
...adi tidak nyaman mengikuti Pean Pagi ini. Bagaimana tidak Sejak jam Pertama Nadin terus menempel kepad Nadin, bisa diam, Nggak, sih ? Gatet, nih,” bentak Naura sambil mendorong Nadin jauh-jauh. Suaranya Pelan karena tidak mau sampai guru di depan kelas menengok ke arahnya....
..." Lo wangi banget Ra Ternyata gini rasanya meluk Kak Arkan Pantes Kak Gina betah banget dekat-dekat Kak Arkan,” kata Nadin seraya mendekat kembali kepa Naura kemudian memeluk tubuh berbalut jaket biru itu erat-erat....
..." Ampun, dah ini anak.” Naura kesal bukan main. Ia menoleh ke belakang ketika mendengar suara bisik-bisik...
..." Orang-orang bisa ngira lo jeruk makan jeruk Sana, sana.” Naura mendorong Nadin menjauh. Tangannya menahan kepala sahabatnya itu agar tidak kembali mendarat di bahunya....
...Nadin menepis tangan Naura kemudian memperhatikan jaket biru dengan lambang centang di dada yang dikenakan Naura. Ia meneliti jaket itu dengan sangat detail. Mulai dari tekstur kainnya, jahitannya, hingga label merek jaket itu....
..." Asli, Ra ! Pekik Nadin nyaris membuat Bu Fanya di depan kelas menoleh kepadanya. Untungnya hanya Fira yang menengok, yang kebetulan duduk Persis di depan Naura...
..." Lo bisa diam, Nggak,sih, Nad," kesal Naura untuk kali kesekian. " Lo bisa Puas-Puasin Peluk jaket ini Pas istirahat nanti habis gue ganti seragam,"...
..." Emangnya siapa yang mau balikin seragam lo,"...
...Naura menghentikan kegiatan mencatatnya kemudian menoleh ke Nadin....
..." Gue Nggak betah Pakai jaket longgar begini,"...
..." Biarin aja " sahut Nadin cuek. " ini namanya kemajuan, Ra Gue hampir Nggak Percaya Kak Arkan Pinjemin lo jaket buat nutupin seragam lo yang ketat,"...
..." Ralat " Naura buru-buru mengoreksi...
..." Dia Pinjemin jaket ini karena merasa bersalah setelah dengan sengaja nyiram gue Tuh cowok emang ngeselin banget,"...
..." Nanggepinnya jangan Pake emosi, Ra Anggap aja ini bentuk Perhatian Kak Arkan sama lo Positif aja mikirnya biar nggak emosi,"...
...Naura membuang napas kesal. Bila diingat ingat kembali rasanya ia ingin sekali membalas semua Perbuatan Galen yang menyebalkan Apa mulai besok ia racuni saja susu cokelat untuk cowok itu ?...
...Pikiran Naura mulai berkeliaran menyiasati sesuatu yang buruk untuk membalas Arkan. Namun tentu Naura tidak akan berani mencelakai cowok itu bila masih berharap bertemu dengan Miracle...
..." Nadin " Naura berseru nyaring kepada Nadin, yang tiba-tiba memeluknya....
...Semua mata kini berpusat kepada Naura dan Nadin Dan keduanya masih belum bergerak terlalu terkejut menyadari semua orang kompak menatap mereka tak terkecuali Ibu Fanya....
..." Naura Anastasya, Nadin Oktaviani Kalian sedang apa," bentak Bu Fanya sambil berdiri dari kursinya di depan kelas....
...Nadin spontan melepaskan Pelukannya dan Naura langsung mendorong jauh Nadin darinya....
...••••...
...Arkan membiarkan Ponselnya bergetar di atas meja sedari tadi. Sudah tiga panggilan masuk yang ia abaikan. Dan kini Panggilan dari orang yang sama Arkan tidak berminat untuk menjawabnya....
..." Gina bikin ribut di kelas anak XI,"...
..." iya Sampai tarik tarikan jaket segala,"...
..." Masih ribut sampai sekarang,"...
..." Masih deh kayaknya Rame banget di sana,"...
..." Samperin yuk Jadi Penasaran gue,"...
...Percakapan beberapa teman sekelasnya membuat Arkan buru-buru menjawab Panggilan di Ponselnya yang hampir berhenti bergetar...
..." Halo Sayang Aku ketemu sama orang yang maling jaket kamu, nih. Kamu cepetan ke sini ke kelas XI IPS 1 Malingnya bikin kesel. Jaket kamu nggak mau dilepas lepas,"...
