
" Luna bangun ... jangan bikin Kakak takut.” Suara Naura terdengar Pilu sejak Luna dipindahkan ke ruang rawat kelas satu, Naura tak henti mengguncang tubuh adiknya yang tidak sadarkan diri di ranjang itu
" Naura " Panggil Arkan di sampingnya
" Luna buka mata .... Kakak Nggak mau kamu tidur lama-lama.”
" Naura Luna Cuma Pingsan Kata dokter dia Nggak apa-apa.” Arkan mencegah Naura mengguncang tubuh Luna lebih kencang. Namun, Naura justru menepisnya.
" Luna bangun " Naura semakin terisak Keadaan ini sungguh membuatnya ketakutan.
" Luna jangan tinggalin Kakak Kakak mohon.”
" Naura Cukup " Arkan mencekal kedua tangan Naura kuat-kuat hingga membuat cewek itu menghadapnya
" Luna Cuma Pingsan Dia baik-baik aja Jadi jangan khawatir berlebihan.”
" Tapi ....” Suara Naura tersekat. “Tapi darah itu ....”
Arkan membalikkan kedua telapak tangan Naura yang terluka. " Tangan lo yang berdarah, Ra, Lo harus diobati,” katanya cemas luar biasa.
Naura menatap telapak tangannya yang Penuh luka goresan dengan Pandangan mengabur karena air mata Ada sedikit kelegaan ketika mengetahui Luna tidak terluka.
" Ayo Luka di tangan lo harus cepat diobati sebelum infeksi.” Arkan berniat menuntunnya untuk ke luar ruangan tetapi Naura enggan bergeser sedikit pun.
Naura menggeleng kuat kuat sambil menahan tangannya sendiri. " Aku mau tunggu sampai Luna bangun.”
" Tapi, lo juga luka, Ra,” Arkan mulai tidak sabar.
Naura tak merespons. Ia masih setia duduk di kursi dekat ranjang Luna.
Arkan tahu Naura sangat keras kepala bila menyangkut Luna. Naura tidak akan mau Pergi dari ruangan ini Berarti Arkan yang harus mengobati luka Naura di sini.
Arkan akhirnya beranjak dari ruangan untuk meminjam Peralatan P3K kepada Perawat.
Tidak lama setelah Arkan beranjak Pintu ruangan kembali terbuka Seseorang berpenampilan rapi dengan setelan kemeja garis-garis dan celana Panjang kain warna hitam masuk tergesa-gesa menuju ranjang Luna.
Naura langsung bangkit begitu melihat mamanya muncul.
" Luna, Luna,” Panggil Maria Panik kepada Putrinya yang terbaring lemah.
" Ma, Luna ... Luna Pingsan.” Naura memberanikan diri bersuara. Sedetik kemudian ketakutan semakin melanda dirinya.
" Maafin Naura Ma Naura Nggak sengaja,"
Napas Maria sudah tidak beraturan sejak mendapat kabar mengejutkan tentang Luna dari Naura melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu. la bahkan sampai harus meninggalkan Pekerjaannya di SMP Tunas dan bergegas ke rumah sakit. Ia pun mungkin tidak dapat mengisi jadwal mengajar di SMP Nusa sore nanti.
Maria adalah Guru honorer mata Pelajaran Prakarya di dua sekolah swasta itu. Dan, ia cemas Posisinya semakin terancam karena mengabaikan kewajiban mengajar
" Dari awal Mama udah curiga kalo kamu nggak sayang Luna.” Ucapan Maria menusuk Naura tepat di hati.
" Ma aku sayang Luna. Aku sayang banget sama Luna.” Naura melangkah mendekat, meraih tangan mamanya tetapi ditepis begitu saja oleh Maria
" Jadi gini cara kamu sayang sama Luna," Mata Maria berapi-api menghunjam Naura tanpa ampun.
" Ma, sungguh.” Isak tangis Naura semakin jelas
" Aku ... Nggak sengaja.”
