
Ini jalanku, aku yakin ini benar untukku dan untukmu.
Awan menatap Binar sambil mengusap lembut rambutnya, sekarang tangan Awan beralih menggenggam jemari Binar, Agam melihat aksi Awan, begitu juga dengan Friska.
Friska melihatnya tidak suka, "Offside, anda melewati batas, silahkan keluar."
"What? "
Friska menarik Agam dan Awan keluar dari ruangan itu, Agam yang belum sempat membuat adegan dramatis dengan Binar merasa kecewa.
*
"Tante tambah semenit lagi dong tante," mohon Agam berusaha masuk kedalam ruangan Binar.
"Tidak." Friska menahan Agam.
"Plis tante, semenittt aja, yayayaya." mohon Agam lagi, Awan yang berada dibelakang Agam hanya melihat Agam dengan tatapan malas.
"Saya bilang tidak, yah tidak! " teriak Friska membuat Agam menciutkan nyalinya.
Agam berjalan mundur mendekati Awan lalu menyenggol lengan Awan, "Bantuin gue dong Wan," bisik Agam pada Awan.
"Lo mau kenak sembur lagi? kalau mau lo aja sana, gue enggak." tolak Awan mentah mentah.
"Lo yah, lo gak kau liat Binar lagi apa?" bisik Agam lagi.
"Gue bisa liat dia tanpa mohon mohon gini." jawab Awan santai.
"Gimana? "
Friska yang melihat Agam dan Awan yang sedang berbisik bisik mengerutkan keningnya, "Udah bisik bisiknya, kalau udah, pergi sekarang!" suruh Friska.
Agam menatap Awan sejenak, "Kami permisi yah tante, makasih buat satu menit dikurang tiga puluh detiknya." ucap Agam menyalami Friska lalu menarik Awan pergi dari sana.
"Permisi tante." ucap Awan Ketika Agam mulai menarik tangan.
Agam membawa Awan keluar dari rumah sakit, sekarang mereka masih bergandengan tangan, banyak sorotan mata yang melihat mereka sambil berbisik bisik.
Awan melihat tangannya digenggam oleh Agam berdesis pelan, "Gue tau gue ganteng, tapi jangan naksir juga dong lo." ucap Awan santai.
Agam langsung melihat kearah tangannya sambil membulatkan matanya, "Dihh, najiss." seru Agam.
"Gue yang seharusnya najis." balas Awan.
Agam menepuk nepukan tangannya layakannya membersihkan tangannya karena telah menggenggam tangan Awan.
__ADS_1
Awan yang melihatnya berdecak, kemudian beralih meninggalkan Agam berdiri disana.
"Lo mau kemana? " tanya Agam melihat Awan yang pergi meninggalkannya.
"Jauh jauh dari manusia kayak lo."
Awan masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit sana, sebelum itu Awan menghidupkan bunyi klakson mobilnya membuat Agam terkejut.
"Santai dong," ucap Agam kesal.
Sekarang Awan pergi meninggalkan Agam berdiri disana. Agam masih berdiri diam tak tau mau berbuat apa.
"Gue ngapain yah kira kira? " Agam mulai berfikir.
Kemudian ia menjentikan jarinya, "Aha, gue jadi kang parkir aja kali yah, lumayan dapat duit." ucap Agam asal.
Kemudian ia berjalan kearah abang abang tukang parkir dan berbincang sebentar, kemudian abang abang tukang parkir itu mengangguk dan memberikan peluitnya pada Agam.
"Akhirnya aku menemukan bakat terpendamku. " seru Agam membuat abang tukang parkir yang ada disebelahnya geleng geleng kepala.
Agam membunyikan peluitnya sekali kemudian mengembalikannya kepada abang penjaga parkir itu.
"Arigatou bang, berkat abang saya menemukan bakat saya, meniup peluit ini," ujar Agam, Abang tukang parkir itu menahan tawanya.
"Sekali lagi arigatou bang." ucap Agam.
Awan memberhentikan mobilnya didepan toko bunga, ia turun dari mobil miliknya kemudian masuk ke dalam toko bunga itu.
Awan melihat beberapa macam bunga yang indah, ada berbagai macam bunga warna warni disana, tapi sayangnya Awan tak mengetahui nama namanya, dia hanya tahu bunga mawar, anggrek dan melati saja itu pun karena ibunya menanamnya dipekarangan rumahnya, jika tidak mungkin Awan tidak akan mengetahuinya sama sekali.
Awan memilih beberapa bunga yang menurutnya indah kemudian dia memanggil penjaga toko bunga itu untuk membentuk bunga tersebut.
