NADIR

NADIR
4. IMPROVISASI


__ADS_3

Bukan main gugupku malam ini. Menyesal juga aku memaksa Ama turun gunung dan menginap di rumah Wira, hanya demi tugas kelompok yang buntut-buntutnya aku juga yang harus mengerjakan sendiri. Kenapa tak kuturuti saja maunya untuk mengerjakan tugas itu sendiri di rumahku, di tengah ladang yang menjanjikan kedamaian. Bukan kesintingan seperti sekarang ini.


Napas kami memburu, dada kembang kempis, seperti orang yang sedang ketakutan menghadapi malaikat sakaratul maut. Kutatap kening Wira yang berkilap-kilap diterpa cahaya rembulan. Ku seka peluh di wajahku yang mungkin saja pucat tanpa darah. Di belakang kami yang lebih malang lagi. Gadis tambun bermata sipit itu terus mendesis-desis, kulirik ia, menggigit bibir, tangan kanannya bergetar dingin menyentuh bahuku. Dialah melodi. Indah namanya. Tapi sayang bentuk tubuhnya tak jauh lebih bagus dari karung tempurung yang bertimbun-timbun di bawah kolong rumah Pak Kades ini.


Di depan sana, anak buah Pak Kades yang berdiri bertelanjang parang tidak jauh dari tempat kami bersembunyi, memaki-maki. Mata mereka menyala, siap menerkam, sudi menebas leher si maling mangga yang membuat tuannya berteriak-teriak histeris dari dalam rumah. Dan maling mangga itu, kami yang malang ini. Semua gara-gara Wira.


Bulu kulitku meremang, mengingat rekam jejak anak buah Pak Kades itu. Mereka kejam, mereka jawara kampung. Pernah mendekap dipenjara bertahun-tahun, karena membunuh orang. Kalau dikonotasikan dengan pendekar dalam komik Wiro Sableng, mereka adalah tokoh antagonis berkumis tebal, dengan dada terbusung yang karena kebiadabannya menjadi pembunuh bayaran. Pendekar berambut merah yang memotong tangan seorang bocah bernama Jaya Prana. Oh, ampunilah kami.


“Ba... bagaimana nasib kita ini?” suara Melodi bergetar.


“Tenang, Kawan. Aku punya rencana!” mata Wira berkilat-kilat, licik dia jentikkan jarinya. Kalau saja tidak segan pada postur tubuhnya yang sejengkal lebih tinggi dariku, sudah kuhantamkan tinjuku di senyumnya yang melengkung tanpa secuil rasa bersalah itu.


“Rencana, apa kau? Mati kita malam ini,” aku kesal, “Semua gara-gara kau!” kami berbisik-bisik, Melodi mendesis-desis.


“Kita hanya butuh improvisasi.” Kata Wira. Ingin sekali aku takjub dengan perkataannya. Improvisasi? Oh, betapa hebatnya kata itu kudengar. Tapi aku tak paham apa artinya, tak mungkin pula di saat seperti ini dia menyebutkan nama hewan langka yang pernah hidup di zaman purba. Tak mungkin.


“Aku belum mau mati, Uti.” bisik Melodi yang mungkin saja sudah terkencing-kencing ketakutan. Nah, Melodi lebih dulu paham arti kata improvisasi, tadi.


“Kalian ikuti aku dari belakang.” Perintah Wira. Ingin aku menyanggah, tapi itu sia-sia, makhluk sinting itu sudah bergerak lebih dulu. Tangkas ia berpindah-pindah dari pohon mangga kweni ke pohon rambutan. Kami mengikutinya dari belakang.


Ingin meledak rasanya dadaku, saat cahaya senter anak buah Pak Kades sempat menyapu sebelah wajahku. Untung saja, Wira cepat menarikku menuju sisi pohon yang jauh lebih gelap. Sementara Melodi, tergopoh-gopoh ia mengikuti kami. Langkahnya berat, pergerakannya lambat, terengah-engah ia menggendong kain sarung berisi mangga. Kakinya tersandung akar pohon rambutan yang mencuat dari dalam tanah. Terasa lambat rasanya waktu saat kulihat siluet tubuh Melodi miring ke depan. Membentuk sudut tajam yang sebentar lagi roboh di atas tanah. Dan, BUG! Belum cukup kemalangannya, Melodi jatuh terkapar, memekik. Aku dan Wira saling pandang. Lihatlah kekejaman kami, demi menyelamatkan diri, kami menarik tubuh Melodi yang masih memekik-mekik menahan sakit dengan paksa.