" Nggak sengaja " Maria membuang napas jengah. " Lagi ? Alasan itu yang Paling Mama benci setiap kali kamu bikin Luna Pingsan Luna salah apa sama kamu,"
Air mata Naura mengalir deras. Ia kemudian berlutut di hadapan mamanya sambil memohon ampun
" Ma, maafin aku ... aku bakal jagain Luna. Aku sayang sama Luna.”
" Gimana Mama bisa Percaya kalau kamu selalu bikin Luna celaka," Maria enggan menoleh ke Naura yang masih berlutut. Melihat Naura menangis sesedih itu Pun tidak membuat hatinya tergerak. " Sekarang tolong kamu keluar dari ruangan ini. Mama Nggak akan bisa maafin kamu kalau sampai Luna koma lagi,"
" Ma— " Naura berupaya memohon di sela isak tangisnya.
" Pergi Naura Tolong jangan dekat dekat Luna,” ucap Maria memperingatkan.
Naura bangkit dengan susah Payah Gaun Panjang Putri Salju yang masih dikenakan sedikit membuatnya kesulitan berdiri. Dipandanginya sekali lagi Luna yang masih tertidur. Dalam hati, Salsa terus berdoa agar Miracle kembali mendengar Permintaannya kali ini. Tidak ada yang lebih diinginkan Naura saat ini selain melihat Luna sadar.
Maria sudah duduk di kursi samping ranjang Luna. Tangannya menggenggam erat-erat tangan mungil Luna, sambil mengucap harapan demi melihat Luna bangun.
Naura menurut, ia menjauh perlahan menuju Pintu. Namun ketika baru dua langkah menjauh Naura menoleh karena mendengar Luna menyebut namanya.
Ia tersenyum Penuh haru ketika melihat Luna mengerjapkan mata, bersamaan dengan kakinya yang otomatis bergerak mendekat ke ranjang. Namun Maria mencegah. Mamanya melemparkan tatapan Peringatan sekali lagi kepadanya dan mengingatkan untuk tidak mendekat.
Lagi-lagi Naura menurut. Ia tidak ingin Maria semakin membencinya Sesungguhnya ia sakit menyadari mamanya masih saja tidak menyukainya, tapi sekaligus ia lega karena melihat Luna sudah sadar Perasaan saat ini sangat menyiksanya.
Naura meraih daun Pintu kemudian menyempatkan diri untuk menoleh Maria memeluk erat Luna yang baru saja membuka mata, lalu mencium keningnya dan mengusap rambutnya Penuh sayang. Dan, Naura tersenyum melihat Pemandangan indah itu. Saking senangnya, air matanya sampai tidak mau berhenti mengalir.
Naura keluar dari ruangan itu dengan Perasaan campur aduk. Tepat saat ia menutup Pintu ruangan, Arkan berhenti di hadapannya dengan membawa kotak P3K. Raut wajah Arkan sangat cemas, dan Naura membalasnya dengan senyuman lebar yang dipaksakan dan dilengkapi air mata yang masih deras membasahi Pipi
" Luna udah sadar, Kak,” ucap Naura lirih sambil tersenyum. “Aku senang Luna akhirnya sadar.”
Arkan menyadari ada yang aneh dengan Naura Ucapannya senyumannya, juga tangisannya.
" Naura " Arkan memanggil nama itu Pelan.
" Aku senang banget " Tangisan Naura semakin nyaring. " Aku senang banget sampai-sampai Nggak bisa berhenti nangis.”
Tangan kanan Arkan terulur menghapus air mata di Pipi Naura. la menoleh ke kaca transparan Pintu ruang rawat dan langsung mengetahui apa yang membuat Naura menangis sesedih ini. Arkan tahu sejak dahulu hubungan Naura dengan Mama tirinya tidak terlalu baik.
Arkan menuntun Naura untuk duduk di bangku yang tidak jauh dari sana. Ia memanfaatkan kesunyian Naura untuk mengobati luka-luka Di tangannya Mulai dari membersihkannya mengolesi alkohol, dan mengolesi obat, lalu membalut tangan Naura dengan Perban.
" Aku sayang sama Luna Aku sayang banget Aku Nggak bohong Kakak Percaya, kan, sama aku," gumam Naura sendu.
Arkan menatap iba Naura yang tampak sangat kacau sekaligus terpukul.
