My Secret Admirer

My Secret Admirer
Part 24 Cemburu & Menjauh


__ADS_3

Arkan memarkir mobilnya di depan rumah Haris. Tanpa salam, ia masuk ke rumah yang tidak bisa dibilang sederhana itu.


Seperti dugaannya Haris dan Jerry ada di sana. Mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jerry, yang masih mengenakan seragam sekolah berbaring di sofa ruang tamu dengan Ponsel di tangan. Sedangkan, Haris sudah berganti kaus oblong dan celana Pendek. Ia tampak sibuk mengupas kulit jeruk.


" Hei Arkan Gue kirain Nggak ke sini lo,” sapa Haris datar. Seolah Arkan memang sering masuk ke rumahnya secara tiba tiba.


" Udah selesai Pacarannya," godanya


Arkan duduk di sofa seberang Haris dan Jerry. Ia memandangi kedua temannya itu bergantian, membuat Haris dan Jerry kompak mengerutkan kening


" Kenapa lo lihatin kita begitu," tanya Jerry tanpa berupaya beranjak dari Posisi berbaring. Sebelum Arkan menanggapi, ia sudah sibuk membalas chat seseorang.


Pandangan Arkan kini terpusat kepada Haris yang masih menatapnya bingung


Bukan tanpa alasan Arkan menemui kedua sahabatnya setelah mendengar cerita Naura tentang Miracle. Dari cerita Naura Arkan mencurigai salah satu sahabatnya itu sebagai MiracLINE Terlebih Haris. Sebab, ketika dahulu Naura menyanyikan lagu Aku Tak Mau Sendiri di depan kelas, secara kebetulan Haris menyenandungkan lagu itu sejak Pagi. Membuat Arkan kesal sendiri


" Kirim aku malaikatmu, karena ku sepi berada di sini.”


" Dari Pagi Nggak ganti-ganti lagu yang lo nyanyiin,” komentar Arkan saat itu ketika jalan bersisian dengan Haris dan Jerry menuju kantin Pada jam istirahat.


" Dan di dunia ini, aku tak mau sendiri "


" Nyanyi sana di lapangan biar satu sekolah dengar suara lo yang fals itu,” kesal Arkan karena mendengar Haris masih saja bernyanyi kecil sepanjang Perjalanan.


Haris akhirnya berhenti bernyanyi, lalu tertawa Pelan menanggapi sikap kesal Arkan, " Lo ingat ingat Arkan Kalau ada cewek yang nyanyi itu buat lo, artinya tuh cewek lagi ngode minta lo jadi malaikatnya,” katanya sambil setengah merangkul bahu Arkan


Arkan berdecak sekali sambil melepas rangkulan Haris di bahunya. " Teori dari mana itu,” ucapnya tak Percaya.


Lalu, sikutan Jerry di sebelahnya membuat Arkan menoleh ke arah koridor kelas X.


" Pas banget dia lagi nyanyiin lagu yang dinyanyiin Haris tadi, tuh,” kata Jerry sambil menatap Naura, yang sedang bernyanyi sambil memetik gitar di Pangkuannya.


Sudah cukup banyak orang yang berkumpul karena ulah Naura itu. Tentu dengan suara yang tidak bisa dikatakan istimewa, juga bermodal kunci dasar gitar yang diketahui Naura bisa dibayangkan orang-orang di sekitar mengelilinginya karena apa.


" Kira-kira, dia lagi ngodein siapa, ya," tanya Jerry, bermaksud memanasi-manasi Arkan yang mulai tidak tenang.


Arkan pun mendekati Naura yang masih belum mengakhiri nyanyiannya Suara biasa saja milik cewek itu semakin terdengar jelas di telinga Arkan


...Kirim aku malaikatmu Biar jadi Kawan Hidupku Dan tunjukkan jalan yang memang Kau Pilihkan untukku...


...Kirim aku malaikatmu Karena ku sepi berada di sini Dan di dunia ini Aku tak mau Sendiri...


" Udah Ra, udah Malu dilihatin banyak anak,” kata Fira mencoba menyudahi aksi Naura


Tanpa terasa kuteteskan air


" Udah, udah.” Fira merampas gitar dari tangan Naura, kemudian menuntun Naura bangkit


" Nggak usah Pakai netesin air mata segala Lo Nggak mau sendiri, kan ? Ayo gue temenin masuk kelas.” Ia menyeret Paksa Naura untuk masuk ke kelas, menyudahi tontonan tidak bermanfaat yang baru saja mengganggu Jalanan di koridor kelas X.


" Pinjam handphone lo, Ris," Pinta Arkan sambil mengulurkan tangan ke arah Haris.


" Buat apaan "


" Pinjam sebentar. Mau lihat-lihat doang.”


" Ogah, ah " tolak Haris.


" Palingan lo iseng buka-buka galeri gue.” Haris mengunyah jeruk yang baru saja dibersihkannya.


