NADIR

NADIR
13. BUKU RP. 300.000


__ADS_3

Entah gara-gara berpisah dengan kawan kami, Melodi, atau karena Hanin gadis jelita yang memperkenalkannya dengan parfum bernama obsession, sehingga Wira bertingkah di luar jangkauan pemahamanku sejak kemarin. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, bahwa Wira ini adalah anak Desa kebanyakan, dia bodoh minta ampun, tapi baik sungguh mati. Dia sinting tak ketulungan, tapi peduli pada sesama. Siapapun kamu yang menjadi kawan dekatnya, tak peduli berpuluh-puluh tahun kau mengenalnya sudah bisa kupastikan kau tak akan bisa menebak isi kepalanya itu.


Seperti yang kualami saat ini. Aku hanya bisa menuruti apa maunya, ketika saban hari Wira mengajakku bekerja paruh waktu di gudang kopra milik Pak Desa, padahal tanpa bekerja keras pun, seorang Wira bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah dari Ama-Inanya. Tapi sekali lagi kutegaskan, Wira adalah anak Desa kebanyakan, ia tidak ingin terus bergantung pada orangtua, meski orangtuanya tergolong orang yang mampu.


Pernah kutanyakan untuk apa kami harus bekerja membanting tulang di gudang kopra demi upah tiga puluh ribu rupiah? Dia jawab tunggu saja nanti! Kutanya lagi, untuk apa uang-uang itu? dia hanya bilang suatu hari nanti kau akan mengerti! Amboi, pusing kepalaku dibuatnya.


Suatu pagi, di hari minggu, Wira mengajakku pergi ke kota mengantarkan Tempurung dua puluh lima karung ke Toko Serba Ada (TOSERBA) ko A Kiong, bersama Bang Akiat. Aku sudah menolak, karena hari itu aku ingin membantu Ama menyemprot jagung, tapi Wira memaksa, sungguh aku tak kuasa menolak jika ia sudah memasang wajah memelas. Jelek sekali, wajahnya itu. Coba bayangkan. Dimintanya pula, aku membawa semua uang upah selama kami bekerja di gudang kopra Pak Kades.


Tak hanya itu, Wira juga menyuruhku membawa buku rapor SMP, SKHU (Surat Keterangan Hasil Ujian), dan Ijazah SD, tak tahu apa maksud Wira dengan semua itu, tidak mungkin dia ingin mengajakku mendaftar SMA Negeri sementara kami baru kelas 1 SMP, semester dua. Tapi, sekali lagi aku hanya bisa menurut.


Sebelum berangkat, sudah kusiapkan daun kangkung super anti mabuk darat, agar aku tidak muntah-muntah lagi di jalan. Bang Akiat pun mewanti-wanti dengan menyuruhku membeli kresek.


“Jangan lagi kau muntahi semua karung ini, Uti. Tobat aku membersihkan muntah jagungmu, itu!”


“Tenang Bang, aku tidak bakalan muntah hari ini, sudah kusiapkan penangkalnya!” aku menyeringai sembari memperlihatkan daun-daun kangkung yang kuselip di pinggang celanaku.


“Terserah kaulah. Asal tak muntah saja kau, Uti!”


Sepanjang perjalanan, Wira berseri-seri menghitung-hitung uang di sakunya berulang-ulang, sampai-sampai uang kertsnya itu hampir terbang terbawa angin, aku, gugup setengah mati. Takut, kalau ternyata yang ada dalam benak Wira hari ini adalah kesintingan lain, bisa habis percuma uang upah hasil kerja kerasku selama kurang lebih lima belas hari ini.


“Sebenarnya, kita mau apa di kota dengan membawa rapor dan ijazah begini, Kawan?” kutanyakan padanya.


Wira hanya menyeringai, “Pokoknya kau tenang saja, hari ini akan menjadi langkah awal bagi kita... penentu bagi masa depan dan cita-cita kita, Kawan!” Sumringah benar wajahnya itu, sementara hatiku ragu, penuh pertanyaan.


