
Selain tak muda kalah oleh keadaan, yang kutau Wira adalah orang yang persisten. Matanya jeli, mampu melihat setipis apapun celah, peluang. Ia tak pernah mau menyia-nyiakan kesempatan. Karena itulah dia menyuruhku menemui Hanin untuk berpura-pura mengajaknya merayakan kenaikan kelas di Caffe Mencintaimu Selalu. Sengaja ia pilih kafe itu, karena ada band akustiknya. Sumpah, aku sudah menolak gagasannya ini setengah mati. Namun, kiranya Kawan maklum dengan sifat Wira. Lagi-lagi aku ikhlas menuruti maunya.
“Ayolah, Kawan, aku sangat membutuhkan bantuanmu kali ini!”
Ragu-ragu aku menemui Hanin di rumahnya. Tak kusangka ia mau menerima begitu saja tawaranku itu.
“Ah kebetulan sekali, aku dan beberapa teman sekelas ingin merayakannya juga malam ini... memang kami juga ada rencana ingin mengajakmu dan Kawanmu yang Keriting itu... kebetulan sekali, Ya!”
Ya, memang kebetulan.
Seperti di timpa bulan, diguyur gemintang, berkilau-kemilau wajah Wira saat kukatakan kepadanya bahwa Hanin setuju.
“Sumpah mati kau, Kawan?!”
“Demi kematian!” jawabku, tersengal-sengal setelah berjalan sejauh dua kilometer di jerang matahari yang terlalu kejam siang itu.
“Haiss... jangan berdusta kau, tak baik sifat pendusta itu!”
Sungguh mati, aku ingin meninju wajahnya yang tak menaruh rasa simpati sedikitpun pada buih-buih keringat yang membanjiri tubuhku ini.
“Kalau tak percaya, silahkan saja kau tanyakan langsung pada hanin!” aku jengkel.
“Oke... oke... aku percaya!”
Sore itu juga Wira langsung ke toko pakaian. Dibelinya blues kotak-kotak kombinasi warna merah muda dan biru, skinny jeans warna ungu muda, sepatu pantovel dari kulit buaya, tak peduli gaji sebulannya bekerja di pembakaran tempurung Ko A Kiong kering begitu saja.
Sepanjang sore ia berputar-putar di depan cermin berkarat di kamar kos. Mengenakan setelan tak sinkronnya itu. Aku cekikikan melihat penampilannya yang lebih mirip umbul-umbul berjalan.
“Bagaimana penampilanku kawan?”
“Oi... oi... gagah sekali kau, mirip ibu-ibu arisan buta warna, di kampung!” selorohku.
“Hey, hati-hati kau kalau bicara! Setelan seperti ini sedang trend sekarang, Kawan, kau tau?!”
Aku tak mau membantahnya lagi. Wira sangat sensitif soal penampilannya. Kemudian ia mengutarakan rencananya malam nanti.
“Kau tau, Kawan, sudah kupersiapkan lagu khusus untuk Hanin malam ini. Akan kubuat dia terpesona dengan lagu itu, dan biarkan ia hanyut dalam kesima karena penampilanku ini. Amboii....” Wira tersenyum-senyum sendiri, macam keledai baru minum susu.
Kafe Mencintaimu Selalu, baru buka pukul 19:00, aku dan Wira sudah berdiri di halaman parkirnya sejak maghrib. Seperti orang bodoh rasanya menunggu sampai berjam-jam di sana.
Baru pada pukul 20:00 Hanin, Putri, dan Kalia datang. Wira langsung menyambut dengan seringai dan dada membusung. Petantang-petenteng di depan Hanin, menunjukkan setelan yang dipikirnya keren itu. Tak ayal penampilannya yang sudah kukatakan mirip bendera umbul-umbul itu ditertawakan oleh mereka.
“Oi, Kawan, penampilanmu ini macam laki-laki “bimbang” di perempatan jalan saja!” sindir Putri.
“Ya, andai saja kau bawa, gemericik....” tambah Kalia.
“Sambil bernyanyi... abang tak pulang-pulang, aku jarang di belay!” Putri menirukan gaya bernyanyi banci-banci perempatan lampu merah dengan suara disengau-sengaukan.
“Hahahaha....”