Mendengar suara tabrakan tubuh Melodi dan punggung tanah yang mirip tabuhan gendang masjid, Anak buah Pak Kades, berjalan cepat menuju tempat kami bersembunyi, dengan cahaya senter terhunus tajam ke sisi pohon rambutan. Tepat di sampingku, kurasa cahaya itu adalah parang panjang yang siap menghujam jantung maling-maling malang seperti kami. Gugup aku membayangkan. Dadaku semakin sesak.


“Kau gendong dia, Uti!” bisik Wira, menunjuk ke arah Melodi yang terududuk di depanku sambil memegang lututnya. Aku bisa menduga kalau gadis itu sedang menangis, berkali-kali ia menyeka wajahnya.


“Kenapa harus aku? Kau tak lihat tubuhku ini?” Maaf, kalau harus membuat Melodi tersinggung. “Aku tidak sanggup, Kawan. Bisa patah tulang-tulangku ini dibuatnya.” Aku menolak.


“Tak usah cerewet kau, turuti saja perintahku!”


“Kenapa tidak kau saja yang menggendongnya?”


“Aku tidak bisa... aku harsu konsentrasi, di kepalaku inilah keselamatan kita. Kalau tidak mau kepalamu terlepas dari leher keringmu itu, sebaiknya kau menurut saja!”


“Halah... apalah!” aku terpaksa menurut. Ngeri juga membayangkan perkataannya itu.


Bunyi ranting-ranting kayu yang patah terinjak semakin dekat kudengar. Wira sudah lebih dulu melompat ke pohon kayu asam di sebelah kami. Aku terseok-seok menggendong Melodi.


“Cepat, Kawan!” bisik Wira. Ingin kutinju mulutnya yang sembarang bicara itu. Tidak kasihkankah dia melihat tubuh kurang giziku ini harus menanggung beban seberat karung tempurung kelapa?


Baru juga aku sampai di pohon asam dengan perasaan hancur-remuk. Wira sudah melompat, menyelinap di cela pagar menuju sebuah bangunan kayu serupa kios bensin berukuran 2 kali 3 meter. Bukan kepalang penderitaanku saat harus membungkuk, menyelipkan diri di celah pagar yang patah sambil menggendong beban seberat Melodi, berikut puluhan mangga kweni di dalam sarung. Oh, salah apa aku Tuhan, sehingga kau menimpakan beban ini.


Aku langusng menjatuhkan Melodi ketika kami sampai di dalam bangunan kayu yang ternyata menumpuk besi-besi bekas itu. Aku megap-megap, seperti ikan mujair sesak napas. Melodi terus memegangi lututnya. Wira, mengintip dari celah dinding.


“Kalian tunggu di sini, nanti kalau ada kesempatan, kau gendong Melodi ke rumahnya. Nanti kita ketemu di sana!” Ucap Wira, serius.


“Mau ke mana kau?” tanyaku, mulai gelisah. Keajaiban seperti apa lagi yang akan dikacaukan manusia berambut keriting ini.


Ia tersenyum, “Saatnya, improvisasi.” dinaikkannya sebelah alisnya. Aku mau muntah, “Jangan lupa, mangganya!” katanya, sebelum akhirnya menghilang di telan malam.


Aku gamang. Kuintip dua orang anak buah Pak Kades yang sedang duduk di selasar kayu kolong rumah. Senternya terus menyisir sekitar rumah, parangnya yang telanjang berkilau-kilau terkena sapuan cahaya senter. Aku ngeri.

__ADS_1


Kucari-cari siluet tubuh Wira, tak kutemukan anak itu di sana. ingin aku mengambil inisiatif sendiri, berjalan mengendap-endap dari sini, menuju sisi rumah Pak Kades yang gelap di sudut sana, kemudian merengsak masuk di antara kelebat bambu menembus persawahan, mengitari pematang kolam ikan Mangge Rainu, kemudian melewati kandang ayam, dari situ menelikung ke kiri, dan sampai. Oh, indahnya kubayangkan rute pelarian hebatku itu. Langsung kutarik sebelah lengan Melodi, anak itu kaget, menatapku penuh tanda tanya.


“Kau mau apa?” tanyanya, polos.


“Kita pergi dari sini!” kataku, bersemangat.