...Arkan sudah melangkah ke luar kelas sejak mendengar kata Pertama Gina di seberang sana. Rahangnya mengeras karena emosi. Ia marah karena Gina seenaknya saja membuat keributan. Ia akan marah besar bila sampai terjadi apa-apa Pada Naura...
..." Halo Sayang ? Kamu masih dengar aku, kan,"...
..." Aduh Jangan ditarik lagi Kak Arkan sendiri yang Pinjemkan sudah berlari untuk segera menyusul ke kelas cewek itu. Ponselnya sudah ia simpan di saku tanpa memuLepas Nggak ? Nggak mungkin Arkan dengan sukarela Pinjemin lo jaket kesayangannya ini. Gue aja nggak Pernah dibiarin buat nyentuh sembarangan Apalagi lo yang bukan siapa-siapa," Gina melangkah semakin mendekati Naura kemudian memaksa Naura untuk melepas jaket rik menarik Pun tidak dapat dihindari Banyak orang yang mengerumuni, tapi sama sekali tidak menghentikan kegiatan mereka...
...Sayangnya Nadin dan Fira sekantin Pada jam istirahat ini. Dan Naura memilih tetap di kelas karena tidak mau berkeliaran denrlawanan Naura tidak sebanding karena Gina mendapat bantuan dari temannya untuk memaksa melepasksleting jaket sudah terbuka seperempat, membuat Naura semakin keras ma-tiba sebuah cekalan mendarat di Pergelangan tangan Gina. Membuat Gina suruh cewek gatel ini lepasin jaket kamu Aku nggak suka lihatnya," rajuk Gina.kan melirik Naura yang tampak sangat kacau. Rambut berantakan juga jaket yang tidak dikenakan dengan benar. Walau kedua tangan Naura menggenggam erat-erat ritsleting bagian atas jaket yang dikenakan kerahnya sedirkan menyadari bahwa Naura sudah meninggalkan seragamnya yang lengket dan basah akibat ulahnya Pagi tadi, dan hanya mengenakan jaketnya sebagai Pelindung tubuh Hal ini membuatnya marah ke" Ce seru Gina sekali lagi kepada...
" Gue yang kasih Pinjam jakeang nggak akan biarin sembarang orang nyentuh itu, kan Bahkan, kamu sampai marah-marah sama aku cuma gara gara aku Pinjam sebentar.”
" Kalau gue bilang udah Pinjemin ke dia ya udah," Arkan masih tampak emosi
" Sekarang lo mending balik ke kelas sebelum gue tambah marah,"
" Tapi .... " Gina sudah berkaca-kaca mendengar Arkan membentaknya nyaring. Selalu saja tatapan tajam cowok itu berhasil membuatnya tak Punya kuasa. Ia akhirnya berbalik, menerobos anak-anak yang entah sejak kapan semakin rapat mengelilingi mereka.
Arkan menoleh sekali lagi kepada Naura yang masih menunjukkan ekspresi yang sama. Mata cewek itu memerah. Arkan tahu betul Naura sedang ketakutan sekaligus menahan kemarahannya sendiri.
Tangan Arkan bergerak begitu saja membenarkan kerah jaket Naura yang sedikit tersibak. Kemudian, ia mengetatkan ritsleting hingga menyentuh dagu cewek itu.
Mata mereka bertemu untuk beberapa saat dan Arkan langsung menyadari sesuatu. Bahwa ia tidak boleh menunjukkan Perhatian terang-terangan seperti yang dilakukan saat ini.
" Jaga jaket gue baik-baik. Gue bakal tagih sewaktu-waktu.”
Arkan berbalik Pergi setelah melontarkan kalimat itu. Meninggalkan Naura yang sangat kacau. Naura Pikir Arkan datang untuk memaksanya mengembalikan jaket saat ini juga Namun, rupanya keberuntungan masih berpihak kepadanya
...•••••...
" Duduk Ra Nggak usah tegang gitu.” Kevin mempersilakan Naura bergabung di ruang OSIS dan duduk di salah satu bangku yang mengelilingi
meja besar di tengah ruangan Naura menurut Ia masih tampak asing dengan wajah wajah di dalam ruangan berukuran sekitar 5 x 6 meter ini
" Kenalin yang lagi ngetik di notebook itu namanya Sari Jabatannya Sekretaris,” kata Kevin sambil menunjuk cewek yang baru saja mengangkat kepalanya dari layar notebook di hadapannya. Cewek berkacamata itu tersenyum manis kepada Naura
" Yang sok sibuk di ujung sana namanya Amir Dia bagian Publikasi.”
