My Secret Admirer

My Secret Admirer
BAB 11 PUTRI SALJU


__ADS_3

" Gina Lo kepilih jadi Putri Salju Omegat,"


" WHAT " Gina tak kalah heboh menanggapi kabar dari Hana. " Mana mana," Ia merampas Ponsel di genggaman Hana, kemudian menatapnya dengan mulut terbuka lebar.


Polling Pemilihan Putri Salju dan Pangeran baru saja diumumkan di akun Instagram OSIS SMA Laskar. Polling yang sudah berjalan selama 24 jam.


" Nggak Percuma gue tongkrongin satu-satu anak kelas X buat Pastiin mereka Pilih gue.” Gina masih tampak antusias menatap hasil Polling yang menunjukkan dirinya menang tipis dengan suara 52 persen. " Jodoh emang nggak ke mana,” lanjutnya.


Gina mengamati timeline IG di akun Hana, kemudian ekspresi Penuh binar di wajahnya seketika lenyap saat menemukan unggahan dari akun IG OSIS sekolahnya yang mengumumkan Pemenang peran Pangeran.


" Nggak mungkin Kenapa Arkan bisa kalah," tanyanya tak Percaya


Persentasenya Pun serupa dengan hasil Pemilihan Putri Salju, yaitu 52 Persen untuk Kevin Hana ikut melirik layar Ponselnya di genggaman Gina.


" Jadi, lo bakal beradu akting sama Kevin bukan Arkan seperti yang lo mau,"


" Congrats Kevin lo bakal jadi Pangeran di drama Putri Salju bulan depan.”


Kevin tidak menanggapi ucapan selamat dari Andi yang sengaja datang ke kelasnya Pada jam istirahat. Ia tahu Andi sedang menertawainya karena gagal beradu Peran dengan Putri Salju yang diharapkannya.


Keduanya tidak sadar bahwa ada satu orang yang tiba-tiba Panas di tempat ketika tak sengaja mendengar Percakapan itu.


Arkan jarang sekali menggunakan media sosial. Bahkan hampir tidak Pernah mengunggah apa pun di sana. Ia tidak ikut Polling yang diadakan OSIS juga tidak memantau Perolehan suara di sana.


Maka ia sudah membayangkan Salsa senang bukan main saat ini karena Kevin yang akan menjadi Pangeran nya Namun, rupanya Percakapan Kevin dan Andi belum berakhir. Kali ini kabar yang didengar Arkan membuatnya diam diam menarik napas lega.


" Semangat, dong, Kevin. Kan, lo sendiri yang mau jadi Pangeran,” goda Andi lagi.


" Bawel " kesal Kevin


" Balik ke kelas lo, sana," usirnya


Andi terbahak beberapa saat. " Udah anggap aja Gina itu Naura Biar lo semangat latihan dramanya nanti,"


Kevin mendorong Andi menjauh. " Pergi sana," usirnya lagi. " Proposal sama undangan buat Panti asuhan udah beres, belum,” tagihnya dengan sengaja. Ia benar-benar ingin Andi Pergi dari hadapannya saat ini juga.


Arkan mengeluarkan Ponsel kemudian mencari tahu informasi tentang hasil Polling Pemilihan Pangeran dan Putri Salju.


Rupanya ia tidak salah dengar, Gina memang memenangi Polling Pemilihan Putri Salju seperti dikatakan Andi Arkan baru tahu bahwa Gina juga menjadi salah satu calon Pemeran utama. Padahal, ia Pikir Naura sudah Pasti akan memerankan Putri Salju


Arkan harus bersyukur akan hal ini Naura tidak akan beradu Peran dengan Kevin. Dengan begitu kemungkinan Naura dekat dengan Kevin semakin kecil. Hal ini membuat Arkan sedikit tenang. Ia hanya Perlu memainkan Peran sebaik mungkin untuk membuat Naura tetap berada di dekatnya.


...••••...


" Ada yang lagi Patah hati nih " Nadin sengaja berdeham nyaring di sebelah Salsa.


" Ada yang kecewa karena gagal jadi Putri Salju," tambah Fira


" Siapa ? tanya Naura cuek sambil Pura-pura sibuk dengan Ponselnya


" Ya elo Siapa lagi " Nadin mengejek


" Nggak Biasa aja "


" Kalau biasa aja kenapa muka lo ditekuk gitu ? Seharian hampir nggak ada suaranya kalau nggak ditanya,"


Naura menempelkan dagu di atas meja dengan mata masih menatap layar Ponsel yang sepi. Tidak ada notifikasi dari seseorang yang ia tunggu sejak semalam.


