
"Pak apa boleh saya pulang?" Ijin Rayna dengan pelan dan tatapan kosongnya.
"Ya, kamu boleh pulang, tenangkan pikiran mu, dan jangan takut lagi." Rakana mengijinkan Rayna pulang.
"Terima kasih pak, saya pulang sekarang." Langkah Rayna ingin segera cepat pulang, ia ingin berdiam diri di kamarnya.
"Tunggu Rayna, aku akan mengantarmu." Ucap Rakana.
Rayna menghentikan langkahnya. "Tidak perlu pak, saya tidak mau merepotkan pak Rakan." Tolak Rayna.
"Aku bosmu dan kamu bawahan ku, aku bertanggungjawab atas kejadian ini. Dan ini perintah tidak boleh kamu tolak!" Tekan Rakana. Rayna menarik nafas nya panjang.
"Keadaan kamu seperti ini, aku akan mengantarkan mu pulang." Rakana sungguh sangat khawatir dengan keadaan Rayna saat ini.
"Ayok!" Ajak nya. Rayna pun pasrah karena memang keadaan nya sungguh acak-acakan apalagi dengan pakaian nya saat ini.
Mereka keluar dari kamar yang tadi Jonathan pergunakan, langkah mereka beriringan, namun teman-teman Rayna datang melihat Rayna setelah mereka tahu kejadian apa yang terjadi.
"Ray kamu baik-baik saja kan?" Tanya khawatir salah satu teman dekatnya.
Rayna mengangguk dengan tatapan yang masih kosong. "Ya aku baik-baik saja." Jawabnya.
"Aku tidak menyangka kejadian ini akan terjadi. Ray bagaimana ceritanya hal itu bisa terjadi?" Ucapnya merasa iba pada temannya itu, ia tahu pasti Rayna pikiran nya terguncang akan kejadian tadi.
"Kalian jangan mengganggu Rayna dulu, dia butuh istirahat dan juga menenangkan pikirannya!" Rakana mengerti jika Rayna terlihat sangat tidak nyaman saat teman-teman menanyakan hal tadi. Memang baik mereka mengkhawatirkan keadaan Rayna namun bukan waktu yang tepat jika Rayna harus bercerita.
"Ah iya pak, maaf."
"Ayok Rayna!" Ajak Rakana tanpa membalas rasa bersalah nya karyawannya itu.
***
Di dalam mobil, Rayna hanya diam saja tanpa ada yang di ucapkan dari bibirnya, tatapannya masih terlihat sangat kosong.
"Dimana tempat tinggal mu? Berikan aku alamat nya." Terpaksa Rakana membuka suara, karena Rayna hanya diam saja.
__ADS_1
"Di jalan xxx." Jawabnya tanpa melihat ke arah Rakana.
Rakana mengangguk paham. Ia tahu jalan itu.
Hening keadaan di dalam mobil, Rayna maupun Rakana diam dengan pikirannya masing-masing.
"Lihat saja Jo aku akan membuatmu tidak bisa kembali untuk berkunjung ke Indonesia!" Geram Rakana ia masih marah pada sahabatnya itu. Di dalam hatinya ia terus mengumpat kelakuan pria bule itu.
"Brengsek!" Umpat Rakana kesal dalam hatinya. Tanpa ia sadari jika dia memukul setir kemudi nya dengan kesal.
"Maafkan saya pak." Lirih Rayna tiba-tiba.
Rakana menoleh ke samping dimana Rayna duduk di sebelahnya.
"Minta maaf untuk apa?"
"Karena saya sudah membuat keadaan semakin buruk. Saya sudah membuat tuan Jo membatalkan kerjasama nya dengan pak Rakan. Dan saya juga sudah membuat hancur persahabatan bapak dengan tuan Jo." Urai Rayna merasa tidak enak hati, nadanya terdengar sangat pelan.
"Tidak, ini bukan salahmu, ini salah dia yang menjadi laki-laki brengsek. Tidak masalah bagiku jika dia membatalkan kerjasama nya, aku bisa menanam saham dengan uang ayahku saja." Rakana menjelaskan, ia tak mau Rayna menjadi banyak pikiran.
