NADIR

NADIR
Nadir ~ Bercerita


__ADS_3

Aku akan selalu bersamamu apapun resikonya


Awan menopang badan Binar, membantunya berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Awan membawa Binar keatas rooftop sekolah. Tempat itu memang terlarang, tapi menurut Awan tempat itu sangat aman dan nyaman untuk kondisi Binar sekarang.


Awan mengambil tempat yang tidak terkena cahaya matahari dan mendudukan Binar disana.


Wajah Binar masih terlihat shock, tangannya masih gemetaran. Awan terus mendekap Binar di tubuh besarnya.


Binar masih mengingat ucapan ucapan yang di dengarnya tadi, bahkan saat mereka sedang berjalan kearah rooftop, banyak orang yang berbisik bisik hal yang menyakitkan hatinya.


Binar melepaskan dekapan Awan membuat Awan heran, Binar meraih ponselnya dari saku bajunya lalu membuka sosial media. Mata Binar sangat perih sekali, hatinya ikut sakit ketika melihat berita mengenai mamanya yang sudah tersebar.


Binar juga membuka grup kelas dan disana mereka membicarakan dirinya, Binar meneguk ludahnya dalam dalam. Awan yang tidak ingin melihat Binar tambah sakit hati langsung merampas ponsel Binar dan mematikannya.


"Lo jangan terbawa omongan mereka, jangan pikirkan." bisik Awan menatap Binar penuh dengan kesedihan. Awan tidak bisa merasakan sedihnya Binar, tapi Awan dapat tau bahwa Binar sekarang dalam keadaan terpuruk.


Binar menghela nafas pelan lalu melirik Awan, "Kalau yang dibilang sama mereka ternyata benar, gimana? " lirih Binar, ucapan binar diluar dugaan Awan.


Awan membulatkan matanya kaget.


"Lo kok ngomong gitu?" ucap Awan.


"Kalau Binar cerita tentang kehidupan Binar, apa Awan bakalan tetap sayang sama Binar?" tanya Binar.


Awan terdiam, dia tidak paham maksud dari perkataan Binar.


"Kalau ternyata Binar adalah anak yang paling menyedihkan, apa Awan masih mau pacaran sama Binar?" sambung Binar lagi.


"Lo kok ngomong gitu sih Nar, jangan dipikirin omongan mereka."


"Jawab Binar Awan." Awan menggenggam tangan Binar kuat, dengan keyakinan dan perasaannya, Awan yakin takan pergi.


"Iya, gue bakalan tetap disamping lo, Binar." ucap Awan mengelus lembut rambut Binar.


Bibir Binar tersenyum kecil, akhirnya dia bisa bercerita.


"Lo tau kenapa gue pindah sekolah?"


"Jangan pake lo gue, pake nama aja." ucap Awan meralat.


Binar mengulang ucapannya, "Awan tau kenapa Binar pindah sekolah?"


Awan menggeleng pelan, "Emang kenapa?"


"Karna dulu Binar di usir sama teman teman Binar dari sekolah itu," Binar tersenyum miris, dirinya memahami bahwa dirinya sangat menyedihkan.


Awan yang mendengarnya langsung mengeritkan dahinya, "Kenapa diusir? kok bisa?" tanya Awan heran.


"Kata mereka Binar anak pungut." Binar mulai menundukan kepalanya.


"Mereka bilang gitu karna mama dan papa Binar gak pernah anggap Binar ada. Binar selalu saja di abaikan, dan terkadang mereka mukul Binar." Binar menahan gumpalan air mata yang tertahan di kelopak matanya yang mungkin sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya.


"Awan tau Reygankan?" Awan mengangguk pelan, "Cowo yang ngejar ngejar lo waktu di toko buku itu? " ucap Awan.


Binar mengangguk, "Masih ingat cerita yang Binar bilang ke Awan dulukan?"

__ADS_1


Awan mengerutkan dahinya mencoba mengingat, "Apa? kok gue lupa?"


"Yang Binar bilang kalau Reygan sahabat kecil Binar dan dia suka sama Binar tapi Binar tolak, terus dia nyebarin tentang keluarga Binar sampai Binar di buli sama satu sekolah." jelas Binar panjang lebar supaya Awan ingat.


Awan langsung membentuk bibirnya berbetuk O lalu mengangguk, "Oh itu, jelaslah ingat."


"Tadi lupa," sindir Binar.


"Kan tadi sekarang enggak." ucap Awan, Binar berdehem saja.


"Jadi gara dia lo di keluarin dari sekolah?" ucap Awan, Binar mengangguk pelan.


Emosi Awan meluap luap, jika dia bertemu dengan si Reygan Reygan itu, tidak bisa dikatakan bahwa tinju besar Awan tidak melayang kewajah Reygan.


"Tapi sebelumnya Binar juga udah pernah pindah sekolah,"


"Serius? Lo pindah berada kali? "


"Entahlah, Binar juga gak bisa ngitungnya."


"Kenapa bisa pindah pindah gitu? " tanya Awan heran.


"Karna Binar selalu di buli kalau disekolah." ucap Binar, dia mencoba sedikit tersenyum.


Awan sedikit kaget dengan ucapan Binar, mengapa Binar di buli? apa masalah keluarganya serumit itu?


