NADIR

NADIR
9. LELAKI YANG DIAPIT KEMATIAN


__ADS_3

Sebagai siswa pertama di SMP Anak Semua Bangsa, kami harus menumpang ruang belajar di SD Harapan, untuk sementara, selama beberapa bulan. Karena bangunan SMP belum selesai semuanya.


Bukan kepalang senangnya kami, bisa berkenalan dengan teman-teman baru dari desa tetangga seperti Desa Batuilo dan Bambalaga―sungguh mati, itu benar-benar nama desa di Kecamatan Ogodeide, kalau tidak percaya coba cek.


Bisa dibilang, untuk ukuran sekolah yang masih baru, lumayan banyak peminat SMP Anak Semua Bangsa ini di tahun pertamanya. Empat puluh orang. Bayangkan betapa banyaknya itu bagi kami anak Desa ini. bahkan, karena banyaknya siswa yang mendaftar, terpaksa kami dibagi menjadi dua kelas. Hebat rasanya bisa berada di kelas A. Seperti kau menerima pengumuman juara satu di acara kenaikan kelas. Wira dan Melodi juga menyatakan bangga bisa berada di kelas A, walaupun sebenarnya predikat sebuah ruangan tidak bisa dijadikan indikator kecerdasan seseorang.


Tak hanya ruangan mewah berlantai keramik, teman-teman baru, yang membuat kami senang bukan kepalang, SMP Anak Semua Bangsa ini, seperti kata Pak Anwar, kepala sekolah kami tempo hari, sarana dan prasarana penunjang pembelejarannya terbilang lengkap. Buku-buku perpustakaan bertumpuk penuh di lima lemari kayu, dan alat peraga olah raga yang lengkap, bukan main.


Kalau di SD Harapan dulu, prakterk olahraga terjauh kami adalah berenang di sungai koili, lari karung, panjat pinang, atau paling tidak bermain kasti dan kelereng di halaman sekolah yang sempit, di SMP Anak Semua Bangsa ini lain cerita. Tak terbilang rupa-rupa sarana yang kami punya, untuk alat peraga sepak bola saja, SMP ini punya dua puluh, belum lagi bola-bola yang lain dari yang terkecil sampai terbesar masing-masing jumlahnya puluhan. Coba kau bayangkan, betapa hebtanya SMP kami ini, kawan. Tak hanya itu, yang lebih membuat kami terkesan, kalau selama ini alat elektronik tercanggih yang pernah kami kenal hanya sebatas radio, tape recorder, dan TV, di sekolah ini kami sanggup melihat alat elektronik nan canggih super smart yang belakangan ini kukenal dengan komputer. Oi, hebatnya itu.


Lebih dari itu, di SMP ini kami juga dikenalkan dengan dengan belasan gur-guru hebat yang datang dari kota, kecuali wakil kepala sekolah kami yang tak lain dan tak bukan; Kak Cantika, anak gadisnya Pak Kades itu. Mereka hebat, mereka kompeten, dan mereka profesional. Perlu kalian ketahui juga, kata; kompeten dan profesional itu kudapat dari guru-guru hebat itu. Bangga rasanya berkenalan dengan para pahlawan yang tak mengharap tanda jasa itu.


Lantas, kemarin saat menghadiri acara peresmian bangunan SMP Anak Semua Bangsa, kami mendapat kabar bahagia dari Melodi. Inanya melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat, tentunya dengan bantuan Sando¹² kampung, Beke¹³ Indo―sumpah namanya benar-benar sesimpel itu, tanpa embel-embel ratu, siti, nur, atau putri. Bisa kami duga kebahagiaan Melodi dari cara bicaranya yang meledak-ledak tentang adik laki-laki yang diberinya nama Moh. Alfaridzi. Hebatnya nama itu kudengar. Kami dimintanya untuk datang melihat adik barunya itu. Tapi aku dan Wira, karena alasan dan lain hal, baru bisa datang menjenguk, seminggu setelahnya.


Sudah menjadi kebiasaan kami orang-orang Desa terpencil, setiap kali mengunjungi si bayi, pasti membawakan sesuatu untuknya. Baik itu berupa makanan, uang, pakaian, atau benda lain yang kita ikhlas memberikannya. Bukan apa-apa, orang-orang Desa terpencil seperti kami ini percaya dengan memberikan hadiah pada si bayi, kelak rezekinya akan lancar. Meski belum ada bukti konkrit atas hasil kepercayaan itu sampai sekarang, kecuali Kak Cantika anak gadis Pak Kades yang sekarang sudah jadi sarjana, dan abangnya Wira yang jadi tentara.


Seperti hari ini, setelah pulang dari sekolah baru kami, SMP Anak Semua Bangsa, aku dan Wira pergi mengunjungi Moh. Alfaridzi, adiknya Melodi itu. Wira membawakan sebuah bola plastik, aku menghadiahkannya sebuah buku dan pulpen yang kubungkus dengan koran bekas.


Kami letakkan benda-benda pemberian kami di samping si bayi mungil nan polos yang tidak berhenti menangis, minta di susui.


“Semoga kau menjadi pesepak bola hebat yang bisa mengangkat nama Desa kita ini, Uti.” Begitu Wira menyampaikan harapannya pada si bayi. Sementara aku, aku hanya bisa mengucapkan semuanya dalam hati. Sembil tersenyum, memandangi wajah Tante Anita, aku harap si bayi, kelak bisa membanggakan kedua orangtuanya. Sepertinya cita-citaku kusalurkan padanya siang itu. Amin, amin, amin.