" Gue jadi Penasaran kenapa Kak Arkan bisa kalah dari Kak Kevin," Nadin mengerutkan kening. " Padahal gue Pikir bakal banyak yang Pilih Kak Arkan karena Penasaran sama dia yang biasanya Paling anti ikut acara beginian,"


" Mungkin aja marketing nya Kak Kevin lebih bagus daripada Kak Arkan Kak Kevin gencar banget ngajak anak-anak satu sekolah buat ikutan Polling Secara dia Ketua OSIS. Banyak yang dukung Kalo Kak Galen, mana Pernah berkoar-koar buat dipilih,” Fira berpendapat.


Nadin mengangguk Kemungkinan Fira ada benarnya. Ia kemudian kembali melirik Naura yang masih tampak lesu


" Udah Ra Nggak usah sedih begitu,” katanya memberi semangat. “Mending sekarang lo fokus sama misi lo.”


" ini gue juga lagi fokus sama misi gue,” sahut Naura Matanya masih bertahan menatap layar Ponsel yang kini meredup.


" Kak Arkan Nggak bales chat gue dari semalam tadi Pagi, bahkan yang barusan juga.”


" Lo chat Kak Arkan " tanya Fira terkejut.


Naura mengangguk dengan dagu masih menempel di meja. Kalau bukan karena chat dari Miracle semalam yang mengingatkan bahwa waktunya hanya tinggal enam minggu, tentu Naura tidak akan Pernah berpikir untuk mengirim Pesan kepada Arkan


" Lo tahu Nomor nya Kak Arkan "


Naura mengangguk lagi


" Tahu dari mana "


" Dia duluan yang chat gue "


" Kak Arkan tahu nomor lo dari mana,"


" Gue baru ingat Pernah nulis nomor gue di buku catatannya Kak Arkan waktu di Perpus Mungkin dari sana dia tahu.”


" Terus tadi lo kirim chat apa ke dia," tanya Fira kepo maksimal.


" Gue minta maaf karena udah ngerusak jaket kesayangannya. Tapi nggak dibalas dari semalam.” Naura mengembuskan napas berat kemudian menegakkan punggungnya. “Kayaknya Kak Arkan marah besar sama gue.” Dipandanginya Nadin dan Fira bergantian. " Tadi Pagi aja gue dicuekin Pas kasih susu cokelat. Akhirnya, gue taruh aja susu itu di mejanya. Gue yakin susu itu Pasti sekarang udah ada di tempat sampah depan kelasnya.”


" Samperin sana "usul Nadin kepada Salsa.


" Hah "


" iya samperin lagi. Biar dia ngerasa lo beneran nyesel udah ngerusakin jaket kesayangannya Minta maaf lagi secara langsung,”


" Yang ada gue ditelan hidup-hidup sama dia,"


" Justru kalau lo diam begini terus, Kak Arkan malah nyangka lo nggak tulus minta maafnya.” Fira berpendapat


" Kak Arkan udah tahu ini kalo lo muka tembok. Dimarahin berkali-kali juga lo tahan banting. Nggak apa-apa sakit hati dikit. Siapa tahu Kak Arkan jadi kepikiran lo terus.”


Naura mendadak bangkit dengan kedua tangan mengentak meja.


" Gue bakal bikin dia jadi cinta sama gue.” Dengan langkah Pasti Naura berjalan ke luar kelas diiringi gelak tawa Nadin dan Fira bersamaan.


Tingkah Naura memang ada-ada saja Sebentar lesu, sebentar menggebu-gebu Di situ letak keunikannya.


Nadin dan Fira memilih tetap bertahan di tempat duduk masing-masing Karena, mereka yakin Naura akan kembali melakukan hal yang memalukan di kelas Arkan Dan saat itu terjadi, mereka akan kompak menganggap tidak mengenal Naura Benar-benar sahabat yang baik, kan ?


...••••...


Naura menoleh ke ruang kelas Arkan beberapa saat untuk memastikan targetnya ada di dalam. Kemudian, ia duduk di bangku Panjang yang berada tepat di depan kelas itu.


Sambil memangku gitar yang dipinjam dari teman di klub musik ia siap untuk kembali menarik Perhatian sang target Sebelumnya Naura mengirim chat kepada Arkan


Sebelumnya Naura mengirim chat kepada Arkan


...anastasyaNaura...


...Kak, aku di depan kelas Kakak, nih...


