
Sudah tiga hari aku tidak ke sekolah, sudah tiga hari itu pula Ama memaksaku setiap pagi. Dia tidak ingin aku menjadi anak yang malas, apalagi itu untuk sekolah. Maksud Ama baik. Tapi, betapa durhakanya aku kalau aku harus meninggalkan Ama yang sedang sakit sendirian di rumah. Aku tidak tega.
Sejak dua hari yang lalu Ama hanya bisa terbaring di tempat tidur. Kondisi tubuhnya lemah. Kepalanya sering pusing. Dadanya akan terasa sesak setiap kali Ama batuk. Wajahnya pucat pasih.
Semalam aku ketakutan setengah mati, karena tubuh Ama menggigil hebat. Menggetarkan tiang-tiang rumah. Sudah kuselimuti tubuhnya dengan kain sarung berlapis-lapis, tapi tetap saja tubuhnya gigil. Kupeluk ia erat-erat, agar panas tubuhku bisa membantu menyuplai kehangatan di tubuhnya yang terus menggelinjang hebat itu, malahan tubuhku yang ikut bergetar dibuatnya. Ya Allah, penyakit apakah yang mendera Ama?
“Kenapa kau tidak sekolah, Uti? Ama ini baik-baik saja," Ucap Ama setelah melaksanakan sholat subuh. Aku tau Ama selalu bisa melawan rasa sakitnya demi melaksanakan kewajibannya. Jelas kulihat saat ia terpaksa melaksanakan sholat dengan cara duduk. Setelah itu, dia kembali terkulai lemah di atas kasurnya. Hanya di waktu-waktu sholat saja Ama sanggup meninggalkan kasurnya. Nampaknya besarnya rasa syukur dan kecintaan Ama terhadap sholat yang memberinya sedikit kekuatan untuk bergerak, meskipun hanya sekedar duduk.
“Tidak apa-apa, Ama, nanti kalau kau sudah sembuh, aku bisa sekolah lagi.”
“Sudah dua hari kau tidak sekolah, bisa ketinggalan pelajaran kau nanti. Ama tidak mau kau begitu!”
“Soal ketertinggalan itu, aku bisa menyusulnya, pasti. Yang penting sekarang kesembuhan Ama,” Aku meyakinkan.
Ama mendesah, mengalah. Ia tak punya cukup tenaga untuk beradu mulut denganku. Ia balikkan badannya, memunggungiku. Kupijat tubuhnya yang lemah itu. Baru aku sadar, kalau tubuh Ama semakin kurus. Nampaknya usia, pelan-pelan menyusutkan otot-ototnya yang kekar, dulu.
“Ama tunggu di sini dulu,” Kataku.
“Mau ke mana kau, Uti?” tanya Ama, dengan suara bergetar. Tubuhnya mulai menggigil lagi.
“Aku mau memasak bubur untuk Ama.”
“Tidak usah, Ama masih kenyang.”
Aku tidak memedulikan kata Ama barusan, aku tau dia berkata begitu karena tidak ingin membuatku repot. Sebelum pergi ke dapur, kuselimuti tubuh Ama dengan kain sarung. Kutempelkan daun sirsak muda ke keningnya―daun sirsak muda ini dipercaya oleh orang-orang Desaku untuk penurun panas.
Aku bolak-balik antara dapur dan kasur tempat Ama terbaring. Kupijiti tubuhnya yang mulai menggigil, sambil sesekali aku menuju dapur memeriksa bubur yang kumasak untuk Ama. Bergantian, sampai akhirnya bubur itu masak.
Kutuang bubur itu ke mangkuk plastik. Asapnya mengepul, membuat mataku perih. Keringat yang jatuh bersulur-sulur di keningku tak kupedulikan. Satu-satunya moralitas yang aku hendaki saat ini adalah kesembuhan Ama. Tidak tega aku melihatnya terus-terusan terbaring lemah di atas kasur.
“Makan dulu Ama. Biar perut Ama terisi, sudah dari semalam Ama tidak makan.”
