NADIR

NADIR
1. JANGAN PADAM!


__ADS_3

Malam menguapkan hiruk-pikuk, seketika. Menebar gelap. Memberi kesempatan bagi siapa saja akrab dengan kesunyian. Ketenangan. Berkontemplasi pada cerita yang mereka ciptakan, seharian. Mongunguman¹ manis bersama buah hati di ranjang kayu, di bilik kamar berdinding pitate², menjadi satu dari banyak hal yang mendamaikan. Sampai anak-anak mereka tertidur pulas, mereka puas mencium keningnya, mengusap kepalanya, memeluknya erat, mencapai kehangatan yang dalam. Oh, betapa indah jika dibayangkan.


Bagi sebagian besar warga Desa, semua menjadi lengkap ketika malam telah datang. Berkumpul dalam satu atap, dalam satu ruang, dalam satu kebahagiaan. Keluarga. Melepaskan rindu setelah seharian bergemul dengan waktu. Bertarung dengan keadaan. Tangan yang letih terayun membersihkan ladang, punggung yang terbakar oleh terik mentari, bahu-bahu yang lelah memikul beban, saat malam, semua rasa itu menguap. Keceriaan, kebahagiaan, adalah kemewahan lain yang ditawarkan keluarga melaluli kebersamaan. Jamu paling mujarab.


Tapi tidak untuknya. Wajahnya pias-masam mengguratkan sesuatu yang begitu dalam, seakan ada luka yang mencubitnya dari dalam. Tatapannya pun kosong, menyentuh keremangan, seakan siluet malam yang berjelaga di depan sana adalah moralitas yang hendak menelannya hilang.


Ia tak ingin banyak hal, walau hanya sekedar bersenda gurau, malam ini. Pilihan terbaiknya hanyalah duduk memenung di teras rumah. Menggenggam sekeping logam berwarna emas yang telah redup kemilaunya. Tak ada niatnya untuk bercerita, mongumuman, atau bernyanyi. Hanya sekedar mengenang. Apalagi ketika mendung mulai datang. Langit malam yang dipandangnya semakin menggulita. Membungkus tubuh ringkihnya. Dan apabila gemuruh guntur menghantam mayapada, ia mendesah berat, menelan ingatan tentang pahit-getir perjalanannya.


Matanya menyisir kosong punggung malam. Tak peduli dengan dalamnya cerita mistis yang dikandung suara burung hantu saat malam hari. Pun ambisi kalong-kalong yang bercicit riuh di ketiak-ketiak jenjang pepohon mangga golek. Mengepakkan sayap, merubung buah-buah mangga yang ranum. Ia tetap tak peduli. Entitas dirinya telah jauh tersesap bayang-bayang kekisah. Nelangsa. Saru bersama garis-garis takdir yang melengkung di bola matanya. Garis-garis takdir yang jauh membenam sampai kedalaman hatinya.


Bersama sapuan temaram cahaya lampu botol, puzzle-puzzle kisah bermain dalam benaknya. Seakan ingin memberi gambaran ketenangan untuk yang terakhir kali, sebelum entitas dirinya benar-benar pergi meninggalkan semua keadaan ini. Oh, sekali lagi ia mengerang sembari mencengkeram buku dadanya. Ada luka yang menguak tak terperikan di dalam sana.


Seandainya tak malu pada usianya. Ia mau bermain-main di bawah mendung malam ini. Berguling-guling dia atas tanah merah yang dulu selalu bisa ia sulap menjadi patung-patung kecil bermata sayu. Kalau saja masih dapat, ia ingin berlari-lari di tengah remangnya malam, bermain kisah peperangan para gerilyawan di zaman penjajahan. Kalau saja waktu masih memberi sempat, ia ingin menyisir punggung bukit yang penuh kenangan ini sendiri. meski hanya berteman desau angin, dan kelengangan. Ia ingin berteriak, menyuarakan rindu. Atau pun walau hanya sekedar menyalak-nyalak, demi mengusir hama **** yang merusak tanaman jagungnya. Ia mau menggendong bakul-bakul kosong di punggungnya. Semua itu demi kerinduan dan perpisahan yang mencuat bersamaan. Tapi... ah, sudahlah.


Tubuhhnya layu, hatinya ngilu. Rumah kayunya berderak-derak, memekik landai. Suara burung hantu di pohon beringin, tak lagi kentara. Mungkin ada yang membuatnya ciut. Atau mungkin pertanda. Pelan-pelan malam semakin dalam tenggelam dalam kesunyian. Sapuan angin pun jauh lebih dingin, menggetarkan geraham.


Sepintas, matanya tertumbuk pada benda berdawai tujuh yang menggantung resah di dinding, ia melenguh, terlalu banyak cerita yang ia nyanyikan bersama benda itu. ingin ia memeluknya, membelai dawainya yang selalu mampu menyulap keheningan menjadi harmoni. Ingin ia melagukan sajak Bulan, seperti yang sering ia nyanyikan kala malam datang. Oh....


Namun, untuk malam ini, ia hanya bisa diam. Tak ada yang sanggup ia suarakan, selain desah berat. Bahkan siluet dirinya di dinding pitate tak lagi kentara, semuanya buram. Jauh tenggelam, terdesak kerinduannya yang menumpuk. Dalam kepedihan, kegetiran yang sangat, ia bersedekap, memeluk tubuhnya sendiri yang semakin kurus bertulang, berharap dapat menemukan sedikit kehangatan. Sedikit saja, seandainya masih ada. Namun, seberapapun ia mencoba, adalah hatinya yang menginginkan tubuh ringkihnya untuk bergetar.


