
" Gina sebenarnya Nggak ngeselin-ngeselin banget Sifat manja dan kenakalannya selama ini cuma bentuk Pelampiasan buat cari-cari Perhatian Dia cuma butuh diperhatiin.”
Omongan Panjang lebar Jerry tentang Gina sukses membuat Arkan dan Haris saling Pandang dengan curiga.
" Lo Suka sama Gina, Jer " ujar Haris.
Jerry seketika tersedak es teh manis yang baru saja diseruputnya
" Sembarangan aja kalau ngomong "
" Beneran juga Nggak apa-apa, kali, Jerry Ikut seneng Pasti gue,” tambah Arkan bernada santai.
" Nggak Arkan Sebagai sesama anak korban broken home, gue cuma bisa ngerasain apa yang Gina rasain Bedanya, gue masih bisa ngendaliin keterpurukan gue dengan hal-hal Positif. Sementara itu, dia masih butuh seseorang buat nuntun ke arah yang benar.”
Haris bertepuk tangan seketika takjub dengan kata-kata bijak Jerry. " Cocok kalau gitu. Nggak sia-sia Arkan minta tolong lo buat ngurusin Gina, Lo bukan cuma nyingkirin Gina dari Arkan, tapi sekaligus nyingkirin hatinya buat Pindah ke lo.”
" Terus aja komen Rasa gue ini hanya bentuk rasa Prihatin karena menemukan teman senasib Lagian yang dia suka tetap Arkan," Jerry masih membela diri.
" Perasaan Orang bisa berubah, Jer Buktinya Gina Nggak komen apa apa lihat Arkan nembak Salsa di lapangan tadi Pagi,” kata Haris menguatkan asumsinya sendiri. " Kalo emang suka sama Arkan Pasti Gina udah nyamperin Atau, jangan-jangan dia lagi ribut di kelas Naura,"
Arkan seketika hendak berdiri, tapi dicegah Jerry. " Gina lagi Nggak enak badan Nggak mungkin dia cari-cari ribut.”
" Kok Lo tahu " tanya Arkan makin curiga.
" Dia kelihatan Pucat banget waktu upacara tadi terus gue antar ke UKS buat istirahat sebentar.” Jerry melahap mi ayam dengan terburu-buru untuk menyamarkan ekspresi gugupnya
" Salah tingkah lo kelihatan banget Jer," seru Haris sambil terbahak-bahak
" Ketahuan banget kalo lo udah mulai Peduli sama dia.”
" Banyak bacot, Lo " kesal Jerry yang kali ini sibuk menghabiskan es teh manis di gelas.
Arkan memperhatikan Percakapan kedua sahabatnya itu dengan seulas senyum. la turut senang bila akhirnya Jerry mampu membuat Gina berpaling darinya. Matanya kemudian beralih kepada Haris yang masih tertawa keras.
" Kalau lo gimana, Ris ? Cherry nurut sama lo," tanya Arkan seketika membungkam tawa Haris.
Haris menghela napas berat seolah Pertanyaan Arkan adalah Pertanyaan trigonometri yang tidak disukainya
" Susah Arka Susah banget diatur tuh cewek. Dikit dikit omongannya mau ngadu ke Papanya Manja bener Gue lagi beruntung aja dia Nggak masuk sekolah jadi gue bisa napas sebentar.”
" Nggak masuk "
Haris mengangguk. " Iya udah tiga hari sejak Pensi kemarin Lo tahu dia ke mana,"
Arkan menggeleng dengan alis bertaut Ia berusaha mengabaikan
keanehan yang tiba-tiba dirasakannya.
...•••••...
Arkan semakin cemas Wajah wajah yang baru saja keluar dari Pintu kelas di hadapannya bukanlah yang ia harapkan. Ditambah bel tanda Pulang sekolah sudah berbunyi lebih dari menit lalu. Dan ketika Arkan tidak lagi melihat ada anak yang keluar dari kelas itu, Perasaannya semakin tidak tenang.
Dengan langkah cepat Arkan mendekat dan masuk ke sana Kosong Sudah tidak ada orang di dalam. Dan kemungkinan besar Naura sudah Pulang
Arkan berdecak kesal Mengapa Naura tidak menunggunya ? Apa kurang jelas kata-katanya Pagi tadi yang meminta Naura Pulang bersamanya Cewek itu memang sulit sekali ditebak Sebentar sebentar mendekat, kemudian menjauh seenaknya.