" Nggak Cuma mau lihat tampilan Profil LINE gue dari Ponsel lo.” Arkan masih tak menyerah.

__ADS_1


" Nggak usah dilihat, semua orang juga tahu Profil lo nggak Pernah ada fotonya,”


Arkan berdecak kesal. ia semakin yakin bahwa Haris adalah Miracle kedua Naura. Apalagi ketika Arkan mengingat kembali nasihat dan Peringatan Haris waktu itu.


" Bukannya lo harusnya senang karena dia udah berani deketin lo,"


" Nikmatin aja dulu Emang ini, kan, yang lo mau,"


" Rule-nya cuma satu. Lo Nggak boleh kelepasan bilang suka sama dia kalau nggak mau dia Pergi Selama lo Patuhi rule itu, lo bebas deketin dia sambil Pelan-pelan bangkitin memori dia tentang lo di masa lalu. Sesederhana itu.”


Arkan memicingkan mata menatap Haris. ia curiga sahabatnya itu diam diam ingin membantunya dekat dengan Naura lewat Peran sebagai MiracLINE.


" Ris, gue udah tahu Lo Miracle LINE-nya Naura, kan?” tembak Arkan


" Hah " Haris merespons terkejut. Begitu pun Jerry, yang Perlahan mengubah Posisinya menjadi duduk sambil menatap Arkan dan Haris bergantian


" Lo, kan, yang ngirim misi lewat LINE ke Naura,"


" Lo ngomong apa, sih ? ID LINE Naura aja gue Nggak tahu,” elak Haris


" Kurang kerjaan banget gue kesannya Jerry, kali, tuh. Dia, kan, suka iseng orangnya,” tudingnya kepada Jerry di sebelahnya.


" Lah, gue apa lagi Nggak baik chatting an diam-diam sama calonnya teman sendiri. Anti tikung menikung Kecuali dapat lampu ijo,” sahut Jerry Panjang lebar.


" Iya, contohnya lo yang lagi chatting-an sama Gina karena udah dapat lampu ijo dari Arkan kan," goda Haris, membuat Jerry kembali mengelak.


" IH siapa juga yang lagi chatting an sama Gina. Dia lagi istirahat.” Sedetik kemudian Jerry menutup rapat mulutnya karena merasa salah bicara.


" Kok, tahu " goda Haris lagi.


" Feeling aja,” jawab Jerry asal. Sebelah tangannya mengambil jeruk di meja demi menutupi salah tingkahnya.


" Banyak bacot, Lo "


Arkan mengamati tingkah kedua sahabatnya itu dalam diam. Ia masih mencurigai Haris sebagai MiracLINE Naura Mungkin saja Haris bermaksud baik ingin mendekatkannya dengan Naura. Namun, apabila benar Haris lah orang di balik misi misterius yang diterima Naura melalui Pesan LINE


selama ini, Arkan justru khawatir. la khawatir Naura akan jatuh hati kepada MiracLINE.


Dan, Arkan Cemburu


...••••...


Haris masih mengelak walau Arkan mendesaknya berkali kali. Entah Haris bisa dipercaya entah tidak, Arkan berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, Sebab, setiba di rumah, ia dihadapkan dengan hal lain yang tak kalah menyita Pikiran. Arkan berpapasan dengan Cherry di Pintu utama. Dan, Roy berada tidak jauh di belakang cewek itu


" Arkan ke mana saja kamu ? Cherry nungguin kamu dari tadi. Sekarang kamu antar dia Pulang," Perintah Roy dengan suara tegas khasnya.


" Nggak usah, Om. Sopir saya sudah sampai,” sahut Cherry sambil melirik celah Pintu utama yang sudah dibuka lebar sejak Arkan datang. Mobil sedan merah sudah terparkir di depan


Cherry menatap Arkan sambil tersenyum sinis, baru kemudian melewatinya dengan angkuh, disusul Roy yang berdiri di depan Pintu hingga mobil yang ditumpangi Cherry menghilang dari Pandangan


Permasalahan baru menyeruak ketika Roy dan Arkan sampai di ruang tengah Kalimat yang dilontarkan Roy selanjutnya membuat Arkan shock bukan main


" Cherry sudah cerita semua Kamu Pacaran sama Perempuan anak Panti asuhan itu, kan,"


" Pa, namanya Naura." Arkan membenarkan dengan tidak suka. la tidak suka mendengar Papanya menyebut Naura anak Panti asuhan Memangnya, apa yang salah dengan itu ? Arkan juga anak Panti asuhan sampai umur enam tahun.


" Papa kira kamu masih ingat tentang kesepakatan kita sejak awal.” Nada suara Roy terdengar mengintimidasi


" Jadi apa gunanya Papa turuti semua Permintaan aneh kamu buat bantu Perempuan itu, kalau akhirnya kamu melanggar Perjanjian kita,"


" Pa, aku Nggak cerita apa pun soal bantuan bantuan itu sama Naura. Aku Nggak melanggar apa pun tentang Perjanjian konyol itu,” sahut Arkan kesal.

