NADIR

NADIR
Nadir ~ Pria diam diam


__ADS_3

Jenuhku tidak untuk menunggu rasa sayang darimu.


Saat Awan melihat tak ada satu pun orang yang berjaga disana, Awan menghembuskan nafas legah, lalu ia masuk kedalam ruangan Binar dengan rangkaian bunga ditanganya, "Syukur nyokap lo gak ada Nar, kalau ada layu ni semua bunganya karna takut liat nyokap lo." ucap Awan lalu tertawa kecil.


*


Awan duduk disamping Binar, mengharapkan Binar membuka matanya. Sudah dua hari Binar tak membuka matanya, Awan cukup rindu melihat mata coklat Binar yang begitu indah.


Keadaan ruangan begitu hening, Awan tak ada bersuara, dia hanya duduk diam disamping Binar dengan tangan menggenggam tangan Binar sangat erat.


Awan merasakan tenang tiap detik berada didekat Binar, sangat nyaman sekali, ini sebuah perasaan berbeda, dan entah sejak kapan dia mulai terang terangan memberikan senyuman dan genggaman pada Binar.


Kondisi Binar sekarang belum sangat pasti, dokter mengatakan bahwa benturan dikepala Binar cukup keras.


"Nar, lo gak mau bangun?" ucap Awan berbisik.


"Nar, bangun dong, kayaknya gue kangen." bisik Awan lagi.


Awan menghela nafasnya lalu membuang pandangan nya kearah bunga yang dia bawa tadi yang sedang diletakan disamping ranjang Binar.


"Lo gak mau liat bunga indah yang gue bawa apa?" ucap Awan lagi.


Sekarang Awan tertawa kecil, sefrustasi inikah dirinya hingga dia berbicara dengan orang yang tak kunjung sadar.


Awan menatap Binar sejenak, lalu genggamannya dilepaskan, tapi disaat Awan mulai memperpelan genggamannya, Awan merasakan tangan Binar bergerak, Awan menatap Binar dengan cepat.


Awan mengukir lengkungan di bibirnya, nyaris sempurna saat Binar perlahan membuka matanya.


Awan kembali menggenggam tangan Binar.


"Nar, Nar." panggil Awan,


Binar membuka matanya pelan, sedikit kabur, Binar terus memfokusan pandangannya hingga semua terlihat jelas.


Binar menoleh kearah samping, melihat Awan tengah berdiri disebelahnya.


"Awan," panggil Binar, Awan tersenyum mendengarnya.


"Gue disini Nar," ujar Awan senang.


Binar berusaha bergerak, tapi kepalanya yang masih sakit membuatnya kembali untuk tetap berbaring.


"Jangan banyak gerak dulu, lo masih sakit." ujar Awan membaringakan Binar.


Binar mengangguk, lalu matanya menyapu semua ruangan itu, "Mama gue mana? " tanya Binar.


"Ehm, gak tau, gue datang kesini tadi nyokap lo udah gak ada." jawab Awan jujur.


Binar memalingkan wajahnya, dia tampak sedih, mamanya tidak ada disaat dia sedang sakit, apakah dia masih marah pada Binar?


"Nar, lo kenapa?" tanya Awan ketika wajah Binar terlihat sedih.


"Gue gak papa," jawab Binar cepat.


Awan memandang wajah Binar, kesedihan tampak diwajahnya.


"Oh iya, liat gue bawak apa. Bunga indah buat putri tidur." ucap Awan memperlihatkan bunga yang ia bawa tadi.

__ADS_1


Binar melihat sambil tersenyum, bunga itu tampak indah sekali.


"Aku yakin bukan lo yang milih ni bunga," ujar Binar sedikit bergurau.


"Enak aja, gue yang milih ni semua," seru Awan.


Binar tertawa kecil ketika melihat wajah Awan yang tampak kesal.


"Meragukan," ujar Binar lagi.


Awan berdesis mendengarnya, Awan memasang wajah cemberut.


"Laki laki ngambekan," ejek Binar ketika melihat wajah Awan yang ditekuk.


"Bisa gak sih gak usah ngeselin gini? " ujar Awan.


Binar tertawa kecil, kemudian tangannya perlahan mengambil satu tangkai bunga dari rangkaian bunga itu.


"Iya gue gak nyebelin lagi kok," ujar Binar masih tertawa kecil, Awan memalingkan wajahnya kearah lain.


"Makasih yah," ucap Binar membuat Awan melirik kearahnya.


"Buat? " tanya Awan menaikkan satu alisnya.


"Buat bunganya, gue suka." ucap Binar tersenyum, Awan mengangguk, "Hmm sama sama."


"Makasih juga yah," ucap Binar menjeda, tangannya menangkup tangan Awan, "Makasih udah jagain gue, gue senang." ujar Binar.


Awan mengerjap gerjapkan matanya, senyuman Binar membuatnya sangat terpesona, jantung Awan juga tidak seperti biasanya, sekarang degupannya berpacu sangat cepat sekali.


Binar terkekeh melihat Awan.


"Lo kenapa? tegang banget keliatannya." ujar Binar.


Awan menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri dari lamunannya.


"Gak, gue cuman heran aja, cewek kayak lo bisa ngucapin terimakasih selembut itu." ucap Awan.


