
Telah aku dan Wira putuskan untuk izin sekolah dulu hari ini. Kami tak ingin membiarkan Melodi, kawan kami itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata perpisahan. Maka, pagi-pagi sekali kami langsung menuju rumah Melodi. Namun, sayang kami tak terlalu pagi untuk datang menemuinya, Melodi sekeluarga sudah pergi ke kota sejak subuh tadi. Aku patah semangat. Tapi Wira tidak. Lelaki yang tak mau mengalah begitu saja oleh keadaan itu, lantas mengajakku menemui Bang Akiat dan Bang Santo. Entah apa yang diinginkan Wira dengan kedua orang anak buah Pak Kades itu.
Sampai di depan rumah Pak kades, kami melihat Bang Akiat dan Bang Santo sedang menaikkan berkarung-karung tempurung ke dalam mobil pikap milik Pak Kades.
“Mau di bawa ke mana tempurung-tempurung ini, Bang?” tanya Wira, berbasa-basi.
“Mau di bawa ke kota, memangnya kau mau apa, Uti?” tanya Bang Akiat dengan nada menggertak.
Wira tersenyum licik. Aku was-was melihat senyumnya itu. Aku tau, setelah senyum itu akan muncul gagasan sinting yang bisa membuatku terjebak dalam situasi yang menegangkan setiap kali.
“Abang mau uang tambahan, tidak?” goda Wira, sambil mengeluarkan dua lembar uang sepuluh ribuan dari sakunya.
Mata Bang Akiat langsung berkilau melihat lembaran uang di tangan Wira, “Kau mau kami melakukan apa?”
Wira langsung merangkul pundak Bang Akiat, “Begini Bang, boleh nggak kami numpang ikut ke kota?”
Sekarang aku paham apa tujuan Wira sebenarnya.
“Mau apa memangnya kalian ke kota?”
“Hmm... bukan apa-apa Bang, kami hanya ingin menemui Mangge Halim, ada sesuatu yang harus kami sampaikan kepadanya!” begitu Wira, beralasan.
“Oh, si Halim yang hari ini berangkat ke Kalimantan itu?”
“Iya, kalau Bang Akiat nanti mengantar kami sampai di pelabuhan, uangnya aku tambah lagi, bagaimana?” rayu Wira.
Bang Akiat berpikir sejenak, menatap Bang Santo kawannya, meminta konfirmasi.
“Hmm, ya sudah... tapi kalian harus membantu kami menaikkan barang-barang ini ke mobil.” Katanya.
“Oke. Setuju!” Wira langsung menyerahkan dua lembar uangnya itu kepada Bang Akiat. Kemudian, dengan semangat kami membantu Bang Akiat dan Bang Santo memuat berkarung-karung tempurung ke mobil, semuanya.
Aku dan Wira membuka kancing baju saat mobil pikap itu mulai melaju. Segar juga rasanya saat tubuh kita yang berkeringat kemudian di terpa angin nan semilir di atas tumpukan karung-karung tempurung. Kupejamkan mata, kubentangkan tangan, oi segarnya ku rasa.
Meski kami harus terguncang-guncang di atas tumpukan karung, aku merasa senang, ada dua alasan yang membuatku begitu; pertama, aku bisa sempat melepas kepergian kawanku itu detik-demi detik yang kami punya. Kedua, inilah pengalaman pertamaku pergi ke kota. Umur-umur, aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota kabupaten yang konon megah bukan main itu.
Wira berdiri dengan berpegangan di kerangka besi yang tersambung dengan kap mobil, aku ikut berdiri di sampingnya. Betapa takjubnya kami saat mobil mulai memasuki jalanan beraspal. Sungguh, baru kali ini aku melihat dan menikmati sensasi naik kendaraan di atas jalanan aspal nan licin itu. Oi, aku memang udik Kawan, mohon pemaklumannya.
Bang Akiat, si manusia tak takut mati itu, memacu laju mobil sedemikian kencangnya. Aku dan Wira sempoyongan, setiap kali mobil bermuatan tempurung dan dua orang anak bertubuh kurus itu menikung. Seandainya kami tidak berpegang pada pada kerangka besi, sudah barang pasti tubuh kami akan terpental, terbang, terbawa angin. Sungguh mati, aku mulai pusing.