" Aku sayang sama Luna Aku sayang banget. Aku Nggak bohong Kakak Percaya, kan, sama aku,"
Kalimat itu lagi Naura seperti orang gila yang sedang berbicara sendiri
__ADS_1
" iya gue Percaya Lo sayang banget sama Luna,” kata Arkan berusaha menenangkan.
Naura menoleh dengan senyum cerianya. la senang karena Paling tidak ada seseorang yang Percaya kepadanya
Akan tetapi senyum di wajah Naura tidak bertahan lama, karena seketika ia teringat sudah tidak Punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan Miracle. Ia harus menjauh dari Naura sesuai janjinya.
...•••••...
Hari hari selanjutnya adalah hari yang tidak diharapkan Arkan. Ia tidak Pernah berharap Naura menjauh darinya. Namun, itulah yang terjadi tiga hari ini Tidak ada lagi sapaan selamat Pagi dari Naura, tidak ada lagi susu cokelat yang diantar untuknya tiap pagi, juga tidak ada kejutan kejutan kemunculan Naura di sekitarnya.
Naura Benar-benar menjauh. Dan Arkan sudah hilang kesabaran membiarkan hal ini terjadi.
Tepat Pagi hari sebelum upacara bendera dimulai Arkan sengaja menghampiri Naura di kelas. Ketika siswa siswi lain berbondong-bondong mengisi barisan di lapangan, Arkan justru mencegat Naura tepat di pintu kelas.
Naura menatap sekilas, kemudian menyapanya singkat
" Hai Kak " Naura menggeser tubuhnya untuk melanjutkan langkah tetapi Arkan sengaja menghalangi.
" Lo utang tiga susu Cokelat sama gue,” tagih Arkan tanpa basa-basi.
Naura menatap Arkan sekilas. " Maaf Kak sesuai dengan janjiku waktu itu aku nggak akan ganggu Kakak lagi Maaf karena udah bikin Kakak kesal karena ulahku.” Naura tersenyum singkat kepada Arkan yang masih tidak bisa terima dengan semua ini.
Dan, ketika Naura lagi-lagi berusaha melewatinya Arkan mencengkeram sebelah tangan cewek itu untuk membuatnya tetap di tempat.
" Siapa yang minta lo ngejauhin Dari gue," tanya Arkan dengan nada meninggi Kesabarannya sudah hampir habis karena sikap Naura
" Kan aku udah janji waktu itu,” kata Naura
" Seenaknya aja lo ambil keputusan sendiri,"
" Ehn "
" Bukan itu Permintaan gue," Sorot mata Naura menyala nyala Cengkeramannya di tangan Naura semakin kuat. Bahkan, ia tidak Peduli bila saat ini dirinya dan Naura menjadi bahan tontonan anak-anak yang lewat.
" Maksud Kakak " Naura masih tidak mengerti.
" Turutin satu Permintaan gue " ucap Arkan tegas.
Naura kebingungan dibuatnya Apalagi ketika Arkan menuntunnya berjalan cepat ke lapangan menerobos begitu banyak orang yang juga sedang menuju tempat upacara bendera.
Arkan menghentikan langkah tepat di depan barisan siswa-siswi tempat komandan upacara biasa berdiri ketika upacara berlangsung. Arkan membuat dirinya dan Naura seketika menjadi Pusat Perhatian. Keduanya berdiri berhadapan dengan Arkan yang menggenggam erat kedua bahu Naura.
Sontak suasana lapangan yang mulai dipenuhi anak lain berubah heboh, beruntung Para guru belum beranjak ke tempat upacara. Toh, Arkan tidak menghiraukan semua itu. Matanya kini hanya terfokus kepada Naura sedangkan cewek itu masih tampak terkejut.
" Lo mau banget ketemu sama Miracle lo, kan " tanya Arkan menggebu-gebu
" Sama gue juga "
Kening Naura berkerut. Ia masih belum Paham dari mana Arkan tahu tentang itu ?
" Gue akan bantu lo tuntasin misi supaya bisa ketemu sama orang di balik Miracle tersebut,” ucap Arkan lagi. Kali ini membuat kening Naura makin berlipat.
