
"Raka kamu sedang apa di sini?" Melihat sang putra berada di rumah sakit terlihat begitu tidak tenang.
"Mom?!" Kejut Rakana melihat ibunya. "Momi sendiri kenapa ada di sini?" Rakana berbalik bertanya.
Deg.
"Momi tadi... Hanya periksa keadaan mom saja, tadi sedikit pusing." Jawabnya, ia mencari alasan yang masuk akal.
"Tapi mom sekarang sudah lebih baik." Sambung nya.
"Benar tidak apa-apa? Tidak ada penyakit serius kan?" Rakana dengan rasa khawatirnya.
"Benar, mom tidak apa-apa hanya kelelahan sedikit saja." Kembali mama nya meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
"Kamu sendiri kenapa berada di rumah sakit? Kamu sakit?" Ibunya pun mengkhawatirkan keadaan Rakana.
"Tidak, aku baik-baik saja, seperti yang mom lihat. Aku di sini sedang menunggu Rayna karyawan ku."
"Rayna, Karyawan mu?" Heran sang mama menatap Rakana, sejak kapan ia harus capek-capek mengurusi karyawannya, padahal anaknya itu bisa meminta bantuan bawahan nya saja.
"Ya, dia hampir menjadi korban pemerkosaan." Jelas Rakana.
"Pemerkosaan? Maksudnya bagaimana?" Sang mama pun belum begitu paham.
Rakana pun menceritakan bagaimana kejadian itu terjadi pada sang mama secara perlahan.
"Jo... Jonathan sahabat kamu yang tinggal di luar itu kan?" Kejut mama, memastikan bahwa pria bule anak sahabat suaminya yang melakukan hal itu.
"Iya, dia laki-laki brengsek itu!" Rakana selalu kesal saat mengingat sahabatnya itu.
"Mom tidak percaya anak itu akan melakukan hal serendah itu, apalagi di hotel tempat yang kamu kelola." Rasa tak percayanya begitu kuat.
"Aku pun tidak percaya jika tidak melihatnya langsung, tapi aku melihat dengan kedua mataku sendiri, dia melakukan hal menjijikkan seperti itu!" Semakin di ingat semakin membuat Rakana kesal dan geram.
"Lalu sekarang bagaimana keadaan karyawan mu itu?" Tanya sang mama yang melihat raut marah di wajah putranya saat ia menceritakan Jo sahabatnya itu.
"Di tubuh nya banyak lebam, dan dokter bilang, Rayna akan mengalami trauma karena kejadian ini." Jelas Rakana.
"Ah kasihan sekali dia. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Mamanya pun bertanya.
"Aku sudah menyuruh dokter untuk memvisum tubuh Rayna, itu semua bisa menjadi bukti." Jawab Rakana. "Aku akan mempenjarakan dia!" Tegas Rakana tanpa ampun.
Ibunya Rakana hanya mampu menghela nafasnya panjang, ini bisa menjadi masalah.
"Kamu yakin? Dia sahabat mu sejak kecil." Mama pun meyakinkan.
"Aku yakin mom, sangat yakin!" Jawabnya sangat yakin. Selain kejahatan yang di lakukan sahabatnya itu bukan kejahatan yang harus di maafkan, dan lelaki itu pun tengah berurusan dengannya karena wanita yang ingin dia sentuh adalah wanita yang sangat ia cintai.
"Mama boleh menjenguk gadis itu?" Pinta mama, ia penasaran dengan gadis yang membuat Rakana terlihat sangat marah, kepada sahabatnya itu, ia yakin jika karyawan bernama Rayna itu spesial di hati putranya.
__ADS_1
"Dokter masih memeriksa nya mom, mungkin nanti setelah selesai pemeriksaan." Jelas Rakana.
***
"Dia Rayna?" Tanya mama melihat seorang gadis tengah terbaring tak sadarkan diri dengan luka lebam di tubuhnya, ia melihat pergelangan tangan gadis itu memar. Jo benar-benar jahat, ia ingin memperkosa seorang gadis.
"Kasihan sekali dia." Gumam sang mama menatap iba pada gadis itu.
"Apa kamu sudah menghubungi keluarganya?" Melihat tak ada keluarga yang datang ke rumah sakit untuk menunggu nya.
"Belum mom, mungkin nanti, aku ingin melihat dulu keadaan nya."
"Setelah gadis ini sadar, kamu segera menyuruh nya untuk menghubungi keluarganya." Titah sang mama. Rakana mengangguk.
Mama Rakana pun memperhatikan wajah cantik gadis di hadapannya itu dengan begitu intens. Menatap lembut wajah itu.
"Dia cantik sekali." Puji sang mama.
"Ya, dia sangat cantik." Timpal Rakana pelan.
"Kamu menyukai gadis ini?" Tanya mama tanpa menatap bagaimana Rakana terhenyak dengan pertanyaan mamanya.
"Ekhem." Rakana hanya berdehem tanpa menjawab.
'cantik sekali kamu Rayna, melihat wajah mu begitu tidak asing. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Tidak! Aku tidak pernah bertemu dengan gadis ini, ini kali pertama nya aku melihatnya. Tapi kenapa?' batin sang mama terus menatap wajah Rayna. Deg!
"Mom?" Panggil Rakana memperhatikan mamanya yang diam saja seraya memperhatikan Rayna. "Mom kenapa?"
"Aku antar mom." Rakana memberi perhatian.