"Cukup Rayna, tidak masalah bagiku, berbisnis pasti akan mengalami untung dan juga rugi." Ucap Rakana dengan bijak.
"Saya bingung harus bagaimana membayar semua kebaikan pak Rakan, maaf, maafkan saya pak." Rayna tadi sempat marah dengan Rakana karena ia menyangka dan berpikir buruk pada bos nya itu.
"Tidak perlu meminta maaf Rayna. Hemmm apa kamu mendengar semua ucapan ku saat aku memukul Jo?" Tanya Rakana, ia ingat sangat ingat ketika ia memukul Jo ia meracau dan mengatakan jika Rayna perempuan yang sangat ia cintai.
Rayna menggeleng. "Tidak, karena saya sangat ketakutan, pikiran saya ntah kemana."
Rakana menghela nafas kecewa. "Benar kamu tidak mendengar karena apa aku begitu marah pada Jo?" Rakana ingin meyakinkan sekali lagi.
"Pasti karena pak Rakan terkejut dengan sahabat bapak yang seperti itu." Jawab Rayna dengan sangat yakin
"Salah satunya itu, tapi ada hal lain yang membuat ku sangat marah dan ingin sekali membunuhnya." Ujar Rakana.
"Apa?" Tatap Rayna tanpa sadar jika ia ingin tahu, karena pak Rakan tadi terlihat begitu sangat marah saat memukul sahabatnya itu.
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu." Jawab Rakana dengan sangat jelas. Rayna melengoskan pandangan nya ke arah depan jalanan, ia terkejut dengan pengakuan Rakana.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu. Karena aku mencintaimu. Dari dulu hingga saat ini." Akhirnya Rakana mengucapkan sebuah pengakuan.
Rayna diam ia bingung harus menjawab apa.
"Maaf Rayna, aku mengatakan hal ini di saat waktu yang tidak tepat. Tapi aku memang mencintai mu!" Tekan nya.
"Berhenti di sini saja pak." Pinta Rayna. Untung saja mereka telah sampai di jalan dimana Rayna tinggal.
Rakana menghentikan laju mobilnya di samping kirinya.
"Terima kasih pak." Ucap Rayna saat mobil itu berhenti, ia tak membahas isi hati Rakana tadi.
"Rayna kamu tidak marah?" Saat ia melihat Rayna menjadi dingin padanya.
"Tidak, saya permisi pak." Ijin nya seraya membuka pintu mobil dengan gerakan cepat, semua kejadian hari ini membuat ia terkejut.
Rayna keluar dari dalam mobil menuju jalanan tempat ia tinggal, namun saat hendak ia melangkahkan kakinya menuju kosan, tiba-tiba saja tubuh nya ambruk seketika membuat Rakana yang memperhatikan Rayna dari tadi terhenyak kaget.
Rakana langsung membuka pintu depan cepat lalu berlari mendekati tubuh Rayna yang tergeletak begitu saja di jalanan, keadaan sedang sepi di sana.
"Rayna." Panggil Rakana ia langsung membawa tubuh Rayna ke dalam mobilnya lagi lalu ia dudukan.
"Rayna." Panggil kembali seraya menepuk-nepuk pipinya dengan pelan agar menyadarkan Rayna, namun Rayna belum sadar juga, akhirnya Rakana membawa Rayna ke rumah sakit terdekat untuk di periksa.
***
"Bagaimana dok keadaan nya?" Rakana langsung bertanya pada dokter yang sudah memeriksa keadaan Rayna. Ia juga menyuruh dokter itu untuk memvisum tubuh Rayna, ia juga menceritakan jika Rayna hampir menjadi korban pemerkosaan.
"Luka lebam di tubuhnya begitu banyak, ini bisa menjadi bukti nantinya." Ujar sang dokter perempuan itu.
"Lalu apa keadaan nya begitu buruk, hingga dia pingsan seperti itu?" Rakana menjadi sangat khawatir.
"Hanya luka lebam, mungkin karena cengkeraman kuat dari si pelaku, tidak ada luka yang serius, tapi mungkin psikologis nya yang tidak baik-baik saja. Menjadi korban pemerkosaan itu pasti membuat terpukul bagi nya, jadi kita harus bisa membuat pasien merasa tenang." Jelasnya.
__ADS_1