NADIR

NADIR
Nadir ~ Kebohongan yang terbaik


__ADS_3

Aku berharap, jika AKU dan KAMU bersama, akan menjadi KITA. Setelah menjadi KITA, aku tak ingin kembali menjadi AKU dan KAMU lagi, mengertilah.


Binar berjalan melewati beberapa lorong kelas dengan senyum semerkah, dirinya sedang berjalan beriringan dengan teman barunya, Biru.


Setiap langkah demi langkah, Biru selalu saja mencerocos tak kenal lelah, mungkin Biru adalah makhluk yang hobby berbicara.


Binar sesekali tertawa mendengar ocehan Biru diselangi dengan desisan kecil ketika Biru mulai menggoda Binar.


"Nar, Nar. Menurut lo Awan itu gimana yah?" tanya Biru, Binar memutar bola matanya malas.


"Kenapa sih harus ngomongin dia mulu? pegel telinga gue denger nama dia." ujar Binar, karena sejak tadi Biru selalu saja menanyakan Awan kepadanya.


"Gue rasa lo ada hubungan gitu sama Awan," Biru memicingkan matanya. "Kayak ada aura aura bucin yang keluar setiap gue liat Awan dan liat lo." Biru tertawa kecil mengatakannya.


Binar sekarang tampak kesal dengan Biru, ocehannya selalu saja membuatnya tersudut.


"Lo ngomongin dia lagi gue tinggal lari ni."


"Dih kayak cowo aja, suka ninggalin." Biru terkekeh lagi.


Binar memberhentikan langkahnya tiba tiba ketika melihat Arkan berdiri tepat dihadapnya.


Arkan tersenyum pada Binar, "Hai," sapa Arkan.


Binar tersenyum kecil untuk membalasnya. Biru yang berada disamping Binar menyenggol lengan Binar pelan, "Dia siapa? " bisik Biru.


Binar tak menjawab, dia hanya memberi kode pada Biru untuk diam saja.


Biru curiga dengan pria di hadapannya ini, Biru merasa bahwa cowok ini tipe yang sangat suka tebar pesona.


"Balik sama siapa? " tanya Arkan.


"Se-"


"Sama gue." potong Biru menatap Arkan sengit, Arkan mengerutkan dahinya, dia baru menyadari ada cewek lain ternyata. Fokus Arkan sejak tadi hanya tertuju pada Binar.


"Dia siapa? " tanya Arkan pada Binar.


"Oh dia B-"


"Gue temannya, kenapa emang?" potong Biru lagi, Binar menoleh kearah Biru geram.


Arkan mengangguk kecil, melihat Biru dengan tatapan heran sedangkan Biru menatap Arkan dengan tajam.


"Lo bisa minggir? gue mau balik sama Binar." ujar Biru, Arkan masih berdiri tepat di hadapan mereka menatap kearah Binar.


Binar tersenyum kecil, Arkan membalasnya. Biru yang melihat Arkan semakin menggelikan, tangannya langsung menarik Binar pergi dari sana.


Biru menarik Binar sampai keparkiran, tarikan Biru yang sedikit kuat membuat Binar melihat tangannya yang memerah.


"Sakit tau, main tarik tarik aja." serka Binar.


"Sorry, gue gak pengen aja lama lama disana, enek gue."


Binar mengeritkan dahinya, "Kenapa? "

__ADS_1


"Gak papa gak suka aja, gak cocok sama lo!" tegas Biru.


Mata Binar membulat sejadi jadinya, sejak kapan manusia satu ini tau mana yang cocok untuknya mana yang tidak.


Biru seakan akan seseorang peramal cinta, yang tau segalanya. Padahal dirinya saja masih jomblo.


Biru melihat kearah orang yang baru saja datang, Biru menyeringai.


"Nah itu baru cocok." ujar Biru menjentikan jarinya, Binar melihat kearah pandangan Biru, ternyata yang dilihat Biru adalah Awan. Apa yang akan dilakukan anak ini lagi padanya?


"Awann," panggil Biru melambaikan tangannya, Awan melihat kearah Biru dengan wajah datar.


Biru yang berdiri tak terlalu jauh dengan Awan langsung menarik Binar yang disebelahnya mendekati Awan, hal itu sontak membuat Binar terpelonjak.


"Awan ada yang mau ngomong ni," ucap Biru tersenyum.


Binar melihat kearah Biru curiga, pasti ada yang tidak beres ni.


"Apa? " tanya Awan.


"Binar mau balik bareng lo katanya, dia bilang males sendirian naik mobil trus." ujar Biru.


Binar yang mendengar kebohongan itu langsung mengijak kaki Biru, hal itu membuat Biru meringis kecil.


Awan melihat kearah mereka berdua sejenaknya, Binar langsung menggelengkan kepalanya menatap Awan, Awan mengangguk.


"Oke baiklah, ayo." ucap Awan lalu berjalan masuk kedalam mobilnya.


Binar terdiam mematung mendengarnya tak percaya, sedangkan Biru tersenyun menang.


"Buruan, sang pengeran udah nunggu tuh." lirih Biru.