Sampai di depan toko ko A Kiong, Wira meminta izin kepada Bang Akiat dan Bang Santo, katanya dia dan aku ingin menemui seseorang, aku hanya diam, tak ingin banyak protes.


“Ya sudah, kebetulan aku dan Santo mau membeli beberapa barang pesanan Pak Kades, jangan lama-lama kalian!” Bang Santo mengingatkan, “Sebelum tengah hari, kita bertemu lagi di sini, kalau sampai terlambat, ku tinggal kalian nanti!”


“Siap, Bang!”


Sebelum meninggalkan toko A Kiong, Wira masih sempat-sempatnya menggoda Hanin yang sedang menjaga toko. Dikatakannya kepada Hanin, kalau dia tak bisa tidur memikirkan aroma parfum gadis jelita itu, tapi malang, sudah jadi nasibnya anak-anak gadis tidak mau peduli dengannya, kecuali Melodi, kawan kami itu.


Wira mengajakku berjalan kaki, menyisir kota nan padat itu, sesekali ia berhenti bertanya kepada siapa saja, yang ditemuinya, entah itu abang becak, pemulung, ibu-ibu, bapak-bapak, tante-tante, om-om, adik-adik, kakak-kakak, bahkan orang gila pun ditanyainya.


“Bang, sudikah abang memberitahu kami di mana kiranya letak Bank tempat orang menabung itu?” tanya Wira, lembut dan sopan sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).


Menurut teori Wira, di kota kabupaten seperti ini, kita harus menggunakan bahasa yang sopan dan santun, sebagaimana yang termaktub dalam tata Bahasa Indonesia yang baku. Sesuai EYD. Begitu katanya, makanya aku tak berani banyak bicara.


Orang gila itu tertawa, menengadah menatap langit dengan gaya dramatis, kemudian ia bersabda, “Telah Kau ciptakan langit sebagai payung bagi bumi... sudah Kau curahkan hujan sebagai sejuk bagi semesta... telah kau titipkan cinta sebagai nikmat terindah bagi manusia... tapi kami lalai dan lupa... oh Tuhan, biarkan aku hidup seribu tahun lagi!”


Apakah dia sedang berpuisi? Oh, indah betul puisinya, aku jadi teringat pada sastrawan hebat pavoritku, Chairil Anwar. Aku terpukau oleh manusia berambut gondrong tak terawat, dengan pakaian sobek sana-tambal sini, itu.


“Wahai Abang yang sangat pandai berpuisi, beritahulah kami di mana kiranya kami bisa menemukan Bank, tempat orang-orang menyimpan uang itu?!” sekali lagi Wira bertanya, penuh tata krama.


Sekali lagi pula orang itu bersabda, “Hati adalah ruang segala kebenaran bertumbuh... akal adalah tempat menyimpan segala keraguan-raguan... maka, tuntunlah jiwamu pada jalan kebenaran... oh, sungguh!”


Aku berdecak-decak, sambil bertepuk tangan. Wira semakin gusar, karena pertanyaannya tak terjawab. Panas hatinya mendapat jawaban yang jauh menyimpang dari poros pertanyaannya. Apalagi terik semakin menggigit. Kalau saja tak kutahan, mungkin Wira sudah menghantamkan tinjunya ke wajah orang gila yang hebat itu.


Sambil menahan emosi yang meledak-ledak di dadanya, Wira bertanya lagi, “Bang sekali ini aku bertanya padamu, di mana letak Bank, kantor hebat itu... kau tau?!”


Maka, telah kutemukan kebenarannya, orang gila adalah manusia yang diberkahi Tuhan dengan kebebasan. Ia bebas mengatakan apa saja yang ada dalam hatinya tanpa peduli dengan prinsip kerja sama atau prinsip kesopanan dalam ilmu sosiolinguistik. (Maaf kalau sedikit ngawur).


