
Ini hidup, beberapa orang datang lalu menghilang, atau kamu yang menghilang.
Binar berjalan pelan masuk kedalam kelas dengan kepala merunduk, langkah kaki yang sangat lemas terus di paksanya hingga akhirnya ia berdiri tepat di ambang pintu XI IPA 4.
Binar menatap kearah kursinya, belum ada Juni disana. Binar berjalan kearah kursi miliknya lalu duduk disana.
Lima menit setelah itu, Juni datang bersama beberapa siswa lainnya dengan sedikit berlari karena mendengar bel yang sudah berbunyi tiga menit yang lalu.
Juni berjalan mendekati Binar, Binar tersenyum kearah Juni.
"Ju-"
Belum sempat Binar berbicara dengan Juni, Juni sudah berlalu begitu saja. Juni hanya mengambil tas miliknya kemudian pergi berjalan ke belakang.
Binar melihat kearah Juni, Juni sedang berbicara dengan Indri, cewek yang duduk di paling pojok.
Setelah itu Indri berdiri dan menghampiri Binar, "Gue di paksa Juni." ucap Indri datar.
Binar hanya mengangguk pelan, Binar paham, Juni sedang menjalankan hukuman untuk dirinya.
Kemudian Binar menghadap kedepan lurus dan sesekali melirik kearah Juni dibelakang yang sedang tertawa dengan orang di sebelahnya, Binar tersenyum melihatnya.
Hari ini tiga les pelajaran matematika, hal itu membuat seisi kelas XI IPA 4 merasakan kebakaran di bagian kepalanya.
Padahal les pertama bersama buk Siti tadi sudah membuat mereka kewalahan dengan banyak tugas, ini di tambah lagi dengan pelajaran matematika 3 les, hari yang menyebalkan.
Banyak murid yang merasakan gelisah, ada yang memutar mutar penanya di tangan, ada yang menjahili temannya, ada yang tertidur, dan sebagian kecil ada yang memerhatikan guru yang tengah menerangkan, mungkin hanya 1 atau 2 dari 36 siswa, sangat terbaik.
Binar adalah 1 atau 2 didalam itu, karna kini Binar tengah memerhatikan guru yang ada didepan dan sesekali mencatat penjelasan yang diberikan oleh guru itu.
Binar termasuk murid yang menyukai matematika.
Saat semuanya sibuk dengan kegiatan mereka masing masing di luar dari pelajaran, Binar malah asik dengan rumus rumus yang berputar di otaknya.
"Baiklah, apa ada yang bisa jawab? " celetuk guru itu dari depan, namanya buk Anet.
Tak ada yang menjawab, semua terdiam, wajah wajah kebosanan tampak diwajah mereka.
Buk Anet menyapu pandangannya keseluruhan kelas, hingga matanya berhenti di satu titik, Binar.
Binar tengah mengerjakan sesuatu di bukunya
"Binar," panggil Ibu Anet, Binar melihat kedepan. Buk Anet memberikan kode untuk menyuruhnya maju kedepan, Binar menoleh kekiri dan kekanan sebentar, gugup. Lalu ia maju kedepan dan mengerjakannya.
Buk Anet menatap Binar takjub, semua yang di tulis oleh Binar benar, buk Anet tersenyum kearah Binar ketika Binar sudah selesai menulis
"Ibu bangga sama kamu." ucap Ibu Anet tersenyum, Binar tersenyum, "Makasih buk."
"Tepuk tangan dong," ucap Buk Anet kepada seluruh murid, semuanya terdiam. Mereka saling pandang pandangan dan berbisik kecil, hingga akhirnya terdengar suara tepuk tangan dari belakang.
Mendengar tepukan tangan itu, semua mata tertuju kearah sumber suara, Biru.
Biru bertepuk tangan sendirian di tambah lagi dengan senyuman diwajahnya membuat semua orang disana menatapnya, bahkan Binar yang menjadi posisi sorotan tadi menatap Biru heran.
Biru yang mendapat tatapan heran itu menyatukan kedua alisnya, mengapa dengan mereka semua? Pikir Biru.
Buk Anet yang merasakan keadaan kelas menjadi horor mendadak segera menyuruh Binar untuk kembali duduk.
"Kamu boleh duduk kembali." ucap Buk Anet, Binar mengangguk lalu berjalan menuju kursinya.
Setelah itu pelajaran berlangsung sampai bel istirahat kedua berbunyi.
__ADS_1
*
Binar duduk sendiri sambil menatap kearah Juni yang dibelakang, Juni tampak bahagia, buktinya dia sedang tertawa senang disana.
Binar tidak tau apa yang harus ia lakukan, apa dia benar benar akan kehilangan semuanya seperti ini?
Disisi lain ada Awan yang menatapi Binar sejak tadi. Awan tak pergi dari kelas bersama teman temannya, dia memilih untuk tetap tinggal dikelas.
Awan sedikit heran, apa yang terjadi dengan Binar, mengapa dia sendirian dan mengapa Juni meninggalkannya?
Awan menerka nerka dalam otaknya.
Saat Awan menatap Binar, seseorang yang duduk disebelahnya berdiri pergi tapi Awan tak menyadarinya.
Mata Awan terus tertuju pada Binar.
"Hai," sapa seseorang, Biru.
Awan yang melihat Biru tiba tiba disana membulatkan matanya heran, lalu matanya melihat kekursi disebelahnya, sejak kapan anak itu pergi dari sini?