Arkan meraih Ponsel di saku kemudian mencoba menghubungi Naura berkali kali. Namun, tidak ada satu Panggilan pun yang dijawab. Arkan makin tidak sabar. Akhirnya, ia mengirimkan chat yang diharapnya dibalas Naura secepat mungkin.
...0817xxxx...
...Lo Pulang sama siapa Kenapa gak nunggu gue...
...•••••...
Tepat di depan Pintu rumahnya Naura membaca Pop-up chat dari Arkan. Lima Panggilan masuk dari Arkan baru saja diabaikannya. Dan, Naura tidak siap untuk membuka chat itu. Sepenggal kalimat yang terbaca melalui Pop-up Pesan yang muncul sudah cukup jelas baginya. Bahwa Arkan marah besar kepadanya karena tidak menunggunya Pulang.
Sejujurnya Naura tidak ingin menghindar seperti ini. Ia hanya merasa butuh waktu merenung untuk memahami Perasaannya. Ia bahkan belum membalas chat dari Kevin Pagi tadi.
Naura melepas dan menyimpan sepatunya di rak. Niatnya untuk masuk ke rumah mendadak diurungkan ketika mendengar suara kompak yang Memanggil nama Mamanya.
" Tau Maria "
Naura menoleh dan menemukan dua gadis berseragam Putih biru di belakangnya. Masing-masing memeluk kotak seukuran kardus mi instan
" Kak ini benar rumah Ibu Maria, kan," tanya salah seorang gadis berambut Panjang dengan Poni yang hampir menutupi mata.
" iya, betul. Kalian siapa " Naura balik bertanya.
__ADS_1
" Kami anak didiknya dari SMP Tunas Kak. Kenalin, namaku Tasya,” jawab gadis itu.
" Dan aku Ema,” sahut gadis berkucir kuda. “Ibu Maria nya ada? Kami mau kumpulin tugas Prakarya teman-teman sekelas buat Ibu Maria karena Ibu Maria izin tidak masuk kelas minggu lalu.”
" Oh, ada, kok Ayo masuk.” Naura membuka Pintu utama dan mengajak dua gadis itu masuk hingga berhenti di ruang tamu.
Tasya dan Ema meletakkan kotak yang dibawanya ke atas meja.
" Kakak yang namanya Naura ya,” tanya Tasya, membuat Naura menoleh, lalu mengangguk.
" Kakak ini Putri Ibu Maria yang Paling besar, kan,” tanyanya lagi.
Naura kembali menjawab dengan anggukan sambil tersenyum. Tiba-tiba Naura merasa senang karena Maria sempat menceritakan dirinya kepada anak didiknya.
Lalu, Tasya dan Ema saling berbisik seperti sedang membahas sesuatu tentang Naura
" Kenapa ? Ibu Maria cerita apa aja tentang Kakak," tanya Naura Penasaran.
" Benar yang Ibu Maria bilang, kalo Kak Naura orangnya—”
" Tasya, Ema, mana Prakarya yang mau dikumpulkan,”
Suara tegas itu membuat ketiganya menoleh. Maria baru saja bergabung di ruang tamu dari arah dapur.
Tasya dan Ema menunjuk dua kotak di atas meja sambil berseru kompak
" ini Bu " Kemudian mereka mendekat untuk memberi salam kepada gurunya.
Naura ikut memberi salam. " Aku baru sampai, Ma.”
" Hm " Maria menyahut dengan gumaman singkat.
Dan ketika Naura hendak melanjutkan langkah menuju kamar, suara mamanya membuat ia kembali menoleh.
" Nggak usah ganti baju Kamu langsung jemput Luna di sanggar sekarang Keburu hujan,"
" Iya, Ma. Aku simpan tas sebentar,” sahut Naura
Setelah menyimpan tas di atas meja belajarnya, Naura bergegas kembali Menuju ruang tamu. Tasya dan Ema masih di sana, duduk di sofa sambil berbisik bisik menatapnya.
Sesungguhnya banyak yang ingin Naura tanyakan kepada dua gadis itu. Tentang sesuatu yang mereka bisikkan tentang apa saja yang diceritakan Maria seputar dirinya, juga tentang kepribadian Maria ketika mengajar di kelas.
