
Peringkat, nilai, dan kehadiran, adalah standar kompetisi masing-masing sekolah untuk menentukan kualitas masing-masing siswa. Apalagi di tingkatan SMA. Kau bisa dikagumi banyak orang jika kau bisa meraih angka terbaik di kelasmu. Sebaliknya, jika nilaimu di bawa, maka siap-siaplah untuk jadi bahan tertawan bagi teman sekelasmu yang tak punya belas kasihan itu.
Ya, tidak salah kalau banyak yang mengatakan peringkat di kelas, adalah predikat yang dapat menjadi tekanan bagi kewarasan seseorang. Tentunya, bagi mereka yang tak bisa mengendalikan. Maka, kusarankan, jangan terlalu membebani pikiranmu dengan angka-angka-angka komulatif yang bersigay kuantitatif itu, Kawan. Bisa stres kau nanti. Jalanilah masa-masa sekolahmu apa adanya, tanpa paksaan. Dengan catatan, tetaplah berada di jalur yang benar, dan terus belajar. OKE?
Maka, seperti hari-hari penerimaan rapor sebelumnya, aku deg-degan. Jantungku bergemuruh seperti dihujani batu-batu kali saja. Berdebum-debum, menggetarkan dada.
Dalam hati terus kupanjatkan do’a, kubaca ayat-ayat suci yang kuhafal, berulang-ulang. Ya begitulah, Kawan, terkadang kita ini, baru ingat kepada sang Pencipta saat terdesak saja. Saat ada keinginan saja. Saat sedang kesusahan seja. Selebihnya, saat kuta berada di antara kemewahan, kebahagiaan, kesenangan yang tumpah ruah, kita lupa segalanya. Seakan dunia hanya milikmu seorang. Oi, kejamnya.
Kulihat wajah teman-teman sekelasku, sama piasnya denganku. Mulut mereka juga komat-kamit, entah melafalkan do’a atau menggosipkan orang. Berat dugaanku, siswi-siswi itu sedang menggosipkan temannya, perhatikan saja bola mata mereka yang berputar-putar seribu gaya. Seakan ada beban yang sangat dikandungnya.
Namun, seberapapun mereka mencoba untuk mengalihakn perhatian dari kesakralan acara pengumuman ini, dada mereka tetap kembang-kempis. Gugup, mengantisipasi pengumuman peringkat yang sebentar lagi disampaikan oleh Pak Zainuddin, wali kelas kami. Di sisi lain, aku juga bertanya-tanya tentang bagaimana keadaan Wira di ruangan sebelah. Apakah dia sama gugupnya denganku?
Sebagai seorang guru paling senior di SMA Generasi Hebat ini, Pak Zainuddin tau benar perasaan masing-masing siswanya. Dialah yang paling memiliki hati nurani. Makanya dia tidak menyebutkan siapa yang mendapat peringkat satu dan siapa yang duduk di kasta terendah.
“Aku tidak mau ada pihak yang dirugikan dalam prosesi penerimaan rapor ini, makanya saya tidak mengumumkan secara gamblang peringkat-peringkat kalian... cari tahu sendiri saja, di dalam rapor kalian ada tertulis!” jelas Pak Zainuddin.
Dari total 36 siswa di kelasku, sebagian telah mendapatkan rapornya. Ada yang berteriak bahagia karena melihat angka peringkat mereka yang jauh lebih baik dari siswa lain di bawah mereka, ada pula yang merundung karena hasil rapornya tak sesuai ekspektasinya.
“Ah, kenapa bisa nilai Mate-matikaku serendah ini?” keluh Aminah, teman sekelasku.
“Coba kulihat...,” sambut Anto, anak paling jahil di kelas, “Kau bagus masih masuk lima belas besar, kau lihat milikku... pamungkas, cuy!” ditunjukkannya angka 36 yang tertulis tebal di rapornya.
Anak-anak serentak menertawakannya.
“Melihat kelakuanmu, peringkat terakhir itu masih lebih baik menurutku!” sindir Ahmadi. Merah muka Anto dibuatnya.
“Iya, kalau pak wali kelas tidak berbelas kasih sama kau, seharusnya nilai rapormu itu penuh dengan ‘telur busuk’ alias nol besar. Hahahaha....” timpal Nuraini.
Mendidih darah Anto mendapat ejekan dari teman-teman sekelas. Kalau tidak ada Pak wali kelas, sudah ditinjunya wajah Ahmadi dan Nuraini itu. Siapa yang tidak kenal dengan tabiat Anto yang nakal dan suka main kasar itu.
“HANINDITA.” Nama Hanin, dipanggil.
Intens kuperhatikan ekspresi Hanin saat membuka buku rapornya. Anak-anak lain mengerumuninya. Memang, Hanin adalah siswi yang memiliki kans paling besar untuk berada di peringkat pertama. Dia cantik, idola semua orang, ketua kelas, cerdas, dan baik hati. Poin penting yang jarang ditemukan pada diri gadis-gadis kota kebanyakan. Wajar kalau Wira kelepek-kelepek dibuatnya.
Senyumnya mengembang ke arahku, aku membalasnya kecut. Hatiku masih terus mengantisipasi kemungkinan di balik lembar raporku. Sepintas kuingat Ama. Apa katanya, kalau nilai raporku rendah?
Baru aku tau, ternyata Hanin bukanlah yang terbaik di kelas. Peringkat rapornya berada di urutan ke dua. Ruang kelas mulai penuh dengan bisik-bisik.
__ADS_1
“Siapa yang peringkat satu, ya?” Mey bertanya-tanya sendiri.
“Menurutku, Rudi!” sambung Halim yang mendapat peringkat 4 di kelas.
