NADIR

NADIR
11. AMBISI WIRA


__ADS_3

Kuberitakan kepada kawan-kawan sekalian, Amaku telah pulih sediakala. Setelah penyakit malaria yang membuatku gugup setengah mati itu lari lintang pukang dari tubuh Ama karena bantuan pil berbutir-butir dari Bu Bidan, dan sekali lagi aku berterimakasih kepada pemerintah yang menggratiskan pil-pil tersebut, sudah sejak kemarin Amaku bisa kembali bekerja di ladang. Mencangkul, menyemprot, dan yang terpenting bermain kakacapi ondong, sejak beberapa hari yang lalu.


Sebagaimana yang kalian pahami, sungai koili yang mengalir dari pangkal hingga ke muara itu menyimpan banyak cerita, dalam kecipak riaknya mengandung mitologi, dalam arus hilirnya penuh kesakralan, maka jernih sejuk arinya adalah kehidupan.


Sebagaimana orang-orang Desa menggantungkan dirinya pada air sungai koili, baik untuk kebutuhan perairan persawahan, mandi, mencuci, minum, dan sebagai mata pencaharian alternatif, lebih daripada itu-itu setiap tiga tahun sekali sepanjang aliran sungai koili dari Desa Kamalu sampai ke Desa Buga ini akan sangat ramai. Sesak oleh mereka yang datang berduyun-duyun untuk menyaksikan prosesi adat yang sakral ini.


Ya, sebagaimana hari ini, Aku, Wira dan Melodi berdiri takjub menyaksikan kerumun orang-orang yang datang memenuhi tepi sungai koili. Dari seminggu waktu yang dijadwalkan selama prosesi adat Monganjulre, hari ini adalah puncaknya. Dan sekali lagi mohon kalian pahami dengan bijak, jika warga-warga itu datang untuk menyampaikan rasa syukur mereka kepada olongian (leluhur) suku Dondo yang menghuni sebagian besar Desa di Kecamatan Ogodeide (air besar) seperti Desa Buga ini, maaf pemikiran kami belum sampai sejauh itu.


Aku, Wira, dan Melodi datang berbaur bersama para pengunjung, tak lain dan tak bukan hanya sekedar mengapresiasi makanan. Oi kawan, kalau kalian bisa ada di tempat kami ini sekarang, sudah barang pasti air liur kalian menetes tak tertahan melihat bertumpuk-tumpuk makanan di dalam perahu kayu bercat merah, kuning, hitam, dan putih itu. Ayam bakar bertalam-talam, nasi bambu bertumpuk, kue-kue basah berpiring-piring, semua itu adalah motivasi kami untuk ikut serta memeriahkan acara adat monganjulre ini.


Sebentar lagi, setelah Kai (kakek) Pamboru mengangkat kerisnya menghujam langit, mengumandangkan mantra pamungkas prosesi adat monganjulre ini, makanan-makanan dan perahu itu akan dihanyutkan sampai ke muara. Karena itulah kami bertiga rela menyewa perahu Amanya Hamdi, untuk mengejar makanan-makanan dalam perahu itu.


Tentu saja makanan-makanan sesaji itu untuk menghormati para olongian. Tapi, bukan tidak boleh untuk dimakan oleh kami, boleh-boleh saja, asal makanan itu tidak dibawa pulang ke rumah, hanya boleh di makan di tempat, sebab telah terbukti kebenarannya, jika makanan-makanan itu di bawa pulang ke rumah, maka sekali lagi, sebagaimana kepercayaan kami, seisi rumah orang yang membawa pulang makanan itu akan mengalami sakit perut selama berhari-hari. Aku jadi ingat nasib keluarga Mangge Raudin, karena tidak percaya, dia membawa pulang makanan-makanan sesaji ke rumahnya, akibatnya, seluruh anggota keluarganya mengalami sakit perut yang hebat, sampai-sampai dia dan keluarganya harus dilarikan ke puskesmas kecamatan, dirawat di sana selama beberapa hari.


Bukan main keseruan yang tercipta setelah perahu kayu berisi sesaji itu dilepaskan Kai Pamboru, perahu kayu itu melewat cepat seperti ada mesin yang mendorongnya. Dan, bagi kami, para pemburu makanan, kami mulai mengadu dayung untuk mengejar. Kusangka, hanya kelompok kami satu-satunya pemburu hadiah itu, ternyata banyak juga warga yang lain. Bertranspormasilah acara adat nan sakral itu menjadi sebuah perlombaan yang kompetitif.


