
Tidak kurang dari 50 soal gabungan yang harus kami selesaikan dalam 120 menit, artinya, kami harus menyelesaikan satu soal paling lambat 2,4 menit. Aku merasa seperti mengikuti UN untuk kedua kalinya. Deg-degan. Mate-matika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dan PKn (Pendidikan Kewarganegaraan), terbagi rata dalam satu paket soal.
Sesuai wejangan Kak Cantika dulu waktu di SMP, aku langsung mengerjakan soal-soal yang menurutku mudah terlebih dahulu ketika Bu Warliah, pengawas ruangan kami mempersilahkan.
Pelan-pelan, satu-persatu soal tes aku selesaikan, sesekali aku menoleh ke arah Wira yang duduk di samping kananku, jarak kami terpaut dua meja. Kulihat Kawanku itu berpikir keras, mengacak-acak rambut, keningnya mulai berkeringat. Nampaknya ia kesusahan menjawab soal-soal itu. Sabar Kawan, aku akan membantumu, saat ada kesempatan.
Menit demi menit berlalu cepat bagi mereka yang kesulitan mengerjakan soal, namun terasa begitu lambat bagi mereka yang menganggap soal-soal itu tidak lebih sulit dari pelajaran yang pernah didapatkan di bangku SMP duluu. Seperti aku, alhamdulillah, aku tidak terlalu kesusahan mengerjakan sebagian besar soal, kecuali Bahasa Inggris, karena memang haru aku akui, Bu Hamdana, guru Bahasa Inggris kami di SMP kemarin, tidak lain hanyalah seorang honorer berijazah SMA. Kalau kau heran kenapa begitu? Tanyakan kepada pemerintah. Sudah jadi rahasia umum, Kawan, kualitas pendidikan di Desa-desa terpencil seperti Desaku, sangat rendah. Maaf menyinggung.
Akhirnya, aku bisa bernafas lega, semua soal itu telah kuselesaikan. Kulirik jam dinding yang menggantung tepat di atas papan tulis ruangan itu, tenyata sudah lebih dari satu setengah jam. Kulihat Wira, masih menggaruk-garuk kepalanya, Kawanku itu benar-benar mengalami kesulitan. Ingin sekali aku membantunya, tapi Bu Hamdana masih memperhatikan kami dengan seksama. Tak memberi peluang bagi kami untuk saling bertukar jawaban.
Dalam hati aku berdoa agar Bu Hamdana keluar ruangan barang sebentar. Terkabul. Pengawas yang jeli itu, akhirnya memberiku cela sepersekian menit untuk memberikan jawabanku kepada Wira.
“Ibu mau keluar dulu sebentar, saya minta kalian tertib, jangan saling bantu, ya!” ucap Bu Hamdana.
“Iya, Bu!” kami menjawab hamir serentak.
Setelah memastikan kalau Bu Hamdana benar-benar suah pergi menjauhi ruangan, aku langsung melangkah menuju temat Wira.
“Ini Kawan, kau salin saja semua jawabanku ini!” kusodorkan lembar jawabanku di sepannya. Siswa-siswa lain tak mempedulikan kelakuan curang kami itu, hanya sebagian yang melirikku, tapi hanya sekedar melirik, tidak menegur.
Wira memperhatikan lembar jawabanku, ia tersenyum, aku merasa lega.
“Maaf Kawan, kalau aku harus lulus dalam tes ini, itu karena kemampuanku sendiri... kalaupun nantinya, aku tidak lulus karena jawabanku ini, aku sudah merasa puas... setidaknya, aku sudah berusaha.”Dengan cara lembut Wira menolak tawaranku itu,
“Bukankah kau yang selalu menasihatiku, bahwa aku harus percaya pada kemampuanku sendiri? kalau aku bisa percaya dengan kemampuanku sendiri, aku mohon kau juga percaya padaku, Kawan!”
Sungguh, terharu aku mendengar perkataan Wira. Ia benar-benar berubah, bukan lagi Wira yang suka merampas kertas jawabanku saat ulangan, tapi Wira yang hebat, Kawan yang percaya pada kemampuannya sendiri.