Jadi Arkan sudah tahu bahwa selama ini Naura menjalankan misi dari Miracle Bagaimana bisa ?
" Gue akan bilang suka sama lo supaya lo bisa ketemu Miracle lo,” Arkan menghela napas sesaat.
Hening cukup lama Arkan yang tidak kunjung bersuara membuat Naura tidak sabar. Biar bagaimanapun, ia ingin sekali bertemu dengan Miracle nya.
" Apa " tanya Naura akhirnya
" Jangan Pernah minta Putus dari gue "
Naura tercengang Apa maksud Arkan Jangan Pernah minta Putus Maksudnya setelah ini ia dan Arkan akan berstatus berpacaran ?
Arkan melepaskan tangannya dari bahu Naura kemudian memperingatkan cewek itu untuk tetap di tempat sementara dirinya mulai mundur sepuluh langkah.
Semua mata mengantisipasi hal yang akan dilakukan Arkan Mereka Penasaran karena sejak tadi tidak berhasil menangkap jelas Percakapan Arkan dan Naura di depan sana
Mata Arkan tidak sedetik Pun beralih menatap Naura yang tampak sangat tegang. Arkan mendekatkan tangan ke wajahnya, kemudian membentuknya menyerupai corong di sisi sisi mulutnya Setelah menarik napas Panjang Arkan bersiap meneriakkan sesuatu sekeras kerasnya.
" NAURA ANASTASYA, GUE SUKA SAMA LO," teriak Arkan lantang. Membuat suasana lapangan bersorak seketika sementara Salsa hampir kehilangan kesadaran. " GUE JATUH CINTA SAMA ELO.” Arkan mempertegas Pernyataannya. " MULAI HARI INI KITA RESMI JADIAN,"
Rasanya sungguh seperti mimpi Naura bahkan tidak berani untuk memercayainya, walau sorakan serta suara gaduh yang memekakkan telinganya saat ini adalah bukti nyata betapa ia tidak sedang bermimpi.
...•••••...
Arkan menurunkan tangannya Tatapannya yang sejak tadi tidak pernah lepas dari Naura kini beralih memindai siswa-siswi yang berbaris tidak teratur di dekatnya. Sorak-sorai mereka masih terdengar bergemuruh, dan Arkan berusaha mencari siapa-siapa yang Patut dicurigainya sebagai Miracle. Karena, entah mengapa Arkan merasa Miracle sedang mengawasi Naura dari tempat yang aman. Di sekolah ini
Adapun Naura masih berdiri kaku Seruan kompak dari teman teman berbagai tingkatan membuatnya bingung sendiri harus bersikap seperti apa.
“PJ ! PJ ! PJ ,"
Suara ribut yang kompak meminta Pajak jadian itu baru berhenti setelah Pak Ben, Guru BK, masuk ke lapangan Pak Ben berdiri di tengah tengah Arkan dan Naura
" Diam semuanya " tegur Pak Ben dengan suara lantang sambil berkacak Pinggang. Tatapan matanya yang galak sukses membungkam mulut setiap siswa. Kemudian, ia beralih menuding Arkan
" Kamu Pikir ini acara Katakan Cinta Arkan," Matanya beralih ke Naura yang masih bergeming tak bergerak
" Setelah upacara kalian temui Bapak di ruang BK. Sekarang cepat masuk ke barisan,"
Naura langsung menurut. Ia memutar tubuhnya, kemudian berjalan menuju barisan kelasnya sambil menunduk menahan malu. Sedangkan, Arkan berjalan menuju barisan kelas sendiri tanpa sedikit pun mengalihkan tatapan dari Naura
Bergabungnya Naura di barisan kelasnya langsung disambut Nadin dan Fira secara berlebihan. Keduanya histeris mengingatkan bahwa Naura baru saja ditembak oleh si Kutub Es
" Omegat, Ra. Kalo gue jadi lo, Pasti udah Pingsan di tempat,” komentar Nadin sambil mendekat ke Naura
Dan, ekspresi Naura masih tampak shock.
