
Ikuti kata hatimu, disitu jawaban yang kau cari
Binar memasukan buku buku yang masih tersisa di atas meja kedalam tasnya, jam pulang kali ini akan sangat melelahkan karena dia harus beres beres untuk pergi besok.
"Lo beli barang barang yang lo mau bawak besok? atau cuman pergi dengan seadanya aja? " tanya Juni yang berdiri disebelah Binar menunggunya.
"Gue bawa nyawa sama nafas doang udah cukup," jawab Binar
"Gak nyambung beneran."
Binar tertawa kecil, setelah ia selesai memasukan buku bukunya dia segera mengendong tasnya dan mengajak Juni keluar dari kelas.
"Lo mau belanja?" tanya Binar, Juni mengangguk cepat.
"Iya, banyak yang harus gue beli. Gue pengen beli cemilan juga buat disana nanti,"
"Lo mau belanja sama siapa? " tanya Binar.
Juni menghentikan langkahnya membuat Binar juga berhenti, Juni menyengir pada Binar membuat Binar bergedik ngeri.
"Sama lo, temanin gue belanja yah." ucap Juni penuh mohon, matanya memancarkan cahaya.
"Harus gue? "
Juni mengangguk, kedua tangannya tergepal di depan.
"Tapi gue mau beres beres," jawab Binar membuat Juni kecewa, wajahnya tampak lesu.
"Yaudah deh," ujar Juni melas.
"Mending lo sama bokap lo aja, kan paling enak tuh bisa beli apa aja." saran Binar, Juni menaikan satu alisnya lalu tersenyum, "Bener juga lo, yaudah gue sama bokap gue. Kalau gitu gue duluan dulu, dahhhh." Juni langsung pergi begitu saja meninggalkan Binar.
Binar tersenyum kecil melihat Juni, betapa bahagia jika dia masih memiliki seorang Ayah yang sayang padanya.
Setelah itu Juni kembali melangkahkan kakinya, tapi tiba tiba kakinya berhenti berjalan karena melihat seseorang berdiri tepat didepan Binar. Binar tidak sengaja menabrak seseorang itu.
"Sorry," lirih Binar lalu mendongak keatas, "Arkan, lo ngapain? " tanya Binar.
"Nungguin lo, mau ngajak lo balik bareng gue." Arkan tersenyum pada Binar.
Arkan itu baik, sangat baik pada Binar, mungkin Arkan berbuat baik pada Binar karena dia menyukai Binar.
"Gue pulang sendiri aja Ar," ujar Binar pelan.
"Yah, tapi gue udah nungguin lo, mau yah." Arkan mencoba memohon pada Binar, tatapan mata Arkan membuat Binar luluh.
"Yaudah gu-"
"Binar balik bareng gue." tiba tiba seseorang datang menarik tangan Binar dari sana. Binar sontak kaget ketika ada tangannya di tarik tiba tiba.
"Awan," lirih Binar ketika melihat seseorang itu.
Awan hanya diam dan terus melangkahkan kakinya.
"Woi, Binar balik sama gua, lo ngapain narik narik." teriak Arkan dari belakang.
Awan memberhentikan langkahnya lalu berbalik menatap jengkel Arkan.
"Lo siapanya? " tanya Awan datar.
Arkan diam sejenak, "Yah gue temannya, emang kenapa?"
"Gue pacarnya."
__ADS_1
Ucapan Awan membuat Arkan terbelalak kaget, begitu juga dengan Binar, ia juga terkejut mendengar ucapan Awan, sejak kapan mereka berpacaran?
"Ka, kalian pacaran? " lirih Arkan gagap.
"Bentar lagi." jawab Awan lalu membalikan badannya dan membawa Binar pergi dari sana meninggalkan Arkan.
Arkan masih terdiam tak percaya, seorang Awan yang berandal dan sangat dingin pada wanita jatuh cinta dengan Binar? sangat sangat mengherankan.
Awan terus berjalan membawa Binar sampai keparkiran, sedangkan Binar yang di bawa oleh Awan nurut begitu saja tak menolak. Pikirannya hanya dipenuhi dengan kata kata Awan yang mengatakan dirinya pacarnya.
"Masuk!" suruh Awan ketika sudah sampai di parkiran, Awan membuka pintu mobil miliknya.
Binar masuk kedalam mobil menuruti perintah dari Awan, setelah itu Awan menutup pintu mobilnya dan ikut masuk kedalam mobilnya.
Awan membawa Binar pergi dari area sekolah. Sepanjang perjalanan Binar hanya terdiam tak bersuara, matanya menatap kearah luar kaca mobil.
Awan yang sedang mengemudi menoleh kearah Binar, "Kenapa? " ucap Awan.
