
Seandainya kita bisa mengulang kembali, ku takan menyia nyiakan tiap detik bersama dirimu, sungguh aku menyesal.
Binar mengucek matanya yang terasa berat ketika mendengar suara berisik dari ruang tengah. Binar bangun melihat jam, pukul enam pagi. Binar keluar dari kamarnya melihat apa yang terjadi.
Di atas tangga Binar terdiam melihat Friska. Friska sedang menyiapkan sarapan, ini adalah moment pertama kali Binar melihat Friska menyiapkan makanan.
Friska yang merasa kehadiran Binar menoleh kebelakang, Friska tersenyum pada Binar.
Binar terdiam sejenak, tak percaya apa yang ia lihat. Binar memabalas senyuman Friska.
Friska kembali membalikan badannya, mengolesi roti dengan selai coklat. Tapi sayang sekali Friska tidak bisa lama lama di rumah. Ponselnya langsung berdering ketika Binar berjalan mendekati Friska.
"Iya, saya kesana sekarang." ujar Friska di akhir telponnya. Friska langsung mengambil tasnya lalu pergi. Sebelumnya Friska menatap Binar sejenak.
Setelah Friska pergi, Binar mendekati meja makan, melihat apa yang di lakukan Friska tadi. Sekarang di meja makan sudah ada nasi goreng, susu dan roti yang telah di olesi dengan selai coklat.
Binar tersenyum senang, buat pertama kali mamanya membuatkan sarapan untuknya.
Mungkin hari ini bisa di kenang dan disejarahkan, Friska Menerima Binar.
*
Binar berjalan melewati koridor sekolah, setiap langkah yang ia tempu menjadi sejarah bahwa dirinya tidak menyesal pernah pindah kesekolah ini.
Sorotan mata yang pernah melihatnya dengan benci sekarang berubah seperti pertama kali ia masuk ke sekolah.
Binar menyukai suasana seperti ini.
Binar masuk kedalam kelas, dirinya disambut hangat oleh semua teman sekelas.
"*Binarr,"
"Binar, gue kangen."
"Binar maafin gue yah."
"Iya maafin gue juga yah, gue salah*."
Mereka datang mendekati Binar sambil memeluknya, Binar menerimanya dengan kehangatan.
"Kalian gak salah kok," ucap Binar.
"Nar, gue minta maaf yah, gue salah udah nilai lo terlalu buruk." Rere mendekati Binar dengan kepala menunduk.
Binar mengangkat kepala Rere pelan lalu tersenyum, "Gue udah maafin lo kok." ujar Binar. Sekarang Rere yang memeluk Binar.
Suasana kelas menjadi sangat damai dan tentram, tentang kebohongan yang terjadi telah berhenti.
Biru, Agam dan Rian melihat Binar penuh kesenangan, mereka yang ingin membantu Binar lepas dari masalah akhirnya terjadi.
"Gue jadi pengen di peluk Binar," ujar Agam memeluk dirinya sendiri. Rian menoyor kepala Agam.
"Sebelum lo meluk Binar, lo udah di bunuh duluan sama Awan." ucap Rian.
Agam melirik ke arah Awan yang hanya terdiam, ada yang aneh pada Awan, biasanya jika menyangkut Binar, Awan langsung paling senang.
"Lo kenapa, kusut banget muka lo." ujar Agam. Biru dan Rian ikut menoleh.
"Lo kenapa Wan?" tanya Biru.
Awan tak menjawab, dia hanya diam.
Dirinya ingin sekali memeluk Binar, tapi apalah daya, dia tak memiliki hubungan lagi dengan Binar.
Suasana yang riuh karena kehadiran Binar menjadi mendadak tegang, karena guru pengajar tiba tiba sudah berdiri di ambang pintu. Semua murid berhamburan duduk di kursinya masing masing, begitu pula dengan Binar.
Tapi kali ini ada yang berbeda, Binar tak melihat ada Juni. Apa Juni tak sekolah hari ini?
Binar melihat kekiri dan kekanan, mencari Juni tapi pandangannya terhenti tepat di Awan.
Binar hanya menatap Awan penuh arti, Biru yang duduk disebelah Awan melambaikan tangannya pada Binar. Binar tersenyum kecil pada Biru.