Fira menyikut Naura hingga temannya itu menoleh. " Kak Arkan masih ngelihatin lo,” bisiknya di dekat Naura
Naura menengok ke barisan kelas XII IPA 1, dan jantungnya seolah berhenti berdetak ketika matanya langsung beradu Pandang dengan sorot mata dingin milik Arkan. Naura hanya mampu bertahan dua detik, karena ia merasa Pasokan oksigen di sekitarnya semakin menipis tiap kali menatap Mata itu.
" Masih ingat teori lima detik dari gue,” bisik Fira lagi Naura menoleh. " Kalo si Kutub Es itu natap lo lebih dari lima detik, cuma ada dua kemungkinan Yang Pertama, dia marah besar sama lo. Atau yang kedua, dia jatuh cinta sama lo. Dan, gue yakin lo Paham arti tatapannya kali ini.”
__ADS_1
Lagi-lagi jantung Naura berdebar tak karuan. Ia memberanikan diri menoleh sekali lagi ke barisan kelas Naura dan Arkan masih mengamatinya seolah takut Naura akan hilang bila tidak terus diawasi.
" Dia jatuh cinta sama lo Ra,"
Bisikan Nadin menambah gemuruh hati Naura Harusnya Naura merasa senang karena akan bertemu dengan Miracle-nya sebentar lagi. Namun mengapa ia justru gelisah dengan keadaan ini ?
...••••••...
" Sejak Kapan sekolah ngajarin kalian buat Pacar-pacaran ? Orang tua kalian banting tulang buat sekolahin kalian tinggi tinggi supaya jadi anak pintar.”
Ceramah Panjang lebar Pak Ben ditanggapi sunyi oleh Arkan dan Naura yang duduk di hadapannya. Arkan berkali-kali melirik Naura yang sejak tadi menunduk di sebelahnya.
" Kamu juga Arkan " tuding Pak Ben
" jangan kasih contoh yang tidak baik sama adik-adik kelasmu Apalagi tadi itu disaksikan semua angkatan,"
" Tapi Pacaran kami sehat, kok, Pak.” Arkan bersuara." Naura bisa jadi motivasi saya buat belajar lebih giat Karena saya juga mau masa depannya terjamin.”
Pak Ben terbatuk setelah mendengar kalimat Arkan. Sementara itu Naura mulai merasa kesehatan jantungnya terus diuji sejak aksi Penembakan Arkan di lapangan tadi Ada apa sebenarnya dengannya ?
" Sudah-sudah " kata Pak Ben mengakhiri. " Kalian akan mendapat Pengurangan Points karena sudah membuat keributan Jangan diulangi lagi,"
" Kenapa Naura juga ikut dikurangi Poinnya? Yang buat ribut, kan, saya," Arkan mencoba meluruskan.
" Kamu memang yang Paling ribut,” keluh Pak Ben sambil menunjuk Arkan
" Kalo begitu Point kamu Bapak kurangi dua kali lipat,"
" Nah itu baru adil.” Ucapan Arkan membuat Pak Ben geleng-geleng kepala.
Setelahnya Arkan dan Naura diperbolehkan keluar dari ruangan BK Naura Buru-buru berbelok ke kanan menuju kelasnya. Sejak Pagi tadi ia seolah kehilangan rohnya. Sejak Arkan menembaknya di depan banyak orang juga sejak ia mengaitkan tatapan mata Arkan dengan teori lima detik milik Fira
Benarkah Arkan jatuh cinta kepadanya ?
Lagi-lagi kerja jantung Naura diuji ketika ia menoleh dan mendapati Arkan berjalan tepat di sebelahnya.
" K-kakak Kenapa ngikutin aku Bukannya kelas Kakak sebelah sana," Naura menunjuk arah berlawanan dari langkahnya.
Arkan masih berjalan santai mengimbangi langkah Pelan Naura. la menoleh dan menjawab dengan nada yang sangat tenang
" Memangnya salah kalau gue mau ngantar cewek gue ke kelasnya,"
Naura langsung berpaling dengan wajah semerah tomat. Astaga Mengapa ia jadi salah tingkah begini Di satu sisi Naura masih belum bisa memercayai yang terjadi. Semua ini terlalu tiba-tiba Dan, sepertinya ia harus meluruskan masalah ini dengan Arkan. Naura tidak mau Arkan merasa terbebani karena ingin membantunya menuntaskan misi untuk bertemu Miracle.