Wira benar-benar menikmati sensasinya. Angin dan kecepatan mobil 80 km per jam adalah detonator bagi kebahagiaan seorang manusia yang selalu obsesif terhadap hal-hal yang memicu adrenalin. Menantang. Aku duduk bersandar di sampingnya. Aku benar-benar limbung, kepalaku seperti bernafas kurasa, cenat-cenut, perutku seperti ada yang memelintir dari dalam, kerongkonganku geli, beberapa kali aku meludah.
Oh, Tuhan apakah gerangan ini? Mungkinkah aku keracunan, akibat terlalu banyak menghirup udara yang penuh polusi ini? tubuhku benar-benar landai, bahkan untuk duduk saja kurasa sudah tak mampu, terpaksa aku berbading di atas tumpukan karung tempurung.
“Kenapa kau, Kawan?” tanya Wira.
“Tak tahu, mungkin aku keracunan udara, kepalaku terasa pusing, Uti.”
“Ah, bukan kercunan kau itu, hanya mabuk!” katanya. Seandainya aku punya tenaga lebih untuk berdebat dengannya saat ini, sudah pasti aku akan melakukannya. Aku tidak terima Wira mengatakan kalau aku sedang mabuk. Aku bukanlah anak berkepribadian biadab seperti Bang Akiat dan Bang Santo yang suka mabuk-mabukan cap tikus, itu.
“Hati-hati ucapanmu, Kawan! Aku tak pernah minum cap tikus (miras) sedikitpun.”
Sekali lagi, mohon kalian bijaki dengan sangat, Kawan, sepanjang pengetahuan anak Desa nan udik sepertiku ini, kata Mabuk hanya pantas untuk mereka yang suka minum-minuman keras, tak pernah aku ketahui sebelumnya kalau ada mabuk yang lain, seperti mabuk darat yang aku alami saat ini.
“Oi Kawan, pemikiranmu terlalu kerdil... yang aku maksud bukan mabuk cap tikus, tapi mabuk darat... mabuk kendaraan... karena tak biasa!”
“Adakah mabuk yang seperti itu?” aku semakin mual setiap kali mengucapkan sepatah kata, atau membuka mata barang sebentar saja.
“Ada, kau lihat saja dirimu sekarang ini. Aku pastikan sebentar lagi kau akan muntah!”
Benar saja apa yang dikatakan Wira, hanya dalam hitungan sepersekian detik, aku langsung memuntahkan semua isi perutku di atas tumpukan karung. Maaf, Bang Akiat, aku harus melakukan ini. Tak mampu kutahan lagi, sungguh.
“Oeeekk... Oeekkk!”
Wira langsung cepat-cepat mengurut tengkukku.
“Oeekk... Oeekkk!”
Wira langsung meminta kepada Bang Akiat untuk menghentikan mobil tepat di depan sebuah kios.
“Ada apa?” tanya Bang Akiat, kepada Wira.
“Dia mabuk. Aku harus membelikannya minum.”
Betapa kulihat tatapan takjub menggurat di wajah Bang Akiat, melihat muntahku bertebaran di sana-sini.
“Oi, oi, bukan main kau ini, Uti, sudah seperti kuda saja kau! Aiss!” Bang Akiat mendesis.
__ADS_1
“Maaf Bang, aku tidak bisa menahannya lagi.” Ucapku.
Tak kusangka orang seperti Akiat dan Santo yang sempat kutuduh sebagai manusia tak berperikemanusiaan itu, mau saja mengurusku yang tak mau berhenti muntah sampai habis makanan dalam perutku. Dibersihkannya muntah-muntahku itu dengan penuh dedikasi, tentunya sambil mengomel sesekali.
“Maaf Bang!” sekali lagi kukatakan.
Wira membelikanku air mineral untuk kuminum sekalian membasuh wajah biar segar, katanya. Diberikannya pula kepadaku beberapa lembar daun kangkung yang di ambilnya dari got depan kios.
“Selipkan ini di perutmu, biasanya Amaku memberikan ini kepadaku kalau aku mabuk darat sepertimu, dan itu selalu berhasil, tidak tahu kalau kau!”
Aku menurut saja, meski logikaku membantah―bagaimana bisa daun kangkung yang biasanya ditumis atau dikuah bening bisa menjadi penawar mabuk? Sungguh tak masuk akal!.
Bang Akiat dan Bang Santo masih tekun membersihkan sisa muntahku di atas tumpukan karung.