“Wahai anak mudah, ikutilah ke mana arah hatimu menuntun langkahmu!” orang gila itu menjawab. Wira mau meledak. Aku langsung menarik Wira, menjauhi orang itu.


“Kalau tak kau tahan, sudah kupecahkan moncong orang itu!”


“Sudahlah, Kawan, tak baik marah-marah sama orang tak waras macam dia itu... salahmu juga, mau bertanya padanya!” aku mencoba menenangkan Wira.


Tapi, siapa menyangka apa yang dikatakan orang gila itu ada benarnya, dengan mengikuti suara hati kami, setelah sekian ratus meter meninggalkan tempat orang gila itu, akhirnya kami sampai di depan gerbang sebuah Bank. Tepat di perempatan lampu merah, jalur dua. Wira sumringah kembali, setelah membaca plank nama di depan gerbang, itu adalah Kantor Cabang Bank Indonesia Sejahtera (BIS) yang sejak tadi ia cari.


“Ayo kita masuk, Kawan!” ajak Wira, semangat lagi.


“Mau apa kita di sini?” tanyaku.


“Sudah kau ikut saja!” Wira langsung menarik tanganku memasuki halaman Bank. Aku gugup, baru kali ini aku menginjakkan kaki di tempat mewah bernama Bank ini.


“Kau saja, aku tak berani masuk, Kawan!” kuhentikan langkahku, karena ciut melihat seorang satpam bertubuh kekar dengan mata melotot dan kumis melintang tebal―mirip perampok Bank dalam film residivis―yang berdiri tegap di depan pintu Bank.

__ADS_1


“Ayolah, Kawan, tak perlu kau takut dengan mereka, kita adalah tamu bagi mereka... dan kau tahu apa hukumnya seorang tamu bagi tuan rumah? Raja! Kita adalah raja di sini, Kawan!” Wira terus menarik lenganku.


Dalam hati aku protes; mana ada raja jalan kaki seperti kita ini?


Sampai di pintu Bank, Wira bertanya kepada satpam. Aku bersembunyi di belakang Wira, takut setengah mati.


“Assalamualaikum. Pak.” Ucap Wira, seramah mungkin.


“Waalaikumussalam. Maf dik, ada yang bisa saya bantu?”


Oi, oi, perutku terasa geli, ingin tertawa mendengar suara satpam bertubuh bengis yang cempreng itu. Ketakutanku menguap seketika. Hari ini, satu lagi pelajaran kudapat, tak semua orang bertampang sangar itu memiliki kepribadian yang keras. Contohnya saja Pak Satpam yang kemudian kami kenal dengan nama; Munir ini, wajah dan postur tubuhnya bisa dibilang sehebat Silvestre Estellon dalam film Rambo, tapi hatinya, alamak, tak lebih lembut dari Hello Kitty. Jadi, aku pesankan kepada kawan sekalian, jangan cepat memutuskan sesuatu hanya dengan melihat tampilannya saja.


“Ini Pak, aku dan Kawanku ini, ingin membuat buku tabanas.” Wira menjelaskan maksud dan tujuannya, tak tahu dari mana ia dapat kata “tabanas” itu.


“Oh, adik mau menabung? Buka rekening, begitu?” Pak Munir membenarkan, dengan ramah dan lembut.


“Iya, Pak.” Wira mengangguk, “Sudikah kiranya Bapak membantu kami?”


“Oh bisa, bisa!”


Pak Munir langsung mempersilahkan kami masuk, kemudian menuntun kami menuju tempat pengambilan nomor antrian.


“Coba saya lihat, nomor antrian adik berapa?” pinta Pak Munir.


Wira langsung menyerahkan kertas teller bertuliskan 200 itu kepada Pak Munir. Satpam berhati lembut itu menggaruk-garuk pelipisnya.


“Kalau boleh saya tahu, adik-adik ini dari mana?” tanya Pak Munir.