"Lo di buli karna keluarga lo?" tanya Awan pelan,


"Iya."


"Awan mau dengar? "


"Kalau ceritanya tentang lo, gue bakalan dengerin sampai habis."


Binar tersenyum kecil, Binar menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskan. Mungkin ini saatnya Binar harus jujur dengan Awan, toh Awan juga pacarnya.


"Dulu mama sama papa Binar itu adalah teman satu proyek, dan mereka nikah karna mama yang maksa dan mama juga nyangkut pautkan pernikahan mereka sama pekerjaan. Trus akhirnya mama sama papa nikah, papa gak pernah suka sama mama, cuman mama yang suka papa. Terus satu tahun kemudian, Binar lahir. Tapi papa gak mau kalau papa punya anak dari mama. Kata nenek, mama selalu nangis, karna papa bakal ninggalin mama karna Binar lahir. Trus karna mama sayang banget sama papa, mama bilang ke papa kalau Binar jangan di anggap sebagai anaknya, asalkan mereka tetap bersama." Binar menarik nafas lagi, tangan sedikit gemetar, Awan langsung menggenggam tangan Binar.


"Gue disini."


Binar tersenyum, Binar melanjutkan ceritanya.


"Setelah itu akhirnya papa mengalah, dan Binar gak pernah dianggap sebagai anak kandung papa. Tiap hari Binar selalu di pukul sama papa, tiap Binar deket papa, nyapa papa, papa selalu marah. Dan mama, mama acu tidak acu sama Binar. Dulu Binar belum tau apa apa, tapi sekarang Binar udah tau semuanya." ucap Binar menjelaskan dengan penuh isakan.


"Sekarang bokap lo dimana? " tanya Awan ragu.


"Papa uda gak ada, papa kenak serangan jantung waktu papa lagi mukulin Binar. Dan dari situ, mama yang gak pernah mukul Binar jadi pengganti papa, mama bilang kalau Binar itu anak yang gak pernah diinginkan, dan sekarang mama yang gantiin posisi papa sampai sekarang."


Awan tertegun, sehancur inikah kehidupan Binar, "Sampai sekarang? "


Binar mengangguk.


Awan memikirkan sesuatu yang mengganjal, "Jangan bilang lo yang masuk rumah sakit kemarin karna mama lo."


Binar mengangguk pelan.

__ADS_1


Awan tak tahan mendengar penjelasan tentang Binar, Awan terbawa emosi.


"Kenapa lo gak lapor polisi coba? "


"Binar gak mau mama kenapa kenapa, Binar cuman punya mama sekarang. Binar gak punya siapa siapa lagi."


Ucapan Binar membuat dirinya pusing sekali, Binar sangat kuat, dirinya mendapat cobaan sebesar ini dan dia tetap menyayangi orang yang menyakitinya, sangat hebat.


"Terus lo dikeluarin kenapa? "


"Teman teman Binar buli Binar, kata mereka kalau Binar bukan anak papa sama mama, terus Binar marah dan Binar pukul orangnya."


"Terus dikeluarin?"


Binar mengangguk, "Kepalanya bocor Binar buat, Binar marah banget disitu, dan itu juga waktu masa masa SD."


Awan meneguk ludahnya, ternyata Binar juga bisa berantem.


"Terus gimana lagi? " tanya Awan.


"Pas masa SD Binar di buli karna itu, kalau SMP Binar di buli karna mereka bilang mama Binar," Binar menjeda kalimatnya.


"Apa? "


"P*****r."


Deppp


Apa itu kenyataan?


"It-"


"Binar gak tau itu nyata atau enggak, tapi mereka bilang gitu sama Binar. Mereka ngirim foto mama sama pria lain, tapi mama bilang kalau mama gak ada hubungan sama pria itu." ucap Binar memotong kalimat Awan yang Binar sudah tau Awan ingin mengatakan apa.


"Lo percaya? "


Binar mendongak menatap Awan, "Binar percaya, karna Binar tau, walaupun mama udah ditinggal sama papa, mama tetap setia sama papa, Binar percaya dan sangat percaya." tegas Binar.


Binar tidak mau jika mamanya dikatakan yang enggak enggak seperti itu.


Awan menjadi takut ingin bertanya sesuatu lagi, dia takut jika nanti pertanyaanya menyinggung perasaan Binar.


"Jadi gimana? " ujar Awan.


Binar menggeleng pelan, menatap kearah bawah, merasakan kesedihannya.


"Binar gak tau, Binar heran kenapa foto foto seperti itu bisa didapat mereka."


Mereka? Awan mulai menggunakan otaknya untuk berfikir keras, "Dibalik ini semua, pasti ada dalangnya kan? ." guman Awan.


"Awan gak papa? " tanya Binar.


Awan terkesiap lalu menatap Binar tersenyum, tangannya terulur mengelus rambut Binar lembut. Sekarang Awan sudah tau semua tentang Binar, Binar berani terang terangan padanya. Awan menarik tubuh Binar lalu memeluknya, perasaan Binar yang kacau harus bisa ia tenangkan, dan mungkin pelukan dapat meluluhkan perasaannya.


"Gue bakalan tetap didekat lo apapun yang terjadi." lirih Awan, Binar tersenyum senang, pelukannya semakin dieratkannya.

__ADS_1


__ADS_2