“Sebaiknya kau belikan dia kantong kresek, Uti! Supaya nanti kalau dia muntah lagi, tidak dihamburkannya muntahnya itu di sana-sini!” perintah Bang Akiat dengan nada kesal.
Setelah merasa agak mendingan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Bang Akiat menurunkan kecepatan mobil, dia peduli padaku. Wira terus menjagaku dengan kantong kresek di tangannya, mengantisipasi kalau-kalau aku muntah lagi.
Percaya atau tidak, tahukah Kawan, kalau daun kangkung itu benar-benar mujarab. Sampai di kota aku tidak muntah sekalipun, meski kadang-kadang kepalaku masih terasa pusing. Meski sudah kukait-kaitkan teori ilmiah yang pernah aku pelajari di sekolah tentang keorelasi antara mabuk darat dan daun kangkung, tidak kudapatkan jawaban masuk akal. Maka kutanyakanlah kepada Wira perihal itu. Dan dengarkanlah jawabannya yang retoris.
“Tak mungkin orang sepandai diriu tidak menemukan jawabannya!” ucap Wira, ada kesan sombong di ucapannya itu kudengar.
“Perlu kau ketahui kawan, kangkung itu adalah tumbuhan dengan batang berongga, sebagaimana usus kita yang sudah kita ketahui bersama adalah tempat makanan di olah. Batangnya lunak, begitupun usus kita, lunak. Asumsi dasarnya adalah, karena kangkung dan usus memiliki kesamaan, maka, saat batang kangkung ditempelkan di bagian perut yang notabenenya tempat usus bersemayam... kensekuensi logisnya, kangkung itu memberi sugesti kepada usus, agar tidak mendesak sisa-sisa makanan yang ia olah, keluar melalui kerongkongan, sehingga menjadi muntah!”
Sungguh hebat penjelasan itu kudengar.
“Bagaimana, kau sudah mengerti, Kawan?”
Aku mengangguk takjub, dengan penjelasan Kawanku yang selalu menjadi juru kunci di kelas. Tak kusangka ia menyimpan kecerdasan sehebat itu. Dari sinilah aku mulai meyakini, kalau sebenarnya Wira adalah anak yang cerdas, hanya saja ia malas belajar.
Sampai di kota, kami membantu Bang Akiat dan Bang Santo mengantarkan tempurung-tempurung itu kepada A Kiong, ko (Maksudnya; cina), bermata sipit yang hobi memakai singlet dan celana bokser penuh tampalan itu.
Awalnya aku dan Wira mengira ko itu adalah pengemis, sisa-sisa zaman penjajahan. Masalahnya, penampilannya sangat tidak koheren dengan bangunan toko besar nan megah itu. Apalagi ketika kami melihat putrinya, amboi, bukan main cantiknya gadis cina berkacamata itu. Aku sampai menganga dibuatnya, Wira sampai lupa darat, tak lagi peduli dengan beban dua karung tempurung yang dipikulnya.
“Hayya... ini tempulung ada belapa kalung, hah?” ko A Kiong mengganti semua huruf R menjadi L.
“Dua puluh lima karung, Ko.” Jawab Akiat.
“Oee... oee... belalti masih sisa dua puluh lima, lagi.”
“Iya, Ko!”
“Iya, Ko!”
Aku takjub mendengar cara bicara ko A Kiong yang mendayu-dayu itu. Sementara Wira, lihatlah kawan, dia tak mau urus dengan percakapan ko A Kiong dan Bang Akiat, dunianya hanya fokus pada satu orang, anak gadis ko A Kiong. Demi untuk bercakap-cakap penuh basa-basi dengan putri cina nan jelita itu, Wira rela merogoh kocek membeli parfum yang dijual anak gadis A Kiong.
“Kalau yang ini mereknya apa?” tanya Wira, terus menyeringai.
“Rossarian.”
“Oi indahnya namanya... kalau yang ini?”
“Hmm... Obsession.”
“Kalau namamu?” oi, bukan main hebatnya tekhnik Wira itu.
“Maaf?” gadis jelita itu mengerling heran, tanpa sadar keheranannya itu membuat Wira semakin senewen saja.
“Duhai kau yang cantik, sudah kau terangkan nama-nama indah dari parfum yang kau jual ini, betapa sampai hatinya aku kalau tak menanyakan namamu juga.” Wira berteori.