Aku membalas senyum Wira, kutepuk bahunya, “Aku percaya padamu, Kawan... kau hebat!” kataku. Kemudian aku kembali, membawa lembar jawaban. Sepintas tertangkap oleh mataku, seorang gadis yang duduk tepat di sebelah Wira, tersenyum-senyum. Ingin aku mengenali lebih jelas wajah gadis itu, namun, Bu Hamdana sudah lebih dulu kembali ke ruangan.
“Waktu tinggal tiga menit lagi... ayo cepat selesaikan! Kalau terlambat menyetor lembar jawaban, Ibu tidak akan menerimanya lagi!” tegas Bu Hamdana.
Aku dan beberapa siswa lain, langsung menyerahkan lembar jawaban berikut soal tes ke meja Bu Hamdana. Kulihat Wira masih mengerjakan soal, wajahnya mulai dibanjiri keringat, aku kasihan melihat Kawanku itu. Namun, lagi-lagi, terjauh yang bisa kulakukan hanyalah berdoa untuknya.
“Ayo anak-anak, waktu sudah habis! Cepat serahkan lembar jawaban kalian, selesai atau tidak selesai!”
Wira dan beberapa lainnya berdiri, membawa lembar jawaban mereka. Sebelumnya Wira, sempat melepmar senyum kepadaku, seakan berkata; ‘tenang Kawan, aku berhasil mengerjakannya!’.
Selanjutnya, Bu Hamdana mengumumkan waktu pengumuman lulus seleksi, minggu depan. Beberapa siswa tidak langsung meninggalkan ruangan termasuk aku dan Wira, ku tarik kursi, kemudian duduk di samping Wira.
“Bagaimana Kawan? Kau menyelesaikan semuanya?” tanyaku.
“Berkat bimbinganmu dulu, Alhamdulillah, Kawan!” jawabnya.
Aku lega mendengarnya, “Sungguh, aku takut kalau kau tidak bisa menyelesaikan soal-soal itu, Kawan!”
“Sejauh itu, kau tidak mempercayaiku?!”
“Hehehe....” kami tertawa.
Sambil mengobrol denganku, Wira berkali-kali menyeka keringat di wajahnya dengan telapak tangan. Tiba-tiba, tanpa kami duga, satu tangan terulur ke meja Wira, meletakkan sebungkus tisu. Tangan itu panjang, kulitnya putih, bersih, kukunya rapih nan berkilau. Aku terpana menatap wajah gadis itu. Sepertinya, aku kenal. Wira menunduk takjub, menatap tisu yang putih itu tertelak di mejanya.
Seperti jelangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan aku dan Wira setelah menawarkan tisu, tanpa bicara sepatah katapun.
__ADS_1
“Siapa dia?” tanya Wira, namun sudah terlambat, gadis ber-ransel pink itu sudah terlanjur menghilang dari pandangan kami.
“Aku tidak tahu... tapi sepertinya, aku pernah melihatnya!” aku mengedik.
Wira langsung berlari, hendak menyusul gadis baik hati yang menawarkannya tisu itu, namun sayang, telah kutuliskan, gadis itu sudah terlanjur hilang. Wira mendesah di depan pintu, aku tau dia kecewa.
“Aku akan mencari tahu siapa pemilik tisu ini!” gumam Wira, sembari memasukkan tisu ke dalam ranselnya.
Seperti sang Pangeran yang dilanda rasa penasaran terhadap si pemilik sepatu kaca bernama Cinderella, berhari-hari Wira memenung menatap tisu putih pemberian gadis hari itu. Dia bukan lagi Wira yang aku kenal. Kawan yang ceria dan penuh kesintingan itu, entah ke mana perginya. Kini Wira tidak lebih dari seorang pendamba. Puas ia menatap hari berlalu begitu saja dengan segala pertanyaan-pertanyaan konyol tentang gadis tisu itu. Siapa namanya? Seperti apa wajahnya? Cantikkah? Ah, kalaupun tidak, dia telah membuatku jatuh hati.