Tiga les pelajaran Fisika, hal itu membuat satu kelas mendadak mual, di tambah lagi dengan soal soal yang diberikan untuk di kerjakan di rumah.
Saat bel berbunyi, banyak murid yang memilih untuk keluar kelas, menenangkan kepala mereka dari soal soal yang baru saja menyentu otak mereka.
Tapi tidak Dengan Binar, dia memilih untuk tetap di kelas dari pada keluar.
Binar mengambil headshet miliknya lalu memutar lagu.
Saat Binar sedang bersenandung, tiba tiba headshetnya di tarik oleh seseorang, Biru.
"Apa?" tanya Binar heran.
"Geser, gue mau duduk."
Binar menggeser posisi duduknya memberi tempat untuk Biru.
"Lo mau ngapain?" tanya Binar.
Biru duduk dengan santainya, punggungnya di sandarkan kebelakang, "Lo kenapa sama Awan?" tanya Biru.
Binar mengeritkan dahinya, "Emang kenapa?"
"Lo berantem sama dia?" tanya Biru.
"Kenapa lo nanyak kayak gitu, apa hubungannya sama lo?" Binar sedikit risih dengan pertanyaan Biru. Biru bukan siapa siapa Binar, mengapa dia menjadi kepo seperti ini.
"Lo gak tau gue siapa?"
"Tau, lo Biru Nadira." ucap Binar asal.
"Iya, gue Biru Nadira, sahabat lo waktu kecil. Orang yang pernah lo tolongin waktu gue jatuh naik sepeda, and orang yang sering nemenin lo kalau lo lagi ketakutan di rumah."
Binar membulatkan matanya, tidak percaya dengan ucapan Biru.
"Lo, saha-"
"Iya, gue sahabat kecil lo. Jadi sekarang gue ada hubungannya sama lo, berarti lo bisakan jawab pertanyaan gue tadi." ujar Biru.
Binar belum percaya dengan apa yang dikatakan Biru, "Gue gak percaya sama lo." ucap Binar.
Biru berdesis pelan, anak ini benar benar menyebalkan sekali. Apa dia tidak ingat dengannya.
"Lo amnesia beneran?" ucap Biru memegang kening Binar.
"Lo kira amnesia sama kayak panas, ameh banget." Binar menurunkan tangan Biru dari keningnya. "Gue cuman gak percaya lo si tengil Biru, gak mirip soalnya, lo lebih jelek sekarang." ucap Binar.
Biru mendesis pelan, ucapan Binar membuatnya ingin menoyor kepalanya.
"Ucapan anda terlalu halus untuk membilang saya jelek." ujar Biru, Binar tertawa kecil mendengarnya.
"Emang serius lo Si tengil Biru?" Binar masih belum percaya.
"Iya Binar."
"Apa buktinya?"
Biru berfikir sejenak, mencari bukti untuk menunjukan bahwa dirinya Biru sahabat kecil Binar.
"Lo pernah jatuh dari atas pohon waktu lo masih kelas tiga sd, lo takut sama ulat bulu dan lo gak bisa berenang. Lo suka boneka minion dan sering duduk di belakang rumah gue kalau lo lagi nangis, karna rumah gue sama lo dulunya sebelah sebelahan." ujar Biru.
Binar mengingat semuanya, dan itu benar. Binar menatap Biru penuh kecurigaan, Biru yang mendapat tatapan dari Binar mengerutkan dahinya.
"Masih gak percaya?"
Binar menggeleng pelan, lantas membuat Biru mendengus kasar.
Binar langsung tertawa melihat ekspresi Biru, sangat lucu.
Binar melihat Biru penuh senyuman, Binar langsung memeluk Biru erat, sanagt erat. Binar tidak menyangka bahwa Biru yang ini adalah Biru si tengil.
"Kenapa dari dulu lo gak bilang sama gue?" lirih Binar.
Binar melepas pelukannya.
"Karna gue pengen lo ingat sendiri sama gue, tapi ternyata lo sama sekali gak kenal gue, uh." Biru memasang muka kesal, Binar mencubit pipi Biru.
"Maaf." ujar Binar tertawa kecil.