Gadis itu semakin merasa aneh dengan tingkah Wira yang celingukan seperti cacing kena siram minyak tanah. Karena merasa risih dengan sikap Wira, terpaksa gadis jelita malang itu menyebutkan namanya.
“Hanin.” Jelas sekali dari cara bicaranya, gadis itu terpaksa.
“Maaf, bisa kau ulangi?”
“HA-NIN... namaku Hanin.”
“Tak ada nama cina?” tanya Wira, lagi.
Gadis itu semakin kesal. “Tanya pada Ayahku, kenapa ia tidak memberiku nama cina!”
“Baiklah... Hanin juga indah.” Wira terus celingukan, ingin sekali kuhantam kepalanya dengan benda keras.
“Wira... namaku Wira Sasono!” ia mengulurkan tangannya.
Dengan berat hati, penuh perasaan jijik, Hanin menjabat tangan Wira. Setelah berjabatan tangan, Wira langsung mencium telapak tangannya sendiri. Menguarlah aroma parfum yang membuat Wira seperti orang sakau.
__ADS_1
“Hanin....” ucapannya dilembut-lembutkan, “Kalau aku boleh tau, kiranya parfum apa yang kau pakai ini?”
Hanin mendesah, seumur-umur dia baru menemukan pelanggan segila manusia kribo bertubuh kurus kerontang semacam yang dihadapinya hari ini.
“Obsession!” jawabnya ketus, “Kenapa, kau mau beli, tidak?”
“Oi janganla kau galak-galak, nanti cantikmu itu lenyap tersesap amarah.”
“Maaf tuan pelanggan yang terhormat, sekiranya bapak tidak ada niat untuk membeli... saya mohon dengan sangat, agar tuan pergi saja dari sini!”
Aku cekikikan melihat kelakuan mereka. Dari sisi ini, aku bisa mendengar jelas percakapan mereka.
“Sungguh, aku tak niat untuk mengganggumu wahai adinda Hanin yang jelita... jika benar parfum yang kau gunakan itu adalah obsession, maka, berilah kakandamu ini dua! Yang satu untukku, yang satunya lagi, kuikhlaskan untukmu!”
“Tak Perlu!” Hanin langsung memasukkan satu botol parfum yang diinginkan Wira ke dalam paper bag. Tentunya dengan cara yang kasar. Kuduga ia sedang menyumpah-nyumpahi Wira dalam hati.
“Ini! dua puluh lima ribu!” Hanin menyerahkan benda itu dengan cara yang sangat, sangat tidak lembut untuk ukuran seorang gadis cantik sepertinya.
“Terimakasih, wahai adinda Hanin yang cantik jelita!” Wira benar-benar hilang kewarasannya, sejak tadi Bang Akiat memanggil-manggilnya, ia tidak peduli.
Terpaksa aku harus turun tangan menyadarkannya, kuhantamkan satu tamparan ke kepalanya, “Woy, Kawan, mau sampai kapan kau di sini? Tak perlulah kau beli semua isi toko ini!”
Wira mendesis, menggaruk-garuk kepalanya, “Ada apa, kau ini, Uti?”
“Ada apa... ada apa... kau tak lihat, Bang Akiat sudah mau berangkat! Mau kau ditinggal di sini?”
Alhamdulillah, akhirnya kawanku itu sadar juga akhirnya. Sebelum beranjak, dilambaikannya tangannya ke arah Hanin, genit, aku jijik melihat tingkahnya.
Di sinilah kami berada, berdiri canggung menatap wajah seorang Kawan yang akan meninggalkan kami menuju pulau perantauan bernama Kalimantan. Di antara hingar-bingar para buruh kapal dan penumpang, disaksikan Ama, Ina, dan adiknya, Melodi memeluk aku dan Wira bergantian dengan mata berkaca-kaca. Tertusuk hatiku rasanya. Pedih mendalam.
“Semoga waktu masih memberi kesempatan untuk kita bertemu lagi suatu hari nanti, Kawan!” ucap Melodi lirih. Kulihat tangannya bergetar, wajahnya pias dan basah. Berat ia menghadapi perpisahan ini.
Ngilu hatiku membayangkan puzzle-puzzle kisah yang pernah kami ukir bersama. Kawanku itu, gadis bermata sayu itu adalah malaikat yang selalu berdiri di sampingku di saat susah dan senang. Kuingat bagaimana Melodi memperlakukan Amaku hari itu seperti orangtuanya sendiri. Amboiii.
