NADIR

NADIR
Nadir ~ Terulang kembali


__ADS_3

Diriku sudah berusaha, tapi kenapa? semuanya hanya sia sia. Ini sangat sakit sekali, sungguh.


Binar membuka matanya perlahan, rasa lelah yang ia rasakan sejak pulang tadi siang membuatnya merasa mengantuk berat.


Binar menatap langit langit kamarnya beberapa menit, menyadarkan dirinya dari dunia lamunnya. Setelah itu Binar melirik kearah jam dindingnya, 07:15. Jamnya sudah baguskah?


Prangg


Binar langsung terpelonjak ketika mendengar suara kegaduhan dari ruang tengah. Binar langsung berlari dari kamarnya menuju ruang tengah. Binar melihat Friska sedang berdiri dengan piring kaca di tangannya, Binar langsung berlari kearah Friska.


"Mama.." teriak Binar menuruni anak tangga kamarnya.


Friska langsung menoleh kearah Binar dan menatap tajam kearah anaknya itu.


"Dari mana saja kamu? kenapa semalam kamu tidak ada di rumah?" Friska berjalan kearah Binar.


"Semalam Binar ada kegiatan dari sekolah, ma." ucap Binar menundukan kepala. Friska mengangkat tangannya, tapi karena di tangan Friska ada piring kaca, Friska kembali menurunkannya dengan kesal.


Friska meletakan piring kaca itu keatas meja lalu mengambil tas kerjanya dari atas kursi, "Bersihkan semuanya!" ujar Friska lalu beranjak pergi dari rumah itu.


"Mama mau kemana? " tanya Binar mengejar Friska.


"Kerja, kau takan makan jika saya tidak kerja." ucap Friska lalu menutup pintu rapat rapat.


Binar terdiam, dia tidak tau jika dirinya harus bahagia karena mamanya bekerja keras untuknya, atau dia harus sedih karena mamanya tidak pernah ada dirumah dengan waktu yang cukup lama.


Binar tersenyum kecil dalam perasaan yang menenggelamkannya.


*


Friska pergi keluar luar menuju kantornya, saat Friska telah sampai di depan kantor, seorang pria menyambutnya dengan hangat.


"Haii, Friska Lathisa." sapa pria itu sambil memainkan rambut Friska.


"Kamu tambah cantik hari ini," sambung pria itu.


Ckrekk ckrekk


Friska menepis tangan pria itu yang tidak lain adalah Mr. Fardi, kerap di panggil Fardi. Fardi adalah seorang pria yang menyukai Friska sejak SMA, dan Fardi tidak bisa move on dari Friska sampai sekarang. Fardi menyukai Friska sedangkan Friska tidak.


"Jangan berani berani sentuh saya, paham! " tajam Friska lalu masuk kedalam kantornya. Fardi tersenyum licik, dia takan menyerah untuk mendapatkan Friska.


*****

__ADS_1


Pagi ini cukup cerah, matahari yang terbit dari bagian timur menyambut Binar penuh kehangatan.


Binar menutup pintu rumahnya kemudian berjalan menghampiri seorang pria yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Udah lama yah nunggunya? " tanya Binar.


Pria itu melirik jam tanganya, "Hmmm, lumayanlah." ucap pria itu, Awan. Yah Awan menjemputnya pagi ini.


Binar memanyunkan bibirnya, "Maaf."


Awan tertawa melihat wajah Binar yang sangat lucu, Awan mencubit pipi Binar, "Iya gak papa kok." ujar Awan tersenyum, Binar ikut tersenyum juga.


"Yaudah ayok naik," ucap Awan, Binar berhenti sejenak ketika melihat kendaraan yang dibawa Awan, Motor. Tidak biasanya Awan membawa motor.


"Ini motor lo? " tanya Binar, Awan mengangguk.


"Sejak kapan lo naik motor? " tanya Binar.


Awan mengelus pelan rambut Binar, "Sejak gue jadi pacar lo."


Binar langsung terbungkam, pagi pagi Binar sudah dibuat baper oleh Awan.


Awan lagi lagi tertawa melihat ekspresi Binar, hal itu membuat Binar menjadi kesal.


"Ketawa aja terus." ngambek Binar. Awan mulai meredahkan tawanya, kemudian ia membalik badan Binar.


"Sorry sayang," ucap Awan dengan senyumannya, senyuman yang membuat siapa saja meleleh.


Binar meneguk ludahnya, Awan benar benar sangat tampan sekali.


Melihat Binar yang terdiam saja, Awan melambai lambaikan tangannya didepan Binar, "Lo gak papakan? " ujar Awan, Binar seketika terbangun dari lamunannya.