...anastasyaNaura...


...Aku mau minta maaf...


...anastasyaNaura...


...Kak Arkan...


...anastasyaNaura...


...Arkan...


...anastasyaNaura...


...Bisa ke sini sebentar...


Di dalam kelas Arkan membaca semua Pesan itu dengan ekspresi datar Sejak kemarin ia berhasil menahan diri untuk tidak membalas satu Pun chat dari Naura walau tangannya gatal sekali ingin mengetik sesuatu


Arkan menyadari semakin ia dingin cewek itu akan semakin gencar untuk menarik Perhatiannya Dan semua akan berakhir bila Arkan melanggar rule-nya


Seketika Arkan bersyukur karena kemarin tidak kelepasan mengungkapkan Perasaannya kepada Naura Bila hal itu terjadi sudah Pasti Naura tidak akan mengiriminya chat segencar ini sejak semalam


Rupanya jaket yang luntur itu ada baiknya juga Arkan jadi Punya alasan untuk tetap bersikap dingin kepada Naura


Jrenggg 🎶🎶


Arkan mengangkat Pandangan dari layar Ponsel. Ia yakin suara gitar itu berasal dari depan kelas. Ia menduga Naura akan kembali mempermalukan diri seperti di kantin beberapa waktu lalu.


...Tiba-tiba aku jatuh cinta Diam-diam kau Pun juga cinta Kita berdua belum punya kekasih Saling mendekati...


Suara dengan Pitch tidak terkendali serta tempo yang tidak senada Petikan gitar itu membuat Arkan mengusap wajah frustrasi Akhirnya Arkan memutuskan bangkit dan menghampiri Naura di depan kelas setelah melihat Kevin baru saja ingin mendahului


...Perasaan tak bisa berdusta Bahagia terasa sempurna Kita berdua belum Punya kekasih Tunggu apa lagi Katakan cinta bila kau cinta...

__ADS_1


Lagu “ jadi kekasihku saja ” milik Keisya Levronka vokal Tangga semakin jelas terdengar ketika Arkan sudah berdiri di hadapan Naura dengan wajah kesal.


Naura mengangkat kepala sambil tersenyum kepada Arkan yang kini duduk tepat di sebelahnya


...Hati ini meminta Kau lebih dari teman berbagi Jadi kekasihku saja ... hmpft...


Arkan membekap mulut Naura dengan sebelah tangan ketika menyadari cewek itu berhasil menarik Perhatian banyak anak yang lewat


" Lo mau bikin baper siapa lagi " kesal Arkan


Naura menghentikan Permainan gitarnya, kemudian menjauhkan tangan Galen dari wajahnya. Ia tersenyum lagi.


" Aku Cuma mau minta maaf, Kak "


" Lo Pikir suara lo bagus ? Gue Nggak suka dengar lo nyanyi Bikin sakit Perut,"


Senyum di wajah Naura menciut. Ia mengurut dada dalam hati tiap kali mendengar kata-kata Pedas Arkan Biar bagaimanapun ia harus tahan banting


" Terus Kakak sukanya apa," tanya Naura memberanikan diri.


Kamu Naura kenapa sih kamu gak Peka-peka batin Arkan


" Nggak ada yang gue suka dari lo," Sahutan Arkan bertolak belakang dengan kata hatinya.


" Mending lo balik ke kelas sekarang.” Naura mengerucutkan bibirnya.


" Tapi Kakak maafin aku, kan," Arkan menatap Naura beberapa saat.


" Nggak semudah itu Gue bakal maafin kalo lo mau bantuin satu hal.”


" Apa "


" Bukan sekarang Tapi, nanti "


Mereka saling tatap dalam diam. Salsa berusaha menangkap maksud dari ekspresi Arkan yang sulit dibaca sedangkan Arkan sangat menanti kapan ia bisa bercengkerama Penuh tawa dengan Naura seperti dahulu


" Balik ke kelas lo, sana,” ucap Arkan sambil bangkit berdiri. Ia hendak masuk ke kelasnya, tetapi mendadak urung ketika melihat Kevin hampir sampai di Pintu kelas.


Arkan kembali berbalik menghadap Naura kemudian menarik tangan cewek itu untuk segera bangkit dari duduknya.


" Gue bilang balik ke kelas sekarang," Arkan menggiring Naura dengan dorongan Pelan menjauh dari kelasnya.


" iya aku balik sekarang,” sahut Naura sedikit kesal.