“Oi, tidak usah dulu, Uti, Ama masih kenyang.”
“Jangan begitu Ama, tidak mungkin kau bisa kenyang, sedang dari semalam kau tidak makan.” Aku memelas, Ama bergeming.
“Kalau Ama terus-terusan seperti ini, Ama tidak akan sembuh, dan kalau Ama belum sembuh, aku tidak akan sekolah.” Ancamku.
Akhirnya Ama kalah. Aku tersenyum.
“Kau benar-benar pandai merajuk, sama seperti Inamu.” Ama memberengut. Aku senang melihat wajah Ama memberengut, seakan ada sosok lain yang bersembunyi di dalam dirinya, dan baru kelihatan saat Ama berekspresi seperti itu.
Kusuapi Ama, pelan-pelan. Suapan pertama, ditelannya dengan paksa. Keningnya mengerut.
“Kenapa Ama, tidak enak bubur yang kubuat?” tanyaku.
“Tidak ada rasanya, Uti!” kening Ama mengerut, wajahnya berubah masam.
“Mau kutambahkan garam?”
“Bolehlah, kau tambahkan sedikit.”
Aku cepat-cepat mengambil garam. Kemudian menyuapi Ama lagi. Setelah masuk beberapa sendok, dan Ama menyerah karena tenggorokannya terasa pahit meski diisi dengan makanan berkelas sekalipun. Aku cukup senang, melihat Ama akhirnya makan. Ama kembali berbaring. Kuselimuti tubuhnya dengan kain sarung berlapis-lapis.
Saat tempias surya sampai ke rumahku, kubuka jendela kamar agar sinarnya bisa menghangatkan tubuh Ama.
Saat Ama mulai pulas, aku turun mengecek ladang, kalau-kalau ada hewan-hewan liar yang merusak tanaman jagung yang baru berumur sebulan itu. Setelah merasa cukup aman, aku bergegas kembali ke rumah, tak bisa kutinggal Ama sendirian di rumah berlama-lama.
Sebelum sampai di rumah, aku sempatkan memetik daun melinjo yang masih muda untuk nanti kucampurkan di bubur Ama. Beliau sangat senang dengan sayur itu. Mudah-mudahan saja, nafsu makannya bertambah.
Sudah kuniatkan dalam hati, kalau sampai nanti malam kondisi Ama belum ada perubahan, aku akan membawanya turun untuk di bawa ke puskesmas di kecamatan. Tidak peduli apapun yang terjadi aku harus mambwa Ama. Menemukan penyembuhannya segera.
Selesai memasak bubur daun melinjo untuk Ama, aku mandi kemudian melaksanakan shalat lebih dulu, karena Ama masih tertidur. Aku tak mau mengganggunya. Dalm sujud terakhir tak putus kumunajatkan do’a untuk kesembuhan Ama. Tak kuat aku kalau harus melihatnya lemah seperti ini. Aku memohon, menunduk serendah-rendahnya pada Yang Maha Tinggi, sampai mengalir air mataku ketika bermain dalam benakku potongan-potongan kisah perjuangan Ama yang kukenal. Ama pendiam yang tak lupa tersenyum. Namun, sosok itu kini terbaring lunglai hampir kehabisan tenaga digerayangi penyakit.
“Ya Allah, Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit. Sembuhkanlah sakit, Amaku. Amin!”
Kuseka air bening yang membentuk gurat tipis di pipiku, kulihat Ama yang terbaring di belakang tempat sholatku. Ama ternyata sudah terbangun, kulihat matanya berkaca-kaca. Cepat kubersihkan wajahku dengan kain sajadah, aku tak ingin Ama khawatir kalau tau aku menangis.
“Ama sudah bangun?” tanyaku, lirih.
Ama tersenyum. “Sudah jam berapa sekarang, Uti?”
__ADS_1
“Jam 1 seperempat.”
“Astaghfirullah, Ama belum sholat dzuhur!”