“Bagaimana caranya? Kita tak punya senter.”


Oh, aku lemas. Kulepas tangan melodi, putus asa. Dia benar, tak ada cahaya yang bisa membantu kami melarikan diri. Bergantung pada bulan di atas sana, adalah satu kesalahan fatal jika harus mengambil rute pematang sawah. Kami bisa saja jatuh, ketahuan saat kami berteriak karena menginjak paku, atau bertemu ular sawah. Oh, malangnya, hebatnya garis-garis merah di peta pelarian itu terhapus seketika. Aku duduk di samping Melodi. Gadis bermata sipit itu menatapku iba.


“Tenang, Kawan, kita serahkan saja semuanya pada Tuhan.” Katanya. Dia benar, tak ada yang bisa kami lakukan selain berdo’a. Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebelum ajal tiba. Biar masuk surga, kalau memang harus mati, nanti.


“Tolong... tolong!”


Sayup-sayup kudengar teriakan itu. Aku langsung berdiri, mengintip dari celah dinding papan. Kulihat sekelebat cahaya dari ujung kampung sebelah barat.


“Tolong... tolong!”


Dua orang anak buah Pak Kades berlari ke luar dari kolong rumah menuju sumber suara. Dadaku kembang kempis. Gugup, menduga-duag apa gerangan yang terjadi pada orang yang berteriak-teriak minta tolong itu.


“Ada apa?” tanya Melodi, tak mau berdiri.


“Aku tidak tau.” Kataku, tetap memperhatikan kejadian di luar.


Bisa kulihat seorang bertudung sarung dengan senter besar di tangannya berlari menuju dua orang anak buah Pak Kades. Penasaran aku siapa gerangan orang bersarung itu. Kulihat mereka bercakap-cakap menunjuk-nunjuk ujung kampung sebelah barat. Dua anak buah Pak Kades langsung melangkah cepat menuju ujung kampung, sementara orang berkain sarung itu diam sebentar, mengarahkan cahaya senternya tepat ke arahku. Di gerak-gerakkannya cahaya senternya itu dengan cepat, aku semakin gugup. Saat orang itu mengarahkan cahaya senter ke wajahnya, barulah aku sadar.


“Wira?” pekikku. “Aku mengerti sekarang!”


Wira langsung mberlari menyusul kedua anak buah Pak Kades. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, aku langsung menarik lengan Melodi. Tapi gadis itu tak mau berdiri.


“Aku tak bisa berjalan lagi.” Bisiknya, lemah.


Aku mendesah, gusar, terpaksa kugendong gadis bertubuh ‘masya Allah’ itu sekali lagi. Terseok-seok aku berdiri dengan beban sehebat tubuh Melodi. Kubawa ia berlari. Berlari... secepat yang aku bisa ke arah timur. Aku tak peduli lagi dengan telapak kakiku yang telanjang menginjak kejam hamparn batu-batu jalan. Yang ada dalam ingatanku, kami harus selamat.


Lega rasanya ketika kami sampai di lantai keramik rumah Melodi. Aku langsung berbaring terengah-engah. Jantungku seperti hendak lepas rasanya.


“Air... air!” desahku.


Melodi langsung beranjak masuk ke dalam rumahnya, membawa buntalan sarung berisi mangga kweninya. Terpana aku melihat anak itu bisa berjalan, santai. Tidak kulihat ia terpincang-pincang. Oi, ke mana perginya kalimat; ‘aku tak bisa berjalan lagi’ itu? Dalam hati aku merutuk-rutuk. Gadis bertubuh “bukan main” itu mengerjaiku.


“Ini, kau minum dulu... kau pasti capek sudah menggendongku.” Melodi tersenyum-senyum, dengan tatapan berkilat-kilat. Mengisyaratkan sebuah kemenangan; aku telah mengerjaimu mentah-mentah. Ingin sekali kucongkel sepasang matanya itu. Biar dia tahu rasa.


“Darimana kau dapat kweni ini, Mel?” Ina-nya Melodi keluar membawa sepiring mangga yang sudah terpotong-potong.


“Dari rumahnya, Wira, Ina.” Melodi menatapku. Seakan memberitahu; jangan bocorkan kebohongan ini.


“Manis betul kweni ini.” Kata Ina-nya Melodi yang sejak tadi mencecap-cecap biji kweni. Liurku mau tumpah rasanya.


