
D-1
Hari yang dinanti Naura semakin dekat Hari ketika ia akan bertemu H dengan seseorang yang sudah dianggap sebagai nyawa kedua, harapan, juga keajaiban hidupnya Miracle.
Malam ini Naura hampir tidak bisa tidur nyenyak karena begitu antusias menunggu hari berganti. Luna sudah terlelap di sebelahnya, tetapi kedua mata Naura masih terjaga. Ia menggenggam erat Ponsel di dada menanti balasan Pesan dari Miracle yang tak kunjung datang.
Dipandanginya sekali lagi Pesan-pesan yang dikirim Naura untuk Miracle sejak satu jam lalu. Naura menghela napas gusar. Pesannya belum dibaca.
...anastasyaNaura...
...Besok jadi ketemu, kan...
...anastasyaNaura...
...Ketemu di mana...
Berbeda dengan Naura yang tidak sabar menunggu hari esok tiba Arkan justru merasa sangat cemas Perasaannya tidak tenang. ia khawatir kemunculan MiracLINE malah berdampak buruk Pada hubungannya dengan Naura
Akan tetapi biar bagaimanapun Arkan tidak boleh egoistis. Naura sangat ingin bertemu dengan Miracle yang selalu mengiriminya misi via LINE. Salsa ingin tahu siapa orang di balik itu semua begitu Pula Arkan sendiri.
Arkan berbaring di kasur dengan Punggung tangan menempel di kening Ia Pusing luar biasa. Seandainya Papa tidak memintanya menyetujui syarat yang macam-macam tentu Arkan akan leluasa menceritakan yang sebenarnya kepada Naura. Tentang dirinyalah yang mengusahakan segala keajaiban di hidup Naura sejak kecil. Bahwa, dialah Miracle asli Naura
Cklek
Mata Arkan terbuka kemudian menoleh ke Pintu kamarnya yang baru saja dibuka Perlahan dari luar. Ken muncul dari sana sambil menangis.
Arkan menegakkan Punggungnya. Ia menatap Ken dengan kening berkerut Ken dan Tante Mira kebetulan hari ini menginap di rumahnya.
Namun seharusnya Ken tidur dengan mamanya di kamar tamu. Mengapa Ken malah ke kamarnya sambil menangis ?
" Kenapa " tanya Arkan singkat.
Ken masuk sambil mengusap sebelah matanya sementara tangannya yang lain menutup Pintu kamar Arkan dari dalam.
" Ken sedih ... lihat Mama nangis ... di kamar sebelah," suara Ken terbata. Air matanya masih mengalir Kaki kecilnya melangkah mendekati Arkan
Arkan membantu Ken naik ke ranjang dan duduk di sebelahnya.
" Nangis kenapa "
" Mama suruh Ken tidur sama Abang malam ini." Arkan langsung membulatkan matanya.
" Nggak Kamu tidurnya berantakan Abang Nggak mau jatuh dari kasur lagi,"
Penolakan Arkan membuat Ken menangis semakin keras. " Pokoknya Ken mau tidur di sini.” Ken lalu merangkak semakin ke tengah ranjang tetapi Arkan menarik kaki kecilnya agar tetap di tepi kasur.
" Siapa yang bolehin kamu tidur di sini," kata Arkan
" Bang Arkan " rengek Ken lagi.
Arkan masih menahan kedua kaki Ken la memperhatikan tingkah adik sepupunya yang kini berbaring telentang sambil merentangkan kedua tangan lebar lebar di kasur seolah tak mau beranjak dari sana walau dipaksa sekalipun.
" Udah sikat gigi, belum " tanya Arkan Penuh Perhatian.
Ken mulai tersenyum, memperlihatkan deretan gigi susunya kepada Arkan
" Udah, dong "
Sudut bibir Arkan terukir ke atas Tingkah lucu Ken sedikit mengurangi kecemasannya akan hari esok. Ia membebaskan kaki Ken, kemudian beranjak dari duduknya.
" Tidur sana "
Ken merangkak menuju kepala kasurnya kemudian berbaring di salah satu sisi kasur berukuran besar itu Arkan memperhatikannya sekilas, baru kemudian memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi di kamar sebelah
Arkan melihat dari celah Pintu yang sedikit terbuka bahwa tantenya sedang duduk di tepi kasur sambil menangis Ponselnya digenggam kuat-kuat seolah kesedihan Tante Mira berasal dari benda itu.
Arkan membuka lebar Pintu kemudian berjalan mendekat dan Perlahan duduk di sebelah tantenya.
__ADS_1
" Tante nangis kenapa Om Billy nyakitin Tante lagi," tebak Arkan menyebut nama mantan suami Tante Mira
Tante Mira tidak menyahut. Suara tangisnya semakin terdengar jelas. ia memeluk Ponsel di genggamannya erat-erat.
