
Setengah mati aku menasihati Wira agar tak terpuruk belrarut-lerut oleh nasib cintanya. Hampir mati ia merutuki nasib yang ia terima. Tak putus asaku menyadarkannya. Habis sudah semangatnya. Keputus asaan telah mengisap habis gizi-gizi kewarsannya. Seperti benalu pada inangnya. Ibaratnya, Wira dan Cintanya adalah simbiosis parasitisme. Wira adalah tumbuhan inang yang dirugikan, Cintanya adalah benalu yang tak puas mengisap kehidupannya. Pelan-pelan sampai dia putus asa, dan mati. Haiss... meremang bulu-buluku membayangkan.
Aku tau cinta memang kejam. Dari dulu begitu. Tapi, siapa yang mengira kalau ia bakal sekejam ini. Semenjak ia menerima kenyataan bahwa Hanin telah memiliki kekasih bernama Anandra, Wira menjadi sangat pendiam. Tak hanya itu, dia juga menjadi sangat mudah tersinggung.
Saat perjalanan pulang ke Desa, sekali lagi aku coba meyadarkannya.
“Sudahlah, Kawan, kalau begini terus, Hanin akan menertawakanmu....”
“Jangan kau sebut nama itu lagi!” Wira menyalak. Memotong perkataanku.
Aku diam.
Sampai di Desa, demi rasa syukur yang tinggi atas capaian kami, Amaku dan Ama-Inanya Wira mengadakan acara syukuran. Aku senang. Wira tak hirau. Suah kukatakan semangatnya telah habis. Tandas oleh cinta yang biadab itu.
Beramai-ramai warga mendatangi rumah Wira, tempat pelaksanaan syukuran. Bukan sedikit warga yang menyalami kami, memberi selamat. Aku bangga bukan main. Wira diam tak main-main. Umur-umur hari itu kali pertama kami diperlakukan sangat spesial. Kuingat lagi hari syukuran Kak Cantika saat kembali dari pulau Jawa dengan gelar sarjananya. Seharusnya Wira senang dan bangga, bukannya merundung duka hanya gara-gara cinta.
Berbakul-bakul jagung rebus tertelak di depan kami. Warga riuh menunggu Imam Nurdin selesai merafal doa. Dan saat Imam selesai membacakan surah Al-fatihah. Sudah pasti kami menjawab―
“AMIN!!!”
Mendengar itu, Wira langsung berdiri. Kepada semua orang yang hadir, termasuk Ama-Inanya sendiri, dia membentak.
“Jangan kalian sebut nama itu lagi!”
Oi oi, Kawan, mau sampai kapan penyakit cinta nan kejam ini menghukumnya?
Wira benar-benar telah bertranspormasi menjadi sosok lain. Kawan yang hampir tak kukenal tabiatnya, kecuali rambut ularnya yang tumbuh lebat tak terurus. Tubuhnya semakin kurus. Wajahnya yang jelek itu semakin hancur karena tak terurus. Daki di kulitnya semakin tebal karena berhari-hari tak mau mandi.
Wira menjadi pemurung, berhari-hari ia mengurung diri di kamarnya. Tak mau bersentuhan dengan alam Desa yang dulu sangat dipujanya. Melihat kelakuan Wira ini, anak-anak british menyebutnya, Broken Home.
Mangge Raden dan Ina Siti yang khawatir dengan keadaan putranya itu, bertanya kepadaku saat aku datang menemui Wira di rumahnya. Kuceritakanlah semua kebenarannya kepada mereka. Kukisahkan tragedi cinta Wira terhadap anak gadis Ko A Kiong itu. Basah kelopak mata Ina Siti mendengar kisah itu.
“Oi, malang nian nasibnya si Uti... seperti Tuan Kelana saja kisah cintanya itu kudengar!”
“Iya Ina, malang benar nasib Kawanku itu!” kataku.
“Besar harapan kami, kau bisa membantunya melewati semua ini, Utii!” Ina Siti memegang pundakku, menumpukkan harapannya. Tidak kusangka tragedi cinta Wira bisa se-dramatis ini.
__ADS_1
“Iya, pasti Ina!” kataku.
Tiba-tiba Wira keluar dari kamarnya.
“Jangan kalian sebut nama itu lagi!”
Kami terpukau dibuatnya.
Sudah seminggu hari libur kami berlalu begitu saja. Berhari-hari aku datang menghibur Wira. Ku ajak dia mencari kumbang sagu, berenang-renang di sungai koili yang banyak buaya itu, menjerat ayam hutan di kebunku, mengejar rusa, semua itu kulakukan agar Wira bisa melupakan sakit hatinya, barang sebentar saja. Percuma, Wira tetap menolak. Entah ke mana perginya semangat Kawanku itu.
Kepada Ama yang menurutku lebih mafhum bagaimana rasanya ditinggalkan kekasih. Kuminta ia membantu. Diajaknyalah aku dan Wira bermain layang-layang. Katanya, dulu waktu ia ditinggal mati Inaku, Ama sering bermain layang-layang, dan itu berhasil menghiburnya. Katanya, layang-layang adalah ibarat hati yang terombang ambing oleh angin, dan dari kejadian itu biasanya orang akan sadar akan situasi hatinya. entah darimana Ama mendapatkan teori seperti itu.