Hari yang sangat menyenangkan, sejarah yang takan terlupakan. Biru sahabat kecilnya telah ditemukannya.
"Lo kenapa sama Awan?" tanya Biru kembali ke topik Awal.
Binar yang tadinya bahagia, kembali memasang muka masem.
"Gue udahan sama dia."
"Whatt?" teriak Biru, Binar langsung menutup mulut Biru.
"Bisa gak jangan teriak teriak." ujar Binar.
"Sorry kebablasan," Biru menyengir, "Serius lo udahan sama Awan? kenapa? kok bisa?" tanya Biru bertubi tubi.
"Lo tau kan gue gimana orangnya, gue sayang sama sahabat gue. Gue gak mau liat Juni sedih karna gue sama Awan." ini tulus dari lubuk hati Binar yang paling dalam.
"Nar, plis deh. Juni itu udah nyakitin lo."
"Tapi dia sahabat gue Ru, dia pernah nemenin gue dalam keadaan rapuh kayak yang lo lakuin waktu kecil sama gue." ucap Binar.
Biru tak habis pikir dengan jalan pemikiran Binar.
"Jadi lo beneran udahan sama Awan?" tanya Biru memastikan.
Binar mengangguk.
"Enggak nyesel?"
"Sedikit." Binar menyengir.
Biru menarik nafas dalam dalam, sahabatnya yang ada dihadapannya ini sangat mengalah sekali soal cinta.
"Kadang heran gue sama jalan otak lo yang mutar mutar kayak jalan trotoar."
*
Awan berjalan melewati keramaian, sangat sepi rasanya walaupun banyak orang yang menyapa dirinya. Biasanya jika seperti Ini, Awan selalu pulang bareng dengan Binar.
Awan melewati beberapa orang yang menyapanya manis, Awan hanya membalasnya dengan deheman datar.
Awan terus berjalan, hingga jalannya terhadang dengan sosok wanita yang ia pikirkan sejak tadi.
Binar sedang berdiri tepat di depannya dengan Biru.
Biru menyenggol lengan Binar pelan membuat Binar melihat kearah depan, ada Awan disana dengan wajah sangat datar.
Mereka saling bertatapan beberapa menit, hingga akhirnya Awan memutuskan kontak mata mereka. Awan berlalu melewati Binar begitu saja, tanpa ada senyuman untuk Binar.
Saat ini Awan seperti awal pertama kali Binar kenal, terlihat dingin dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Binar menoleh kebelakang, melihat punggu Awan yang semakin menjauh.
Awan rindu dengan Binar, bahkan sangat. Tapi bagaimana lagi? mereka bukan siapa siapa, mereka hanya masa lalu yang pernah ada.
"Lo beneran gak mau balikan sama Awan?" tanya Biru ketika Binar terus memerhatikan Awan.
Binar menggeleng pelan, "Ini cuman sebentar kok sakitnya, nanti lama lama terbiasa." Binar menunjukan senyum manisnya.
"Yauda yok, gue mau rebahan panjang." ujar Binar merangkul Biru dan mengajaknya pulang.
Binar bukanlah anak yang sangat kuat menghadapi masalah, tapi dirinya akan terus melakukan apa yang bisa ia lakukan.
Di sepanjang perjalanan Binar mengemudikan mobilnya dengan santai, melewati beberapa perumahan yang sering ia lihat.
Binar berhenti sejenak di indomaret untuk membeli camilan, setelah itu kembali lagi ke mobil dan mengemudikan mobilnya.
Saat Binar hendak masuk ke dalam mobil, Binar menemukan secarik kertas di kursi mobilnya. Binar mengambil secarik kertas itu.
Sangat aneh, padahal tadi kertas itu tidak ada disitu. Binar membuka dan membaca isi dari kertas itu.
**Gue tunggu lo di taman Adipati jam 7 malam.
Juni**
Binar menyipitkan matanya, dari Juni? kapan dia meletakan kertas ini. Binar keluar dari dalam mobil, melihat kesemua arah mencari keberadaan Juni, tapi nihil. Juni tidak ada disana.
Binar melipat kembali kertas itu dan masuk ke mobilnya, "Ngapain Juni ngirim surat segala," lirih Binar pelan.
