NADIR

NADIR
20. DUA PENUNGGANG CB 2000


__ADS_3

Hatiku makin gelisah. Sudah lebih dari seminggu sejak Bang Akiat mengabarkan, aku tidak pernah lagi mendengar kabar Ama. Sudah sembuhkah ia? Atau... oh, ngilu hatiku membayangkan Ama sedang terbaring lemah di kasurnya. Sendiri. Sungguh, ingin sekali aku segera pulang, menemui Ama.


“Apa yang kau risaukan, Kawan?” ucap Wira, sembari duduk di sampingku. Di bale bambu di belakang kos.


“Amaku. Entah bagaimana kabarnya sekarang.”


“Sabar, Kawan... semoga orangtua kita selalu diberikan kesehetan.”


“Amin.” Suaraku tenggelam oleh desir angin.


Mata kami menerawang ke punggung laut yang teduh malam itu. Birunya telah berubah menjadi hamparan jelaga. Hanya riaknya yang menampakkan kerlap-kerlip kemilau oleh cahaya lampu kota, apabila angin berembus lebih kencang. Kulihat bebintang telah lenyap diselimuti awan. Malam benar-benar akan menjadi sangat gulita jika lampu-lampu listrik di seluruh penjuru kota seketika padam. Ketika halilintar menggelegar, membentuk garis-garis kilatan listrik di lengkung langit yang gelap tadi, aku sadar, alam tengah berkabar bahwa; sebentar lagi seluruh kotaku akan basah.


“Besok hari H cerdas cermat itu, bukan?” tanya Wira.


“Iya.” Aku mengangguk. “Kalau boleh jujur, aku ragu kalau aku bisa memberikan yang terbaik untuk sekolah kita besok.”


“Kenapa kau ragu?”


“Aku tidak tau, Kawan... rasanya aku tidak siap mengikuti lomba ini.”


“Apa gara-gara, Amamu?” tanya Wira lagi.


Aku tak menjawab.


“Kalau memang karena itu, aku janji, akan kubawa Amamu menghadiri acara lomba itu, besok! Tapi kau juga harus berjanji untuk memenangkan perlombaan itu!” Wira menegaskan, “Jadi, sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk besok... buktikan pada semua orang bahwa anak desa seperti kita ini juga bisa memenangkan kompetisi... buat sekolah kita bangga... buat aku bangga sebagai, Kawanmu... dan juga Amamu... pasti!” ia tak bosan menyemangatiku.


Aku mendesah, mendengar ucapan Wira. Sebenarnya Kawanku ini lebih cocok untuk menjadi seorang motivator. Tapi maaf, kata-katanya itu sama sekali tidak mengurangi kegamanganku. Aku tau dia berkata begitu hanya sekedar untuk menghiburku, tidak lebih.


“Terimakasih atas usahamu itu, Kawan.” Kutepuk bahu Wira sambil tersenyum masam, lalu kutinggalkan ia sendiri di sana.


۝


Subuh aku terbangun, tepat saat adzan berkumandang. Aku heran, tumben sepagi itu Wira sudah tidak ada lagi di kamar. Kemana dia? Kucari di kamar mandi umum, mungkin dia ingin ikut sholat bersamaku, tapi tak kutemukan Wira di sana. Kucari dia di Wc, juga tidak ada. Coba kutelusuri halaman belakang kos, juga sama hasilnya. Nihil. Ah, mungkin dia ada suatu urusan di tempat lain.


Usai sholat aku masih gelisah atas hilangnya Wira secara tiba-tiba. Kutanyakan kepada Pak Hamal tukang angkut sampah di kompleks kos kami, katanya dia tak melihat Wira sejak bulan kemarin soalnya dia mengambil sampah di kompleks kami sebulan sekali. Kutanya pada Bu Rugayyah, pemilik warung KOPASUS (Kopi Susu Khusus), dia hanya memperlihatkan daftar bon Wira.


“Yang ini juga belum dibayarnya... kalau ditotal, semuanya enam puluh ribu.” Kata Bu Rugayyah.


“Iya Bu, nanti aku sampaika ke Wira... assalamualaikum!” aku cepat-cepat pergi. Bukan main Wira ini. ternyata selama ini dia selalu menraktir aku dan teman-teman lain termasuk Hanin di warung KOPASUS itu hanya modal ngutang.


Sudah kucari Wira ke mana-mana tapi tak kutemukan juga dia. Kutelusuri tempat-tempat yang biasa kami kunjungi bersama, di sana juga tak ada. Ke mana perginya dia? Di jalan aku bertemu dengan orang gila waktu itu, demi tak menyia-nyiakan kemungkinan, ragu-ragu aku bertanya.