Aku dan Wira mendayung sekuat tenaga, perahu yang kami sewa dari Amanya Hamdi melesat cepat, mengejar perahu berisi hadiah nan menjanjikan itu. Dari tujuh perahu yang terlibat dalam kompetisi ini, perahu kami berada di urutan ke tiga. Seluruh pengunjung mulai bersorak-sorak. Mungkin karena melihat kamilah satu-satunya peserta anak-anak, penonton yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan itu berpihak pada kami.


“Ayo maju, Uti!”


“Dayung... dayung sekuat tenaga kalian.” Aku menoleh ke kerumunan di tepi sungai yang terus memberi semangat kepada kami.


“Woy, kurus, perhatikan perahumu!” aku tau si kurus yang mereka maksud itu adalah Wira.


“Kemudikan dengan benar. Jangan sampai kalah!”


“Maju... Kribo!” aku semakin yakin, yang mereka maksdu itu tak lain adalah Wira.


“Jangan sampai kalah!”

__ADS_1


Aku semakin semangata mendayung, kutengok Wira dan Melodi di belakangku. Mata Wira terhunus tajam, lengannya mendayung dengan cepat dan kuat, peluh mulai mengaliri wajahnya, tapi tak urung ia mendayung, hal seperti inilah yang sangat ia nanti-nantikan. Sesuatu yang menantang, memicu adrenalin. Sementara Melodi langsung menangkap daun ketapang yang hanyut di dekat perahu, kemudian di kumpulkannya daun itu seperti kipas, lalu ia bersorak-sorak, seumpama cheerleader’s menyemangati tim basket sekolahnya.


“Tambah tenaganya, Kawan!” Melodi mengibas-ngibaskan daun ketapang di tangannya.


Aku dan Wira semakin semangat, kami pacu lagi tenaga mendayung kami menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Perahu kami melesat cepat, seperti speedboat. Ketika kami berhasil melewati perahu yang berada di posisi ke dua, sorak-sorai penonton melangit.


“Terus maju, Kurus!!!”


“Ayo Kribo!!! Kalian pasti bisa!!!”


“Jangan kalah, Uti!!!”


“Maju, Anakku!!!”


Kami bertiga langsung menoleh ke arah suara barusan. Semangat kami kian buncah, melihat tiga sosok hebat berdiri di tepi sungai ikut menyemangati kami. Dialah Amaku, Mangge Raden, dan Mangge Salim―Amanya Melodi. Mereka tersenyum, mengacung-acung tinju ke udara, kuangkat dayung ke udara penuh tenaga. Melodi melambai-lambai ke arah mereka, Wira bergeming, fokusnya tersita penuh oleh ambisinya untuk dapat menyalib perahu di depan kami di tikungan sungai berikutnya.


Aku kembali mendayung, Wira memaksa kekuatannya lebih jauh lagi. Muka perahu kami sudah mulai bertemu dengan bagian belakang perahu lawan. Aku dan Wira semakin bekerja keras, di tikungan seungai selanjutnya, kami berhasil menyalib perahu itu. Kini kami berada di posisi pertama. Pelan-pelan meninggalkan perahu di belakang kami menjauh. Penonton berteriak-teriak, histeria, melihat peserta yang mereka dukung memiliki peluang akbar untuk memenangkan kompetisi.


Namun, malang tak dapat ditolak. Saat seluruh penonton menjatuhkan harapan mereka kepada kami, saat kami semakin tenggelam dalam semangat berkobar-kobar, perahu kecil yang kami sewa dari Amanya Hamdi itu kian kehilangan kendali, kami lupa kalau hukum kecepatan dan berat jenis benda juga berlaku pada sebuah perahu kayu dan arus sungai. Perahu yang kami pacu sedemikian cepatnya itu, tidak mau berhenti meski aku dan Wira berusaha menghentikannya. Perahu itu terus melesat, bahkan melewati perahu berisi hadiah itu.


Kami bertiga panik bukan main. Wira yang bertugas sebagai kemudi, menancapkan dayungnya ke tubuh sungai, sekuat tenaga menahan laju perahu, aku juga melakukan hal yang sama. Perahu itu menikung tajam dengan kecepatan penuh, dan terjadilah peristiwa paling dramatis dalam kompetisi ini. Karena manuver perahu menyebabkan kemiringan yang sungguh terlalu, tak bisa tidak, akibatnya perahu itu jungkir balik, indah menawan mata. Kami terpental jatuh ke sungai. Basah kuyub. Penonton bersorak-sorak sambil tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian nan menakjubkan itu. Mungkin, sepanjang pelaksanaan acara adat monganjulre, baru kali ini mereka melihat kejadian hebat seperti hari ini. Kalau dilihat dari sisi hiburan, kami berhasil.