Arkan semakin khawatir. Ia sudah cukup sering melihat tantenya menangis diam-diam sejak Perceraian dengan Om Billy tahun lalu. Bahkan ketika keduanya masih berstatus suami istri Arkan tahu tantenya tidak bahagia menikah dengan Pria Pilihan orang tuanya itu. Karenanya Arkan
Merasa Pernikahan yang dipaksakan lewat Perjodohan tidak akan berakhir bahagia.
Arkan tahu di balik sifat kuat selama ini, sejujurnya Tante Mira cukup rapuh Dan, Arkan merasa kesedihan Tante Mira kali ini mencapai Puncaknya
Arkan melirik benda Pipih di tangan Tante Mira. " Om Billy kirim apa ke Tante," tanyanya mulai tak sabar Tangannya bergerak berusaha merebut Ponsel itu, tetapi Tante Mira justru semakin mendekapnya erat.
" Tolong biarin Ken tidur di kamar kamu malam ini.” Suara Tante Mira terdengar Pilu.
" Tante Nggak mau Ken malah Nggak bisa tidur karena terganggu tangisan Tante.”
" Tan, cerita sama aku Siapa tahu aku bisa bantu Tante,” desak Arkan
Tante Mira menggeleng Pelan. " ini masalah Tante sendiri Tante yang akan ... selesaikan sendiri,” ucapnya di sela-sela tangisan. la kemudian mengangkat kepala menatap Arkan dengan wajah Penuh air mata
" Besok tolong kamu yang jemput Ken di sekolah, ya. Tante ada Perlu sebentar. Tante akan minta gurunya untuk jagain Ken sampai kamu jemput dia.”
" Tan, besok aku ....” Arkan gagal melanjutkan kalimatnya.
" Tolong Tante, ya. Besok Pulang sekolah, kamu langsung ke sekolahan Ken.” Tante Mira menggenggam sebelah tangan Arkan Matanya masih memancarkan kesedihan, membuat Arkan tak tega untuk menolak.
Padahal Arkan berharap dirinya ada bersama Naura ketika bertemu dengan Miracle besok.
...•••••...
D-Day
Kadar Posesif Arkan terhadap Naura hari ini melebihi sebelumnya Bagaimana tidak, sejak Pagi Arkan selalu berada di dekat Naura Berbeda dari Pagi-pagi sebelumnya ketika dirinya akan meninggalkan kelas setelah Naura menghabiskan susu Cokelat Pemberiannya hari ini walaupun Naura sudah buru-buru meminum susunya, Arkan tidak langsung beranjak.
Arkan menunggu Naura sambil terus mewaspadai kemungkinan kehadiran Miracle.
Jam istirahat Pertama Naura masih tidak tenang karena Arkan terus mengikutinya. Membuatnya risi sendiri Naura justru khawatir Miracle tidak akan mau muncul bila Arkan selalu mengikutinya.
Jam istirahat kedua Arkan kesulitan menemukan Naura Cewek itu tidak ada di kantin maupun di kelas. Hingga akhirnya Arkan memutuskan Menunggu Naura di kelas sambil terus berusaha menghubunginya.
Panggilannya masih belum dijawab Suara getaran dari balik buku Pelajaran di atas meja Naura seketika menarik Perhatian Arkan. ia membalikkan buku Pelajaran Sejarah yang menyembunyikan Ponsel Naura
Pantas saja Naura tidak menjawab Panggilannya. Rupanya ia tidak membawa Ponselnya.
Sebelum Arkan berniat mengakhiri Panggilannya, sebuah nama aneh yang tertera di layar Ponsel Naura membuat keningnya berlipat.
Blebug Blebug calling
Lalu, dalam sekali sergap, dengan cepat Ponsel itu direbut dari tangannya Arkan kini bisa melihat Pemilik Ponsel tersebut gugup setengah mati sambil menyembunyikan Ponsel ke balik Punggungnya.
" Lo ganti nama tampilan gue di handphone lo,” tanya Arkan datar
" Eh ? Hm ... itu ....” Jelas terlihat Naura berusaha mencari alasan yang tepat untuk mengelak
" Habisnya nama tampilan Kakak alay banget, jadi aku ganti, deh.” ia akhirnya berkata jujur.
Arkan membuang napas berat mendengar alasan Naura
" itu ada artinya Lo belum Paham juga,"
" Eh " Naura tertegun
" Emang artinya apa, Kak "
" Udahlah, Lupain aja.” Arkan yang kesal memilih bergegas ke luar kelas tetapi Naura menahan tangannya di depan Pintu
" Kakak marah ? Blebug Blebug juga ada artinya, Kak.”
