NADIR

NADIR
Nadir ~ Kenak Tipu


__ADS_3

Aku berusaha merasakan keperihanmu, jika rasanya sakit sekali, aku tidak perduli sama sekali.


Binar mengemas barang barang yang akan di bawanya besok, mulai dari baju, alat perlengkapan buat wanita dan alat mandi serta sedikit camilan.


Binar memasukan semuanya kedalam tas besarnya, dan ternyata tasnya bisa menampung semua barang barang milik Binar.


Setelah membereskan barang barangnya, Binar pun mulai istirahat. Binar merebahkan badannya di atas kasur empuk miliknya, matanya memandang langit langit kamarnya, berharap besok akan menjadi hari menyenangkan.


Binar meraih ponselnya, melihat beberapa notifikasi yang tertera di aplikasi whatsappnya, Binar mengecek satu persatu tapi tidak membalas, Binar hanya membalas hal yang penting saja.


Binar melihat ada pesan dari Biru, Binar membukanya.


Biru


Nar besok bareng gue yah duduknya


Biru


Gue gak ada teman, gak mungkinkan gue sama Awan


Binar membacanya sambil menaikkan satu alisnya, dirinya juga tidak mau jika Awan duduk dengan Biru, perasaannya terlalu jujur.


Lalu setelah membaca pesan dari Biru, Binar mulai mengirim pesan balasan.


Binar


Iya, nanti gue sama lo


Binar


Tapi bawa camilan banyak banyak okee, gue gampang laparan soalnya


Binar tertawa kecil ketika mengirin pesan itu, setelah itu Binar kembali mengecek pesan pesan lainnya dan ternyata Juni juga mengirim pesan padanya


Juni


Nar besok duduk bareng yah, oke sip


Binar membacanya sambil membulatkan mata.


Bagaimana ini? Padahal Binar baru saja mengiyakan ajakan Biru. Apa Binar harus menolak ajakan Biru lalu duduk dengan Juni? Binar mulai bingung, Binar takut jika Juni nanti marah padanya.


Akhirnya Binar memutuskan untuk menarik kembali pesan yang dikirim pada Biru, tapi saat Binar hendak menghapus pesan untuk Biru, tiba tiba Biru aktif dan membaca pesan Binar.


Jari Binar langsung kaku ketika melihat tulisan, Biru sedang mengetik.


Binar menelan ludahnya dalam dalam.

__ADS_1


Biru


Oke Binar makasih, unchhhhh<3


Binar membaca pesan Biru, bagaimana ini? Biru sudah membaca pesannya, apa dirinya harus menolak ajakan Juni? Tapi jika Juni marah bagaimana?


Binar terdiam lalu mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yaudahlah, demi Juni." ucap Binar.


Binar langsung mengirim pesan pada Biru.


Binar


Sorry yah ru, gue udah bareng Juni


Lo cari yang lain aja


Binar mengirim pesan itu dengan hati berani, demi Juni.


Belum lewat satu menit, Biru sudah membalas pesan Binar.


Biru


Tapi tadi katanya mau:(


Binar


Setelah mengirim pesan pada Biru, Binar langsung membalas pesan untuk Juni bahwa dirinya mau duduk bareng sama Juni.


Setelah mengirim pesan pada Juni, Binar langsung mematikan ponselnya, Binar tak ingin melihat balasan pesan dari Biru, bisa bisa nanti dia jadi berubah pikiran.


Binar langsung meletakan ponselnya di meja sebelah kamarnya, setelah itu Binar mencoba untuk tertidur walaupun dirinya belum mengantuk.


Binar mencoba memejamkan matanya yang terus terbuka, tapi sangat sulit sekali, Binar melihat kearah jam dinding di kamarnya, ternyata baru pukul 07:15, pantas saja.


*****


Binar buru buru mandi dan bersiap, sepertinya Binar bangun sedikit kesiangan, mungkin karena tadi malam Binar tidur terlalu larut, jam dindingnya selalu menunjuk pukul 07:15 dan tak pernah bergerak, ternyata jam dinding Binar sudah kehabisan baterai hingga akhirnya Binar semalam tidur pukul 01:30.


Binar bersiap siap seadanya saja, karena tadi malam dia sudah membereskan barang yang akan dibawanya besok, sekarang Binar tinggal beres beres untuk penampilannya, Binar memakai hodie abu abu dan celana jeans dan sepatu abu abu juga. Penampilan Binar cukup sederhana tapi menawan.


Binar segera turun dari kamarnya, menggendong tas yang cukup berat hingga sampai didepan rumahnya. Ternyata bus sekolah sudah menunggu Binar sejak 5 menit yang lalu.


Binar segera masuk kedalam bus itu, Binar melihat kesemua arah, Binar pikir tinggal dirinya tadi belum hadir.