Naura merasa usahanya ke kelas Galen berujung sia-sia Cowok itu masih belum memaafkannya


...•••••...


Tidak seperti hari hari sebelumnya. Kali ini Naura tampak sangat senang pulang ke rumah ketika melihat sepasang sepatu hitam Papanya ada di rak sepatu teras rumah.


Naura Buru-buru menyandingkan sepatu Pantofel miliknya yang sudah sedikit lusuh tepat di sebelah sepatu Papanya kemudian masuk ke rumah dengan hati riang.


" Papa " ucap Naura antusias ketika menemukan Papanya ada di ruang tamu. Ia berlari dan memeluk erat seseorang yang dirindukannya itu.


" Anak Papa sudah Pulang sekolah.” Martin balas memeluk Naura sambil membelai rambut Panjang Putrinya


" Gimana sekolahnya "


Naura melepas pelukannya, kemudian menatap Papanya Penuh senyum


" Lancar Papa gimana kerjaannya di Bandung ? Hotel kapan selesai ? Biar Papa nggak usah jauh jauh lagi kerjanya Jadi Naura bisa ketemu Papa tiap hari,"


Martin ikut tersenyum Memang Pekerjaan sebagai asisten mandor Proyek mengharuskannya ikut bepergian dan menetap di lokasi Proyek. Seperti tiga bulan belakangan Perusahaan tempatnya bekerja sedang menangani Proyek Pembangunan hotel bintang lima di Bandung. Dan, selama itu Pula Martin tidak Pulang ke rumah.


" Doain aja biar cepat selesai, ya,” kata Martin. Ia kemudian mengamati Putrinya dengan cemas. " Kamu makin kurus aja," Ia menyentuh Pipi Naura yang tampak tirus dibanding saat kali terakhir melihatnya tiga bulan lalu


" Masa sih " Naura refleks menyentuh Pipinya sendiri Sedetik kemudian ia tersenyum lagi.


" Berarti dietku berhasil Pa "


" Mau sekurus apa kamu sampai diet segala ? Nggak usah diet diet lagi Papa nggak suka lihat kamu sakit,"


Naura menanggapi dengan hati menghangat. Memang hanya Papa yang selalu mengkhawatirkannya


Martin melirik ke arah dapur beberapa saat, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru dari dompetnya.


" ini buat jajan kamu Naura, " bisiknya Pelan sambil meletakkan uang itu di genggaman Naura, " Nggak usah bilang ke mamamu Beli saja apa yang kamu mau. Papa sering lihat gadis gadis seusiamu Pakai gelang jepit rambut baju-baju bagus, atau makan makanan enak sama teman-teman.”


" Papa .... " Naura terharu dengan Perhatian Papanya. Dipandanginya uang di genggaman itu dengan mata berkaca kaca.


Naura mengangkat kepala, kemudian memeluk Papanya sekali lagi. " Naura udah jadi anak yang Paling beruntung kok, Pa. Makasih.”


Martin menepuk Pelan Punggung Naura Ia tahu Naura tidak sebahagia seperti yang dikatakan saat ini. Ia tahu Naura melewati hari hari yang sulit setiap hari karena istrinya masih saja tidak menyukai Naura


...••••...


Naura membuka Pintu kamar sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk sehabis mandi Tubuhnya terpaku di ambang Pintu ketika melihat mamanya sedang duduk di kasurnya. Wanita Paruh baya itu sibuk mengeluarkan isi tas sekolah Naura Menumpahkan semua isinya ke atas kasur kemudian mengubrak abriknya


" Mama lagi cari apa," Naura mendekat dan berdiri tepat di hadapan Maria.


Maria tiba-tiba saja bangkit membuat Salsa secara spontan mundur satu langkah. Sorot mata mamanya tampak tidak bersahabat, seperti biasa.


Maria masih tidak bicara apa-apa. Ia berjalan menuju Pintu, kemudian menutup rapat Pintu itu. Tangannya kini bergerak meraih seragam sekolah Salsa yang tergantung di balik Pintu. Ia mengecek saku seragam itu untuk mencari sesuatu.


" Kamu sembunyiin di mana uang itu," tanya Maria ketika tangannya tidak berhasil menemukan apa pun di saku seragam Naura


" Uang apa " Naura masih tidak mengerti.


" Jangan kira Mama Nggak lihat Papamu kasih kamu uang," ucap Maria tanpa menoleh. Tangannya kini merogoh saku rok abu-abu Naura. Kali ini Pencariannya berbuah. Ia menemukan beberapa lembar uang berwarna biru yang diduganya Pemberian dari Martin tadi


" Ma jangan diambil " Naura berusaha merebut uang itu, tetapi ia justru mendapat hadiah dorongan kasar dari mamanya.