*
Binar merebahkan badannya di atas kasur empuk miliknya, hari ini terasa sangat menyenangkan sekali. Walaupun ada sedikit kesedihan yang ia dapat, tapi Binar masih tetap menamai hari ini hari istimewa.
Mamanya baik padanya, dan dia menemukan sahabat kecilnya. Itu adalah hal yang paling tidak terduga untuknya.
Binar membuka jendela kamarnya, melihat matahari yang hampir tenggelam. Sangat indah, senja pencandu rindu.
Binar duduk tepat di atas balkon kamarnya menggunakan seragam sekolah lengkap.
Hari ini adalah hari yang baru, dirinya harus membuat sejarah baru.
Hari ini adalah hari terakhir dia meraskan kesedihan, esoknya tidak ada lagi.
Kesedihan yang ia rasakan ia kuras hari ini. Sekarang di bawah matahari terbenam, Binar tersenyum kecil, matanya mulai terbendung dengan gumpalan air.
Binar memejamkan matanya, merasakan semua hal yang pernah ia lewati beberapa bulan belakangan ini.
Bolehkah kita mengulang
Masa-masa indah itu?
Ku tak mengerti apa yang terjadi hingga berakhir
Bagaimanakah kabarmu?
Berhasilkah lupakanku?
Diriku yang bodoh ini masih mendamba hadirmu
Binar menghapus air matanya yang mulai jatuh, bibirnya tersenyum kecil. Semua memori yang pernah ada terulang kembali.
Setiap detail kejadian yang pernah ia rasakan berputar di pikirannya, seperti roda kehidupan memberinya izin untuk melihat kejadian kejadian dulu.
*Waktu kau sedih 'ku di sini
Waktu kau senang kau di mana?
Sebelum dirimu pergi
Dan janjimu hilang arti
Lihatlah perjuanganku
Namun jika memang harus
Berakhir sampai di sini
Biar 'ku berharap dengan
Hati yang keras kepala*
Inilah hidup, semua tentang aku dan kamu tidak bisa kita takdirkan sesuai kehendak. Aku menyukainu, kamu menyukai ku, tapi jik takdir mengatakan kamu bukan mikikku, itulah yang terjadi.
Hidup bukan membawa diri kita ketempat yang tak adil, hidup mengajarkan kita, bahwa setiap detail hal yang kita lakukan ada kata tak adilnya.
Binar percaya, di setiap titik paling rendah yang ia rasakan, ada jalan menuju titik tertinggi yang tak pernah ia bayangkan.
Binar mengesahkan air mata terakhir sambil tertawa kecil, "Ternyata gue cengeng banget yah." lirih Binar.
Binar menarik nafas dalam dalam, "Gue bisa." ucap Binar memberi semangat pada dirinya.
"Mari kita mulai."
*
Binar membersihkan dirinya di kamar mandi beberapa menit, setelah itu dia bersiap siap. Surat kertas yang ia terima sepertinya benar benar dari Juni. Binar hapal tulisan tangan Juni.
Lagi pula Binar memang ingin bertemu dengan Juni.
Tidak memakan banyak waktu, akhirnya Binar selesai berdandan. Sebelum itu Binar sudah menyiapkan makanan buat mamanya.
Friska memberi pesan padanya bahwa Friska ingin makan malam berdua dengan Binar.
Sekarang sudah pukul 18:45, Binar sudah berada didalam mobil menuju taman Adipati. Saat Binar sudah sampai disana, Binar tak menemukan tanda tanda dari Juni.
Mungkin Juni datang telat, jadi Binar menunggu Juni di taman itu.
Perasaan Binar sangat tenang, entah apa yang ada di hatinya, tapi kepalanya selalu membuat setiap detiknya menjadi hangat.
Bahkan angin dingin sekalipun Binar tak merasakannya.
Binar mengecek ponselnya, sudah dua pulih menit dia menunggu Juni. Apa Juni tidak datang, atau Juni lupa?
Binar mencoba menghubungi Juni tapi ponsel Juni tidak aktif, Binar mengigit ujung jarinya, dia khawatir pada Juni.
Sepuluh menit berselang, Binar belum melihat tanda tanda keberadaan Juni. Ini sudah sangat lama sekali.