“Kita tunggu Wira di dalam saja... nanti kubuatkan kau minum.” usul Melodi.


Cemas juga aku memikirkan kawanku yang satu itu. Bagaimana nasibnya sekarang. Jangan-jangan dia ketahuan. Jangan-jangan sudah mati dia sekarang. Tubuhnya dicincang-cincang dua anak buah Pak Kades yang tak berperikemanusiaan itu. Lalu dimasukkan kedalam karung-karung tempurung. Diikatkan sebuah batu besar. Kemudian di tenggelamkanlah jasadnya di sungai koili. Tak akan ketahuan pembunuhan mutilasi ini, karena potongan-potongan tubuh Wira akan habis termakan ikan-ikan sungai. Oh, ngilu hatiku membayangkan.

__ADS_1


Tapi tidak, bukan Wira namanya kalau dia mati terlalu cepat. Seperti tak mengalami sesuatu yang mengerikan, dia tersenyam-senyum di pintu rumah Melodi. Hebat benar kawanku ini, setelah menyabung nyawa, dia masih bisa tersenyum lebar semacam itu.


“Hebat bukan, petualangan kita malam ini?!” katanya dengan wajah berkilau-kilau.


“Hebat? Hebat katamu? Gila kau, Kawan! kita hampir mati muda gara-gara kesintinganmu itu!” aku berdecak, kesal. Sungguh, ingin kuhantamkan tinjuku di wajahnya.


“Oi, janganlah marah, Kawan... tak kasihan kau melihat Melodi yang rela kau gendong malam-malam begini?” godanya, sembari merangkulku.


Aku diam. Merajuk. Tak ingin berbicara dengannya untuk waktu yang lama.


“Oi, oi... manisnya kawanku ini kalau sedang merajuk,” Wira menowel pipiku. Aku bertambah kesal. Melodi tersenyam-senyum, geli.


“Kalian ingat, Kawan... masa-masa ini akan menjadi suatu ketika yang sangat kita rindukan di hari-hari lain, nantinya.” Hebat kalimat itu kudengar. Ajaib. Seketika dia membuatku takjub lagi padanya. Oh, ternyata aku tak benar-benar bisa membenci homo sapiens jenis langka seperti kawanku ini.


Sebenarnya kejadian malam ini bukan salah Wira sepenuhnya, meskipun seluruh rangkaian rencana gila ini lahir dari kepalanya. Aku tau Wira melakukan ini karena sebelumnya Inanya Melodi menyinggung ingin makan mangga kweni. Wira yang tidak sampai hati mendengar keluhan Inanya Melodi yang tengah mengidam, langsung mengajak kami menuju pohon kweni terdekat di Desa ini, di samping rumah Pak Kades.


Niatnya Wira ingin meminta langsung kepada si empunya mangga, namun belum sempat kami menemui Pak Kades, dua orang anak buahnya, yang tak lain dan tak bukan, Santo dan Akiat, preman kampung yang disegani kebengisannya itu, langsung melarang kami menemui Pak Kades. Segala macam alasan sudah disampaikan Wira, bahkan dikatakannya kweni itu untuk Inanya Melodi yang sedang mengidam. Tapi kedua orang berhati batu itu tetap tidak mengizinkan. Timbullah kesintingan Wira, sampai kami harus tergugup-gugup ketakutan. Dan aku terseok-seok menggendong Melodi yang ternyata hanya berpura-pura tidak dapat berdiri.


۝


Catatan Kaki :


¹. Mendongeng


². Anyaman Bambu


³. Ayah;Bapak


⁴. Bambu; Bambu ater


⁵. Om; Paman; sebutan untuk orang yang sebaya dengan orangtua.


⁶. Panggilan untuk anak laki-laki.


⁷. Kelapa muda


⁸. Alat musik petik berdawai 9 berbentuk seperti perahu dayung pda umumnya. (Alat musik ini hanyalah hasil imajinasi penulis).


⁹. Dongeng


¹º. Makhluk dongeng yang konon berasal dari kayangan.


¹¹. Ibu; Mama; bisa juga digunakan untuk menyapa perempuan yang seumuran dengan orangtua kita.


¹². Dukun


¹³. Nenek


¹⁴. Ikan air tawar; sejenis dengan mujair


¹⁵. Ibunya; Mamanya

__ADS_1


Next baca epsisode selanjutnya ya... 😁


jangan lupa ninggalin jejak... kritik sarannya..🙏


__ADS_2