Binar langsung tersigap dan menoleh, "Kenapa apa? "
"Kenapa diam?" ucap Awan menoleh sebentar kearah Binar.
Binar merasa canggung jadinya, "Ehm gue cuman mikirin ucapan lo tadi." jujur Binar.
"Ooh." Awan mengemudikan mobilnya dengan wajah datar.
"Kenapa?" tanya Binar seperti yang dilakukan Awan tadi.
"Apanya? "
"Kenapa lo bilang kalau gue pacar lo? "
ucapan Binar membuat Awan memberhentikan laju mobilnya, Binar sedikit takut, apa Awan akan marah?
Binar menggeleng, "Iya salah, lo kan bukan pacar gue." jujur Binar lagi.
"Kalau gitu terima gue jadi pacar lo,"
Depp
Lagi lagi Binar terdiam dengan ungkapan Awan terang terangan seperti ini.
"Gue gak bisa." ucap Binar.
"Kenapa?"
"Karna lo gak yakin kalau perasaan lo itu rasa suka atau hal lain."
Sekarang Awan yang terdiam dibuat Binar.
Binar benar, bahkan sampai sekarang dirinya tidak tau tentang perasaannya.
Awan menatap Binar lekat lekat, Binar memberanikan diri menatap Awan.
Tatapan Awan semakin dalam untuk Binar, wajahnya semakin didekatkan.
Sampai akhirnya jarak tinggal satu cm.
Awan menatap Biar dengan jarak yang sangat dekat, dan Binar masih tetap membuka matanya, hatinya memberanikan dirinya.
"Kenapa gak merem? " lirih Awan.
"Karna gue gak mau kegeeran."
__ADS_1
Awan terbungkam, sedikit perasaan merasa pedih.
Awan masih menatap Binar beberapa detik sebelum wajahnya kembali ia jauhkan.
"Bantu gue cari tau perasaan gue ini," lirih Awan.
"Lo bisa cari tau sendiri pakai hati lo."
Awan tersenyum kecil, kemudian wajahnya ia jauhkan dari wajahnya Binar.
Setelah itu ia kembali mengemudikan mobilnya.
Awan membawa Binar pergi ke mall, ia tidak mengantar Binar pulang.
"Kita kenapa kesini? " tanya Binar heran karena sekarang mobil mereka terparkir di parkiran mall besar di Jakarta.
"Ikut aja."
"Tapi gue harus beres beres buat besok,"
Awan menatap tajam Binar, nyali Binar seketika menciut.
"Ayo keluar." ucap Awan membuka sabuk pengaman lalu keluar dari mobil.
Binar menyusul Awan.
"Gue gak pengen belanja," ujar Binar.
"Gue gak nyuruh lo belanja."
Binar terdiam, "Ayo." Awan memegang tangan Binar dengan lembut lalu membawa Binar masuk kedalam mall itu.
Sepanjang perjalanan Binar hanya menatap tanganya yang digenggam oleh Awan, sangat hangat genggaman Awan. Jantung Binar berdegup cepat, Binar menyukai Awan, tapi dirinya tak ingin kepedean, dia harus tau terlebih dahulu perasaan Awan sesungguhnya pada dirinya.
"Kita makan dulu baru belanja." Awan membawa Binar ke Burger King disana.
"Kita mau belanja apa emang? " tanya Binar sambil mengikuti langkah Awan.
"Entah, kuta beli apa aja, yang penting waktu kita berdua lebih lama."
Deppp
Lagi lgi Binar terbungkam di buat Awan, sejak kapan Awan mulai pintar merangkai kata kata gombalan seperti ini?
Awan mengambil tempat kosong di sana, lalu ia memesan makanan.
"Burgernya dua gak pake keju." pesan Awan sambil melirik kearah Binar, Binar salah tingkah.
Pelayan itu mencatat pesanannya, "Minumnya? "
"Tanya dia saja mbak," Awan menunjuk kearah Binar, Pelayan itu melihat kearah Binar.
"Kok gue? " lirih Binar pelan, Awan hanya tersenyum kecil.
"Hmm minumannya terserah embak aja, yang penting enak dan halal." ujar Binar, Pelayan itu tersenyum, "Baiklah, silihkan tunggu beberapa menit, terimakasih." kemudian pelayan itu pergi.
"Kok lo mesan minuman kayak gitu, kalau lo gak suka gimana? " ujar Awan.
"Gue gak tau menunya, kalau minumannya gak enak, kan masih ada air putih." ujar Binar.
Awan tersenyum kecil, dalam pikirannya mengatakan bahwa Binar bukanlah anak yang suka jalan jalan keluar atau pergi ke mall.
Binar masih terlalu polos.
__ADS_1