“Tapi nilai ulangan harian Rudi kan, selalu di bawah Hanin.” Bantah Arisa.
Hanin tersenyum lagi ke arahku, aku membalasnya sama kecutnya dengan tadi.
“Aku tau siapa yang terbaik di kelas kita.” Ucap hanin, kemudian.
“Siapa?”
“Hmm....”
“NADIR!” Pak Zainuddin memanggil namaku.
Aku berdiri dengan degup jantung yang bertambah cepat. Kutatap wajah Pak Zainuddin yang menampakkan seringai khasnya. Kata anak-anak, seringai khasnya itulah yang menjadi daya tarik penuh seorang Zainuddin sehingga banyak siswa yang senang kepadanya.
“Selamat, ya!” ucap pak Zainuddin.
“Terimakasih, Pak!” balasku.
“Anak-anak saya minta kalian mencontoh teman kalian yang satu ini... walaupun dia lahir dari keluarga yang sederhana... itu tidak menjadi penghalang baginya untuk berprestasi.” Seluruh ruangan ramai dengan tepuk tangan.
“Atas capiannya sebagai peraih nilai tertinggi tahun ini, saya akan memberikan hadiah.” Pak Zainuddin mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna hitam dari dalam tasnya, “Perlu kalian ketahui, hal ini saya lakukan bukan untuk menunjukkan siapa yang terbaik semata... melainkan sebagai motivasi bagi siswa-siswa kelas IPA A lainnya, cambukan, agar kalian mau belajar lebih keras lagi kedepannya!”
Ruangan kembali gempita saat Pak Zainuddin menyerahkan benda itu kepadaku. Oi, bengkak dadaku dibuatnya.
“Ini bukan apa-apa... semoga dengan pemberian ini, kau lebih terpacu untuk belajar lebih giat lagi demi mempertahankan prestasimu, Nak!” ucap Pak Zainuddin.
Kubuka kotak kayu itu. Silau mataku dibuatnya, sebuah pulpen berwarna emas dengan ukiran-ukiran silver di sisinya. Haiss... indahnya kulihat.
“Besar harapan saya, dengan pulpen ini kau dapat menulis kisah-kisah hebat, perjalananmu. Mimpi dan cita-citamu! Jangan kau sias-siakan potensimu, Nak!”
“Terimakasih, Pak!”
“Sama-sama... beri tepuk tangan, anak-anak!” seru Pak Zainuddin.
__ADS_1
“Untuk kami mana, Pak?” sindir Bahri.
“Kalau kalian mau mendapat hadiah seperti Nadir, belajar yang giat... tahun ajaran depan saya sudah mempersiapkan hadiah yang lebih hebat lagi!”
Setelah dipersilahkan duduk oleh Pak Zainuddin, aku kembali ke bangkuku. Tak putus senyum bangga melengkung di wajahku. Satu-persatu teman-teman sekelasku mengucapkan selamar. Oi, bukan main indahnya pengalaman hari ini.
“Selamat ya, Dir... kamu memang pantas menjadi yang terbaik!” ucap Hanin.
“Ah, kamu juga terbaik kok!” aku menggaruk-garuk kepalaku, kikuk.
Kubayangkan seperti apa nantinya respon Ama saat aku pulang nanti.
Belum usai riuh-rendah di kelasku, Wira datang melompat-lompat kegirangan, seperti kambing jantan yang baru kenal kawin. Tanpa sempat kuantisipasi, tau-tau Wira sudah merangkulku erat.
“Kau lihat, Kawan... kau lihat ini!” Wira menunjukkan angka 3 yang tercetak di lembar rapornya.
Aku tak percaya, “Oi, kau hebat, Kawan! Kau hebat!” kurangkul lagi tubuhnya.
Hanin yang berdiri di samping kami hanya mesem-mesem. Wira yang menyadari keberadaan Hanin, ingin mencuri kesempatan. Dipikirnya Hanin sedang hilaf seperti saat lomba cerdas cermat itu, di layangkannya sebuah pelukan kepada Hanin. Namun Hanin yang tidak hilang kewarasannya, langsung menghantam wajah Wira dengan tasnya.
“Jangan cari kesempatan dalam kesempitan kau, Keriting!” umpatnya.
“Hehehehe... maaf, aku tak bisa menguasai diri... terlalu senang soalnya!” Wira menyeringai sambil menggaruk-garuk bagian wajahnya yang gatal akibat hantaman Hanin.
“Alasan, Kau!”
Melihat capaian Wira, aku semakin percaya; “Hasil tidak akan menipu setiap usaha dan kerja keras.” Tak sia-sia Wira belajar setiap waktu senggang di kos selama ini. Man Jadda Wa jadda. Sebodoh apapun dirimu, kalau kau bersungguh-sungguh dalam belajar, kau akan memetik hasilnya. Contahnya, Kawanku ini. waktu SD dulu dialah anak paling tak ada harapan di kelas. Alias ****** minta ampun. Tapi, karena ia berusaha terus belajar, dan belajar, akhirnya dia bisa mendapatkan peringkat ke tiga di kelasnya. Di SMA Generasi Hebat yang sarat dengan anak-anak pilihan ini.
Lantas, setelah sampai di kos, dengan pulpen warna emas, kutulis ulang cita-cita kami sore itu di ladang jagung. Tebal dalam sebuah album biru.
Tunggulah cita-cita, aku akan datang menjemputmu!
*Cmepisode selanjutnya jauh lebih seru... jangan ketinggalan ya...☺️
jangan lupa juga untuk menyempatkan memberi saran dan kritik...😍
__ADS_1
**Notes :
Catatan kaki ada di episode pertama***