Akan tetapi, rasa Penasaran tentang itu semua harus Naura Pendam terlebih dahulu. Langit tampak mendung di balik jendela, dan rintik hujan mulai turun.
Naura mengambil kunci motor milik mamanya di laci lemari TV, kemudian bergegas keluar rumah setelah berteriak singkat Pamit kepada Maria yang tidak terlihat di ruang tamu.
Maria menyusul di teras tepat ketika Naura hendak menerobos gerimis menuju motor yang terparkir di Pekarangan.
Maria menahan bahu Naura sekilas.
" ini jas hujan " katanya sambil mengulurkan mantel berwarna merah yang masih terbungkus Plastik bening Ia menepuk beberapa kali Plastik itu untuk menghilangkan sedikit debu yang tampak mengotori mantel karena terlalu lama tidak dipakai.
Naura terpaku beberapa detik mencoba mengartikan maksud mamanya. Oh Naura mulai Paham setelah lima detik berlalu. " iya Ma Nanti aku kasih mantelnya buat Luna." Naura meraih mantel itu. Namun, matanya kembali menatap Maria ketika merasa mamanya masih menahan mantel di tangannya.
" Pakai Luna sudah Punya mantel sendiri di tas,” ucap Maria kemudian melepaskan mantel yang dipegangnya Ia berbalik masuk ke rumah meninggalkan Naura dengan hati yang tiba-tiba terasa hangat.
Sepanjang Perjalanan menuju sanggar senyum seolah tidak Pernah Pudar dari wajah Naura. Rintik hujan yang berubah menjadi lebih deras tidak membuatnya berhenti untuk berteduh Menyadari mamanya memberikan mantel ini untuknya membuat Naura merasa sangat bahagia. la merindukan Perasaan ini Perasaan senang karena diperhatikan mamanya.
Sesampainya di sanggar Naura menemukan Luna sudah menunggu di depan Pintu utama. ia duduk di kursi depan bersama dengan anak-anak lain yang juga menunggu jemputan atau hujan reda.
Naura melepas mantel dan melipatnya, kemudian ikut duduk di sebelah Luna.
" Kakak Kenapa hujan-hujanan," tanya Luna.
" Kan Kakak Pakai mantel " jawab Naura sambil menepuk mantel yang diletakkan di sampingnya.
" Tetap aja Kakak kebasahan " Luna menunjuk sebagian rambut Naura yang meneteskan air.
" Cuma sedikit " Naura tampak sangat riang. Ia lalu meraih Ponsel dari saku ketika merasakan getaran singkat dari benda itu. Ada Pesan masuk dari mamanya.
...Mama...
...Hujannya makin deras, kalian Pulangnya tunggu hujan reda....
Senyum di wajah Naura semakin mengembang sempurna. Hatinya kian menghangat. Hal ini membuat Luna Penasaran.
" Dari siapa, sih, " Tanya Luna
__ADS_1
Naura memeluk Luna erat sekali, menyalurkan begitu besar rasa bahagianya. Padahal, ia menyadari betul bahwa Maria khawatir Luna sakit bila memaksa menerobos hujan deras saat ini. Biarlah Naura mengartikan bahwa mamanya Perhatian kepadanya walau hanya sedikit, walau tidak secara langsung.
" Kak Luna Nggak bisa napas, nih,” keluh Luna dalam Pelukan erat Naura
" Kakak kenapa sih,"
" Kakak lagi senang,” sahut Salsa.
" Asyik, ya, hujan-hujanan gini ada yang Peluk.”
Naura melepaskan Pelukannya karena suara itu. la menoleh ke sumber suara dan cukup terkejut ketika menemukan Kevin sudah berada di hadapannya.
" Jadi kepingin dipeluk juga,” goda Kevin sambil tersenyum.
Sikap dan ucapan Kevin barusan membuat Naura salah tingkah dan membisu. Kecanggungan mulai menyelimutinya ketika menyadari bahwa ia belum juga membalas chat Kevin Pagi tadi
" Luna kata Sandra buku catatan kamu ketinggalan di dalam Tadi sempat ngerjain PR bareng Sandra kan," tanya Kevin kepada Luna.
" Oh, iya, Luna hampir lupa.” Luna bergegas bangkit, lalu berkata kepada Naura
" Kak, Luna ke dalam sebentar, ya.”