“Dari Desa Buga, Pak... 63 kilometer dari sini... kalau menggunakan mobil bisa memakan waktu dua jam, kalau bersepeda bisa seharian. Mengingat akses jalannya yang banyak di tumbuhi pendakian!”


Pak Munir manggut-manggut, maklum, “Kalau begitu, daripada adik-adik menunggu seharian di sini, kalau boleh, saya ingin membantu!”


“Oh, boleh, boleh Pak,” Wira tersenyum sumringah, “Kami sangat berterimakasih bila Pak Munir yang baik hati, sudi membantu kami anak desa yang penuh keterbatasan ini.”


“Kalau begitu, adik-adik ikut saya!” hatur Pak Munir. Wira tersenyum ke arahku, aku membalas senyumnya.


Aku dan Wira mengikuti Pak Munir dari belakang. Dibawanya kami menuju sisi bangunan Bank yang lain, sebuah pintu belakang, seperti pintu rahasia yang hanya dikhususkan untuk para pegawai. Oi, betapa bangganya kami mendapat perlakuan khusus seperti ini.


Langkah pertama melewati pintu, bulu-buluku meremang. Tak kusangka, gedung hebat yang seluruh sisinya hampir dipenuhi plat-plat kaca ini jauh lebih dingin dari hawa puncak bukit saat pagi hari. Aku bertanya-tanya, dari mana kiranya hawa dingin itu berasal. Belakangan baru kutahu, ada sebuah alat elektronik canggih yang bisa memanipulasi temperatur suhu dalam satu ruangan. Air Conditioner (AC) namanya.


Pak Munir membawa kami ke salah satu ruangan menemui seorang wanita berparas ayu, kulit mukanya putih mulus seumpama kapas, berbaju biru nan ketat dengan rok setinggi paha, menampakkan tungkai-tungkainya yang mulus berkilauan, sehingga aku dan Wira terpaksa menganga dibuatnya. Dan satu lagi, oi bukan main bibirnya itu, lipstik tebal merah merona, menambah kesan seksi setiap kali ia tersenyum atau sekedar bertutur. Dadaku kembang kempis tak karuan jika memandangnya lebih lama dari empat detik, aku bisa mati sesak nafas dibuatnya. Perlu kalian pahami, bagi anak Desa yang tumbuh dibawah payung adat-istiadat, kami selalu percaya, cinta pada pandangan pertama hadir selama empat detik.


“Selamat pagi, Bu!” ucap Pak Munir, kepada wanita yang ternyata, tak lain adalah―anggap saja―sekertaris BIS itu.


“Pagi. Ada apa Pak Munir? Ada yang bisa saya bantu?”


Aih, demi Tuhan aku tak sanggup mendengar suaranya yang merdu seperti suara seruling itu.


Pak Munir menjelaskan kepada Ibu Sekertaris tentang maksud dan tujuan kami. Saat Pak Munir menerangkan panjang lebar tentang jarak Desa kami Ibu Sekertaris mengangguk-angguk mafhum. Kemudian ditatapnya kami lembut sambil tersenyum. Aku dan Wira menggigil, gigi kami bergemeletuk. Entah karena tak biasa dengan AC, atau karena letupan emosi seorang anak laki-laki yang baru berkenalan dengan masa akil balig yang mendobrak-dorak dari dalam.


“Saya sudah mendengar tentang maksud dan tujuan kalian datang ke sini dari Pak Munir... jujur saya sangat terkesan dengan kalian, walaupun masih anak-anak kalian sudah mau menabung, jarang-jarang ada anak-anak seumuran kalian ini yang berpikiran maju seperti adik berdua ini.” ucap Ibu Sekertaris. Aku dan Wira menggangguk-angguk, tak memperhatikan apa yang diucapkannnya, hanya bibirnya, ya, bibir merah yang mengkilap basah itu.


“Boleh saya lihat Kartu Keluarga kalian?” lanjut Ibu sekertaris. Aku dan Wira, saling pandang.