"Ni anak kemana sih?" gerutu Binar.
"Gue kerumahnya aja kali yah?"
Binar berbalik kearah mobilnya, dan disana dia menemukan Juni, tengah berdiri membelakangi Binar.
"Juni." panggil Binar, Juni tak menoleh, dirinya seperti menangis. Binar semakin khawatir pada Juni, Binar mendekati Juni tanpa pikir panjang.
Baru satu langkah Binar berjalan, kepalanya tiba tiba merasakan hantaman yang sanagt keras. Entah apa yang terjadi pada dirinya, Binar belum sempat melihatnya, dirinya sudah ambruk terlebih dahulu.
*
Hari ini hujan sangat lebat sekali, setiap tetesan air seperti memberikan makna.
Binar berdiri di atas kursi dengan tangan terikat bahkan kepalanya juga. Binar membuka matanya perlahan, sangat berat sekali di bagian belakang kepalanya.
Kini matanya menangkap dua sosok orang yang sedang berdepat didepannya.
"Kalau di m**i gimana?" teriak Arkan pada Juni.
Juni tidak perduli, dia mengacuhkan ucapan Arkan.
"Lo dengar gue gak sih?" ujar Arkan menarik tangan Juni.
Juni menatap Arkan tajam, "Lo mau m**i juga gue buat?" balas Juni.
Binar menyaksikan perdebatan mereka berdua, dirinya ingin memberontak, tapi sayang sekali, tangan dan kepalanya t****t, jika kursi yang ia injak terjatuh, mungkin Binar dalam masalah.
Juni menatap kearah Binar yang sudah sadar, Juni menyeringai pada Binar.
"Ternyata lo udah sadar." ucap Juni.
"Jun lepasin gue, plis lepasin gue." mohon Binar.
Juni tertawa mendengarkan Binar, Arkan yang ada disamping Juni melihat bahwa diri Juni sekarang sedang tidak terkendali.
"Apa untungnya gue kalau gue lepasin lo?" ucap Juni santai.
"Kita bisa sahabatan lagi, dan lo bisa miliki Awan. Gue sama Awan udah gak ada hubungan apa apa lagi Jun." ucap Binar.
Juni terdiam, bahkan Arkan juga seperti itu. Mereka tak menyangka dengan jawaban Binar.
Juni memalingkan pandangannya, tak mau menatap Binar yang melihatnya dengan cara memohon seperti itu.
"Jun, kita lepasin aja yok. Dia gak ada apa apa lagi sama Awan." ujar Arkan.
Arkan mulai kasihan dengan Binar, dirinya sudah salah membantu Juni.
Juni menepis rasa kasihannya pada Binar.
Binar sudah merebut Awan, dan dia harus tau apa akibatnya.
"Dengan lo m**i gue lebih mudah dapatin Awan." ucap Juni kejam.
Arkan membulatkan matanya, ucapan Juni sangat sangat berbeda dengan rencana mereka.
"Jun lo udah g**a?"
"Iya kenapa emang, gue udah g**a dan itu karna dia." Juni menunjuk kearah Binar.
Arkan menggeleng pelan, dia tidak mau jika Binar m**i, "Gak nyangka gue Jun," ucap Arkan.
Arkan berjalan kearah Juni, tangannya dengan cepat membuka ikatan pada tangan Binar. Tapi Juni yang tak menolak tindakan Arkan. Juni mengeluarkan senjata dari kantung belakangnya yang ia sembunyikan. Juni menodongkan p****l ke kepala Arkan, hal itu membuat Arkan diam tak bergerak.
"Lo mau m**i bareng dia?" ucap Juni.
Arkan meneguk ludahnya dalam dalam, Juni benar benar sudah kehilangan kewarasannya.
"Gue kasih kesempatan sama lo buat ngikat tuh tali kembali." ucap Juni.
Arkan mengehela nafas kasar, sekarang Arkan kembali mengikat tangan Binar lagi.
Binar menggeleng pelan, "Pliss lepasin gue," lirih Binar.
"Sorry Nar." ucap Arkan.
Arkan berjalan mundur, sekarang dirinya benar benar tidak bisa berbuat apa apa.