Binar kemudian mencari tempat duduk Juni, tapi apa yang ia lihat, Juni sudah duduk bersama orang lain, bersama Rere.

__ADS_1


"Sorry Nar, lo lama banget datangnya," ucap Juni, Binar hanya membalasnya dengan senyuman lalu mengangguk pelan.


"Yauda gak papa, gue cari tempat lain aja."


"Tapi kalau lo kau duduk disini gak papa, biar gue usir ni si Rere." ucap Juni.


"Apa sih, gak ada tempat lagi tau." ucap Rere tidak terima.


"Udah gak papa kok Jun, gue cari tempat yang lain aja."


Setelah itu Binar berjalan kearah depan mencari tempat duduk yang kosong, dan hasilnya nihil. Tak ada satu pun yang kosong, bahkan tempat duduk disebelah Biru pun sudah terisi, Biru duduk bersama Awan.


Karena tidak ada tempat lagi, akhirnya Binar memilih meminta tempat duduk kecil kepada guru, dan guru pun memberikan kursi kayu kecil yang tersedia di bus itu, setidaknya ada tempat yang bisa Binar duduki.


Binar meletakan tasnya yang sudah membuat


kedua bahunya pegal pegal. Setelah itu Binar duduk di kursi kecil itu, badan Binar ingin bersandar kebelakang, tapi apa daya, tak ada sandaran di belakang kursi itu, mau tidak mau Binar harus bisa duduk dengan tegak.


Perjalan berlangsung cukup lama, sudah satu jam lebih mereka di dalam mobil. Saat tadi belum sampai satu jam didalam mobil mereka asik bernyanyi dan tertawa, tapi sekarang berbeda, mereka semua senyap layaknya ponsel lowbet. Mereka semua tertidur lelap, Binar juga yang merasa sudah ngantuk mulai memejamkan matanya, tapi sesekali ia tersentak hampir jatuh karena tak ada penahan kepalanya untuk tidur.


Binar berusaha membuka matanya lebar lebar, tanganya memegangi kelopak matanya agar tidak terpejam, tapi apa yang dilakukan Binar sia sia, matanya malah tambah mengantuk.


"Awan, biar gue aja disitu." Binar mendengar suara seseorang dari belakangnya, Binar langsung menoleh, ternyata Arkan dan what Awan juga ada dibelakang Arkan.


Binar terdiam menatap Arkan lalu beralih kearah Awan, Arkan yang melihat tatapan Binar tak kearahnya menoleh kebelakang, Arkan melihat Awan.


Arkan tersenyum kecil, "Lo ngapain? mau nawarin ke Binar juga biar lo duduk disitu? " ucap Arkan, Awan hanya diam tak menjawab Arkan. Awan mencoba menahan emosinya untuk tidak memukul orang yang ada dihadapannya ini.


"Yauda, lo yang duduk disitu," ucap Arkan mengalah.


"Nar, biarin Awan duduk disitu." ucap Arkan tersenyum pada Binar. Binar sedikit gugup, dia ragu untuk berdiri.


"Udah gak papa, Awan yang mau kok." ujar Arkan.


Binar menatap kearah Awan dan Awan mengangguk, akhirnya Binar berdiri dan membiarkan Awan yang duduk disana.


Awan melewati Arkan dan berhadapan dengan Binar, "Lo duduk di tempat gue." bisik Awan pada Binar.


"Iy-"


"Eitsss, Binar duduk bareng gue, ayo Nar." Arkan menarik tangan Binar mengajaknya duduk disebelahnya, Arkan mengusir orang yang duduk disebelahnya tadi dan menyuruhnya untuk duduk disebelah Biru. Setelah itu Binar dipersilakan untuk duduk, Binar menatap kearah Awan, terlihat wajah Awan memerah, Awan menahan emosinya.


Binar menggeleng pelan pada Awan agar Awan menahan emosinya.


Awan berusaha meredahkan amarahnya, dia tidak boleh marah, ini perjalanan yang akan menyenangkan, Awan tak boleh merubahnya menjadi perjalanan dan ucapan selamat tinggak buat Arkan.


Awan mengelus dadanya, lalu menghirup udara dalam dalam lalu ia hembuskan. Setelah itu Awan duduk dikursi kecil itu menggantikan Binar, walaupun Awan tak bisa duduk dengan Binar setidaknya Awan bisa menggantikan posisi tragis Binar.

__ADS_1


Setelah itu Awan berusaha untuk melihat lurus kedepan kearah jalan, bus berjalan sampai dua jam. Bus yang mereka naiki ini berisi anak kelas XI IPA sebagiannya, jadi jangan heran kalau Arkan bersama mereka. Arkan sengaja memilih mobil yang isinya kebanyakan anak XI IPA 4 karena Arkan tau, Binar akan berada di mobil itu.


__ADS_2