“Hmm... Abang tidak lihat teman saya yang keriting itu?”


Orang gila itu tersenyum. Kupikir dia pasti tau sesuatu, orang gila memang kadang-kadang mengejutkan. Maka, seperti yang aku duga sebelumnya, bukannya memberi keterangan tentang Wira, orang gila itu malah menjawabku dengan kalimat metaforis, “Semua yang terjadi di muka bumi ini adalah rahasia... ada rencana besar dibaliknya... selanjutnya akan kau temui kejutan-kejutan kecil dari rencana itu....”


Orang gila itu masih berteriak-teriak mengumandangkan kalimatnya, aku langsung meninggalkannya.


Dengan penuh tanda tanya, aku kembali ke kos. Kuingat-ingat kejadian tadi malam. Tak ada yang spesial. Atau jangan-jangan... ah sudahlah.


Sampai Hanin datang menjemputku dengan motor matic-nya untuk berangkat bersama-sama ke SMA Cokroaminoto yang menjadi tuan rumah kegiatan O SMAS tahun ini, Wira tak juga kelihatan batang hidungnya. Terpaksa aku pergi lebih dulu. Kutinggalkan Wira yang entah di mana ia berada sekarang. Seumur hidup aku bersama Wira, ini baru kali pertama aku meninggalkannya. Sebelum berangkat, kutuliskan surat untuknya bahwa aku sudah pergi lebih dulu bersama Hanin.


“Mana Kawanmu yang sinting itu?” tanya Hanin. Sepertinya ia juga merasa kehilangan Wira.


“Siapa?” aku berpura-pura.


“Itu... si Wira!” bahkan untuk menyebutkan nama Wira saja, Hanin sampai berpikir panjang.


“Ada angin apa kau bertanya soal Wira? Kau rindu sama dia?” godaku.

__ADS_1


“Haiss... ada-ada saja kau!” pipi Hanin bersemu merah, “Biasanya kan dia selalu bersamamu.”


“Aku tak tahu dia ke mana, sejak subuh aku sudah tidak melihatnya.”


“Oh.”


Berhubung kegiatan cerdas cermat baru dimulai pukul 10 nanti, aku, Hanin, dan teman-teman lainnya dari SMA Generasi Hebat berkumpul di lapangan takraw, menyaksikan pertandingan final antara tuan rumah dan sekolah kami. Kami bersorak-sorak menyemangati, tak mau kalah dengan tuan rumah. Aku terkagum-kagum menyaksikan pertandingan itu. Bukan main hebatnya, saat Spiker masing-masing tim melompat-lompat seperti terbang di udara, kemudian dalam jeda waktu yang singkat mereka memutar, melipat, badan sedemikian indahnya di udara. Salto muka, salto belakang, jungkir balik, dan apapun itu indah bukan main. Rasanya aku menonton pertandingan olah raga dan akrobat sekaligus. Aku dan Wira biasa melakukan salto belakang seperti itu, tapi di sungai koili. Kalau di suruh untuk melakukannya di atas lantai beton seperti yang dilakukan para Spiker takraw itu, biar di gaji tambah upah aku tak mau. Resikonya terlalu besar. Bisa-bisa pecah kepala kau.


Aku mulai geliasah saat kami berkumpul di aula gedung SMA Cokroaminoto untuk melakukan persiapan. Kuperhatikan di antara ligkaran supporter di dalam aula, tidak juga kutemukan Wira di sana. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa kepercayaan diriku menguap pelan-pelan. Masalahnya dari sekian banyak kompetisi yang pernah aku ikuti, tak sekalipun Wira luput menyemangatiku. Biasanya di saat-saat seperti ini dialah yang berteriak paling keras mengagung-agungkan namaku. Tapi hari ini dia tak kelihatan... apa dia marah padaku? Atau... oh.


Hanin langsung menarikku menuju meja peserta.


“Kau kenapa? Kulihat kau gelisah betul hari ini... santai saja jangan gugup!”


“Iya.” Jawabku sambil terus memperhatikan kerumunan supporter.


“Di mana kau, Kawan....” batinku.


Sampai babak pertama usai, Wira tak kunjung kelihatan. Di situ aku baru sadar, kalau kehilangan orang terdekat dapat mempengaruhi mental seseorang. Sebagaimana aku, karena kekhawatiranku terhadap Wira yang tak juga kelihatan membuatku gugup. Akibatnya, soal trigonometri yang seharusnya bisa kukerjakan luar kepala tak bisa kujawab dengan benar. Kami ketinggalan poin. Berdasarkan akumulasi poin di putaran pertama kami berada di urutan ke empat. Tertinggal jauh dari tuan rumah.