Juni tersenyum menang, akhirnya dia bisa melihat Binar menderita dan itu tepat di depan matanya.
Juni tertawa bahagia, kemenang ada ditanganya.
"Akhirnya gue bisa liat lo kayak gini," ucap Juni berjalan mendekati Binar. Juni sesekali cemberut lalu tertawa. Dirinya benar benar di luar kendali.
__ADS_1
"Gue, gue senang banget." teriak Juni.
Binar memejamkan matanya, membayang bahwa dihadapannya ini bukanlah Juni.
Sementara Arkan yang berada dibelakang, berjalan mundur. Dirinya terus berjalan mundur lalu berlari dengan cepat, tanpa sengaja Arkan menabrak kayu reyot yang ada disitu. Juni langsung menoleh kepada Arkan.
Juni melihat Arkan yang ingin melarikan diri langsung menembakan p****l kearah Arkan. Arkan refleks kaget dan langsung menghindar, tembakan Juni juga meleset jauh dari dirinya.
Arkan akhirnya bisa lari dari Juni.
Juni mengumpat pada Arkan, "Si*lan, gue jamin lo gak bakalan selamat kalau ketemu gue Arkan." teriak Juni murkah.
Arkan terus berlari sejauh mungkin, setelah ia sudah jauh dari tempat lokasi, Arkan memastikan bahwa Juni tidak mengikutinya.
Setelah itu Arkan mencari cara bagaimana dirinya harus menyelamatkan Binar. Bagaimana pun, jika Binar m*ti dirinya juga akan terlibat.
Arkan mencoba menghubungi orang orang terdekat Binar, tapi dirinya tidak memiliki nomor mereka.
Arkan kemudian membuka aplikasi instagram dan menemukan akun Biru.
Arkan menghubungi Biru dari situ.
Setelah Arkan memberi pesan pada Biru, Arkan langsung mengirim lokasinya.
Birunadira
Gue kesana sekarang
Balasan dari Biru membuat Arkan legah, semoga dia datang tepat waktu.
*
Biru berlari dengan cepat menghampiri Binar.
Biru datang ke lokasi yang di kirim Arkan. Sebelumnya Biru sudah ngeshare kepada Awan, tapi Awan tak membaca pesannya. Semoga Awan bisa datang tepat waktu nantinya.
Biru masuk kedalam salah satu tempat yang cukup gelap, seperti gudang lama. Tempat itu sangat mencurigakan sekali.
Biru berjalan pelan, tak berani bersuara karena tak ingin Juni tau bahwa dirinya datang.
Biru berjalan perlahan lahan, melihat ke kanan dan kiri, tapi tak ada siapa pun.
Biru masuk ke satu ruangan yang pintunya terbuka sedikit, Biru membukanya perlahan.
Mulut Biru terbuka menganga lalu dengan cepat ia menutupnya dengan tangannya. Biru melihat pemandangan yang cukup sadis, Binar terikat dengan wajah yang berlumuran darah. Entah apa yang sudah Juni lakukan pada Binar.
Disana terlihat ada Juni yang sedang duduk santai, tangannya memegang tongkat kayu baseball sambil mengetuk ngetukannya kelantai. Wajah Juni tampak sumbringan.
Biru mengelak dari pintu itu, Biru berusaha berfikir apa yang harus ia lakukan.
*
Awan membuka pesan yang ia dapat dari Biru, matanya terbelalak. Rasa kesal dan kecewa yang ia rasakan tadi mendadak melayang bersama angin dingin yang menerpanya tiba tiba.
Awan langsung bergegas ke lokasi yang dikirim Biru, cukup jauh, tapi Awan tak memerlukan waktu lama untuk sampai kesana karena kelajuan motor yang ia kendari sangat cepat sekali.
Lima belas menit kemudian, akhirnya Awan sampai ke lokasi. Awan langsung masuk kedalam ruangan gelap itu dan berteriak.
"Binarrr, Binarrr." teriak Awan.
Biru terkesiap mendengar teriakan itu, itu sangat jelas suara Awan, matanya langsung mengintip kearah dalam ruangan yang berisi Juni dan Binar. Terlihat Juni juga mendengar teriakan itu.