Merah muka Wira penampilannya menjadi bahan gurauan Putri dan Kalia. Namun, seperti seperti meraup kembang ke wajah, diterpa angin surga, wajah Wira sumringah seketika menadapat pembelaan dari Hanin.
“Ah, jangan begitu, Kawan, hargai selera fashion orang lain!”
“Hehehe....”
“Daripada lama-lama di sini, mending kita masuk... bisa kehabisan tempat kita nanti!” ajak Hanin.
Kami masuk. Lagu I Swear dari sang legenda Kenny Rogers menyambut kami. Menikung ke kanan menuju meja nomor delapan yang masih kosong. Aku menarik kursiku sedikit ke belakang. Memberi ruang bagi Wira yang sudah mengambil tempat paling strategis untuk bisa menatap wajah Hanin sepuasnya.
“Cantik!” gumamnya. Berbinar-binar matanya menatap wajah Hanin yang serius bercakap-cakap dengan Putri dan Kalia. Ekspresinya mirip anak umuran dua tahun yang baru mendapat boneka jagung dari Amanya.
__ADS_1
Mungkin bagi Wira, lagu yang dinyanyikan oleh vokalis home band kafe Mencintaimu Selalu ini adalah suara hatinya. Bersumpah demi bulan dan bintang di langit, bahwa ia jatuh cinta berkali-kali oleh gadis bermata sipit dengan sepasang alis cantik yang melengkung karismatik itu.
Maka, demi mendapat simpati Hanin malam ini, Wira sanggup melakukan apa saja. Termasuk menguras sebagian isi tabungannya.
“Malam ini aku yang traktir!” katanya.
“Serius kau, Kribo?” Kalia ragu.
“Jangan main-main kau, di sini makanannya mahal-mahal kau tau!” timpal Putri.
Wira tersenyum angkuh. Dikeluarkannya berlembar-lembar uang ratusan yang masih mengkilap dan keras, sehingga saat ia mengibas-ngibaskan uang itu di depan wajahnya, terdengar bunyi gemeletuk yang samar.
“Masih ragu kalian?! pokoknya makanlah apa yang kalian suka... aku yang bayar!”
Oi, sombong betul Wira malam ini. Tak ia pikirkan besar penyesalannya nanti.
Wira membusung-busung angkuh, tatkala Putri dan Kalia yang bisa dibilang kebaikan mereka pada orang lain berbanding lurus dengan isi dompet orang itu, tak berhenti memujinya. Tentu pujian itu ada maksud lain. Tapi Wira tetap suka.
“Kau memang hebat, Kribo!” ucap Putri. Hidung Wira merekah.
“Iya, tak hanya hebat... penampilanmu terbaik malam ini... macam artis kau kulihat!” tambah Kalia. Gigi Wira kering, karena tak putus menyeringai.
Putri dan Kalia berpandangan, kemudian celingukan seperti cacing kena siram minyak tanah. Aku tau, ada sesuatu yang mereka rencanakan untuk memanfaatkan kebodohan seorang yang sedang terlena oleh puji-pujian―orang desaku bilang; kapujian (makan puji). Aku dan Hanin mesem-mesem melihat Putri dan Kalia. Kami berdua sudah tau tabiat dua anak gadis yang suka memanfaatkan kebodohan anak lelaki itu. tak sedikit yang termakan rayu-puji mereka di kelas. Anto, Halim, Kasmat, Randi, Rendi, Rundi, Galih, Galah, Rudi, bahkan Pak Zainuddin pernah menjadi korban mereka.
“Boleh kami memesan menu paling lezat nan mahal di kafe Mencintaimu Selalu ini?”
Nah kan, sudah kubilang apa, Kata; hebat, penampilan terbaik, dan macam artis itu tidak gratis.
“Oh, untuk Kawanku Putir dan Kalia yang baik hati ini, tak ada yang tak boleh... silahkan saja!” ucap Wira, masih belum sadar. Malah ia ikut cekakak-cekikik bersama dua gadis perayu berhati ular itu.
Akibatnya, meja kami penuh dengan makanan. Semua jenis makanan hebat tersaji di depan kami. Mulai dari seafood sampai makanan pegunungan. Mulai dari makanan Itali yang terkenal itu sampai makanan tradisional seperti Ambal kasambang.
