
Aku tak bisa mengatakan janji ketika kebimbangan masih bersamaku.
Biru Nadira
Gue pengen bilang, lo jagain teman gue, gue tau lo suka sama dia. Banyak yang suka sama dia. Lo harus gentelmen atau dia bakalan jatuh ke orang lain, kesempatan gak datang 6 kali.
Salam, Biru tukang nguping desisan omelanmu
Awan membaca pesan yang datang tiba tiba untuknya, seperti peramal saja, Biru tau posisi Awan sedang seperti apa.
Awan melihat kearah Binar yang sudah mendekati pintu rumahnya, dengan cepat Awan langsung keluar dari dalam mobil,
"Binar." panggil Awan membuat seseorang yang dipanggil menoleh.
Dengan cepat Awan langsung berlari kearah Binar membuat Binar menyipitkan matanya heran.
"Kenapa? " tanya Binar heran.
Awan hanya terdiam, menatap Binar tak bergeming. Lalu tangan Awan meraih tangan Binar, sontak hal itu membuat Binar terdiam.
Binar heran dengan Awan sekarang, ada apa dengan dirinya?
Awan menundukkan kepalanya, menarik nafas dalam dalam, hati dan pikirannya ditenangkan supaya tidak gugup, Binar semakin mengerutkan keningnya.
Awan mulai mendongakkan kepalanya, menatap Binar penuh senyumanan, senyuman semanis mungkin di pasang Awan.
"Nar," Awan mencoba untuk berbicara.
"Gue mau ngomong sesuatu." sambung Awan lagi, Awan merasa sangat gugup, dia tidak tau apa ini waktu yang tepat, tapi Awan tidak mungkin membiarkan Binar nanti jatuh kedalam pelukan orang lain.
Binar menaikan satu alisnya, penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Awan, "Kenapa?"
"Gu, gue. Ehm gue. Ahkk sulit banget sih." Frustasi Awan, tangannya mulai mengacak rambutnya. Binar semakin heran dengan Awan.
"Lo kenapa? sakit? kesurupan? masuk jin depan rumah gue? " cerocos Binar karena herannya dengan tingkah Awan.
"Bukan."
"Jadi? " tanya Binar.
"Gue suka lo."
Deppp
Bibir Binar terbungkam, matanya terbelalak menatap Awan tidak percaya. Apa ini sebuah ungkapan cinta dari Awan? Ini sungguhan?
Binar meneguk ludahnya dalam dalam, dia belum percaya dengan Awan yang dihadapannya sekarang. Ini bukanlah Awan, Awan itu cuek, dingin, tidak mungkin dia menyatakan cinta padanya bahkan jatuh cinta padanya.
Binar menggeleng pelan, "Lo kalau becanda jangan jayus dong." ucap Binar.
__ADS_1
"Gue gak bercanda, Nar. Gue serius,"
Awan memancarkan cahaya matanya, terlihat dirinya sungguh sungguh.
"Gue tau, ini mendadak. Gue juga belum terlalu pasti dengan perasaan gue, tapi gue yakin, kalau ini soal tentang gue dan lo, gue takut bakal kehilangan lo. Gue gak mau itu terjadi," Ucap Awan.
Binar tertegun di buatnya, tidak menyangka ternyata Awan yang dingin bisa menjadi seperti ini.
"Nar, gue tau lo pasti heran kan sama gue. Gue juga heran sama diri gue sendiri. Gue heran kenapa gue jatuh cinta sama orang yang nyebelin kayak lo." ucapan Awan seketika wajah Binar menjadi cemberut, apakah ini kata kata romantis yang dimiliki Awan?
"Tapi, orang yang nyebelin itu buktiin ke gue, kalau dia bisa buat gue kayak gini dengan sikapnya itu." Seketika Binar tersenyum mengembang.
"Gue gak bisa janji, karna sekarang gue gak tau apa perasaan ini, masih bimbang rasanya. Gue cuman tau, gue nyaman dan takut kehilangan lo." Ungkap Awan terang terangan.
Awan memberanikan diri untuk mendekati Binar, lalu mendekapnya dipelukan. Awan merasakan kenyamanan itu lagi, terasa hangat bila bersama Binar.
Perasaan Awan juga sudah lega dengan semua ungkapan yang diucapkannya. Dirinya tidak ingin berlama lama memendam, itu sangat sakit.
"Gue udah bilang semuanya, gue harap lo paham." ucap Awan memperdalam pelukannya.
Binar tak membalas pelukan itu, tanganya sudah kaku ditahannya karena ingin bergerak untuk memeluk Awan juga, tapi ada perasaan yang sangat menganjal dihati Binar.
Binar melepaskan pelukan Awan dan menatapnya dengan sedikit menunduk.
"Maaf, bukannya gue nolak lo. Tapi, kasih gue waktu buat berfikir, ini terlalu mendadak bagi gue." ucap Binar.
Awan menghela nafas pelan, dirinya paham itu. Awan juga berfikir sama, Binar harus memikirkannya baik baik sebelum mengambil keputusan.