Naura menoleh ke seorang cowok yang tampak sibuk meneliti beberapa lembar berkas di tangan Naura langsung tersenyum begitu cowok yang ditatapnya balas menatap singkat sambil mengangkat tangan memberi salam.
Kemudian Kevin mengenalkan empat anak lainnya di ruangan itu. Ada Sekar Deri, Andi, dan Ela. Semua menduduki jabatan Penting OSIS
" Kenapa, Ra ? Lagi ada janji," tanya Kevin ketika menyadari sejak tadi Naura hanya diam sambil melirik jam tangan
Naura buru-buru menggeleng
" Sorry ya, dadakan minta lo ikut gabung di rapat kali ini. Lo tenang aja Nanti gue antar Pulang,"
" Nggak usah Kak,"
" Nggak apa-apa Lo Pulang telat, kan karena gue," Kevin tersenyum sekali lagi sebelum memulai rapat OSIS siang ini.
" Jadi dia yang bakal jadi Putri Salju,"
Rapat dibuka dari Pertanyaan Sekar kepada Kevin
" Iya,” jawab Kevin
" Gimana? Cocok, kan,"
Semua mata kini meneliti Naura beberapa saat. Membuat Naura menahan napas tiba-tiba. Ia bahkan sudah Pasrah bila banyak yang tidak setuju ia memainkan Peran Putri Salju
" Cocok,” sahut Ela sambil membunyikan Pulpennya di atas meja
" Kulitnya Putih. Pas jadi Putri Salju.”
" Rambutnya juga hitam Pekat Cocok jadi Putri," Sari ikut berpendapat.
Kevin tersenyum semakin lebar Ia sudah menduga rekan rekannya Pasti akan sependapat dengannya Naura memang Cantik
" Oh sekarang gue tahu kenapa lo langsung mau jadi Pangeran. Ternyata Putri Salju nya Pilihan lo sendiri," Amir manggut manggut di ujung sana sambil memicingkan mata menatap Kevin
Kevin tertawa renyah sementara Naura justru jadi salah tingkah dibuatnya
__ADS_1
" Oh iya Kevin Dongeng Putri Salju itu kan ending nya ada dua versi yang Kita mau Pakai yang mana," Kali ini Andi yang bertanya.
" Iya bedanya cuma ada atau nggak adanya adegan Pangeran cium Putri Salju sebelum sang Putri sadar Jadi mau Pakai yang mana," tanya Ela memastikan
Kevin menoleh kepada Salsa di sebelahnya.
" Menurut lo gimana Ra,"
Naura langsung menegakkan Punggungnya.
" Kok tanya aku "
" Ya, iya Karena kalau lo tanya gue Pasti gue mau yang versi Pertama,” sahut Kevin sambil tersenyum.
" Paling bisa lo, Kevin.” Suara Deri terdengar juga. Ia geleng-geleng kepala menanggapi niat terselubung Kevin
" Memangnya adegan itu harus beneran, ya,” tanya Naura dengan wajah memerah.
Kevin mengangguk yakin membuat Naura membuka lebar mulutnya.
Lalu Kevin tertawa melihat reaksi Naura
" Gue bercanda Ra Nggak harus beneran, kok.”
Naura menghela napas lega
" Tapi kalo mau total sekalian aja,” kata Kevin lagi-lagi bernada canda.
Naura kembali menoleh cepat tanpa kata-kata. Kevin langsung tergelak melihat cewek itu tampak Pucat Pasi
" Bercanda-bercanda Gue nggak akan maksa kalo lo nggak ngizinin.”
Kevin masih tersenyum membuat Naura semakin kikuk. Ia mendadak kepanasan dan Pura-pura menyibukkan diri dengan Ponsel untuk mengalihkan sejenak kegugupannya. Kebetulan Ponselnya baru saja berbunyi menandakan ada Pesan masuk
Ada chat dari Pengirim yang tidak dikenalinya.
...08917xxxx...
...Di mana...
Naura mengerutkan kening membaca pesan itu, terlebih nama pengirimnya tidak jelas. Juga, tidak ada Foto Profilnya.
...anastasyaNaura...
...Siapa...
...0817xxxx...
...Di mana ? Gue mau ambil jaket gue...
Mata Naura melebar ketika menyadari si pengirim Pesan adalah Arkan Dari mana cowok itu tahu WA nya ?
