melihat tingkah Rayna hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2