" Anak seusia kamu nggak Perlu Pegang uang banyak banyak. Foya-foya nggak ada gunanya. Mama yang Paling tahu manfaatin uang ini," Maria menatap Naura yang mulai berkaca-kaca


" Jangan coba-coba sembunyiin sesuatu dari Mama Kamu itu terlalu dimanja sama Papamu,"


Naura tidak sanggup menyahuti ucapan mamanya atau lebih tepatnya tidak ingin memperburuk keadaan. Ia tahu hanya akan menimbulkan keributan bila mengadukan hal ini kepada Papanya.


Padahal mamanya salah besar. Naura tidak berniat berfoya-foya dengan uang itu. Ia berencana membeli sepatu baru yang sama Persis dengan yang dihadiahkan Papanya beberapa waktu lalu. Ia tidak bisa membayangkan ekspresi kecewa Papanya bila tahu Naura ceroboh menghilangkan sepatu itu.


...•••••...


Selama seminggu terakhir Naura berusaha bersikap biasa saja. Walau sesungguhnya hasil Polling beberapa waktu lalu masih mengganggu Pikirannya. Bagaimana tidak ? Ia kehilangan kesempatan memarodikan drama Putri Salju untuk Luna. Padahal acara Pensi bulan depan bertepatan dengan ulang tahun Luna. Sayang sekali.


Keberuntungan memang sedang tidak berpihak kepadanya. Usahanya untuk membuat Arkan menyukainya pun seolah jalan di tempat.


" Ada guru ! Ada guru " seru Miko teman sekelas Naura yang selalu kebagian tugas memantau keadaan di luar kelas karena tempat duduknya Paling dekat dengan Pintu.


Alhasil berkat seruan itu teman temannya yang sedang bergosip menyalin PR, duduk di meja guru bermain game bahkan beberapa murid laki-laki berlarian sambil membawa Penjepit bulu mata yang baru saja mereka rebut dari murid Perempuan bermaksud untuk menggoda terpaksa menghentikan kegiatannya. Seluruh aktivitas heboh itu mendadak hening ketika Pak Yanto, wali kelas mereka muncul di Pintu kelas diikuti


seorang siswi yang sukses memancing kembali kegaduhan kelas


Pak Yanto menyapa singkat yang dijawab semua murid di kelas itu dengan Penuh semangat.


" Diam-diam Jangan berisik," seru Pak Yanto.


Baru ketika dirasa suasana kelas sudah kembali tenang Pak Yanto bersuara


" Jadi hari ini Bapak bawa teman baru untuk kalian. Pindahan dari SMA Gemilang,” kata Pak Yanto seraya memperkenalkan seorang siswi yang berdiri di sampingnya.


Suasana kelas kembali gaduh Kebisingan yang didominasi murid laki laki itu membuat Pak Yanto kembali menegur Para siswa. Namun, berbeda dengan teman teman yang lain Naura justru tidak berkedip sejak melihat sosok Perempuan yang muncul dari Pintu itu.


Bagaimana mungkin ia kembali dipertemukan dengan Perempuan tersebut ?


" Kalian ini diam semuanya " seru Pak Yanto dengan suara lantang. Ia kemudian menoleh ke sebelahnya


" Silakan kamu Perkenalan diri "


Siswi dengan rambut bergelombang sepunggung itu tersenyum simpul Sambil menyibak sekilas rambutnya ke belakang ia mulai bersuara


" Perkenalkan nama saya Cherry Aurora. Pindahan dari SMA Gemilang Semoga kita bisa jadi teman sekelas yang kompak.” Suaranya lembut sebanding dengan tubuhnya yang mungil serta senyumnya yang manis.


Cherry mengakhiri Perkenalan dirinya dengan seulas senyum. Dan sesuai Prediksi kelas kembali bising didominasi suara murid laki-laki yang mulai menanyakan hal Pribadi seperti status dan nomor Ponsel.


Toh Cherry tidak menanggapinya Situasi tersebut dianggapnya biasa saja. Ia sudah sering menjadi Pusat Perhatian. Banyak orang yang mengagumi Paras cantiknya. Hingga akhirnya ia ikut terkejut ketika menemukan Naura ada di kelas itu Kelas yang akan menampungnya hingga lebih dari satu semester ke depan


Pandangan mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama Sampai kemudian Pak Yanto mempersilakan Cherry duduk di bangku kosong di deretan kedua dari belakang


Cherry melangkah menuju bangkunya tanpa sedetik Pun mengalihkan tatapan dari Salsa. Begitu Pula Naura Hingga ketika Cherry berjalan melewatinya Naura baru bisa menghela napas lega Entah karena apa.