Naura menunduk dan menyadari jaket yang dimaksud Arkan masih melekat di tubuhnya.
...anastasyaNaura...
...Aku kembaliin besok, ya, Kak. Aku cuci dulu...
...0817xxxx...
...Lg di mana...
...anastasyaNaura...
...jangan sekarang Kak besok Pasti aku balikin....
...0817xxxx...
Naura menghela napas kasar. Jangan sampai Arkan menyusulnya ke sini dan memaksanya mengembalikan jaket saat ini juga.
...anastasyaNaura...
...Lagi ikut rapat OSIS....
" Jadi, oke Pakai versi Pertama, ya, Ra,"
Suara Kevin membuat Naura mengalihkan kembali Perhatiannya Dipandanginya satu Persatu orang yang duduk bersamanya. Sepertinya Naura melewatkan Pembahasan mengenai versi dongeng Putri Salju yang akan dimainkan nanti.
" Total ada tujuh suara yang sepakat Pakai versi Pertama. Jadi, delapan kalo lo juga setuju," jelas Kevin sambil menoleh kepada Salsa.
Naura memilih mengangguk, walau tidak Paham sepenuhnya.
" Oke sepakat, " kata Kevin nyaring. Ia kemudian menunjuk Ela. " La, mulai besok lo udah bisa bikin Pengumuman untuk adain audisi buat ngisi Peran Pendukung. Jangan lupa langsung catat gue sama Naura yang Peranin Pangeran dan Putri Salju,"
Pada saat bersamaan Pintu ruang OSIS terbuka Perhatian semua orang kini berpusat kepada seseorang dengan wajah tanpa senyum yang berdiri di ambang Pintu
Harapan Naura tidak terkabul Arkan benar-benar menyusulnya ke sini untuk mengambil jaketnya.
" Kita lagi rapat Jangan main masuk sembarangan," tegur Kevin sambil bangkit dari kursinya.
Naura sudah ketakutan Namun, ia memberanikan diri untuk bersuara. Biar bagaimanapun Arkan menyusulnya ke sini untuk mengambil jaket miliknya
" Kak jaketnya aku kembaliin besok ya Mau aku cuci dulu.” Semua mata kompak menatap Naura tak terkecuali Arkan. Kevin kembali menatap Arka
" Jadi lo ke sini cuma mau ambil jaket lo,"
" Boleh, ya, Kak ? Besok sekalian aku setrika biar rapi lagi," Naura kembali memohon.
" Balikin sekarang aja Ra," Perintah Kevin sedikit kesal. " Lo bisa Pinjam jaket gue.” Ia meraih jaket merah miliknya yang tersampir di sandaran kursi kemudian mengulurkannya kepada Naura
Mata Naura sudah membulat. Tidak semudah itu Ia tidak mungkin melepas jaket Arkan sekarang juga.
Arkan yang sejak tadi hanya berdiri di ambang Pintu kini mulai bergerak. Ia berjalan mendekati Sari
" Drama Pentas Seni Dongeng Putri Salju.” Arkan membaca keras-keras sesuatu yang tampil di layar notebook Sari.
" Arkan ini rapat tertutup Panitia Nggak boleh sembarang orang masuk,” tegur Kevin mulai jengah.
" Emangnya dia Panitia," tunjuk Arkan kepada Naura
" Bukan Tapi Naura akan main di drama itu Jadi dia boleh ikut rapat.”
Arkan mendengkus geli. " ini SMA atau taman Kanak-kanak, sih ? Siapa yang mau nonton dongeng anak kecil di Pentas seni SMA,"
" Justru gue mau bikin Pensi kali ini beda. Gue sama tim bakal undang anak anak dari Panti asuhan untuk nonton Pensi di sekolah kita. Biar mereka tetap Punya mimpi dan nggak Patah semangat,” jelas Kevin Panjang lebar. Ia kemudian berdecak kesal kepada Arkan
" Orang kayak lo nggak akan ngerti acara begini,"
" Kalau gitu biarin gue ikut main dramanya," kata Arkan datar
Semua orang dibuat tercengang Mereka hampir tidak Percaya apa yang baru saja dilontarkan Arkan. Sejak kapan cowok tersebut tertarik untuk ikut acara semacam ini ?