Wira sejak tadi diam. Terlepas dari obsesinya tentang Hanin dan parfum barunya, kali ini ia benar-benar larut dalam sedih. Mungkin tak pernah ia sangka sebuah perpisahan akan seberat ini.
Bang Akiat dan Bang Santo yang ikut menyaksikan drama itu, ikut tercubit hatinya, mereka menunduk, tak sanggup menatap lebih jauh lagi kegetiran perpisahan antara tiga orang anak yang telah lama bersama itu.
“Selamat jalan, Kawan, semoga kau sukses di seberang sana!” kupeluk Melodi kuat-kuat
“Jika nanti kita bertemu lagi, akan kugendong kau seperti malam itu!” aku mencoba melucu, tapi tak berhasil. Semua itu malah menambah getir hati kami.
Wira maju, dipeluknya melodi sekuat aku memeluk tadi, “Suatu hari, saat aku dan Nadir punya cukup uang, akan kami temui kau di Kalimantan sana!” ucap Wira. Siapa yang menduga, perkataan itu akan dibuktikannya nanti.
“Akan kutunggu kalian di sana!” ucap Melodi lirih, “Jangan lupa dengan cita-cita kita,. jangan lupa itu, Kawan!” Melodi mengingatkan.
Berputarlah dalam benakku suatu sore di ladang jagung. Saat itu, setelah menyantap jagung bakar bikinan Melodi, Wira berdiri di atas pohon kayu yang rebah, di tatapnya langit begitu tajam, kemudian disabdakannya sesuatu yang membakar semangat kami.
“Seperti Kak Cantika, suatu hari aku akan menuntut ilmu sampai ke Ibokota Jakarta!”
Bisa kami rasakan dalamnya kalimat yang diucapkan Wira, sehingga aku dan Melodi sore itu tertarik ke dalam mimpi-mimpi Wira.
“Suatu hari nanti aku akan menjadi insinyur, sesuai harapan Amaku!” kuacungkan tinjuku ke udara penuh semangat.
“Aku ingin menjadi dokter!” teriakan Melodi menggema sampai ke langit.
Tapi, semua itu hanyalah mimpi, asa yang belum tentu menjadi kenyataan. Sedangkan hari ini, kami dihadapkan pada pedihnya realitas. Dengan perasaan penuh haru, dengan mata yang bekaca-kaca, aku dan Wira melepas kepergian Melodi sekeluarga langkah demi langkah.
“Selamat jalan, Kawan!” aku dan Wira melambai-lambai kepada Melodi yang menatap kami dari atas dek kapal.
“Ku tunggu kalian!” Melodi berteriak.
“Jangan lupa mengirim surat untuk kami!” aku membalas.
Kami terus berteriak-teriak sampai akhirnya kapal itu bergerak menjauhi dermaga pelabuhan kota. Pelan-pelan menciptakan jarak yang tak memberi kesempatan sedikitpun bagi teriakan kami untuk terdengar satu sama lain. Hanya lambaian. Ya, hanya lambaian tangan yang bisa mengantarkan kami pada sebuah kesadaran, bahwa; sewaktu-waktu jarak dapat menjadi partisi yang membuat dada ini sesak tak tertahan.
Bertolak dari momen-momen perpisahan kami dengan Melodi, sepanjang jalan aku dan Wira tak saling bicara. Bahkan untuk merasakan pusing karena mabuk darat pun aku tidak lagi. Kami terlalu sibuk pada kisah-kisah klasik yang pernah ada antara kami dan Melodi. Tak ada yang lain. Bahkan Wira yang sebelumnya sangat terobsesi oleh Hanin, anak gadis ko A Kiong yang jelita itu, tidak lagi memedulikan paper bag berisi parfum obsession-nya. Atensi kami tertarik sepenuhnya pada Kawan kami yang sedang dalam perjalanan menuju Kalimantan.
Ketika kami sampai di Desa pun, aku dan Wira tidak lagi bersemangat untuk saling berbicara, kami hanya mengucapkan kata; sampai ketemu besok, Kawan! Saat kami berpisah di halaman rumah Pak Kades.
jangan lupa ninggalin jejak, kritik dan saran dari readers sangat membantu author...😁🙏
Notes :
__ADS_1
Catatan Kaki ada di Episode pertama