Pak Yanto meninggalkan kelas setelah sekali lagi memberi Peringatan kepada murid muridnya agar tidak membuat keributan. Sebentar lagi, guru yang mengisi jam Pertama akan segera masuk.


Naura sama sekali tidak fokus mengikuti Pelajaran Pagi ini Setiap kali menoleh ke arah belakang, ia menemukan Cherry sedang terang terangan menatapnya dengan tatapan tak suka.


Bel istirahat menjadi hal yang paling ditunggu Cherry sejak tadi. Ia berniat melarikan diri sejenak dari kelas yang menurutnya sangat kampungan Bagaimana tidak ? Sepanjang Pelajaran berlangsung, banyak teman barunya yang berbisik mengajak kenalan atau sekadar ingin menarik Perhatian Mereka nggak ngaca?

__ADS_1


" Eh tunggu " cegah Cherry kepada teman sebangkunya yang bahkan belum ia ketahui namanya.


" Kamu Panggil saya " tanya cewek berkacamata tebal itu. Ia mengurungkan niat untuk bangkit


Cherry mengangguk malas. " Lo tahu Arkan ada di kelas mana," tanyanya to the Point, sesuai tujuan awalnya Pindah sekolah, yaitu agar bisa lebih dekat dengan calon tunangannya


Cherry bahkan sempat menyesal sudah menolak tawaran Papanya untuk Pindah ke sekolah ini sejak kenaikan kelas beberapa bulan lalu. Karena, saat itu ia tidak tahu bahwa seseorang yang dijodohkan dengannya ternyata serupawan Arkan. Hanya dengan sekali lihat, Cherry yakin Arkan Benar-benar tipenya.


Ia tidak akan Pernah lupa saat kali pertama bertemu dengan cowok itu Cara Arkan membentaknya, menepuk Punggungnya untuk mengurangi ketakutan akibat kecelakaan tunggal beberapa waktu lalu, juga kesediaan cowok itu mengantarnya ke dokter Bahkan, Arkan mau menungguinya kemudian mengantar Pulang dan memapahnya hingga kamar


Cherry tidak lagi berupaya menolak Perjodohan yang awalnya ia tentang mati-matian. Ia yakin Arkan memang jodohnya.


" Oh, Kak Arkan yang gebetannya Naura,"


Cherry menajamkan mata mendengar kata kata itu. " Gebetan Naura " ulangnya. Ia yakin Naura yang dimaksud adalah Naura rivalnya di SD dahulu, yang kebetulan dipertemukan kembali di kelas ini.


" iya Naura terus-terusan ngejar Kak Arkan tapi Kak Arkan nya cuek aja,” jelas cewek itu lagi.


Cherry sudah Panas hati mendengarnya. Bukan hanya saat SD bahkan kini tingkah Naura masih membuatnya jengkel. Cherry melirik Naura yang baru saja bangkit dan hendak keluar kelas bersama kedua temannya.


" Ra lo mau ke kelas Kak Arkan lagi," tanya Fira yang berjalan di sebelah Naura


Cherry melangkah cepat menyusul Naura kemudian menarik kasar lengan seragamnya hingga membuat cewek itu berbalik.


" Jadi Cewek jangan keganjenan lo," bentak Cherry tanpa aba-aba


" Apa-apaan, sih,” balas Naura tak suka.


" Gue bilangin sama lo. Jadi cewek, kok nggak tahu malu banget, ngejar-ngejar tunangan orang," Cherry menyentak jarinya di bahu Naura berkali-kali membuat Naura mundur beberapa langkah.


" Heh Anak Baru Jangan Nggak sopan lo, ya," Nadin menepis tangan Cherry


" Lo diem aja, deh " balas Cherry. Ia kembali menuding Naura yang tampak tidak mengerti. " Arkan Bagaskara itu tunangan gue. Gue bilangin sekali lagi Arkan itu tunangan gue. TUNANGAN GUE Jadi berhenti mimpi buat jadi Pacarnya,"


Bukan hanya Naura yang melongo akibat Perkataan Cherry melainkan juga hampir seluruh Penghuni kelasnya Tentu berita heboh ini segera tersebar luas.


