My Secret Admirer

My Secret Admirer
bab 41 lirihan Rayna


__ADS_3

"Maaf tuan, saya tidak tertarik dengan penawaran anda." Dengan tegas Rayna menolaknya.


"Tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan. Kamu bisa pikirkan ini dengan baik-baik, aku akan menunggu nya. Nanti, setelah kamu merasa yakin datanglah kepadaku, aku siap kapan saja." Kembali Jo merayu Rayna.


"Mau sekarang atau pun nanti, jawaban saya akan tetap sama, saya tidak tertarik dengan penawaran anda!" Ucap Rayna penuh penekanan, ia bukan perempuan murahan yang akan menjual kehormatannya demi bisa hidup enak.


"Kamu yakin? Mau hidup susah terus seperti ini? Tak mendapatkan gaji dan tak bisa hidup dengan enak?" Tak gencar Jo terus membuat Rayna goyah.


"Lebih baik hidup saya susah, daripada saya harus menjadi perempuan murahan!" Tegas Rayna, ia tak akan termakan rayuan pria bule di hadapannya.


Rayna berdiri berniat pergi dari tempat duduknya, ia tak ingin berurusan dengan pria bule itu.


"Pekerjaan saya sudah selesai, permisi tuan." Pamitnya seraya membalikkan tubuhnya hendak mau pergi.


Jonathan pun berdiri dengan cepat melihat Rayna yang hendak akan pergi itu.


"Perempuan sok suci!" Ucapnya dengan menarik pergelangan tangan Rayna, lalu menariknya dengan kuat sehingga Rayna tertarik jatuh tepat di atas sofa.


"Tuan apa yang anda lakukan!" Geram Rayna.


Jonathan langsung menimpa tubuh Rayna dengan gerakan cepat, mengunci pergerakan Rayna yang memberontak.


"Aku tidak suka dengan penolakan mu!" Ucap Jo merasa terhina.


Jonathan mulai ingin mencium bibir Rayna, namun Rayna mencoba menghindarinya.


"Jangan macam-macam tuan!" Ancam Rayna, ia berusaha melepaskan tubuh nya dari kungkungan tubuh pria bule itu.


"Aku tidak akan macam-macam, hanya satu macam saja." Seringai licik di wajahnya. "Mau di paksa atau merelakan dengan suka hati." Ucapnya, menampilkan bahwa dia akan melakukan apa saja yang ia inginkan.


"Saya tidak akan pernah merelakan nya begitu saja!" Sorot mata Rayna tajam ia akan mempertahankan apa yang harus ia pertahankan. Rayna mencoba kembali melepaskan diri.


"Perempuan sok suci!" Senyum sinis Jo tampilkan. "Kita sama-sama enak, kenapa kamu harus menolaknya." 

__ADS_1


"Karena saya bukan perempuan murahan!" Tekannya. "Jika anda ingin melampiaskan nafsu anda, carilah perempuan lain yang bisa anda ajak tidur dengan suka rela!" Tatapan matanya tajam, ia tak takut menatap pria bule itu.


"Aku akan memperlihatkan mu bagaimana kuatnya aku ketika bercinta." Jo tak peduli dengan kilat kemarahan Rayna.


Jo mencoba kembali untuk mencium bibir Rayna, dan Rayna mendorong kuat tubuh pria bule itu dengan sekuat tenaga nya.


Karena sofa nya yang sedikit sempit membuat Jo jatuh ke lantai saat Rayna tadi mendorongnya.


Rayna buru-buru bangun lalu berdiri untuk melarikan diri dari sana, namun Jo dengan cepat berdiri lalu berlari menuju pintu untuk menguncinya.


Seringai puas di bibir Jonathan. "Kamu tidak akan bisa lari dariku!" Ancamnya tak main-main. Jo melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rayna dengan membuka bathrobe nya, sehingga tubuhnya memperlihatkan dada dan perutnya yang seksi.


"Saya akan berteriak, jika anda terus mendekat!" Ancam Rayna.


Namun bukan takut Jo malah tertawa. "Hahaha kamu ini bodoh atau lupa? Ruangan ini kedap suara, berteriak sekencang apapun tidak akan ada yang mendengar nya." Jo merasa puas. "Teriak lah sekencang mungkin." Titahnya dengan santai.


Rayna mulai ketakutan, posisinya saat ini tidaklah aman, bagaimana ini? Pikir Rayna.


"Jangan mendekat!" Teriak Rayna saat lagi-lagi Jo mendekat ke arahnya.