"Perasaan gue ngomongnya gak lembut, kayak biasanya kok." ucap Binar.


"Kan perasaan lo, bukan perasaan gue, yang dengar juga gue." ketus Awan.


"Tapi yang ngomongkan gue," Jawab Binar tak mau kalah.


Awan menghela nafasnya, dia tidak bisa beradu mulut dengan wanita dihadapannya ini, sangat sulit untuk menang.


"Serah lo." ujar Awan mencoba melepaskan genggaman tangan Binar.


Awan berjalan kearah meja yang ada diruangan itu dan mengambil segelas air putih yang terletak disitu.


"Minum." suruh Awan.


Binar mencoba untuk duduk, tapi kepalanya masih sedikit berat hingga dia sulit menggerakan badannya, Awan melihatnya mendengus pelan. Awan membantu Binar untuk duduk sebentar, Binar menatap Awan dan sepertinya Binar semakin jatuh hati pada Awan.


Awan memberika air putih itu lalu Binar meraihnya, "Makasih," ucap Binar kemudian meminumnya.


Setelah itu Binar kembali berbaring.

__ADS_1


Setelah itu keadaan menjadi canggung, Awan tak ada bersuara atau melontarkan kata rindu pada Binar seperti di saat Binar masih memejamkan matanya, dan Binar juga tak ada mengatakan sepata kata pun.


Keadaan hening terjadi hingga akhirnya seseorang datang membuka pintu ruangan Binar, Dokter Andi datang.


"Binar, kamu sudah siuman." ucap dokter Andi.


Awan melihat Dokter Andi malas, "Menurut dokter." ujar Awan memicingkan matanya.


Dokter Andi melihat Awan sejenak, dia tau pria ini, pria yang sering datang ke ruangan Binar secara diam diam.


Dokter Andi kembali melihat kearah Binar sambil tersenyum.


"Bagaimana keadaan mu, apa mulai merasa enakan? " tanya Dokter Andi.


"Lumayan dok," ucap Binar dengan seulas senyuman


"Baguslah kalau begitu. Apa kamu tau," jeda dokter Andi sambil melihat kearah Awan yang tengah memasukan tanganya kekantung celananya, "Ada seorang pria yang sering datang kesini." ucap dokter Andi.


Awan menatap dokter Andi dengan mata membulat, "Apa dokter ini membicarakan diriku? " gumam Awan dalam hati.


Binar menaikan satu alisnya, "Oh ya?" ucap Binar heran.


"Iya, dia sering datang kesini diam diam, dia datang kalau ibu mu sedang tak ada diruangan ini. Ku pikir dia seorang pencuri, ternyata bukan, dia hanya seorang pria yang mungkin sedang dimabuk cinta." ucap dokter Andi melirik kearah Awan.


Benar dia membicarakanku.


"Mama jaga Binar? " Tanya Binar, sepertinya Binar lebih tertarik dengan mamanya yang menjaga dirinya, bukan dengan seorang pria yang diam diam datang keruangannya hanya untuk menjaga dirinya.


Dokter Andi mengangguk pelan, "Yah, tapi dia tidak terlalu lama jika berada diruangan ini, mungkin hanya sekitar sepuluh menit lalu kembali keluar lagi." ujar dokter Andi jujur.


Binar tersenyum, garisan di bibirnya diperlihatkannya, dirinya tak peduli seberapa lama Friska menjaga dirinya, yang terpenting hanya satu, Friska masih menyayanginya, jika tidak, tidak mungkin Friska mau menjaga Binar.


"Terus mama saya ada dimana sekarang?" tanya Binar.


"Saya tidak tau, semalaman dia tidak datang kesini, saya pikir dia pergi bekerja." ucap Dokter Andi.


Senyuman Binar pudar sejenak lalu kembali mengembang lagi, dirinya tidak boleh bersedih, setidaknya Friska menjenguknya walaupun hanya sebentar.


Dokter Andi yang melihat Binar tersenyum senang hanya karena mendengar Friska menjenguknya merasa heran, padahal jika menurut Dokter Andi, Friska adalah ibu yang sedikit kejam karena mau meninggal anaknya yang tengah sakit hingga bermalaman.


"Baiklah, dokter keluar dulu, kalau ada masalah apa apa panggil dokter," ucap Dokter Andi, Binar mengangguk.


"Dan kalau kamu masih mau mendengarkan cerita pria itu, tanyakan saja pada saya. Saya akan memberitahunya." ucap Dokter Andi menatap Awan, Binar yang melihat Dokter Andi melihat kearah Awan merasa curiga.


"Baiklah, saya keluar dulu." ucap Dokter Andi kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.


Awan yang melihat Dokter Andi keluar dari ruangan Binar mengerutu pelan tapi masih bisa didengar oleh Binar.


"Lo kenapa? " tanya Binar heran.


"Ha gapapa." ucap Awan terkesiap.


Binar semakin curiga dengan Awan, sepertinya dia ada hubungnya dengan pria yang diam diam masuk keruangannya, atau jangan jangan itu Awan, jika ia, buat apa Awan melakukannya? apa Awan ada rasa dengan Binar.


Bianr menatap mata Awan lalu tersenyum, Awan yang melihat Binar tersenyum sendiri bergedik ngeri.


Dasar cewek aneh.

__ADS_1


__ADS_2