"Mbak permisi, ini bunganya bisa dirangkaikan? " tanya Awan.
"Bisa mas."
"Baikalah, ini rangkai sebagus mungkin." ucap Awan sambil memberikan bunga yang ia pilih tadi.
Penjaga toko bunga itu mengambilnya lalu merangkainya menjadi tumpukan bunga indah, Awan yang tak terlalu suka dengan bunga saja terpesona melihatnya bagaimana dengan Binar nantinya.
Setelah penjaga toko itu selesai merangkai bunganya, Awan memberikan uang kertas satu lembar bernominal seratus ribu lalu kemudian pergi dari toko itu.
"Terimakasih mbak." ucap Awan dianggukin oleh penjaga toko tersebut.
Awan keluar dari toko bunga itu dengan senyum semerka sambil menghirup wanginya rangakaian bunga ditanganya.
__ADS_1
"Binar pasti suka sama bunga ini," lirih Awan kemudian membuka pintu mobilnya, tapi aksinya ditahan oleh Reygan yang tiba tiba datang dari belakangnya.
"Lo mau kemana? " ucap Reygan, Awan yang mendengar suara itu langsung menoleh kebelakang, ia mendapati Reygan dan dengan beberapa orang dibelakangnya. Reygan membawa pasukannya, mungkin sekitar 7 orang sedang berdiri dibelakang Reygan.
Awan membuka pintu mobilnya kemudian memasukan rangakaian bunga indah itu supaya tidak hancur nantinya. Kemudian Awan menatap kearah Reygan lalu tertawa pelan.
"Lo bawak pasukan?" tanya Awan masih dengan tawanya.
"Selemah itu kah engkau? " ucap Awan kemudian menetralkan wajahnya datar.
Reygan yang tidak teriama dikatakan lemah langsung mendorong Awan, tapi kaki Awan masih sangat kuat menopang dirinya untuk tetap berdiri tegak.
Awan mulai tertawa lagi dan menatap Reygan dengan remeh, "Gue gak nyangka, lo selemah ini, sampai bawak pasukan gini." ujar Awan.
"Berisik b*****t, " Reygan mulai melontarkan pukulannya, tapi pukulannya masih bisa ditahan oleh Awan.
"Lemah." ucap Awan lalu melayangkan satu pukulan keras ke pipi Reygan, hal itu membuat Reygan jatuh ambruk.
Teman temannya yang berada dibelakang melihat Reygan ambruk langsung menyerang Awan begitu saja. Awan tidak takut, ia melawan mereka tanpa basa basi.
Awan berhasil menjatuhkan beberapa lawannya, tapi sesekali Awan mendapat pukulan dibagian perut dan rahangnya, hal itu membuat Awan hampir ambruk juga.
Awan berdiri disamping mobilnya, tendangan demi tendangan ia tangkis dengan tangannya.
Hingga akhirnya dua puluh menit Awan berkelahi dengan mereka, semua lawannya jatuh ambruk, termasuk dengan Reygan.
Awan tertawa kecil melihat mereka semua yang jatuh dihadapannya, "Segini doang kemampuan lo? " sinis Awan.
"Lemah." sambungnya kemudian dia berjalan masuk kedalam mobil dan pergi dari sana meninggalkan Reygan dan pasukan nya yang tengah terkapar.
"Awas lo Awan." geram Reygan sambil mengepalkan tangannya.
*
Awan mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, lebam di bibirnya tak menghambat bibirnya untuk terus tersenyum.
Awan menoleh kearah rangkaian bunga yang ada disebelahnya kemudian tersenyum senang, "Gue harap lo senang sama bunga ini dan lo cepat sadar." ujar Awan lalu kembali menatap kearah depan mengemudikan mobilnya dengan cepat.
Saat dirumah sakit, Awan berhenti sejenak di toilet, sekedar untuk membersihkan luka dan debu yang menempel di badan dan baju.
Awan membasu wajahnya lalu melihat dirinya di cermin, "Gue gak tau kenapa gue berbuat seperti ini, tapi gue rasa, ini benar." gumam Awan.
Setelah membersihkan dirinya dari debu, Awan bergegas berjalan dengan cepat keruangan Binar.
Sebelum masuk Awan mengintip terlebih dahulu kedalam ruangan Binar, memastikan Friska tidak ada disana.
__ADS_1
Saat Awan melihat tak ada satu pun orang yang berjaga disana, Awan menghembuskan nafas legah, lalu ia masuk kedalam ruangan Binar dengan rangkaian bunga ditanganya, "Syukur nyokap lo gak ada Nar, kalau ada layu ni semua bunganya karna takut liat nyokap lo." ucap Awan lalu tertawa kecil.