Naura mengangguk singkat. Matanya mengikuti kepergian Luna hingga menghilang masuk melalui Pintu utama. Dan, rasa canggung itu semakin terasa ketika Kevin kini mengisi tempat yang baru saja ditinggalkan Luna.
" Lo udah baca chat gue tadi Pagi kan," tanya Kevin tanpa basa-basi
" Eh, iya, udah, Kak.”
" Susah banget, ya, Pertanyaan gue? Sampai Nggak lo jawab.”
" Maaf Kak Tadi Pagi Pas lagi ada guru jadi Nggak bisa langsung balas Malah kelupaan sampai sekarang,” kata Naura beralasan.
Kevin menanggapi dengan senyuman kecil. " Jadi lo belum kasih jawaban ke Arkan, kan," tebaknya.
" Eh " Naura kehilangan kata-kata
" Jangan dijadiin beban Kalo memang Nggak suka lo berhak nolak dia.”
Naura menoleh menatap Kevin yang masih tersenyum kepadanya Sampai detik ini ia masih berusaha mengartikan Perasaannya sendiri Sebenarnya siapa yang disukainya ?
" Karena gue berharap lo milih gue Gue suka sama lo, Ra," ucap Kevin tanpa sedetik pun mengalihkan tatapan dari Salsa.
Beberapa detik mereka habiskan dengan saling tatap tanpa suara. Naura merasa gugup mendengar Pernyataan Kevin. Dan, kegugupannya ini membuat Kevin tersenyum semakin lebar.
" Lo lucu banget kalau lagi gugup.”
Tangan Kevin bergerak menyentuh rambut Naura yang setengah basah tetapi dengan cepat ditepis cewek itu
Inget, ya, jangan mau dipegang-pegang sembarangan sama cowok lain. Tepis aja tangannya. Patahin kalo Perlu
Entah mengapa Peringatan Arkan waktu itu terlintas di kepala Naura membuatnya bergerak spontan menepis tangan Kevin
Suara bantingan Pintu mobil membuat keduanya menoleh. Baik Naura maupun Kevin baru menyadari bahwa hujan sudah reda. Anak-anak lain pun sudah Pulang bersama jemputannya masing masing. Dan, kini Pandangan mereka terpusat kepada seseorang yang baru saja turun dari mobil dan berjalan cepat mendekat.
Naura langsung berdiri tegak. " Kak Arkan kenapa bisa ada di sini,"
Arkan berhenti di hadapan Naura dan Kevin Ia menatap dua orang itu dengan tatapan tidak suka terlebih kepada Kevin
Kevin ikut bangkit. Ia balas menatap Arkan dengan alis bertaut. " Setahu gue Ken nggak jadi daftar di sanggar ini Jadi harusnya lo tahu kalo Ken nggak ada di sini.”
" Gue Nggak lagi cari Ken Tapi, gue mau jemput cewek gue di sini,” tegas Arkan
Kevin berusaha menanggapi setenang mungkin. " Kalau yang lo maksud adalah Naura, setahu gue, dia belum bilang setuju buat jadi Pacar lo. Jadi, statusnya sekarang bukan cewek lo.”
" Dia Nggak Punya alasan buat nolak gue.”
" Oh jelas ada.” Kevin menyahut lagi
" Naura berhak nolak kalo memang dia nggak suka sama lo.” Kevin lalu menoleh kepada Naura yang seolah mendadak kehilangan suaranya
" Silakan Ra Kasih jawaban lo.”
Arkan menatap Naura cemas. Ia tidak ingin mendengar Penolakan dari Naura Anggap ia egoistis. lya, Arkan menyadari dirinya sangat egoistis. Ia tidak ingin kehilangan Naura. ia tidak suka melihat Naura dekat dengan Kevin ataupun cowok lain. Ia tidak mau Naura menjauh lagi darinya. Arkan mau Naura memilihnya.
Naura menatap Kevin dan Arkan bergantian. Pernyataan Arkan Pagi tadi di lapangan kembali terbayang ketika Naura menatap Arkan Begitu pun ketika ia menatap Kevin, kata-kata cowok itu beberapa menit lalu terngiang di telinga.
" Aku ....” Naura menggantungkan kalimatnya. Ia masih bingung memilih kalimat yang tepat untuk dilontarkan agar tidak menyakiti hati siapa pun sementara Kevin dan Arkan menanti dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
Siapa yang harus dipilih Naura ?
...•••••...