Maka, terkadang perihal jatuh dan hati membuat orang yang waras menjadi senewen, di hari yang penuh penantian, penuh harapan tentang nasib kami selanjutnya, apakah lulus tes atau tidak? Aku gugup menanti pengumuman, Wira mesem-mesem sendiri menatap tisunya di teras ruangan.
“Kau kenapa, Kawan? Saban hari kau menatap tisu itu... tak puas kau?” aku mulai jengah dengan sikap Kawanku itu.
“Wahai Kawanku, Nadir, tisu ini memang tak bermakna apa-apa bagi mereka yang buta soal jatuh cinta. Tapi bagiku, seorang pujangga ini, tisu dan benda-benda lainnya dari seorang gadis, adalah tiket kebahagiaan. Kindahan nikmat bernama cinta!”
Sejak kapan ia menyebut dirinya pujangga?
“Mana yang lebih penting menurutmu, pengumuman kelulusan kita, atau gadis di balik tisu itu?”
“Tidak ada kebahagiaan yang lebih menjanjikan daripada cinta yang bersambut... apalah arti sebuah kelulusan!” Wira tak mau berpaling dari tisunya itu.
“Haiss... benar-benar hilang kewarasanmu, Kawan!” umpatku. Ya Allah, timpakanlah batu ke sedaran ke kepala Kawanku ini, biar penyakit cinta gilanya hilang!
Petugas seleksi mulai menempelkan lembar-lembar pengumuman di papan informasi sekolah. Seluruh siswa yang menumpukan harapan terbesarnya pada lembar itu langsung berdesak-desakan, merubung petugas seleksi. Mencari tahu apakah mereka lulus tes seleksi gelombang pertama ini. Kalau tidak lulus, terpaksa mereka harus ikut lagi pada tes seleksi gelombang kedua.
“Pengumumannya sudah keluar, Kawan!” aku berseru, sengaja seperti berteriak, berharap Wira tertarik, “Kau tak ingin melihat namamu di papan pengumuman itu?!”
“Terserah kau!” kesabaranku habis. Kutinggalkan Kawan yang tengah gila karena kasmaran itu di sana. Beberapa siswa bertanya padaku dengan ekspresi aneh.
“Kenapa dia?”
“Dia sudah hilang waras!”
Satu-persatu siswa keluar dari kerumunan di depan papan pengumuman itu. Ada beberapa yang berekspresi gambira karena mereka lulus, lebih banyak yang menangis karena kecewa mendapati tulisan “TIDAK LULUS” di ujung nama dan nomor urut mereka. Bayangkan, dari 1000 siswa yang mendaftar, hanya 150 siswa saja yang diterima pada seleksi gelombang pertama ini. Hanya 6,6% peluang masing-masing siswa untuk lulus. Sungguh persentase yang kecil sekali.
Aku menerobos kerumunan siswa sampai depan papan pengumuman. Ada seratus lima puluh nama di lembar pengumuman. Kutelusuri dari bagian paling bawah, ternyata mudah saja menemukan sepercik kebahagiaan di sana.
“Nomor,146... Wira....” gumamku, “Nomor Urut Peserta, 807... LULUS. Yes!” aku berseru.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, berkali-kali kucari namaku di lembar pengumuman itu, tapi tak kutemukan namaku di sana. kutelusuri deretan nama itu sekali lagi, kupastikan, memang tak ada namaku tercantum di sana. Lemah aku keluar dari kerumunan itu. Semangatku menguap. Aku kecewa pada diriku sendiri. Kecewa pada realitas. Sebelumnya aku sempat meragukan kemampuan Wira, nyatanya, akulah orang yang pantas diragukan.
Kutemui Wira yang masih tetap terpaku pada tisunya.
“Selamat, Kawan, kau lulus!” kataku.
Wira mengalihkan pandangannya dari tisu itu, pertama kali selama seminggu belakangan ini, “Kau kenapa Kawan?” tanyanya.
Aku berusah tersenyum, namun tetap tawar rasanya.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Wira, atensinya benar-benar teralih sepenuhnya kepadaku.