Juni berjalan mendekati Binar, tangan Biru tergepal ketika melihat Juni memukul belakang Binar menggunakan tongkat baseball itu.
"Apa kau dengar, kekasihmu memanggilmu." ujar Juni gentir.
Binar tak dapat menjawab, rasa sakit Binar sangat sangat tidak dapat membuatnya berkutik.
"Dia sangat mencintaimu Binar, dan lo tau apa artinya itu. Gue akan menjadi sangat membencimu." ucap Juni, sekarang tongkat itu ia angkat kembali dan mengarahkan ke kepala Binar.
Tapi aksinya tertahan ketika Biru langsung masuk kedalam ruangan itu.
"Hentikan," teriak Biru. Juni melihat kearah Biru yang berdiri seperti pahlawan untuk Binar.
Juni berdesis dan tersenyum miring.
Setelah itu Awan menyusul Biru dari belakang, "Binar." teriak Awan ketika masuk dan melihat Binar.
Binar tak meresponnya, dia hanya tertunduk tak sanggup mengangkat kepalanya.
Juni yang melihat Awan dan Biru masuk tak di undang mengertakan rahangnya.
"Nyali kalian cukup tinggi datang kesini," ujar Juni.
"Lepaskan Binar," teriak Awan.
Juni tersenyum miring mendengarnya, ia mendekati Binar lalu mengakat kepala Binar supaya bisa melihat Awan.
"Lihatlah, pahlawanmu datang." ucap Juni sinis. Setelah itu Juni melepaskan tangannya dengan kasar.
Awan melihat wajah Binar berlumuran dengan darah, emosinya mendidih sampai keatas kepala.
"Ba**sat." ujar Awan langsung berlari kearah Binar, tapi dengan cepat tangan Juni meraih pist*l yang ia simpan di saku belakangnya.
Juni menodongkan pist*l itu kearah Binar, kaki Awan seketika terhenti.
"Lo mau liat Binar m*ti tepat di depan mata lo?" ucap Juni menyeringai, dirinya benar benar sudah tidak terkendali.
Awan hanya terdiam, jika ia bergerak, Binar akan dalam masalah.
"Lepaskan Binar, Juni!" tegas Awan.
Juni menggeleng pelan, "Jika gue gak bisa miliki lo, Binar juga gak akan bisa miliki lo." ucap Juni.
"Apa lo udah g**a ha!"
"Iya gue g**a karna lo Awan." teriak Juni.
Saat Juni dan Awan sedang bedebat, Biru menganbil alih untuk mendekati Binar, tapi reaksi Biru diketahui oleh Juni. Dengan cepat pist*l yang ia pegang di arahkan pada Biru.
"Berhenti atau lo masuk dalam masalah!" peringat Juni. Biru seketika terdiam.
Biru menatap Binar sedu, air matanya jatuh begitu saja ketika melihat Binar sedang kesakitan disana dan dia tak dapat membantunya.
"Juni lepaskan Binar," ucap Awan, kakinya melangkah pelan pelan mendekati Juni.
"Gak akan!"
"Lo kenapa ha? dia sahabat lo, apa lo benar benar terobsesi untuk memiliki ku? Jun, seharusnya lo tau, gue gak pernah suka sama lo, gue suka sama Bianr Jun," seketika hati Juni terhuyung mendengarnya, sangat sakit sekali, "Apa lo tau, Binar ninggalin gue karna dia sayang sama lo, dia gak mau lo kenapa kenapa, dia gak mau liat lo sakit hati." ucap Awan.
Ini adalah ucapan yang cukup panjang yang terlontar dari bibir Awan semenjak mereka bertemu.
Juni terdiam mendengar ucapan Awan, rasa bersalah mulai menghantuinya.
Ketika Awan mulai merasa bahwa Juni sudah mulai merespon kata katanya dengan baik, dengan cepat Awan menedak pist*l yang Juni pegang.
Pist*l itu melayang jauh dari mereka, Juni yang kaget langsung mendekati Binar, refleks tangannya meraih tongkat baseball tadi dan memukul kepala Binar, sangat keras sekali.
*Diam.
Tak bergeming.
Sangat berat, tapi seperti sedang berada di atas angan angan, semuanya terlihat kabur*.