“Kau kenapa?” tanya Hanin, “Seharusnya kau bisa mengerjakan semua soal-soal itu dengan baik, kau yang terbaik di kelas kalau soal mate-matika... ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”


“Aku tidak tau, Nin, entah kenapa aku tidak bisa konsentrasi... biasanya Wira selalu ada menyemangatiku.”


“Oh, jadi gara-gara Wira?! Sudah Dir tidak usah terlalu kau pikirkan, sebentar lagi Wira juga pasti datang... mungkin dia ada urusan lain... pokoknya kamu harus fokus dulu... selanjutnya adalah putaran terakhir, kalau salah sedikit saja, kita bisa kekurangan angka... kamu tidak mau kan kalau sekolah kita kalah hanya gara-gara kamu tidak konsentrasi!” Hanin coba menenangkan, “Aku percaya sama kemampua kamu... jadi kamu juga harus percaya dengan kemampuanmu sendiri.”


Mendengar ucapan Hanin barusan, rasanya aku menemukan sosok Wira dalam diri gadis berkaca mata ini.


“Baiklah, insya Allah, selanjutnya aku akan berusaha lebih baik lagi.”


Babak kedua segara dimulai. Aku menghitung hasil akumulasi poin, kami tertinggal 60 poin dari pemimpin klasemen sementara yaitu tuan rumah. Artinya aku harus berusaha semampuku untuk mengejar ketertinggalan jika ingin mendapat poin tertinggi. Tak boleh ada kesalahan.


Maka, tiba-tiba seluruh wajah di dalam aula itu terperangah saat sebuah motor meraung-raung beringas, mirip suara sensor pemotong kayu, mendekati aula. Motor itu membelah kesunyian, menghadirkan seribu pertanyaan. Apa yang terjadi di luar sana?


Berbinarlah mataku tatkala Honda CB 200 berwarna silver berkarat itu merengsak masuk melalui pintu aula. Membelah dua kerumunan siswa di sana. Oi, lagi-lagi kesintingannya membuatku terpesona.


Wira menyeringai sambil melambai-lambai di samping motor CB 200 yang entah dipinjamnya dari mana.


“SEMANGAT KAWAN!” teriak Wira, mengepalkan tinjunya ke langit-langit.


Bertambah rasa bahagiaku melihat satu sosok hebat yang turun dari jok belakang motor itu. Seorang lelaki berpenampilan koboi kampungan, dengan sendal jepit berkarat, senyum melengkung, dan lubang hidung merekah-rekah. Dialah Amaku. Di sudah sehat, rupanya. Ternyata Wira menepati janjinya semalam. Aku tak percaya... sungguh mati aku tak mau percaya. Tapi apa hendak kusangkal, bukti sudah di depan mata.


Wira yang ajaib itu menarik tangan Amaku, mendekati meja dewan juri. Memperkenalkan Amaku pada mereka, yang sebenarnya tak perlu dia lakukan sebab dewan-dewan itu tak akan mau perduli dengan si koboi berpenampilan udik itu.


“Santun... saya Amanya Nadir!” ucap Ama sembari menjabat tangan dewan juri yang kebingungan setengah mati.


Kepada dewan juri dan panitia penyelenggara yang sejak tadi mau mengusirnya karena membuat kegaduhan, Ama meminta izin untuk berbicara denganku. Tentu saja, panitia tidak mengizinkan, meski Wira setengah mati memberi pengertian. Melihat kesempatan itu, aku langsung melompat menuju Ama. Kupeluk tubuhnya erat-erat. Berderai-derai air mataku.


“Kupikir kau masih sakit, Ama!” pekikku.


“Seharusnya tak perlu kau terlalu merisaukan, Ama... fokuslah pada sekolahmu, Ama selalu mengirimkan do’a terbaik untukmu, Nak.”


Kupeluk tubuh Wira kemudian.


“Terimakasih, Kawan, kau memang terbaik!”


“Aku sudah menepati janjiku... sekarang giliranmu, Kawan!”


Sebagian mereka yang menyaksikan drama itu terharu, tapi tak sedikit pula yang jengkel karena ulah Wira dan Ama dengan Honda CB 200-nya itu, termasuk panitia. Terpaksa Wira dan Amaku diboyong panitia ke sudut ruangan. Mereka di kawal penuh hati-hati, kalau-kalau mereka bertingkah yang bukan-bukan dan mengganggu jalannya acara.

__ADS_1


“Kau lihat, dia sudah berjuang untukmu... jadi kau harus buktikan... buat mereka bangga!” bisik Hanin, menyemangati.


Aku tersenyum, “Bukan Cuma aku yang berjuang di sini, kau juga, Kawan!”