Ama langsung mengangkat tubuhnya. bisa kulihat betapa beratnya ia menggerakkan badannya sendiri, tapi karena besarnya dorongan hatinya untuk tetap melaksanakan kewajiban sekaligus kebutuhan rohaninya, Ama tetap bangun. Didorongnya tubuhnya dengan cara ngesot menuju ember air di tempat pencucian piring, untuk mengambil wudhu. Kubantu Ama. Seandainya tubuhku kuat, ingin sekali aku menggendong Ama agar dia tidak tersiksa seperti ini. Ya, Allah, berikanlah kesembuhan bagi Amaku.
Melihat Ama melaksanakan sholat sambil duduk dengan tubuh yang sesekali bergetar, pilu hatiku. Belum lagi, ketika Ama selesai sholat, ia langsung berbaring di atas sajadah, tak punya tenaga untuk mempertahankan posisi duduknya lebih lama lagi. Dengan perasaan campur aduk, aku langsung mendekati Ama, kupikir sesuatu yang buruk telah terjadi padanya. Oh, ternyata Amaku masih ada. kuangkat tubuhnya sekuat tenaga, terseok-seok aku memindahkannya ke tempat tidur. Tubuhnya bergetar hebat, demamnya naik lagi, mungkin gara-gara tersentuh air. kuselimuti tubuhnya, kupeluk ia dari belakang, tubuhku ikut bergetar, bisa kurasakan pula panas tubuhnya menguar menembus kain sarung berlapis-lapis itu. Terlebih lagi ketika perkataan Beke Indo di rumah Melodi hari itu― Kaulah lelaki yang diapit kematian―ngilu hatiku. tak bisa kutahan, sampai air mataku kembali mengalir. Bukan main perihnya tikaman kenyataan yang aku saksikan saat ini.
“Oi, Ama jangan tinggalkan aku," Bisikku lirih.
Kupeluk erat tubuh Ama. Erat... erat sekali, tak ingin kulepas walau sesaat. Sudah cukup aku harus kehilangan Ina sebelum aku sempat mengucapkan banyak hal padanya. Jangan lagi, oh, jangan lagi Amaku, Ya Allah.
“Assalamualaikum.”
Kudengar suara seseorang dari luar kamar, tapi aku tidak peduli, kupikir itu hanya halusinasiku saja.
“Assalamualaikum, Mangge... Nadir....”
Dadaku semakin sesak, tubuhku benar-benar bergetar kini. Aku menjadi paranoid. Dalam benakku mengatakan kalau suara itu adalah bisikan malaikat. Oi, tangisku semakin menjadi. Kuremas tubuh Ama dalam pelukku, sampai terbatuk-batuk, sesak. Samar kulihat siluet tubuh di luar kamar, berkelebat cepat, secepat mata yang kupaksa memicing. Bayangan hitam itu menoleh ke dalam kamar yang gelap karena jendela sudah kututup rapat, pelan-pelan semakin dekat. Kegugupanku semakin hebat, keringatku mengalir deras. Aku takut, sungguh mati, ketakutan.
“Mangge, kenapa?”
Aku terperangah mendengar suaranya, suara malaikat itu sangat familiar ditelingaku, mirip suara kawanku yang sinting itu.
“Iya, Mangge kenapa, sakit?”
Mataku tetap kupejamkan, aku takut menyaksikan probabilitas menyeramkan yang bermain dikepalaku menjadi kenyataan. Kali ini kudengar suara wanita. Mungkinkah itu suara Ina?
Sudah kupaksa mataku untuk tetap terpejam, namun sekali lagi namun mata ini melawan tuannya, pelan-pelan mataku terbuka. Pekat kulihat dua sosok bayangan berdiri di depan pintu. Salah satu yang berdiri paling depan, kuperhatikan wajahnya kaku, rambutnya ikal mengembang mirip sarang tawon, tubuhnya kurus kering macam anak terserang gizi buruk. Hatiku tiba-tiba sangsi―tak mungkin malaikat serantas itu.
“Kau kenapa, Kawan?”