__ADS_1
" Yang lo maksud suara gelembung air galon? Kenapa Nggak ganti jadi Kang Alay aja sekalian.”
" iya, deh, nanti aku ganti,” ucap Naura menyesal.
" Nggak usah diganti "
" Eh " Naura menatap Arkan bingung
" Gue aja yang ganti nama tampilan Lo di handphone gue.”
" Diganti jadi apa "
" Rahasia " jawab Arkan sok misterius Ia kemudian duduk di kursi Panjang yang ada di depan kelas diikuti Naura di sebelahnya.
" Jangan ganti yang aneh-aneh ya Kak,” Pinta Naura
" Lo sendiri ganti nama gue jadi aneh begitu.”
" Ya udah, terserah,” sahut Naura Pasrah.
Arkan menatap Naura dalam diam untuk beberapa detik
" Udah ketemu sama Miracle "
Naura menggeleng Pelan. " Aku jadi Nggak yakin Miracle itu ada di sekolah Buktinya, dia belum muncul-muncul,"
Arkan memindai Pandangan ke sekitar Entah mengapa ia justru meyakini Miracle sedang mengawasi Naura dari jauh dan mencari waktu yang tepat untuk muncul.
Apa mungkin karena ia selalu bersama Naura jadi Miracle tidak mau muncul Apa sebaiknya Arkan mencoba menjauh untuk sementara waktu agar Miracle Punya kesempatan menemui Naura ?
Naura beranjak dari duduknya
" Kak jangan ikutin aku, ya. Aku cuma mau ke toilet.”
Arkan tahu Naura mulai tidak nyaman dengan sikapnya. Bisa-bisa Naura malah akan menjauh darinya bila ia seperti ini terus. ia tidak seharusnya begini. Naura berhak bertemu dengan Miracle yang membantunya berbaikan dengan Fira juga yang mendekatkan Naura dengan dirinya.
Arkan beranjak sambil tersenyum kecil
" Maaf kalau lo merasa Nggak nyaman sama sikap Protektif gue Gue cuma khawatir Miracle malah nyakitin lo," Arkan buru-buru mengangkat tangan mencegah Naura menimpali Perkataannya.
" Iya gue tahu Miracle orang baik. Lo mau bilang gitu, kan," tebaknya Tatapan mata Arkan melunak
" Gue harap juga begitu.”
Naura merapatkan kembali mulutnya Sempat tak menyangka ucapan Arkan bisa selembut ini. Tindakan Arkan selanjutnya lebih mengejutkannya lagi Naura merasakan tangan Arkan tiba-tiba menyentuh Puncak kepalanya
" Yang Penting Lo harus ingat, kalo Blebug Blebug telepon, harus diangkat ya. Jangan bikin dia khawatir.”
Naura melihat senyum itu lagi, senyum berseri Arkan yang selalu menghangatkan hatinya. Selanjutnya ia hanya mampu menatap Punggung Arkan menjauh. Cowok itu memberinya kebebasan untuk bertemu dengan Miracle.
Harusnya Naura merasa senang Namun, mengapa ia justru takut ?
Naura menggeleng Pelan. Ia tetap ingin tahu siapa Miracle-nya selama ini Naura ingin berterima kasih memeluk atau bahkan meluapkan segala bentuk Perasaan gembiranya bila bertemu dengan Miracle nanti.
Naura membuka kembali ruang obrolannya dengan Miracle di Ponsel Rupanya Miracle belum juga membuka Pesannya.
Bahu Naura merosot bersamaan dengan helaan napas berat Langkahnya lemah menyusuri koridor sementara Pandangannya masih terfokus ke layar Ponsel. Ia berharap Miracle segera membalas Pesannya
Sambil menunduk menatap layar Ponsel Naura bisa melihat sepasang sepatu hitam berhenti tepat di hadapannya Naura menggeser tubuhnya karena mengira telah menghalangi langkah orang itu. Namun, tanpa ia duga sepasang sepatu laki-laki itu ikut bergeser hingga kembali menghalangi langkah Naura
Naura mengangkat kepala untuk mencari tahu siapa orang yang sengaja mengganggunya. Di depannya kini berdiri seorang cowok bermata hitam dengan rambut cepak kecokelatan disisir rapi ke samping. Wajah asing itu tersenyum kepadanya.
Naura mengerutkan kening. Ia merasa tidak Pernah melihat cowok itu di sekolah sebelumnya Apa dia murid Pindahan ? Murid Pindahan di Penghujung semester ? Yang benar saja
" Hai Naura Anastasya,” sapa cowok itu masih tersenyum. Sedangkan Naura tanpa sadar membuka lebar mulutnya karena terkejut menyadari cowok itu tahu namanya.
" Lo siapa "
__ADS_1
...•••••...