...••••...


Arkan berjalan cepat menyusuri koridor kelas XI. Percakapan dengan Papanya semalam sungguh menyita seluruh emosinya saat ini.


" Mulai besok Cherry akan Pindah ke sekolah kamu Dia mau kenal kamu lebih dekat, katanya Papa turut senang dengarnya, karena yang Papa tahu awalnya dia nolak dijodohin sama kamu. Kamu baik-baik sama Cherry ya.”


" Pa dari awal aku nggak mau dijodohin.”


" Arkan kamu tahu kalau kamu Nggak Punya Pilihan lagi, kan ? Papa udah turutin semua Permintaan aneh kamu Dan, Papa cuma minta satu hal dari kamu. Jangan tolak Perjodohan ini.”


" Tapi Pa .... "


" Mulai besok kamu Pulang bareng Cherry. Kalian sudah bisa lebih dekat untuk kenal satu sama lain. Jangan kecewakan Papa, Arkan,"


genggaman tangan Penuh intimidasi dari Roy di bahunya malam itu memaksa Arkan menelan kembali semua Pembelaan yang ingin dilontarkan. Bagaimana caranya menolak Perjodohan ini ?


Arkan sudah berada di depan kelas Naura yang mendadak sangat ramai dipenuhi siswa-siswi yang ingin tahu apa yang terjadi di dalam.


Lantas ia menerobos masuk Memaksa orang orang yang menghalangi langkahnya untuk segera memberi jalan. la bahkan tidak menghiraukan bisikan bisikan yang menyebutnya sebagai Pemicu keributan di kelas ini


Arkan menemukan Naura berdiri tidak jauh dari Posisinya. Cewek itu tampak serba bingung memikirkan apa yang harus dilakukan ketika melihat dua cewek meributkan sesuatu dengan saling tunjuk dan dorong satu sama lain.


" Enak aja lo ngaku-ngaku tunangannya Arkan Gue ini Pacarnya asal lo tahu," Regina mendorong bahu Cherry dengan telunjuknya. Entah sejak kapan ia berada di kelas Naura. Satu hal yang Perlu diketahui, gosip sekecil apa pun yang berkaitan dengan Arkan akan mampu menyulut emosi Gina


" Lo yang ngaku-ngaku Terima kenyataan aja kalau Arkan itu beneran tunangan gue," Cherry masih tidak mau kalah. Aksi saling dorong tidak bisa dihindari, membuat suasana sekitar semakin heboh.


Arkan meraih sebelah tangan Naura kemudian membawa cewek itu keluar dan memisahkan diri dari keramaian Semua orang menyadari tindakan tersebut kecuali Gina dan Cherry yang masih sibuk berseteru.


Naura sendiri terlambat mengetahui bahwa seseorang yang menarik tangannya adalah Arkan. Cowok itu terus membawanya menjauh hingga berhenti di halaman belakang sekolah yang sepi.


Arkan memegang kedua bahu Naura kuat kuat. Matanya mengunci tatapan mata Naura yang masih tampak terkejut.


" Dengerin gue baik-baik," Arkan menghela napas sesaat tanpa mengalihkan sedikit Pun tatapannya dari mata Naura. " Cherry bukan tunangan gue. Gue sama dia nggak ada hubungan apa-apa," Arkan menekankan setiap kata, berharap Naura memercayai ucapannya.


Akan tetapi Naura hanya terpaku tanpa suara.


" Gue Nggak kenal cewek itu. Dia cuma ngaku-ngaku jadi tunangan gue. Lo harus percaya sama gue.” Arkan mengguncang Pelan tubuh Naura untuk menyadarkannya.


Beberapa saat kemudian Naura tersenyum dan terkekeh Pelan menanggapi sikap aneh Arkan


Alhasil Arkan melepaskan tangannya dari bahu Naura kemudian menatap cewek itu dengan alis bertaut.


" Kenapa lo ketawa "


Naura masih tertawa Pelan sambil menatap Arkan


" Kakak suka sama aku, ya," tembaknya langsung.


Arkan langsung mematung di Pijakannya. Matanya meneliti ekspresi yang ditunjukkan Naura saat ini Sungguh, ucapan Naura barusan membuat Arkan senang sekaligus takut. Senang karena rupanya Naura mulai Peka dengan Perasaannya Sekaligus takut karena mungkin saja Naura akan menjauh setelah ini, karena merasa misinya sudah berhasil.