“Hmm... anu... uh... anu....” aku masih menatap Wira, yang tak jelas mau mengatakan apa. Wira menoleh kepadaku sekali lagi, kemudian cepat-cepat ia mengeluarkan rapor SMP, SKHU, berikut Ijazah SD miliknya dari dalam ranselnya. Melihat Wira begitu, aku juga langsung mengeluarkan punyaku―jangan lupa, ransel yang selalu kubawa ini tak lain dan tak bukan adalah ransel bermerek; berat bersih 10 Kg.


Mungkin tersinggung karena kami tak mengeluarkan Kartu Keluarga (KK) seperti yang ia minta, Ibu Sekertaris menatap Pak Munir, satpam itu membalas dengan ekspresi memelas. Seperti sedang berkata; “Bantulah anak-anak udik ini, Bu, tak kasihan kah kau melihat tubuh mereka yang busung lapar itu?”


Ibu sekertaris itu mendesah, aku tahu ia sakit kepala. Seumur-umur hidupnya baru kali ini dia mendapat nasabah seperti kami yang udik ini. Oh Tuhan, ampunilah dosa Ibu Sekertaris yang cantik ini karena telah menghina kami berkali-kali di dalam hatinya.


Beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya Ibu Sekertaris itu pasrah pada keadaan, kamilah pihak yang diuntungkan oleh keadaan itu. Berdasarkan data seadanya dari rapor SMP dan Ijazah SD, Ibu Sekertaris yang seksi itu tekun memasukkan data diri kami ke dalam file komputernya―alat canggih yang hebat itu. Aku dan Wira mendengus-dengus kedinginan, gigi kami bergemeletuk sesekali.


“Kalian masih sekolah?” tanyanya.


“Iya, Bu!” aku dan Wira menjawab hampir bersamaan.


Ibu Sekertaris manggut-manggut sambil terus memperhatikan layar komputernya.

__ADS_1


Setelah memasukkan data diri kami berikut tanda tangan, Ibu Sekertaris meminta kami menyerahkan sejumlah uang yang kami punya sebagai tabungan awal. Wira langsung mengeluarkan semua uang miliknya, aku mengikuti apa yang dilakukan Wira saja.


“Ya sudah, kalian tunggu sebentar di sini.” Ucap Ibu Sekertaris itu ramah. Kami menggigil.


Tak begitu lama, Ibu Sekertaris kembali menemui kami. Maka sampailah kami pada kebahagiaan yang sangat, diserahkannya kepadaku dan Wira sebuah buku mungil berwarna merah putih dengan torehan angka di dalamnya; Rp. 300.000,00. Debit-kredit. Kutatap buku itu oenuh takjub. Mungkin dari semua siswa SMP Anak Semua Bangsa, aku dan Wiralah yang pertama memiliki buku hebat ini. Oi, coba kau lihat tulisan BIS Pelajar, dengan gambar garuda nan mengkilap di sampul buku ini, bisa silau matamu, Kawan.


“Terr... rima kasih, Bu!”


Aku dan Wira, bergantian bersin. Masuk angin.


“Iya sama-sama, Dik.” Ibu Sekertaris itu terus melengkungkan senyumnya. Aku dan Wira sudah mau terkutuk jadi batu, lantaran hebatnya perpaduan penuh daya magis antara bibir seksi dan AC.


“Hmm... kalau boleh tau, uang ditabungan ini ingin kalian pergunakan untuk apa nantinya?”


“Begini Bu.” Wira mulai menjelaskan, “Kami ini adalah anak Desa yang bercita-cita untuk menuntut ilmu sampai ke Ibukota Jakarta, jadi, kalau kami tidak menabung dari sekarang, mustahil kami bisa mencapai cita-cita kami yang mulia itu!”


Aku manggut-manggut sambil membetul-betulkan ucapan Wira.


“Oh sungguh kalian ini anak-anak yang luar biasa.” Puji Ibu Sekertaris, tubuhku semakin beku rasanya, Wira merona-rona, Pak Munir mesem-mesem sendiri berdiri di belakang kami.