Aku terperangah antara kaget dan kagum, ternyata makhluk yang kukira malaikat maut itu adalah Wira, dan dia yang kupikir Ina, ternyata Melodi. Tak kusangka pikiran juga bisa menghianati tuannya. Benar-benar satu penghianatan yang super tega. Hampir saja aku mati ketakutan dibuatnya.
“Mangge kenapa, Kawan?” Wira dan Melodi langsung duduk di samping Ama yang terus menggigil.
“Amaku sakit, Uti.”
“Sejak kapan?” tanya Wira, prihatin.
“Jadi, itu sebabnya kamu tidak masuk sekolah?” sambung Melodi.
Aku menganngguk layu.
“Kenapa kau tidak beritahu kami, kalau Mangge sakit?” suara Wira sedikit meninggi.
“Bagaimana caranya, Uti? Tak mungkin aku meninggalkan Ama sendiri.”
Wira mendesah, Melodi terus memijiti betis Ama yang masih gemetar.
“Kalau begitu aku turun!” Wira langsung berdiri.
“Mau ke mana kau, Kawan?” tanyaku.
“Ke Desa, menemui Bu Bidan. Penyakit Mangge tidak bisa dibiarkan.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Wira langsung beranjak.
Ingin sekali kucegat dia, seandainya sempat. Aku tak ingin merepotkannya. Tapi Wira sudah terlanjur berlalu, pergi.
Dua jam Wira meninggalkan kami, sampai akhirnya ia kembali membawa Bu Anis, bidan Desa yang megap-megap ketika sampai di rumahku karena harus mendaki gunung.
Tadi, saat gigil Ama reda, Melodi menyuapi Ama bubur daun melinjo. Setelah itu ia membuatkan teh pekat untuk Ama. Katanya, bisa mengusir demam. Benar saja, isetelah meminum teh pekat buatan Melodi, Ama mulai berkeringat. Atas instruksi Melodi pula, tubuh Ama kami sandarkan di dinding kamar, dengan bantal menopang kepalanya. Haru hatiku menyaksikan perhatian kedua kawanku ini.
“Sudah... huft... berapa lama... huft... Mangge... huft... sakit... huft...," tanya Bu Bidan.
Kasihan aku melihat wajah Bu Bidan yang pias bermandikan peluh. Mulutnya megap-megap seperti ikan gabus yang kehabisan air. Orang kota seperti Bu Bidan tidak biasa mendaki bukit, sudah pasti ia capek setengah mati.
“Sudah tiga hari, Bu,” Jawabku.
Melodi, tanpa diperintah, langsung mengambilkan air minum untuk Bu Bidan.
__ADS_1
“Minum dulu, Bu!” Hatur Melodi.
“Terimakasih, Nak.” Bu Bidan langsung menenggak tandas air pemberian melodi.
Wanita kota yang malang itu mengelap keringat di wajahnya dengan handuk dari dalam tasnya. Mungkin seumur hidup, baru kali ini ia harus memanjat gunung demi seorang pasien, Amaku.
“Boleh saya periksa, sebentar?”
“Iya, silahkan, Bu.” Aku mempersilahkan.
Bu Bidan langsung mengeluarkan stetoskopnya, alat yang canggih itu, konon katanya bisa mendengar denyut paru-paru dan jantung.
“Mangge demam tinggi?”
Aku tak tau itu pertanyaan atau apa, yang jelas aku langsung menjawab, “Iya Bu, kadang-kadang.”
Bu Bidan mengangguk, dikeluarkannya beberapa perkakas dari dalam tas. “Mangge ini kena malaria.” Ungkap Bu Bidan.
Aku terentak, sudah kudengar betapa ganasnya penyakit itu di TV, “Tapi, Amaku tidak apa-apa kan Bu?”
Bu Bidan tersenyum lagi, “Alhamdulillah, tidak. Demamnya sudah mulai turun.” Bu Bidan menyerahkan dua jenis obat kepadaku.
“Tolong berikan putih ini ke Mangge tiga kali sehari, kalau yang kuning ini, cukup dua kali sehari saja.”