Ia putuskan untuk meninggalkan teras rumahnya yang berderit-derit di songsong angin. Langkahnya berat dan landai, menghampiri meja kayu yang reot di ruang dalam. Meraih sepotong kertas dan pena. Tangannya bergetar, jiwanya seakan tersayat, apabila ia mulai mengguratkan sesuatu di atas kertas yang lusuh itu. Matanya nanar menatap potongan kisah yang kembali bermain di atas kertas dan kalimat-kalimat pendek yang ditulisnya dengan susah payah. Sekuat hati ia melawan, setengah mati mempertahankan batasnya, sebelum semuanya tumbang oleh air bening yang meluruh pelan dari kelopak matanya.


Oh... sekali lagi ia mengerang, mencengkeram dadanya yang ngilu. Menyesakkan.

__ADS_1


Dalam kepedihannya, dia antara samar isak tangisnya, ia berusaha merangkai kata terindah dalam tulisannya. Kata yang bisa jadi akan menjadi detonator bagi kisah yang hebat nantinya. Mata penanya bergetar, beriringan dengan kepedihan yang menjalar pelan-pelan sebelum membunuhnya. Namun, untuk beberapa saat, ia masih cukup kuat. Air mata itu puas meluruh. Meski sesekali sesak masih dalam menggigit, mengantisipasi. Maka ketika, ia sampai pada bagian terakhir tulisannya, ia berhenti, terengah.


Baginya, rindu adalah detonator bagi setiap kenangan. Satu hal yang sanggup membuat siapa saja jatuh terpuruk pada kedalaman kritis hatinya. Dongeng-dongeng malam, bakul-bakul rotan, sayur-sayur segar, punggung bukit, jalan setapak, hutan gelap yang panjang, tongkat kayu, semak belukar, air tempias hujan yang dingin nan jernih, adalah sedalam yang ia pahami tentang rindu. Sehingga mendung yang menjelang malam kali ini menguarkan dingin yang menggigit. Jauh lebih menusuk. Membuat tubuhnya gemetar, giginya bergemeletuk, menahan desak kenangan manis yang entah kenapa membuatnya merasa terhiris.


Ia mendengus sebentar, berusaha menampik sengketa yang bersumbu di hatinya. Menatap lagi kertas putih di atas meja kayu yang sudah berlubang-lubang oleh rayap. Mengeja-eja deretan kalimat yang tertulis di sana. Seperti menari-nari mengikuti cahaya lampu botol yang terseok-seok melawan angin. Ia melindungi nyala itu dengan tangannya agar tidak padam. Satu lagi pelajaran yang ia dapatkan. Tangan renta itu adalah dirinya, nyala lampu adalah harta terbaik yang telah ia jaga bertahun-tahun masanya. Harapannya.


“Jangan padam... jangan padam!” bisiknya.


Hatinya getir membayangkan. Tangannya bergetar menggenggam pena. Kuat ia mencengkeram, hingga gerahamnya saling menumbuk, menimbulkan bunyi gemeretak. Matanya mulai terasa pekat, ada beban yang kembali menumpuk di sana, sebelum tumpah sebagai air mata. Dan sekali lagi ia kalah oleh kerinduan dan kepedihan yang mencuat bersamaan. Menghantam pertahanannya secara membabi-buta. Ia menggigil. Meski ingin, tak akan ada kalimat yang mampu keluar di antara bibir yang bergetar, lidah yang keluh. Tidak ada! Hanya malam yang tau sedalam apa pedihnya merindu. Maaf, kalau harus menangis....


Kertas itu. Kertas yang sejak tadi ia pandangi, telah basah di beberapa sisinya oleh air bening yang menitik dari dagunya, pun medali itu tetap memelih untuk membisu.


Dilipatnya kertas berisi pesan yang dituliskannya dengan susah payah. Dilipatnya kertas itu. pilu hatinya, seakan hidupnya ikut terlipat bersamanya. Maka, bersama dadanya yang semakin sesak, di desak pandangannya yang perlahan memburam, dibisikkannya sekali lagi; “NADIR”.


Catatan Kaki :


¹. Mendongeng


². Anyaman Bambu


³. Ayah;Bapak


⁴. Bambu; Bambu ater

__ADS_1


⁵. Om; Paman; sebutan untuk orang yang sebaya dengan orangtua.


⁶. Panggilan untuk anak laki-laki.


⁷. Kelapa muda


⁸. Alat musik petik berdawai 9 berbentuk seperti perahu dayung pda umumnya. (Alat musik ini hanyalah hasil imajinasi penulis).


⁹. Dongeng


¹º. Makhluk dongeng yang konon berasal dari kayangan.


¹¹. Ibu; Mama; bisa juga digunakan untuk menyapa perempuan yang seumuran dengan orangtua kita.


¹². Dukun


¹³. Nenek


¹⁴. Ikan air tawar; sejenis dengan mujair


¹⁵. Ibunya; Mamanya


Silahkan di apresiasi ya... kalau ada kritik atau saran...😁😁

__ADS_1


thank's sebelumnya, udah mampir🙏


__ADS_2