Binar bertingkah absurd.


"Udah gak usah kikuk banget liat gue, pacar sendiri gitu banget liatnya." ucap Awan kemudian memakai helm miliknya, setelah itu dia naik keatas motornya.


"Naik," suruh Awan, Binar masih terdiam.


"Binar," panggil Awan lagi, Binar terkesiap.


"Naik."


Binar langsung segera naik keatas motor Awan dan duduk disana. Awan belum kunjung melajukan motornya, "Kok masih diem? " tanya Binar heran.

__ADS_1


"Lo gak peluk gue apa?" ucap Awan, seketika mata Binar membulat, pipinya menjadi merah lagi. Awan memegang tangan Binar dan menariknya hingga membentuk lingkaran di pinggang Awan.


"Ginikan aman." ucap Awan tersenyum, Binar yang belum sepenuhnya sadar dari kekagetannya mengangguk pelan begitu saja, Awan tertawa pelan melihat tingkah Binar yang menggemaskan.


Awan melajukan motornya menuju sekolah. Sekarang mereka resmi menjadi couple goals yang membuat beberapa orang iri melihatnya.


Beberapa menit kemudian, Awan dan Binar sampai di sekolah, Awan memberhentikan motornya di parkiran.


Beberapa pasang mata menatap kearah mereka berdua, ada yang menatap dengan tajam karena tidak suka, ada yang menatap karena terpesona dengan pasangan serasi itu, ada juga yang menatap karena hal yang lain.


Saat di parkiran, Binar terus menundukan kepala, menghindari tatapan tatapan mata dari mereka.


Awan meletakan helm miliknya dan melihat Binar yang menunduk, "Lo kenapa? " tanya Awan, Binar tak menjawab. Binar langsung pergi lari begitu saja meninggalkan Awan.


Awan yang kaget sekaligus heran mengejar Binar, tapi disaat Binar mengetahui bahwa Awan mengejarnya, Binar tambah mempercepat larinya. Dengan keadaan kepala menunduk saat berlari, Binar menabrak seseorang yang berhenti tepat didepannya, hal itu membuat Binar jatuh tersungkur.


Seseorang yang ditabrak oleh Binar itu adalah seorang wanita, dia adalah kakak kelasnya, namanya Ferlin.


Ferlin adalah kakak kekas yang terkenal cukup kejam dan garam, Ferlin jualga menjabat di osis sebagai sekretarisnya.


Binar mendongak menatap kearah Ferlin, wajah Ferlin tampak begitu marah. Ferlin menarik rambut Binar dengan keras membuat Binar meringis kesakitan.


"Apa apaan lo." ucap Awan menepis tangan Ferlin, Awan langsung membantu Binar untuk berdiri dan mendekatkannya kedalam dekapannya.


Ferlin tersenyum tipis, "Ternyata lo gak ada bedanya yah sama nyokap lo, sama sama pe****r." ucap Ferlin.


Binar terbelalak kaget, ucapan Ferlin langsung menusuk kedalam hatinya. Binar terdiam, tangannya tiba tiba kaku.


Awan yang merasakan Binar tidak baik baik saja dengan ucapan itu langsung menatap tajam kearah Ferlin.


"Lo kalau ngomong jangan bikin gue marah! " ujar Awan tajam.


"Emang kenyataan. Emang lo gak tau, kalau mamanya dia itu adalah pe****r."


Lagi lagi Binar mendengar ucapan itu, badan Binar semakin kaku, dia hanya terdiam menahan semuanya.


Ferlin mendekati Binar, "Lo tau, nyokap lo itu sama kayak lo, sama sama s****h. Miris banget gue liat lo." ucap Ferlin didepan Binar. Awan yang tidak tahan langsung mendorong Ferlin.


Ferlin terpental, "Lo yang s****h, b******k." ucap Awan marah, dirinya tidak tahan mendengar ucapan kasar Ferlin.


Awan terus memegang Binar, kaki Binar tidak tahan lagi untuk menopang badannya.


"Nar, Nar lo gak papakan? " tanya Awan ketika badan Binar langsung merosot kebawah. Binar tak tahan dengan semuanya. Semuanya terjadi kembali, apa ini? Apakah semua masalah akan mengejarnya terus menerus seperti ini? Apakah dia tidak bisa hidup dengan tenang sejenak saja. Ini terlalu sakit, dirinya terus mencoba berlari, tapi semuanya sama saja, dia ditemukan kembali. Binar tak tau mau berbuat apa lagi, apa dia harus berlari lagi sekarang? Ini sangat sulit, sungguh.

__ADS_1


__ADS_2