“Oh, iya, terimakasih, Bu.” Kataku. “Berapa harganya, Bu?” tanyaku lagi.
Bu Bidan terkekeh, “Oh itu tidak diperjual belikan. Pmerintah menggratiskan.”
Terimakasih pemerintah, kalau diberi kesempatan, akan kubalas jasa kalian.
Setelah selesai memeriksa kondisi Ama, Bu Bidan berpesan, “Tolong diperhatikan obatnya, ya, Mangge... kalau nanti sudah sembuh, jaga kondisi Mangge.”
“Iya, Bu Bidan. Terima kasih,” Jawab Ama, lemah.
“Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
“Sekali lagi terimakasih, Bu,” Ucapku.
“Saya juga harus pamit, Kawan. Soalnya, saya harus membantu Ina mengurusi Faridz di rumah.” Melodi ikut pamit.
“Kalau begitu, kamu saja yang temani Bu Bidan pulang, Mel. Dan sampaikan juga pada Ama-Inaku, kalau aku akan bermalam di sini, menemani Nadir dan Mangge Kahar.” Sela Wira.
“Ya sudah, kalau begitu.”
Aku dan Wira mengantar Melodi dan Bu Bidan yang hebat itu sampai ke depan rumah.
Setelah tubuh mereka lenyap di balik hutan, Aku dan Wira kembali ke kamar Ama.
Kepada Ama Wira menceritakan kelakuanku dengannya di sekolah. Kesintingan kami, dari mulai insiden improvisasi malam itu, sampai dengan kenakalan kami saat menggantung Pak Rano Karno yang terlalu kejam kepada Wira. Tentunya Wira menambah-nambahkan kebenaran cerita itu. Ingin aku menyela, tapi niatku urung melihat Ama terkekeh-kekeh mendengar cerita Wira.
Kupandangi wajah Wira lamat-lamat, kuingat Melodi, anak gadis bertubuh gempal itu. Merekalah kawan terhebat yang kupunya. Manusia berhati malaikat. Atau mungkin merekalah malaikat itu, hanya saja menjelma dalam wujud manusia.
Tertarik oleh perasaan kagumku, kupeluk Wira, malaikat berambut ikal itu. Ia kaget kuperlakukan seperti itu.
“Kau kenapa, Kawan?”
Aku tak menjawab. Tetap kupeluk tubuhnya erat-erat, mataku mulai basah. Haru. Kagum akan ketampanan jiwa Wira.
“Terimakasih, Kawan. Kalian memang the best.”
Rupanya kabar tentang sakit Ama telah sampai ke telinga semua Warga. Melalui Melodi dan Bu Bidan. Malamnya, Pak Kades, Imam Nurdin, Pak Dusun, Pak RT, Mangge Raden, juga beberapa warga datang menjenguk Ama. Dan yang membuat tak habis pikir, di antara semua lelaki yang hadir, Kak Cantika satu-satunya wanita yang datang berkunjung ke rumah kami di malam seperti ini. Mereka membawakan beberapa makanan untuk kami. Aku kagum, aku berdecak, betapa tingginya kepedulian yang tertanam di hati masyarakat desaku ini. Dipimpin oleh kades berjiwa kesatria. Sosok pemimpin hebat yang mungkin tak akan kujumpai di belahan dunia lain. Tidak salah kalau masyarakat mempercayainya sampai dua periode.
Lihat saja putrinya yang telah terangkat sebagai wakil kepala sekolah SMP Anak Semua Bangsa itu. Sebagaimana Bu Bidan, sebagai wanita, tak peduli dengan tingginya bukit yang harus ia daki, demi jiwa kemanusiaannya Kak Cantika rela melawan letih. Kecantikan parasnya senada dengan kecantikan hatinya.
Oi, sekali lagi terima kasih kepada kalian semua. Semoga Allah membalas keluhuran pekerti kalian. Amin.
__ADS_1
kepada pembaca, mohon kritik dan sarannya...
tunggu chapter selanjutnya... jangan ketinggan ya.😁