Senyum di wajah Naura masih mengembang sempurna Bukan tanpa alasan ia menebak bahwa Arkan sudah mulai menyukainya. Sebab, berdasarkan teori lima detik dari Fira hal tersebut sudah terbukti. Naura menyadari Arkan terus menatapnya sejak tadi, bahkan ia yakin sudah lebih dari sepuluh detik. Dan Naura yakin sedang tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Arkan. Jadi, bukankah itu berarti Arkan jatuh cinta kepadanya Paling tidak demikian alasan kuat Pertama yang disimpulkan Naura saat ini.


" Kenapa lo bisa nebak begitu," tanya Arkan sehati-hati mungkin.


Dan alasan yang kedua, " Ya, buat apa Kakak mati-matian jelasin ke aku bahwa Kakak sama Cherry nggak Punya hubungan apa-apa, kalau memang Kakak nggak suka sama aku Itu artinya Kakak udah mulai suka sama aku, kan,” goda Naura


Please, bilang suka.


Arkan mengamati ekspresi Naura sekali lagi kemudian menyahut setenang mungkin


" Ge er lo ! Gue cuman Nggak mau lo sebarin gosip tentang gue yang nggak nggak di sekolah ini,” katanya beralasan.


Naura tidak Percaya begitu saja. Ia menyipitkan mata menatap Arkan curiga. Hal ini membuat Arkan merasa Perlu menegaskan sekali lagi ucapannya.


" Gue Nggak suka sama lo. Jadi berhenti berharap gue bakal suka sama lo,"


Dan, sukses. Kata-kata Arkan sukses membuat dua alasan kuat Naura tadi sirna begitu saja.


" Jadi Kakak nyeret aku ke tempat ini cuma mau Pastiin aku nggak nyebar gosip Emangnya aku tukang gosip apa," Naura jadi kesal sendiri.


Arkan tidak merespons apa pun. Diam diam ia menghela napas lega karena berhasil menahan diri untuk tidak mengungkapkan Perasaan yang sebenarnya.


" Kakak Nggak usah khawatir. Aku orangnya nggak suka gosip.”


Gue tahu. Arkan menyahut dalam hati.


Naura berbalik hendak kembali ke kelasnya. Namun baru beberapa langkah, suara Panggilan Arkan membuatnya menoleh kembali


" Naura "


" Apa "


Arkan menatap Naura beberapa saat, kemudian bersuara


" Janji sama gue jangan Percaya omongan Cherry,"


Naura mengerutkan kening. Ia sudah ingin menyimpulkan kembali bahwa Galen memang menyukainya. Namun Naura buru-buru menguburkan keinginan itu. Takut sakit hati lagi karena kata-kata Pedas Arkan


" Tergantung " sahut Naura cuek.


" Tergantung apa "


" Kalau omongan dia ada buktinya baru aku Percaya," Naura tersenyum singkat kemudian berbalik Pergi dari sana.


Arkan bergerak tidak lama berselang Ia berjalan sambil memperhatikan Naura yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya. Entah apa yang akan terjadi pada hari hari berikutnya. Ia hanya berharap kehadiran Cherry di sekolah ini tidak membuatnya semakin jauh dengan Naura


" Ra gue cariin dari tadi "


Naura menghentikan langkahnya tepat di hadapan Kevin yang muncul dari arah berlawanan.


" Hei Kak BTW selamat, ya, udah kepilih jadi Pangeran. Aku belum sempat ucapin dari kemarin-kemarin.”


Kevin tersenyum kecil. " Makasih. Sekarang gue mau minta bantuan lo.”


" Bantuin apa, Kak "


" Jadi Putri Salju buat gue "


" Eh " Naura Tercengang beberapa detik.


" Bukannya Kak Gina udah kepilih jadi Putri Salju,"


" Kemarin dia ngundurin diri. Sekarang satu-satunya harapan gue tinggal lo. Lo mau, kan, gantiin dia jadi Putri Salju," Kevin menaikkan kedua alisnya, tidak sabar menunggu jawaban Salsa.


Tentu saja Percakapan kedua orang itu terdengar jelas oleh Arkan yang berdiri tidak jauh dari sana. la mempercepat langkahnya, berniat menggagalkan apa pun rencana Kevin untuk membuat Salsa menjadi Putri Salju-nya. Ia harus memastikan Naura menolak tawaran itu.


Akan tetapi langkah Arkan terpaksa terhenti ketika seseorang yang tidak ingin dilihatnya tiba-tiba muncul di hadapan.


" Hi my fiance "

__ADS_1


...••••...


__ADS_2