Hari itu sangat cerah, memang cocok untuk bermain layang-layang, apalagi angin sedikit lebih kencang. Aku dan Ama terbang tenang di ketinggian seratus lima puluh depa―bayangkan itu. Layang-layang Wira hanya terbang sejengkal, lalu jatuh lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia menyerah. Bukannya membantu, ternyata teori layang-layang Ama malah membuatnya lebih putus asa lagi. Wira membuang layang-layangnya, kemudian duduk di pohon kayu kering di kebun jagung.
Aku dan Ama tenggelam dalam keseruan bermain layang-layang. Sudah lama aku mendambakan momen-momen ini bersama Ama, sampai akhirnya kami lupa dengan tujuan kami yang sebenarnya untuk menghibur Wira.
Aku dan Ama semakin girang tatkala seekor elang terpancing oleh layang-layang kami. Di sambar-sambarnya layang-layang itu, aku pun menyetir layang-layang agar tak kena cakarannya.
“Ke kiri, Uti!” Ama mengomando.
“Angin... anginnya mati... cepat!”
Tiba-tiba Wira bersimpu tepat di depan Amaku.
“Wahai Mangge yang bijaksana... kumohon dengan sangat... jangan kau sebut nama itu lagi!”
Tak tahu lagi semua beban ini akan kubawa. Cukup puas aku menasihati Kawanku yang sudah tak punya tujuan hidup ini. Seharusnya ia percaya; sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga. Begitu juga dengan kesabaranku, meski aku sangat menghargai dan peduli kepadanya, pasti semua itu ada ujungnya.
Putus asa aku menghadapi Wira, sampai sautu sore datang surat Melodi kepada kami. Kuberikan surat itu padanya.
“Kau baca ini, Kawan... Melodi masih sangat peduli kepada kita... sudah cukup kau kecewakan dirimu selama ini, jangan lagi kecewakan Kawan kita di seberang sana itu!” ucapku.
Wira menerima surat itu setengah hati. Kubiarkan ia berteduh di bawah pohon jambu air di tepi anak sungai Koili, membaca surat itu. Tak kusangka Wira yang sinting itu tahu juga bagaimana caranya meneteskan air mata. Entah karena hilang kewarasannya, atu memang ada sesuatu yang memilukan hati dibalik surat Melodi itu. Aku sungguh tak paham.
“Kenapa kau menangis, Kawan?” tanyaku, hati-hati. Takut ia menyalah artikan perkataanku sebagai nama: Hanin. Kuusahakan tak menyinggung sesuatu yang berbunyi: HAN atau IN.
__ADS_1
“Kau lihat!” Wira menunjukkanku satu kalimat di akhir surat Melodi.
Hari-hariku di pulau kalimantan ini, sangatlah berat. Tapi, aku selalu ingat perkataanmu Wira... “Jangan pernah mau kalah oleh keadaan!” Terimakasih telah mengajarkanku dalamnya makna kalimat itu. Kau percaya?karena kata-katamu yang hebat itu, sampai saat ini aku mampu bertahan. Berjuang!
Besar harapanku kalian juga sama!
Sampai bertemu di surat selanjutnya.
Tertanda: Kawan yang selalu merindukan kalian dari kejauhan.
Wira menyeka matanya yang basah, “Kau benar, Kawan, tidak seharusnya aku larut dalam kepedihan ini... masih banyak yang harus kita lakukan... masih banyak nama yang peduli kepadaku... Ah!”
Terimakasih Ya Allah. Akhirnya Kawanku ini menemukan kesadarannya.
Wira berdiri, tegas matanya menatap semesta. Bisa kulihat ada harapan yang kembali merekah di wajahnya.
“Aku sadar, Kawan... mulai saat ini, akan kukubur cinta dan rasa sakit ini dalam-dalam... tak akan lagi aku mau terpedaya oleh muslihat bernama cinta ini... aku janji!” katanya, tegas.
“Bagus, Kawan, sudah seharusnya kau begitu... ingat, kita harus menepati janji dan mimpi kita kepada Melodi!” ucapku. Adakah HAN atau IN yang sempat tersinggung dalam ucapanku?
“Iya Kawan. Mulai saat ini, fokusku adalah mimpi dan cita-cita kita... takkan ada lagi yang namanya patah hati. Aku pastikan itu!”
“Oi, senangnya aku mendengar itu, Kawan!”
“Besok kita mulai bekerja lagi... kita kumpulkan pundi-pundi uang untuk melanjutkan kuliah di Ibukota Jakarta, seperti mimpi kita!”
Terharu aku mendengarnya.
“Baik Kawan, kita buktikan pada dunia bahwa kita juga bisa!” kataku mantap.
“Tunggu! Apa kau bilang? Hanin?!” mata Wira melotot, “Aku mohon dengan sangat, Jangan kau sebut nama itu lagi!”
Oi Ama! Aku langsung melompat, menceburkan diri ke sungai.
Note :
__ADS_1
Catatan Kaki Ada di episode pertama