" Kenapa " tanya Arkan heran karena cukup lama tidak ada respons dari siapa Pun ia menatap satu Persatu orang yang ada di ruangan
" Gue Nggak dibolehin gabung,"
Kevin menghela napas kasar kemudian berkata kepada Ela. " La Peran apa yang masih available,"
Ela terkesiap kemudian buru-buru menyahut sambil meneliti tulisan tangannya sendiri di buku catatan
__ADS_1
" Masih ada Peran ayahnya Putri Salju tujuh kurcaci—”
" Gue mau jadi Pangeran nya,” Potong Arkan cepat.
" Peran Pangeran udah diambil Kevin," sahut Ela.
Arkan menatap Kevin tajam
" Mentang-mentang Lo ketua jadi seenaknya langsung nentuin diri sendiri yang jadi Pangeran ? Nggak adil banget,"
" Gue bisa Peranin Pangeran dengan baik. Ortu gue udah buka sanggar sejak gue kecil. Gue belajar banyak soal akting dari sana,” bela Kevin
" Kalau gue bisa lebih baik gimana," tantang Arkan Percaya diri
" Oh, ya," Kevin tidak yakin.
" Gue Punya ide bagus," Andi berseru Penuh semangat.
Semua menoleh kepadanya.
" Kita bikin voting aja buat tentuin siapa yang Paling cocok jadi Pangeran,” lanjut Andi
" Yang voting bukan cuma kita kita di sini tapi satu sekolah,"
" Gila lo " Kevin tak habis Pikir
" Seru, lagi, Kevin,” Andi masih tampak antusias. " Siapa yang nggak kenal kalian berdua di sekolah ini ? Dengan adanya voting, sekaligus kita bangkitin animo teman teman satu sekolah buat Pensi bulan depan. Gue jamin mereka bakal semangat ikut acara Pensi kali ini.”
" Gue setuju " seru Amir. " itu kedengarannya lebih asyik Biar OSIS nggak dikira sabotase Peran utama karena dengan mudahnya lo jadi Pangeran Kevin Beda halnya kalo memang lo menang voting. Itu bakal jadi fair,"
" Ya udah adain voting aja," Putus Kevin Toh, biarpun diadakan voting, ia yakin bisa memenanginya.
" Oke besok gue buat Polling di instastory Instagram OSIS biar lebih seru,” ucap Ela sambil mencatat Point Penting dalam rapat ini
Naura memperhatikan dalam diam sejak tadi. Matanya berpindah dari Kevin ke Arkan begitu seterusnya membuatnya gugup bukan main
Kevin masih belum Pasti menjadi Pangeran nya. Bisa jadi Arkan yang akan beradu peran dengannya. Entah Salsa harus menanggapi dengan senang entah tidak. Ia masih berharap Kevin yang bermain dengannya. Namun, di satu sisi, ia masih harus berjuang membuat Arkan menyukainya. Dan bila Arkan yang jadi Pangeran kesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya semakin terbuka lebar.
" Oke rapat cukup sampai di sini," Kevin menutup rapat begitu saja.
" Ayo Ra Gue antar Pulang,” ajaknya kepada Naura
Naura bangkit dan hendak menyahut tetapi Arkan mendahuluinya.
" Lo Pulang bareng gue," seru Arkan kepada Naura
Naura menoleh terkejut.
" Gue cuma mau Pastiin jaket gue baik-baik aja," kata Arkan beralasan
" Pakai jaket gue aja nih Ra," Kevin kembali mengulurkan jaketnya.
" Eh, tapi ....”
Kata-kata Naura terhenti begitu saja ketika tanpa diduga Arkan mendekat kemudian tangan kanan cowok itu menyentuh kerah jaket yang dikenakannya. Arkan menyibak sedikit kerah jaket tersebut untuk meneliti sesuatu.
Rahang Arkan mengeras ketika melihat garis memanjang berwarna merah di leher Naura. Ia rasa kuku Panjang Gina sempat melukai Naura
Naura buru-buru merapatkan ritsleting jaket hingga menutupi lehernya.
Arkan menurunkan tangannya Tatapannya tajam menatap Salsa Penuh Kemarahan
" Pulang sama gue Jangan nolak," ucapnya tak terbantahkan
Arkan berbalik dan keluar dari ruang OSIS dengan aura mencekam
" Ra gue antar—” Ucapan Kevin terpotong sahutan Naura
" Kak aku Pulang duluan ya Makasih.” Naura tersenyum singkat, kemudian kakinya seolah bergerak sendiri menyusul Arkan yang sudah beranjak lebih dahulu.