Kulirik muka Wira mulai khawatir. Di lihatnya daftar harga berkali-kali, di hitungnya semua jumlah menu yang dipesan Putri dan Kalia yang super tega itu. Kemudian dihitungnya isi dompetnya. Habis, tak tersisa. Maka, tandaslah seluruh isi tabungannya selama setahun.
Kau lihat itu, Kawan? Makanya, aku ingin berpesan kepada kalian, jangan terlalu terlena atau termakan oleh puji-pujian yang berlebihan... berbahaya... serangan psikologis yang membuat kalian terpedaya... lihat saja Wira malam ini!
Sejak tadi Hanin kulihat tak terlalu bersemangat. Menu makanan yang tersaji di depan kami begitu banyak tak menarik atensinya. Entah apa yang dirisaukannya, berkali-kali ia melirik arlojinya.
“Wahai adindaku Hanin yang cantik, ada apa kiranya kau nampak begitu gelisah?” tanya Wira, seperti orang yang sedang mendeklamasikan puisi. Aku hampir memuntahkan Ambal Kasambang dari mulutku.
Hanin hanya menyeringai masam.
“Wahai adindaku Hanin yang cantik, kalau kau tak berkeberatan, bolehkah kiranya kupersembahkan satu lagu terbaik, terkhusus untukmu malam ini?” Wira tak menyia-nyiakan kesempatan.
Hanin menyeringai masam, lagi. Menatap kosong ke pintu kafe. Nampaklah satu sosok dari balik pintu itu. Seorang lelaki yang mengundang senyum Hanin, merekah.
Wira yang bersiap-siap menuju panggung kafe untuk membawakan satu lagu yang manis untuk adindanya, Hanin, lantas berhenti saat lelaki itu menghampiri meja kami.
“Hay, semua!” sapa lelaki yang tak kukenal itu, ramah.
“Hay!” balasku, ragu-ragu.
“Hay, Nan?!” nampaknya Putri dan Kalia sudah mengenal akrab lelaki itu.
Hanin langsung berdiri, menarik lengan lelaki itu ke sampingnya. Wira langsung menatap lelaki itu, tajam.
“Perkenalkan, ini Anandra!” Hanin memperkenalkan.
“Nadir!” ucapku. Menjabat tangannya yang halus.
Lelaki itu tampan, mukanya mulus, bersih, cetak biru lelaki idola banyak gadis. Tak seperti kami yang penuh daki dan panu terlalu sering mandi air hujan, bergemul dengan debu, dan dijerang terik mentari. Matanya sedikit gelap namun menenangkan, sekali ia tersenyum, hati teduh rasanya. Bukan niat menjadi psikiater, bisa kuduga lelaki karismatik ini mempunyai sisi yang misterius, sehingga gadis manapun akan penasaran dibuatnya dalam sekali pandang.
__ADS_1
Anandra menawarkan perkenalan kepada Wira, namun Kawanku itu bergeming, hanya matanya yang masih menatap tajam ke arah Anan. Menghujam. Bisa kurasakan getar-getar persaingan tercipta di antara dua lelaki remaja yang saling berbalas tatap itu.
“Hey Kribo, tidak sopan kau, menolak niat sesorang untuk berkenalan!” tegur Hanin. Wira tersentak, seperti orang yang tersadar dari lamunan.
“Oh iya... Wira... Wira Sasono!” tegasnya, kemudian.
“Anandra.” Ucap lelaki itu, kalem.
Hanin menarik Anan untuk duduk di sebelahnya. Bengkak dada Wira melihat pemandangan itu.
“Siapa dia?” tanya Wira, sinis.
“Oh, maaf kalau aku baru memperkenalkan kalian pada Anan, malam ini... dia teman sekelasku waktu SMP... pacarku!” terang Hanin.
Meluruhlah langit, menimpa tubuh Wira. Menindihnya kuat sampai tersuruk-suruk hatinya menentang kebenaran yang baru saja di dengarnya.
“Maaf, maksudmu?” Wira masih berusaha menyangkal perasaannya yang mulai tercubit sakit.