Untungnya anak-anak Desa seperti kami ini pandai berenang. Ketika sampai di tepi sungai, dengan wajah frustasi, Wira memukulkan dayungnya ke air.


“Sial!” pekiknya.


“Kenapa kau, Kawan?” aku bingung dengan sikapnya.


“Kita kalah. Kau tidak lihat? Kita sudah kalah... telak!”

__ADS_1


“Tapi, kan kita masih bisa mendapatkan makanan di perahu itu. Kau lihat, hanya kita yang berada paling dekat dengan perahu itu, kita masih bisa mendapatkannya!” aku meyakinkan.


“Tidak. Tidak Kawan! Sekali kau telah kalah dalam sebuah kompetisi, kau tidak berhak mendapatkan hadiah!”


“Jadi? Maksdumu?” aku benar-benar bingung dengan arah pikiran Wira.


“Kita pulang! Biarkan makanan-makanan itu menjadi milik mereka yang berhak mendapatknnya!”


Oi Kawan, kalian lihat, sedalam itu arti sebuah kompetisi bagi Wira. Hanya makhluk sehebat dia yang sanggup menghargai sesuatu, sekecil apapun itu. Aku bisa menjamin, kalian tak akan pernah menemukan Kawan seaneh dia. Satu dan satu-satunya di dunia. Produk langka.


Tak ingin mengecewakan Wira, aku dan Melodi terpaksa menurut. Kami pulang dengan tangan hampa. Tak ada paha ayam panggang, atau nasi bambu. Tak ada, semua angan-angan itu harus kami buang jauh-jauh. Harus kami telan dengan pekat. Semuanya demi Wira.


۝


Di sekolah, kejadian perahu terbalik kemarin menjadi hangat diperbincangkan. Pelan-pelan kami bertiga mulai terkenal di lingkungan sekolah. Seperti artis yang sedang naik daun, tak putus-putus kami mendengar cerita yang dihebat-hebatkan itu oleh seluruh siswa yang jumlahnya tak lebih dari empat puluh itu. Bahkan beberapa guru menepuk-nepuk pundak kami, mengapresiasi, tentunya sesekali mereka cekikikan. Lihat bagaimana ekspresi Wira, sang kompetitor hebat yang karena ambisinya membuat perahu kami tebalik itu. Dia tersenyum-senyum bangga setiap kali siswa bercerita tentang kejadian kemarin.


Maka, tak pernah aku mengira kalau ternyata kejadian kemarin itu akan menjadi momen terbaik terakhir kami dengan Melodi. Setelah pulang dari sekolah, di rumah Melodi, bersama Ama-Inanya, aku dan Wira harus mendengar kabar yang membuat hati kami kecut ini.


Besok sore, Melodi sekeluarga akan berangkat ke Kalimantan. Meninggalkan Desa kecil nan terpencil bersama jejak-jejak kenangan kecilnya. Kerabat Amanya yang sudah menetap di sana, meminta mereka untuk pindah ke Kalimantan. Menurut keterangan kerabatnya itu, di Kalimantan banyak lowongan pekerjaan dengan gaji yang lebih menjanjikan, seperti bekerja di perkebunan kelapa sawit, misalnya. Melihat kondisi keluarganya, Mangge Halim yang jelas membutuhkan pekerjaan yang lebih menghasilkan daripada pekerjaannya sekarang, sebagai tukang panjat kelapa, harus menyetujui permintaan sanak kerabatnya itu untuk merantau ke Kalimantan. Aku dan Wira, tertunduk diam. Tak tahu harus mengucapkan apalagi. Tak mungkin kami menahan kepergian kawan kami itu. Sungguh tak mungkin.


Setelah mendengar kabar itu, sampai sore aku dan Wira membahas tentang Melodi. Bingung apa yang harus kami lakukan agar dapat merubah kenyataan, hingga kami sadar, tak akan pernah ada jalan pintas yang mungkin untuk merubah takdir yang telah digariskan oleh Sang Maha Kuasa. Tidak bagi perpisahan.


۝


jangan lupa ninggalin jejak ya... kritik sarannya di tunggu ..


***Catatan :


Catatan kaki ada di halaman pertama***!

__ADS_1


__ADS_2