Binar menggeleng dengan cepat, ini bukan kemauannya, ini adalah kebohongan yang diucapkan Biru.


Binar masih diam mematung tak ingin masuk, Awan yang sudah menunggu didalam mobil kembali keluar.


"Naik! " suruh Awan.


Binar menggeleng, "Gak, tadi bukan gue yang nyuruh Biru buat bilang gitu, dia cuman bercanda." jujur Binar.


Awan terdiam sejenak, hatinya sedikit tergores.


Rasa senang dari ucapan Biru tadi seketika hilang mendadak. Tapi Awan tetap memasang ekspresi datarnya, seperti tak ada masalah bagi Awan.


Awan menatap langsung kearah Biru, Biru melotot, nyalinya menciut, apakah Awan akan mengusirnya dari samping kursinya nanti.


Jika ia, dia akan menjadi anak yang terlantar, tak ada lagi kursi kosong disana.


Apa dia harus duduk di lantai? semoga saja Awan tidak marah.


Awan langsung masuk kedalam mobil, namun beberapa detik kemudian ia kembali keluar.


"Naik, gue yang ngajak lo pergi. Gue pengen jalan bareng lo."


Deppp

__ADS_1


Perasaan Binar tiba tiba mendadak shock, ajakan mendadak dari Awan membuatnya kehilangan kata Tidak.


Biru yang tadi menundukan kepalanya, sekarang mengangkatnya kembali melihat kearah Awan tersenyum percaya.


Biru menyenggol pelan lengan Binar, "Cepat buruan, ini gak bohongan lagi." bisik Biru.


Binar belum yakin, tapi Awan tambah meyakinkannya, "Gue mau jalan berdua bareng lo, gue harap lo mau."


Awan semakin membuat Binar kehilangan kata Tidaknya, semua yang tersisa hanya ada Iya, mau, mau bangettt.


Binar melirik kearah Biru sejenak, Biru mengangguk sambil tersenyum senang, ini kesempatan premium.


Bagaimana tidak, Biru sangat senang jika Awan dengan Binar.


"Iya, gue ikut." ucap Binar, Awan tersenyum mendengarnya, lalu ia berjalan kearah pintu mobil sebelahnya kemudian membuka pintu mobil dan mempersilakan Binar masuk.


Binar sejenak terpesona, tapi dirinya menepis jauh jauh rasa itu. Dirinya tidak ingin kegeeran dulu.


Adagen ini sudah hampir sama di drama korea korea, Biru yang melihatnya saja kepengin seperti itu. Biru menjadi baper.


Binar masuk kedalam mobil dan tersenyum canggung pada Awan. Setelah itu Awan menutup pintu mobil dengan pelan, lalu berjalan kearah pintu satunya lagi.


Sebelum itu, Awan berbisik kecil pada Biru.


"Ternyata lo sering nguping bisikan kesal gue." bisik Awan membuat Biru tertawa kecil.


Setelah itu Awan masuk kedalam mobil dan membawa Binar pergi jalan jalan seperti yang dikatakannya tadi.


Biru yang di tinggalkan sendirian disana masih setia tersenyum lalu melambaikan tangannya.


Biru merasakn bahwa Binar dan Awan saling menyukai, mereka hanya terhambat tembok yang cukup tinggi yaitu keegoisan untuk mengungkapkannya.


Dan ada satu hal yang membuat Biru ngeship mereka berdua. Biru merasakan bahwa Awan dapat menerima apa yang dirasakan Binar sekarang. Biru mengerti, dilema tentang jatuh di titik paling rapuh sudah sering Binar rasakan, tapi Biru yakin Binar akan bangkit bersama Awan yang menariknya.


*


Awan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata rata. Arus lalu lintas kali ini cukup padat, mungkin karena sekarang adalah jam istirahat untuk para pekerja.


Matahari yang bersinar, jalan yang sangat macet, membuat beberapa orang mengeluh panas, terutama dengan Binar.


Binar sekarang sedang mengibas ngibaskan tangan didepan wajahnya.


Awan menoleh kearah Binar yang kepanasan, kemudian dia memperkencang suhu Ac mobilnya.


Setelah itu, Awan membawa Binar entah kemana.


"Bukannya kita mau pulang? " ucap Binar yang melihat jalan kearah rumahnya dilewati oleh Awan.


"Siapa bilang? gue bilangkan gue mau ajak lo jalan jalan."


Binar mencoba mengingat kembali ucapan Awan lalu mengangguk kecil.


"Gue laper, kita makan dulu." ujar Awan membawa Binar kerestoran terdekat disana.


Sepanjang perjalanan Awan dan Binar tak bersuara, mereka hanya melihat sesekali dan memalingkan wajahnya ketika mata mereka berdua bertemu.

__ADS_1


Keadaan canggung menyelimuti mereka berdua. Binar berusaha melihat kearah samping dan menolak kepalanya untuk melihat kearah Awan dan Awan berusaha untuk fokus mengemudikan mobil, dirinya tidak ingin jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi karena hanya ingin menatap Binar, ini tentang nyawa dan masa depan.


__ADS_2