“Ya, Anan ini pacarku sejak SMP!” Hanin tahu harus berkata apa. Sudah saatnya ia melumpuhkan semangat Wira untuk mendapatkan cintanya. Bahasa kasarnya, Hanin tak ingin lagi diganggu manusia sinting berwajah keras berambut kribo itu.
Maka lihatlah apa yang terjadi. Realitas telah menghantam Kawanku itu dengan telak. Tak adalagi seringai angkuhnya. Hanya tatapan layu ke lantai kafe. Lelaki yang selalu mengagungkan kata; “Tak mau kalah oleh keadaan” ini, telah sampai pada batasnya. Kepercayaan itu menguap seketika. Terbang disaput bayu yang berlalu pulang.
Oi Ama... dosa apa yang telah diperbuat Kawanku ini, sehingga harus menerima kemalangan yang kejam seperti malam ini.
Waktu seketika melambat di ruang waktunya. Ingin sekali Wira segera beranjak dari tempatnya. Berlari dari realitas yang membuat hatinya ngilu. Maaf Kawan, pada keadaan ini aku tak bisa berbuat banyak untukmu. Oh....
Wira benar-benar berubah menjadi sosok yang lain malam ini. Ia menjadi pendiam, tak banyak bicara. Kata-kata terakhir yang kudengar keluar dari mulutnya, ketika ia membayar semua menu malam itu kepada kasir. Selebihnya tak adalagi. Ia benar-benar telah kalah. Keceriaan yang kulihat meledak-ledak sejak sore tadi, tak ada lagi. Habis seketika. Benteng keyakinannya tumbang.
Sampai di kos, aku mencoba menghibur Wira. Namun semuanya sia-sia belaka. Kawanku itu sudah terlanjur jatuh. Tak ada kekalahan yang lebih memalukan dari cinta yang dipecundangi.
“Sabar, Kawan... wanita tak hanya Hanin di dunia ini!” kataku.
Wira tersinggung. “Pandai kau berkata begitu... mana tau kau soal cinta dan patah hati?!”
Aku diam.
Wira berusaha menjauhiku. Tapi tak kubiarkan ia benar-benar jauh. Sepanjang malam Wira bertarung dengan rasa sakitnya. Sepanjang malam pula aku mengawasinya. Aku tak mau kalau patah cinta membuatnya hilang waras. Banyak langkah-langkah tak masuk akal yang menjadi mungkin bagi orang-orang patah cinta seperti kawanku ini. Minum racun tikus, menggantung leher di pohon pala, lompat indah dari tower telkom, dari gedung bertingkat juga ada, menenggelamkan hidup di tengah laut, dihantam ombak sampai mati kehabisan oksigen. Semua bisa saja terjadi. Aku tak ingin Wira bernasib tragis seperti itu. Bisa-bisa dia jadi arwah gentayangan karena mati penasaran. Orang-orang banyak menganggap remeh penyakit hati yang telah banyak meregang nyawa para pujangga ini. Wabah virus cinta ini seharusnya masuk daftar penyakit psikologis paling berbahaya di dunia.
Di dalam kamar, Wira bersandar di pojok dinding. Diraihnya gitar. Dimainkannya melodi-melodi mayor yang memilukan hati. Menghujam sampai ke kedalaman kritis jiwanya. Matanya menatap kekosongan. Wajahnya kuyu. Putus harapan.
“Sabar Kawan, semuanya belum berakhir... lagipula,\ mereka baru pacaran, belum resmi menikah!” kataku.
Wira tak menjawab, hanya terus memetik gitarnya.
“Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kau tetap mencintai Hanin, meski dia telah menjadi milik orang lain? Lupakah kau itu? atau itu hanya omong kosongmu saja?!”
Wira mendesah kuat, seperti ada beban yang menumpuk di dadanya.
“Seperti katamu, Kawan, berjuang! fight! Ini bukan akhir dari segalanya!” aku tetap berusaha menyemangatinya.
Kemudian ia menoleh kepadaku. Senyumnya terlihat tawar dan berat. Pelan-pelan ia berbisik pada dirinya sendiri.
“Aku telah kalah, Kawan!”
*Makasih ya udah mau baca sampai end.. jangan lupa ninggalin jejak—Komen, kritik, dan sarannya.😁
**Notes :
Catatan kaki ada di episode pertama***
__ADS_1