"Tidak perlu, mom tadi di antar sopir. Pasti dia sedang menunggu mom di parkiran." Jawabnya menolak. "Kamu jaga gadis itu sampai benar-benar sadar, jangan tinggalkan dia." Titah nya.
"Ya." Balas Rakana, ia memang akan menjaga Rayna sampai kapanpun jika gadis itu membutuhkan nya.
"Hati-hati mom." Ucap Rakana mengingatkan, dan di angguki sang mama.
Sang mama pun keluar dari rumah sakit itu, kini ia tengah berada di dalam mobil. Mengingat kembali wajah cantik Rayna.
"Kenapa wajah gadis itu mengingatkan ku pada seseorang." Batinnya.
Sang mama menarik nafasnya panjang dan dalam.
"Dia mirip denganmu." Sang mama memejamkan matanya saat terbersit wajah seseorang yang tiba-tiba saja ia mengingat wajah itu.
Sang mama menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk menghapus semua memori masa lalu nya. Bahaya pikirnya, jika Rakana menyukai gadis itu.
"Tidak mungkin!" Gumamnya.
***
__ADS_1
Di dalam ruangan Rayna, Rakana masih setia menemani Rayna yang tak kunjung sadar, Rakana menggenggam tangan Rayna, ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan itu, jika Rayna sudah sadar mungkin genggaman tangan itu tidak akan pernah terjadi.
Di tatap wajah cantik dengan mata terpejam itu. Ia semakin merasa bersalah pada gadis ini. Berniat untuk menjaganya tapi malah menyakiti nya.
"Apa aku salah menjagamu seperti ini Rayna." Lirih Rakana. "Aku ingin selalu dekat denganmu, tapi malah membuat mu menderita." Tatap sendu seorang Rakana. "Bagaimana caranya aku meluluhkan hati mu? Kamu begitu sulit untuk aku pahami. Aku mencintaimu Rayna, sangat." Gumam Rakana. "Maafkan aku..." Racau Rakana, ia bingung harus melakukan apa pada Rayna agar nyaman berada di dekatnya.
Saat Rakana menundukkan wajahnya dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Rayna. Tiba-tiba.
Grep... Tangan Rayna menggenggam balik tangan Rakana dengan sangat kuat dan erat.
"Ayah..." Panggil Rayna dengan lirih.
"Aku takut!" Racau Rayna tanpa membuka kedua matanya. "Aku takut ayah." Rayna terus meracau dengan raut wajah yang tegang dan ketakutan, keringat mulai membasahi pelipisnya.
"Rayna..." Panggil Rakana dengan lembut, ia mencoba untuk menyadarkan gadis itu. Rakana mengelus lembut tangan yang tergenggam begitu kuat, menenangkan Rayna.
Rayna menarik tangan Rakana, membawa nya ke dada dan ia dekatkan tangan lelaki itu pada pipinya, seakan ia tak ingin melepaskan tangan itu dari genggamannya. Rayna merasakan bagaimana lembut nya sentuhan itu, sehingga ia mulai sedikit tenang. Namun...
"Ayah!" Teriak Rayna tiba-tiba dengan kedua matanya terbuka sempurna dengan nafas tersengal-sengal.
Kedua mata terbuka itu langsung menatap wajah tampan nan panik Rakana yang pertama kali ia lihat.
Mereka saling menatap dengan begitu intens.
"Kamu baik-baik saja?" Bisik Rakana mengkhawatirkan keadaan Rayna. Wajah nya begitu dekat dengan wajah Rayna.
"Pak Rakan." Ucap Rayna dengan pelan. Rayna melihat sekitar ruangan asing baginya.
"Saya dimana?" Gumamnya.
Rakana mengangkat pandangan sedikit menjauh.
"Kamu di rumah sakit sekarang, tadi kamu pingsan saat aku mengantarkan mu pulang." Jawab Rakana.
Rayna mengingatnya, ya dia tiba-tiba ambruk begitu saja di depan kosan nya saat raganya tak mampu ia tahan untuk berdiri dan pandangan gelap di depannya. Dan detik kemudian ia tersadar karena tangannya masih menaut di jari-jari Rakana, Rakana tak mau melepaskannya lebih dulu. Namun Rayna melepaskan genggaman itu, membuat Rakana sedikit kecewa.
"Maaf pak, saya sudah merepotkan pak Rakan lagi." Lirih Rayna tidak enak hati.
"Tidak, kamu tidak merepotkan." Balas Rakana. "Aku akan memberitahukan keluarga mu." Ucap Rakana meraih handphone nya, ia pikir Rayna pasti ingin bertemu dengan ayahnya.
"Jangan pak!" Cegah Rayna meraih lengan Rakana.
"Kenapa? Ayah mu harus tahu keadaan mu di sini. Apalagi tadi kamu terus memanggil ayah." Ujar Rakana.
"Jangan pak, saya tidak mau membuat ayah saya khawatir." Terang Rayna.
"Tapi..."
"Saya mohon pak, jika ayah saya tahu bagaimana keadaan saya, apalagi jika tahu apa yang terjadi kepada saya. Ayah pasti tidak akan mengijinkan saya untuk bekerja jauh seperti ini. Bagaimana caranya saya membayar hutang saya kepada pak Rakan, kalau saya tidak bekerja dengan bapak lagi." Urainya dengan memohon.
__ADS_1
Deg...
Ucapan Rayna begitu menohok bagi Rakana.