"Yaudah, gue masuk yah. Gak enak nanti diliatin tetangga malam malam gini ada cowo disini." ujar Binar lalu membalikan badannya dan masuk kedalam rumah, Binar langsung mengunci pintu itu rapat rapat.
Awan yang masih berdiri didepan pintu tersenyum pait, jika Binar menolaknya, hilanglah semua kehangatannya.
Awan membalikan badannya dan berjalan kearah mobil lalu pergi dari sana.
Disisi lain ada Binar yang masih berdiri tepat membelakangi pintu depan rumahnya, tanganya memegang dadanya, terasa detakan jantung yang begitu cepat.
Pikiran Binar di penuhi dengan ungkapan dari Awan tadi. Tangan Binar menghapus air mata yang tiba tiba jatuh, ia melihat air mata di telapak tanganya, mengapa dirinya menangis? Apa yang salah?
Perasaan Binar mulai campur aduk, ternyata orang yang ia sukai takut kehilangan dirinya, tapi Binar meraskan sakit, ketika Awan belum tau tentang perasaan yang dirasakannya. Binar takut, jika dirinya benar benar sudah jatuh pada Awan, perasaan Awan hanyalah rasa kasihan saja.
Binar menghela nafas pelan, dia harus memikirkannya dengan kepala dingin.
*****
Pagi ini, Bianr terlihat panik, dia terus berlari dengan cepat. Dua menit setelah bel berbunyi, Binar dengan cepat berlari masuk kedalam kelas. Dirinya sekarang sedang berada didepan koridor kelasnya, Binar mengintip kedalam kelasnya itu, belum ada guru. Dengan cepat langkah Binar masuk begitu saja.
Terlihat nafas Binar terengah engah, Binar menarik nafasnya dalam dalam lalu dihembuskan. Setelah itu ia berjalan kearah kursinya dan ternyata Juni sudah duduk disana.
Binar menjadi canggung melihat Juni, Binar melontarkan senyum kecil kemudian duduk di sebelah Juni.
__ADS_1
Mereka berdua sesekali saling menatap lalu memalingkan wajahnya, rasa gugup pada mereka tiba tiba datang.
Binar merasakan hal ini sangat aneh, karena biasanya Juni akan sangat berisik jika mereka sudah bersama.
Binar menghela nafas, "Lo gak marah sama gue? " tanya Binar langsung.
Juni mengeritkan dahinya, "Seharusnya gue yang nanyak gitu, lo gak marah sama gue? "
Binar menggeleng, "Enggak, lo? "
Juni juga menggeleng, "Enggak." mereka berdua saling menatap satu sama lain, lalu kemudian memalingkan wajahnya.
Mereka sama sama terdiam, lalu beberapa detik kemudian, perut mereka merasa menggelitik, mereka langsung tertawa keras.
Keadaan ini kembali lagi, Juni tidak bisa jauh lebih lama dengan Binar. Juni rasa bahwa orang lain itu tidak seasik Binar.
Tangan Juni terangkat untuk merangkul Binar.
Binar melihat kearah tangan Juni.
"Lo gak jauhin gue lagi kan? " tanya Binar.
"Uda ah jangan bahas itu lagi, gue kemarin kemakan omongan Rubi. Setan dia kuat banget soalnya," ucap Juni lalu tertawa.
Lagi lagi Binar juga ikut tertawa, Binar senang akhirnya Juni tidak menjauhi dirinya lagi.
Karena Juni kebanyakan tertawa, dirinya tidak sadar bahwa guru sudah masuk kedalam kelas, dengan cepat Binar langsung msnyentil kening Juni keras ketika Buk Yuni melihat kearah mereka berdua.
"Sstt, gak ada remnya ni ketawa." lirih Binar, seketika Juni langsung terdiam, matanya mebelalak ketika melihat beberapa sorotan mata menatap kearahnya, terutama mata Buk Yuni.
"Udah siap ketawanya, atau masih mau lanjut lagi?" ujar Buk Yuni.
Juni menyengir, "Udah buk."
Buk Yuni berdesis pelan kemudian duduk dikursi miliknya membuat Juni bernafas legah.
"Syukur remnya gak blong," lirih Juni tertawa kecil.
Setelah itu, kelas Binar memulai pelajaran les pertamanya.
Di sana, dibagian paling pojok ada seseorang yang menatap kearah mereka berdua sejak tadi.
"Lo kenapa? " Awan menyenggol lengan Biru membuat Biru tersentak kaget, pandangannya langsung dialihkan kedepan, "Enggak, gak papa." jawab Biru gelegepan.
Awan melihat kearah tatapan Biru tadi, ternyata Binar dan Juni sudah baikan.
"Lo liatin Binar sama Juni? " bisik Awan.
"Berisik." ketus Biru langsung.
__ADS_1
Awan tertawa kecil mendengarnya, apa Biru cemburu jika Binar berteman dengan Juni?