__ADS_1


Sedangkan di sudut kamar, kulihat Beke Indo sedang mengunyah sirih sambil tersenyum-senyum, menampakkan gigi keroposnya yang telah menghitam, pekat karena noda sirih. Ia pendiam, tak banyak bicara. Respon terbaik untuk seorang yang menegurnya hanyalah seringai khasnya itu. Itulah representasi seorang Sando sakti nan masyhur bergelar Beke Indo.


Tapi, jangan kau ragukan kehebatannya. Dia adalah Sando kampung yang sakti mandraguna. Tanpa alat canggih, rontgen, atau alat pendeteksi jenis kelamin sekalipun, Beke Indo bisa mengetahui jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungan hanya dengan menyentuh perut si Ina. Dengan telapak tangannya yang kebas itu juga ia bisa menjamin bayi itu sehat atau tidak, lahir normal atau sungsang. Seakan di telapak tangannya itu ada sinar X scanner, alat canggih yang bisa menembus apa saja.


Aku curiga, dengan telapak tangannya itu, Beke Indo bisa membaca isi hati dan pikiran seseorang. Telapak tangannya yang tebal itu, bisa juga dikatakan seperti radar. Pendeteksi hebat yang tak akan kau temukan dibelahan dunia manapun. Hanya di Desa Buga ini. Satu dan satu-satunya. Makhluk langka yang dicipitakan Tuhan untuk membantu keselamatan seorang bayi atau Inanya. Bisa mengobati seribu satu macam penyakit, bahkan menemukan benda-benda yang hilang. Sekali lagi, semua itu hanya dengan telapak tangannya.


Jarang sekali kudengar Beke Indo mengalami kegagalan dalam setiap operasi yang ia lakukan. Bahkan menurut cerita Ama, waktu ia membantu persalinan Inaku. Setelah menyentuh perut Ina, Beke Indo langsung memberitahu mereka, kalau pada proses persalinan malam itu, harus ada yang ditumbalkan. Apakah si bayi yang dikandung, yaitu aku, atau si pengandung yang tak lain adalah Inaku. Setelah melalui proses diskusi yang alot antara Ina dan Ama, sampai Amaku sempat merajuk, jatuhlah keputusan aku yang harus diselamatkan. Hebat bukan Beke Indo ini?


Dan perlu kalian ketahui juga, pada saat-saat tertentu, Beke Indo bisa berevolusi menjadi seorang peramal.


“Sini kau, Uti!” Beke Indo menatapku sambil menyeringai.


“Iya, kau anaknya si Kahar, bukan?”


Aku mengangguk.


“Kemari kau sebentar!” katanya. Aku langsung mendekatinya.


Beke Indo terus menyeringai, menatapku intens ketika aku duduk di depannya. Dari Beke Indo ini, baru aku mafhum, ternyata bau mulut bisa menjadi senjata pemusnah masal, bukan main aroma tembakau yang bercampur dengan sambal terasi yang menguar dari mulutnya, aku tetohok-tohok di buatnya. Dadaku sesak, sakit sampai ke ulu hati. Sungguh tak berperikemanusiaan bau mulut orang tua ini.


“Kelak, kau akan menjadi orang hebat, Uti!” ucap Beke Indo. Aku terbatuk-batuk di depannya.

__ADS_1


“Kaulah lelaki yang diapit kematian. Tangga-tangga kesuksesan akan kau naiki dengan mudah... aku bisa melihatnya dari sini.” Beke Indo berhenti sesaat mengunyah sirih yang baru. Memberi kesempatan bagiku untuk mencerna apa maksudnya, “Tapi, dibalik kesuksesanmu itu, akan ada yang dikorbankan....”


Sungguh aku tak mengerti apa maksudnya. Mendengar kehebatannya dari orang-orang Desa, melihat bagaimana ia sangat dihormati sekaligus disegani melebihi seorang Pak Kades sekalipun, jujur baru kali ini aku sangsi dengan perkataannya. Aku tidak mau percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Bagiku, masa depan adalah hal yang misterius penuh prbabilitas, tak ada yang dapat memastikannya.


Kutinggalkan seringai lebarnya berikut bau mulutnya yang menghunus tajam menembus jantung sampai ke ulu hati itu dengan penuh tanda tanya. Kalimatnya barusan terus menggema dalam kepalaku.


Di halaman sekolah SMP baru kami yang luas, aku menanyakan soal perkataan Beke Indo kepada Melodi dan Wira saat kami bermain kumbang sagu.


“Tak usah kau pikirkan perkataan orang tua itu, Uti. Orang, mau sehebat apapun, pasti pernah melakukan kesalahan. Kau ingat peribahasa itu? Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah pula. Jadi tak usah kau risau!” Wira menenangkan.


“Betul itu, Uti... aku percaya horoskop, tapi tidak percaya ramalan!” sambung Melodi.


Aku dan Wira saling tatap mendengar ucapan Melodi.


“Wahai kawanku yang cantik, tidak tahukah kau horoskop itu adalah salah satu bentuk ramalan dengan nama yang lebih keren?!” Aku merangkul pundak Melodi, pipinya bersemu merah jambu. Kami tertawa.


۝


Ikutin terus ya, kisah Nadir...


Jangan lupa, apresiasi (Like, Kritik, saran, rate, dan vote)nya sangat membantu...😁

__ADS_1


__ADS_2