__ADS_1


Roy berjalan mendekati Arkan dan berhenti tepat satu langkah di hadapan Putra angkatnya tersebut. " Perjanjian konyol katamu ? Papa pikir kamu sudah cukup dewasa untuk mengartikan tujuan Papa mengangkat kamu jadi anak. Dari awal, Papa mau kelak kamu bisa berguna untuk memperkuat bisnis Papa. Itu artinya kamu harus Paham apa tujuan Papa melarang kamu dekat dengan teman Pantimu itu. Papa melarang kamu muncul di hidupnya semata mata agar Perasaan kamu nggak semakin membesar Papa nggak mau sampai kamu suka sama Perempuan itu dan menggagalkan rencana Papa." Roy membeberkan fakta yang sesungguhnya sudah disadari Arkan jauh-jauh hari,"


" Tapi Coba lihat apa yang sudah kamu lakukan Kamu malah Pacaran sama Perempuan itu dan merusak rencana Papa tentang Perjodohan kamu dengan Cherry Sikap kamu ini justru akan memperburuk hubungan perusahaan Papa dengan Perusahaan keluarga Cherry,"


Suara tinggi Papanya membuat Arkan merasa tersudut. Namun, ia tidak ingin dijauhkan dari Naura


" Perjanjian waktu itu hanya sebatas aku Nggak boleh cerita tentang keajaiban keajaiban di hidup Naura selama ini Lain halnya kalau Naura yang ingat dan tahu sendiri tentang semua itu. Dan, aku nggak mau dijodohin sama Cherry."


Ucapan Arkan membuat Papanya geram. Roy tidak terima ditentang seperti itu oleh anak angkat yang sudah dibesarkannya.


" Putusin Perempuan itu Arkan dan segera tunangan dengan Cherry Kamu akan menyesal kalau menentang Perintah Papa," ucap Roy tegas kemudian berlalu masuk ke ruang kerja di lantai dua.


Arkan menegang di tempatnya. Untuk waktu yang cukup lama, ia hanya berdiri mematung dengan Naura yang memenuhi isi kepalanya saat ini Senyuman manis Naura tingkahnya yang menggemaskan, serta segala hal dari cewek itu yang membuat Arkan jatuh hati.


Arkan tidak ingin semua berakhir begitu saja ketika ia sudah sangat bahagia karena bisa bersama Naura, seseorang yang bertahun-tahun lamanya hanya bisa diperhatikan dari jauh.


Tidak ada yang Pernah tahu bahwa Naura sudah singgah di hatinya sejak lama. Sejak sapaan seorang gadis kecil berhasil menghangatkan hatinya yang beku sekian tahun lalu.


Arkan masuk ke kamarnya dengan Pikiran yang kalut. Ia tahu ancaman Roy tidak main-main Papanya bisa saja melakukan hal yang tidak Pernah dibayangkan Arkan Termasuk menjauhkan Naura darinya


" Nggak ! Nggak boleh,” ucap Arkan frustrasi sambil berbaring di kasur. Ia memejamkan mata rapat-rapat dan membiarkan senyuman cantik Naura memenuhi kepalanya. Arkan merindukan sosok itu.


...•••••...


Rasanya tidak sabar menunggu Pertemuannya dengan Miracle tujuh hari lagi. Kira-kira rupanya seperti apa Apa dia memang orang yang dikenal Naura selama ini ?


Bunyi ringtone Ponsel di atas meja belajar membuat Naura bergerak cepat meraihnya. Ia duduk di kursi sambil menatap gugup sebuah nama yang kini tertera di layar Ponselnya.


Blebug Blebug Calling


Naura tidak Pernah segugup ini hanya karena mendapat Panggilan telepon Namun, entah mengapa, mengetahui bahwa Arkan yang menelepon membuat Naura gugup. Sebenarnya apa yang membuat Naura segugup ini Takut kalau sampai Arkan tahu bahwa ia baru saja mengubah tampilan user name Arkan menjadi Blebug Blebug Jelas-jelas Arkan tidak bisa melihat dari seberang sana


Sebelum Panggilan Panjang itu berakhir dan dirinya berada dalam masalah Naura menjawabnya.


" Halo "


Beberapa detik berlalu Naura tidak mendengar suara Arkan menyahut


" Halo Kak " Naura menyahut sekali lagi.


Kali ini suara dingin cowok itu terdengar


" Lagi apa "


Naura masih gugup. " ini lagi siap-siap mau tidur.”


Hening lagi Kali ini cukup lama membuat Naura justru gelisah


" Kakak lagi apa " Naura bertanya balik.


" Lagi mikirin Lo "


Naura mendadak kehilangan suaranya. la benar-benar gugup saat ini.


" Naura .... "


" Hmmm "


" Gue sayang banget sama Lo "


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2