Naura menghentikan langkah di dekat Pintu kelasnya Arkan ikut berhenti di sebelahnya Naura menghela napas Panjang kemudian memutar tubuhnya menghadap Arkan Ia memberanikan diri untuk berkata sesuatu
" Kak, aku .... "
Kata-kata Naura selanjutnya terpaksa ditelan kembali karena tanpa diduga Arkan mengusap Puncak kepalanya dua kali, membuat Naura memejamkan mata karena terkejut.
" Selamat belajar "
Dua detik berselang Naura baru membuka mata dan melihat Arkan sudah menjauh.
Arkan berbalik lagi lantas menunjuk Naura sambil berseru
" Nanti siang Pulang bareng gue "
Ia tidak butuh respons apapun dari Naura dan kembali berbalik untuk melanjutkan langkah menuju kelasnya Meninggalkan Naura yang kini memegang dadanya yang berdebar semakin hebat.
Bagaimana ini ? Naura tidak punya cukup uang untuk memeriksakan kesehatan jantungnya ke dokter spesialis.
Setelah beberapa saat menenangkan diri, Naura membuka Pintu kelas dan langsung disambut keributan teman teman karena kebetulan sedang tidak ada guru. Rupanya sejak tadi banyak teman sekelas yang mengintip dari jendela untuk mengamati interaksinya dengan Arkan di depan.
Nadin memeluk lengan Naura dan menyeretnya masuk ke kelas. " Ciye yang sekarang udah Punya cowok. Ke kelas aja Pakai diantar segala,” godanya.
" Apaan, sih, Nad." Naura berusaha bersikap biasa saja.
Langkah Naura dan Nadin seketika berhenti di tengah kelas ketika tiba-tiba dua temannya memarodikan kejadian tadi.
Tomo mengusap Puncak kepala Miko seraya berucap dengan nada yang sengaja dibuat semanis mungkin
" Selamat belajar "
Miko tersipu malu malu sampai membuat Naura menatapnya jijik.
" Minggir lo," kesal Naura kepada Miko Fira dan Nadin melanjutkan langkah menuju kursinya.
" Mik, nanti siang Pulang bareng gue," teriak Tomo bermaksud menggoda Naura
" Berisik " seru Nadin membela Naura
" Kelamaan jomblo lo Pada, jadinya ngiri.”
Naura duduk di kursinya. Ia menoleh sekali lagi ke deretan belakang untuk memastikan bahwa kursi Cherry memang kosong. Sejak acara Pensi kemarin, Cherry tidak masuk sekolah Padahal Naura ingin membuat Perhitungan karena menduga Cherry lah yang membuat Luna Pingsan.
Naura sempat menanyakan kejadian waktu itu kepada Luna. Adiknya bercerita bahwa saat itu ada salah seorang anak Panti berusia sekitar lima tahun yang meminta bantuannya untuk mengambilkan balon yang tersangkut di Pohon. Luna memutuskan memanjat Pohon itu. Namun, ketika berusaha menggapai balon di salah satu dahan Pohon, Luna justru terjatuh hingga mengakibatkannya pingsan.
Walau cerita Luna sama sekali tidak berkaitan dengan Cherry Naura masih menaruh curiga terhadap musuh masa kecilnya itu.
" Selamat ya, Ra. Masih tersisa waktu sekitar seminggu. Lo udah berhasil menuntaskan misi.” Suara Fira di depannya menyadarkan Salsa kembali
" BTW gimana sama Miracle ? Dia udah chat lo lagi,"
Naura mengeluarkan ponsel dari dalam tas, kemudian menghidupkan layarnya dan mendapati ada satu Pesan LINE yang baru masuk sekitar satu menit lalu. Namun, bukan dari Miracle
...Kevin...
...Naura lo terima Arkan...
Kemudian Pesan selanjutnya masuk dari orang yang sama Pesan yang membuat Naura merasakan dilema
...Kevin...
__ADS_1
...Karena Lo nolak dia, gue yang bakal maju deketin Lo...
...•••••...