Tanpa menunggu dan menghiraukan ancaman Rayna, Jonathan menyergap tubuh Rayna dengan membawanya pada ranjang yang sudah Rayna bersihkan tadi.


"Lepas! Lepaskan saya!" Teriak Rayna terus memberontak, mendorong, bahkan memukul dada pria bule itu dengan kuat.


"Kamu yang membuat aku harus memaksa seperti ini. Coba saja tadi kamu tidak menolak ku, aku tidak akan bermain sekeras ini." Ucap Jo mulai kesal dengan Rayna yang terus memberontak.


"Tolong....! Tolong..." Rayna berteriak saja, ia berharap dengan teriakannya itu akan ada seseorang yang menolongnya.


"Percuma kamu berteriak, tidak ada yang akan menolong mu." Jo berseringai. Jonathan mendekatkan tubuhnya lalu berusaha untuk mencium bibir Rayna, pipi dan seluruh wajahnya. "Sekarang kamu memberontak, tapi setelah ini kamu akan menikmatinya." Desis Jo yang sudah sangat merasa menginginkan tubuh Rayna.


Rayna yang berada di bawah tubuh Jo, terus memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari serangan Jo yang ingin menyentuhnya.


Jo semakin kesal di buatnya sehingga ia menarik pakaian kerja yang Rayna kenakan dengan kuatnya sampai kancing bajunya itu terlepas dan pakaian nya sobek, membuat bagian depan yaitu dada nya Rayna terpampang jelas begitu menggoda pria bule itu.

__ADS_1


"Aaaaa." Teriak Rayna mulai ketakutan "Tolong..." Tolong..." Tidak hanya tangan yang bergerak, namun kaki nya bergerak untuk menendang bagian tubuh Jo yang ada di atas tubuh nya.


"Oh indah sekali pemandangan ini." Dengan berbinar Jo saat melihatnya dada segar seorang gadis di bawah tatapannya.


Rayna ketakutan, air matanya mulai mengalir, ia benar-benar takut dengan pria bule itu. Tenaganya nya sangat kuat, ia sungguh sangat berharap jika ada seseorang yang menolongnya. "Tuhan tolong aku." Lirih Rayna.


"Jangan lakukan ini kepada saya tuan." Mohon Rayna agar Jo melepaskan nya. "Saya hanya ingin bekerja dengan tenang dan baik-baik saja." Rayna mencoba berbelas kasih pada pria itu. 


Namun Jo yang sudah di liputi dengan gairah tak peduli dengan wajah sedihnya Rayna, ia harus menikmati tubuh Rayna sekarang juga.


***


Di ruangan Rakana


Di sana Rakana masih betah berada di ruangan nya, namun bukan sibuk melakukan pekerjaannya, melainkan ia tengah sibuk menatap laptop nya yang menampilkan sebuah cctv, yang mengarah pada pergerakan di depan kamar yang kini di tempati oleh Jonathan sahabatnya. 


Rakana tidak beranjak kemanapun saat Rayna pergi untuk menemui Jo. Ia malah asyik memperhatikan layar cctv di depannya. Ia ingin tahu pergerakan Rayna di sana.


Terus memperhatikan. Ia melihat saat Rayna membawa peralatan ke dalam kamar Jo, pasti sahabatnya itu menyuruh Rayna untuk membersihkan kamar nya.


Setelah itu ia tak lagi melihat Rayna keluar, tidak mungkin jika Rayna keluar tanpa ia ketahui, karena ia sama sekali belum beranjak di sana.


"Lama sekali di sana, apa yang mereka lakukan? Pembicaraan apa sehingga Rayna betah berada di sana?" Gumam Rakana mulai cemburu. Ia tak rela! Benar-benar tidak rela!


"Apa aku harus kesana?" Pikirnya. "Lalu alasan apa yang harus aku katakan jika Jo bertanya." 


"Tidak! Tidak! Mungkin Rayna belum selesai membersihkan kamar si Jo." Rakana membuang pikiran jeleknya itu.


"Tapi jika memang pekerjaannya banyak, Rayna bisa meminta bantuan pada teman kerjanya yang lain, tidak harus ia kerjakan sendiri." Kembali Rakana berujar.


"Ah rasa cemburuku benar-benar sudah membuat ku gila!" Rakana merasa semakin frustasi di buatnya. "Rayna.... Rayna... Rayna!" Panggil nya seraya mengusap wajahnya frustasi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2