Binar melihat kearah Biru, "Iya?" ucap Binar sedikit heran.
"Gue boleh duduk? " Biru tersenyum manis, Binar mengangguk pelan.
"Gue Biru," Biru memperkenalkan dirinya
"Binar."
Biru tersenyum mendengar nama Binar, "Gue suka lo." ucap Biru membuat Binar melotot.
"Maksud gue, gue suka gaya lo, bukan suka sama diri lo, gue normal kok, santai." ucap Biru terkekeh ketika melihat ekspresi Binar yang melotot.
"Lo pinter matematika, gue kagum." Biru membanggakan Binar.
"Apapun itu setidaknya lo bisa matematika." ucap Biru lagi.
Binar tersenyum kecil, heran dengan gadis di hadapannya ini, mengapa dia membangga banggakan dirinya?
"Gue boleh temanan sama lo? "
Pertanyaan itu sontak membuat Binar kaget.
"Lo kenapa? " tanya Biru yang melihat Binar kaget.
"Enggak, gue cuman heran, kenapa harus nanyak? "
"Karna gue pengen, bolehkan? " tanya Biru memastikan, Binar mengangguk pelan, "Tapi lo nanti bakalan di jauhi sama satu sekolah." ucap Biru memperingati.
"Kenapa? Kok bisa? "
"Gue dapet hukuman dari seseorang, gak ada yang boleh deketin gue."
Biru mengerutkan dahinya, siapa yang memberi hukuman konyol itu, apakah dia seorang anak anak dari Tadika Mesra? Sungguh hukuman aneh.
"Emang lo buat apa sampai di hukum? " Biru memiringkan kepalanya sedikit.
"Gue ngerjain dia , gue naruh cat di atas kursi kantin. Tapi gue naruh nya karena dia yang mulai duluan gangguin gue." jelas Binar
"Siapa orangnya? " Biru penasaran.
"Rubi, kakel kita."
__ADS_1
Biru mangut mangut mendengarnya, ternyata kakak kelas yang bernama Rubi itu masih memiliki sifat kanak kanak.
Biru kembali menatap Binar, Biru tersenyum kecil.
"Gue bakalan jadi teman lo walaupun semua orang jauhin gue."
Binar menatap Biru tidak percaya. Apa Biru akan menjadi temannya tanpa harus pergi seperti yang lain?
Di posisi seperti ini, Binar tidak tau berbuat apa, dia tidak tau apa dia pantas memiliki teman, bahkan ibunya saja membenci dirinya.
"Tapi lo bakalan dijauhi, beneran." peringat Binar lagi
"Dan gue gak bakalan perduli, beneran." Biru tersenyum pada Binar.
Binar mencoba mengingat kata kata yang sering terlintas di kepalanya, 'Satu teman saja lebih baik ketika semua orang lain menjauhi dirimu'
Apakah Biru adalah satu orang itu?
Ini sebuah cerita yang sedikit menarik, teman mu datang lalu menghilang, atau kamu yang menghilang.
Binar membalas tatapan Biru, "Lo yakin? " Binar mencoba memastikan dan Biru mengangguk.
"Okelah, tapi kalau lo mau jauhin gue, gak papa juga kok." ucap Binar tersenyum kecil, karena dia sudah terbiasa merasakannya.
Biru menggeleng, "Gak akan."
Setelah itu Biru dan Binar menjadi teman dan mungkin akan menjadi sahabat. Biru adalah anak yang aktif dan mudah bergaul, Biru anak yang sangat asik.
"Ngomong ngomong gue pengen bilang sesuatu," ujar Biru, Binar menaikan satu alisnya, "Apa? "
"Orang yang disebelah gue dari tadi liatin lo dan kadang dia nyebut nama lo. Gue pikir dia suka sama lo deh." ucap Biru.
Binar langsung melihat kearah Awan dan benar saja Awan menatap kearahnya.
Ketika Binar melihat kearah Awan, Awan langsung memalingkan wajahnya dengan cepat, Awan mengumpat dalam hati.
Binar tertawa kecil melihat Awan yang kepergok menatapinya.
"Lo kenapa? "tanya Biru heran.
Binar langung berhenti tertawa, "Ha gak papa."
Biru memicingkan matanya, "Lo suka sama Awan yah? " tebak Biru.
Dengan cepat Binar langsung menggeleng tapi tidak bersuara.
"Lo tau gak ciri ciri orang bohong itu gimana?" tanya Biru.
Binar menggeleng, "Gimana? "
"Hidungnya tambah mancung,"
Sontak Binar langsung memegang hidungnya membuat Biru tertawa, "Nah kan lo boong, lo suka kan sama dia? " bisik Biru membuat Binar merinding.
Binar tak menjawab, dia hanya diam, jika bohong lagi hidungnya akan sangat panjang dan Biru bakalan mengetahuinya.
"Tenang aja, gue bakalan bantu lo." ujar Biru terkekeh.
Binar hanya menatap Biru, gadis dihadapannya ini sedikit menakutkan.
Baru beberapa menit Binar berteman dengan Biru, Biru sudah seperti sangat akrab sekali dengan Binar.
__ADS_1
Mungkin karena Biru sangat berisik seperti Juni, Biru selalu membuat lelucon untuk Binar.
Disisi lain ada Juni menatap kearah mereka berdua, Binar mendapatkan teman baru dan dia tampak lebih bahagia.