"Binar."
Juni meneguk ludahnya dalam dalam, tangannya gemetar, tongkat itu ia jatuhkan dari tangannya, sekarang Juni jatuh kelantai dengan melihat tangannya gemetar.
"Binar, Binar." teriak Awan mendekati Binar, dengan sigap Awan langsung membuka tali yang terikat di tangannya, Biru yang melihatnya juga membantu Awan.
Sekarang Binar sudah berada di pangkuan Awan, tangan Awan mulai berlumuran oleh darah yang bercucuran dari kepala Binar.
"Nar, plis bertahanlah." ujar Awan, sekarang Awan meneteskan air matanya, itu sangat jelas terlihat.
Biru yang berada disamping Awan tak dapat berkutik, bibirnya sangat kaku sekali, udara disana mendadak sangat dingin.
"Makasih," lirih Binar, bibirnya gemetar untuk berbicara, sangat sulit sekali, tapi Binar terus berusaha.
"Nar bertahanlah, pliss." Awan menggenggam tangan Binar kuat.
"Biru panggil ambulan sekarang, cepat cari bantuan!" suruh Awan.
Biru yang tadinya terdiam tak berdaya langsung bergerak berdiri ketika Awan menyuruhnya. Tapi Binar menahannya.
"Biru," panggil Binar dengan suara seraknya, Biru menoleh dan kembali mendekati Binar, "tetaplah disini."
Biru menggenggam tangan Binar, rasanya dirinya ingin menyalurkan semua kekuatannya untuk Binar.
Sekarang pandangan Binar beralih Kearah Awan, air mata Awan terus jatuh.
"Temani Binar sebentar yah, mata Binar sedikit berat," ucap Binar. Bibir Awan bergetar hebat, dirinya tak kuasa menahan kesedihan ini semua.
"Binar sayang kalian,"
"Gue juga sayang lo Nar, jadi tetaplah bertahan." ucap Awan.
Binar memaksa bibirnya tersenyum, "Binar pengen tidur, makasih." ucap Binar, matanya mulai terpejam, rasanya semua menjadi sangat hening. Binar seakan masuk kedalam ruangan kedap suara yang sangat gelap, tapi rasanya sangat nyaman sekali, mungkin ini adalah akhir semuanya.
Awan menguncang guncang badan Binar ketika ia mulai memejamkan matanya, tangan Awan mendadak menjadi sangat lemas sekali, air matanya tak henti henti keluar, pikirannya seolah olah melayang entah kemana.
Biru juga merasakannya, semuanya seperti tak nyata dan mimpi. Ini sangat sakit sekali, ini tidak nyata, ini hanya mimpi buruk Biru.
"Binar."
*
Seminggu setelah semua kejadian itu terjadi rasanya sangat berbeda, semua kecerian yang ada di setiap bibir orang orang mendadak hilang. Semuanya seperti tak berwarna lagi, menjadi abu abu kelam.
Sudah seminggu juga Awan menjadi sangat pendiam, sangat.
Bahkan sikap dingin dulunya tak ada apa apanya dengan sikapnya sekarang.
Awan tak ada berbicara banyak belakangan ini, mungkin satu hari dia hanya melontarkan beberapa kata yang bisa dihitung dengan jari.
Biru juga meraskaan seperti itu, dirinya sangat sangat kehilangan Binar, dulu dia hanya kehilangan Binar karena jarak saja, tapi sekarang dia kehilangan Binar untuk selamanya.
Agam dan Rian yang menyaksikan kedua orang yang duduk bersama dengan wajah yang sangat datar dan tatapan kosong merasa iba.
Mereka berdua benar benar kelihatan seperti kehilangan orang yang sangat berarti bagi mereka.
Ini adalah titik terendahnya, kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi tepat didepan mata dan kita tak dapat berbuat apa apa.
Sangat sakit, bahkan berlipat lipat kali ganda rasanya.
Semuanya tak semudah yang kita pikirkan, jalan kehidupan tak ada yang tau, dia berjalan layaknya aliran air, mengikuti arus yang terus mendorong.
"**Ku harap kita dapat mengulang masa masa indah itu."
Selesai**
__ADS_1