Bahkan Naura harus sedikit berlari untuk menyusul Arkan yang terus berjalan cepat menuju tempat Parkir. Ia mengekor di belakang Arkan sambil sesekali menunduk untuk meneliti kerah jaket yang dikenakannya. Ia masih bertanya tanya apa yang membuat Arkan sampai semarah itu Apa jaketnya sobek karena tarikan Gina tadi ? Bila benar, wajar Arkan marah besar. Karena yang ia tahu, ini jaket kesayangan Arkan
" Aduh " Naura mengeluh sambil memegangi keningnya ketika tanpa sengaja menabrak Punggung Arkan yang tiba tiba berhenti melangkah Naura terlalu sibuk meneliti kerah jaket, hingga tidak sadar sudah berdiri di dekat mobil Arkan
" Masuk " Perintah Arkan dengan nada yang teramat dingin. Beberapa detik kemudian, ia sudah duduk di balik kemudi dan memperhatikan Naura yang berjalan di depan mobilnya hingga duduk tepat di sebelahnya.
" Maaf "
Arkan masih menatap Naura Kali ini alisnya bertaut.
" Kakak marah karena jaketnya sobek, ya ? Nanti aku jahit, deh,"
Arkan sungguh kesal dibuatnya Bahkan sampai saat ini Naura masih mengira ia mengkhawatirkan jaket itu Padahal lebih dari itu. Ia mengkhawatirkan Naura dibanding apa Pun !
" Jangan marah lagi, ya, Kak," Kali ini Naura tersenyum manis, membuat Arkan buru-buru mengalihkan Pandangannya ke depan.
" Gue Nggak mau tahu Besok jaket itu udah harus rapi," kata Arkan sambil mengenakan sabuk Pengaman
Naura mengangguk berlebihan hingga Arkan kembali menoleh kepadanya cukup lama.
Kemudiaan Ketika Pandangan mereka bertemu lagi Arkan melepaskan kembali sabuk Pengamannya dan mendekatkan diri kepada Naura. Naura menahan napas ketika Arkan mengulurkan tangan tepat ke samping wajahnya Namun, ia bisa bernapas lega ketika tahu cowok itu hanya ingin membantu memakaikan sabuk Pengaman.
" Makasih," ucap Naura sambil tersenyum manis.
Arkan merasa lemah setiap kali Naura tersenyum manis seperti itu. Rasanya Arkan ingin sekali Naura segera menyadari bahwa ia sempat menjadi bagian dari kenangannya. Namun sepertinya tidak akan mudah
Ekspresi Naura sudah berubah kecut. Ia Pikir Arkan mulai ramah kepadanya Namun, rupanya Arkan hanya memedulikan jaket kesayangannya.
" Iya " jawab Naura singkat, kemudian benar benar turun dari mobil.
Arkan memperhatikan Punggung Naura yang semakin menjauh sambil menghela napas berat.
Lo Cewek yang Paling nggak Peka. Tapi anehnya gue masih aja suka sama lo
...••••...
Gawat ! Naura Ketiduran Sudah Pukul 7.00 malam dan ia baru ingat belum mencuci jaket Arkan
Naura mencari-cari jaket biru Arkan yang seingatnya digantung di balik Pintu kamar Namun jaketnya tidak ada di sana. Naura berusaha mengingat kembali di mana ia meletakkan jaket itu.
Ia beringsut ke luar kamar dan menjelajahi ruang tamu rumahnya
" Kakak lagi cari apa " tanya Luna dari balik Punggung Naura
" Lun, kamu lihat jaket biru yang Kakak gantung di Pintu kamar nggak,"
" Oh, jaket itu Punya Kakak,"
Naura langsung menoleh. " Kamu tahu ada di mana,"
" Tadi siang aku masukin ke keranjang cucian kotor Habisnya lengket banget. Kayaknya sekarang udah masuk mesin cuci, deh,” kata Luna sambil menunjuk ke arah dapur.
Naura langsung memelesat menuju lokasi. Ia membuka Penutup mesin cuci dan menemukan jaket yang dicarinya sudah bergabung dengan rendaman Pakaian kotor lain. Ia mengangkat jaket itu tinggi tinggi sambil menatap tak Percaya dengan apa yang dilihatnya
Warna jaket itu kini tidak hanya berwarna biru tetapi sudah bercampur dengan merah dan hijau akibat warna Pakaian lain yang luntur
Gawat ! Naura benar-benar dalam masalah Bagaimana ia menghadapi amukan Arkan besok di sekolah ?
...•••••...
__ADS_1