“Kau lulus, Kawan!” ucapku sekali lagi. Seandainya tidak malu pada semua pasang mata yang hadir di lingkungan sekolah itu, ingin sekali aku menangis. Aku telah mengecewakan Ama, Melodi, Wira, Kak Cantika, dan diriku sendiri.
__ADS_1
“Bagaimana denganmu?”
Aku menggeleng. Berat rasanya.
“Aku tidak percaya!” Wira langsung menuju papan pengumuman.
Tidak begitu lama dia kembali.
“Sudah kau periksa dengan benar lembar pengumuman itu, Kawan?” tanyanya kemudian.
“Sudah, berulang-ulang malah, aku yakin namaku tidak ada di sana!”
Entah kenapa Wira tersenyum, “Mungkin kau keliru, coba kau periksa sekali lagi.”
Aku tau, Wira ingin menghiburku, tapi itu malah menambah kekecewaan, “Sudahlah Kawan, aku yakin, namaku tak ada di lembar pengumuman itu... mungkin memang belum rejeki!” aku mengusahakan senyum. Berpura-pura ikhlas.
“Tapi, aku melihat namamu di sana! kau lulus Kawan! Nilaimu kedua tertinggi!”
Aku terkekeh. Tak perlu dia berlaku sejauh itu, bagaimanapun caranya mencoba menghiburku, kenyataan tak akan berubah seketika.
“Sudahlah, Kawan. Kuhargai caramu.”
Wira kembali menuju papan pengumuman, disobeknya bagian atas kertas pengumuman itu, kemudian ia perlihatkan kepadaku. Tak ayal, beberapa siswa mengomel akibat kelakuan Wira.
“Kau lihat ini! baca ini, perhatikan NPU-mu, Kawan! Kau lulus... urutan dua pula!”
Kuperhatikan baik-baik potongan kertas yang dibawa Wira, memang ada kesalahan dalam pengetikan namaku, yang seharusnya; Nadir, menjadi; Hadir. Sehingga jelas aku luput tadi. Tapi melihat NPU itu, 805, adalah nomorku. Aku terpaku takjub, bukan karena namaku dan angka dua yang tertulis di potongan kertas itu, tapi karena Wira, berani-beraninya dia merobek kertas pengumuman itu. Semangatku yang sempat menguap, kembali lagi, karena Wira. Kupeluk Wira penuh kegembiraan.
“Tapi, bagaimana bisa aku tidak melihat namaku tertulis di sana?” tanyaku.
“Menurutmu?!” Wira membalasku dengan pertanyaan.
Ah, tapi tak masalah, yang penting aku dan Wira lulus. Akhirnya, kami bisa masuk di SMAN 1 Generasi Hebat, tempat Kak Cantika pernah menimba ilmu ini. Oi, senangnya kami. Aku dan Wira berseru-seru girang sambil melompat-lompat, tak peduli dengan pasang mata yang melihat kelakuan kami.
“Maaf!” seseorang menepuk bahuku.
Aku dan Wira langsung menoleh.
“Mungkin, namaku ada di kertas itu!” gadis itu menunjuk potongan kertas yang ada di tanganku. Kuperhatikan sepotong nama yang ada di atas namaku pada sobekan kertas itu. benar, meski sudah tidak begitu jelas, karena aku meremas-remasnya tadi, tapi bisa kulihat ada nama yang tertulis di sana, di urutan pertama.
Kuperhatikan senyum gadis itu lamat-lamat, aku mengenalnya. Ya, dialah gadis yang memberikan tisu kepada Wira hari itu. Ya, dialah wajah dibalik tisu yang telah membuat Kawanku senewen selama seminggu. Meski rambutnya lebih pendek sebahu, meski wajahnya jauh lebih dewasa dari sebelumnya, aku yakin, tak lain dan tak bukan, dialah anak gadis Ko A Kiong.
Aku dan Wira bertatapan, lalu kami menoleh lagi pada gadis itu.
“HA-NIN?!”
jangan ketinggalan ya... ceritanya makin kesini makin menarik loh! jangan lupa juga kritik dan saran kalian ya sob...😁
Notes :
Catatan Kaki ada di episode pertama
__ADS_1