“Terimakasih atas pujiannya, Bu.”


“Kebetulan, mulai tahun kemarin, Bank BIS bekerja sama dengan pemerintah mengadakan program beasiswa pendidikan bagi para nasabah yang statusnya masih pelajar seperti kalian ini.” tambah Ibu Sekertaris.


Senangnya hati kami mendengar kabar gembira itu.


Setelah semuanya dijelaskan oleh Ibu Sekertaris, kami dipersilahkannya untuk kembali. Dari tadi aku memang sudah mau lari dari ruangan itu, tak mau aku dikutuk menjadi patung batu gara-gara kedurhakaan nafsu muda dan suhu AC yang menggigit itu.


“Sekali lagi kami haturkan terimakasih, Bu.” Aku dan Wira menyalami dan mencium tangan Ibu sekertaris. Oi, wanginya menusuk sampai ke otak.


“Sama-sama. Simpan baik-baik buku tabungan kalian itu!”


“Iya, Bu.”


Pak Munir mengantarkan kami kembali ke halaman depan Kantor Cabang Bank BIS, tak tanggung-tanggung sebagai tanda terimakasih aku dan Wira memeluk tubuh satpam yang sangat berjasa bagi kami hari itu.


“Kalau tak ada Bapak, tidak tahu bagaimana nasib kami ini.” ucap Wira.


“Ah, tak usah kalian pikirkan, Dik, sudah sepatutnya kita sesama manusia ini saling membantu!”


Aku dan Wira meninggalkan gerbang BIS dengan perasaan bahagia yang meluap-luap. Kupeluk erat ransel berat bersih 10 kg berisi buku Rp. 300.000 itu.


“Bagaimana, Kawan?” tanya Wira kepadaku, aku tahu apa maksudnya. Ia minta dipuji olehku karena kejadian ini, dan menurutku dia memang pantas mendapatkan pujian.


“Kau memang hebat, Kawan. Aku akui, meskipun bodohmu minta ampun soal pelajaran, tapi kau memiliki pengetahuan luas di luar pelajaran. Jika kebodohanmu dikonotasikan sebagai kekurangan, maka, inilah kelebihanmu... hal-hal seperti inilah yang menjadi kelebihanmu, Kawan!” antahlah apa maksud perkataanku itu. Pujian atau hinaan. Yang jelas Wira tersenyum-senyum dengan rona wajah yang merah padam.


Sampai di toko A Kiong, Bang Akiat langsung mengomeli kami.


“Dari mana saja kalian, Uti?! Hampir kering kami ini menunggu! Kalian lupa dengan perjanjian kita bertemu di sini lagi sebelum tengah hari?! Kalau tak kasihan, sudah kutinggal kalian ini!”


“Maaf, Bang.” Ucap Wira.


Aku tak peduli dengan omelan mereka, yang pasti aku bahagia bukan kepalang hari ini.


Diperjalanan pulang, aku dan Wira membahas bagaimana kedepannya. Kami sepakat untuk mulai bekerja lebih keras lagi mencari uang demi mengubah jumlah nominal yang tertulis di dalam buku tabungan. Wira mengatakan, paling lambat sebulan sekali kami harus ke BIS untuk menambah simpanan.


“Semua ini demi menghargai Melodi, Kawan... kawan kita itu yang mengingatkan kita tentang betapa penting dan berartinya sebuah cita-cita!”


Ketika aku ingat-ingat lagi rangkaian kejadian sejak perpiasahan kami dengan Melodi hari itu, barulah aku paham apa maksud Wira dengan semua ini. Dalam hati aku memuji-muji Kawanku ini tak henti-henti.


۝


Jangn lupa ninggalin jejak ya... Kritik dan saran kalian, sangat membantu Author...😁🙏


Notes:


Catatan Kaki, ada di Episode Pertama

__ADS_1


__ADS_2