Wira sudah ada, Amaku pun tersenyum manis di sudut sana, terlebih lagi kulihat Ama jauh lebih bugar. Kepercayaan diriku kembali sepenuhnya, malah over. Soal-soal yang dilayngkan dewan juri pada putaran kedua kutelan mentah-mentah. Begitu juga Hanin, sebagai seorang gadis yang bercita-cita menjadi dokter, soal-soal biologi dijawabnya tanpa ada kesalahan.


Alhasil―demi membuat novel ini penuh dengan kebahagiaan―berdasarkan akumulasi poin di babak pertama dan di babak kedua ini, keluarlah nama SMA Generasi Hebat sebagai pemenang dengan total poin 1.300, empat puluh poin lebih tinggi dari tuan rumah yang memperoleh poin 1.260. Artinya pula, piala bergilir Cerdas Cermat MIPA O SMAS se-kabupaten Tolitoli masih dipegang leh sekolahku.


Saat pengumuman juara di sampaikan oleh dewan juri, pecahlah suasana di dalam aula. Gegap gempita. Seluruh supporter meneriakkan nama SMA Generasi Hebat. Wira merampas TOA dari tangan panitia, kemudian menyerahkan kepada Amaku.


“Dia anakku... Nadir yang hebat itu... dia juara, kau tau!” ucap Ama sebelum TOA itu dirampas lagi oleh panitia.


Tak kepalang rasa bangga yang meledak-ledak di dadaku, ketika dewan juri mengalungkan medali emas di leherku.


“Selamat!” Pak Drs. Musafir, menyerahkan piagam penghargaan kepadaku.


“Terimakasih, Pak!” ucapku.


Hanin juga tak kalah bahagia, bisa kulihat semua itu di kelopak matanya yang basah. Ia terharu dengan kemenangan ini. Tak sia-sia perjuangan kami selama berminggu-minggu bergelut dengan buku.


Siapa bilang kebahagiaan yang berlebihan dapat melahirkan kesedihan? Justru yang terjadi saat ini sebaliknya, aku senang bukan main saat Hanin yang sempat hilang kewarasaannya memeluk Wira yang datang memberinya selamat. Wira hampir pingsan dihantam kenyataan itu. Setelah selama ini mendapat penolakan mentah-mentah dari Hanin, gadi pujaannya itu, tak sekalipun ia berani berpikir untuk dipeluk seorang Hanin sedemikian eratnya. Di depan banyak orang pula. Nantinya pakaian yang ia kenakan hari itu akan dimuseumkannya.


Kubiarkan Wira merasakan kenyamanan pelukan Hanin berlam-lama. Jarang-jarang Kawanku itu mendapat momen seperti ini. Aku mendekati Ama. Orangtua itu terus tersenyum ke arahku.


“Kau memang kebanggaan, Ama!” ucapnya. Aku terharu. Ia langsung memelukku, mencium keningku begitu dalam, “Akan kukabarkan pada orang sekampung....” katanya.


Kubalas pelukan Ama. Berderai lagi air mataku. Aku bahagia. Kukalungkan medali emas itu di leher Ama. Dia pantas menerimanya. Dialah Ama terbaik yang pernah ada.


“Terimakasih Ama!” bisikku.


۝


Usai kegiatan yang penuh kebahagiaan itu, aku dan Wira mengajak Ama melihat kos kami. Tak henti-hentinya Ama menatap medali yang kukalungkan di lehernya. Seumur hidupnya, benda semacam itu hanya bisa dilihatnya di film-film atau di koran kolom olahraga.


Di kos, aku bertanya kepada Wira, dari mana ia mendapatkan Honda CB 200 berkarat itu.


“Aku menyewanya dari Pak Munir. Kau ingat, satpam Bank BIS itu, Kawan?”


“Ya aku ingat! Terimakasih, Kawan... kau memang terbaik!”


“Ah, tak perlu kau berkata begitu, justru aku yang berterimakasih padamu... kalau bukan karena kau, aku tidak mungkin pernah bisa mendapat pelukan Hanin. Oh, indahnya!”


“Ciee... Cieee....”


Sorenya, Wira mengantarkan Ama pulang ke Desa. Aku sudah coba untuk menahannya, sekalian menunggu penerimaan rapor tiga hari lagi. Tapi Ama tetap ingin pulang, tak ada yang menjaga jagung-jagung di ladang. Dengan berat hati, kubiarkan Ama pulang.


“Hati-hati di jalan!”


“Iya. Tenang saja, Kawan!”


“Jangan lupa, sampaikan salamku pada Ama-Inamu.”


“Pasti!”


۝


ikutin Up episodenya... jangan lupa tinggalkan kritik dan saran...😁


Notes :

__ADS_1


Catatan kaki ada di episode pertama


__ADS_2