NADIR

NADIR
Nadir ~ Lebay


__ADS_3

Aku akan tetap disampingmu, aku akan selalu beriringan denganmu


Angin malam yang cukup dingin berhembus kesetiap penjuru hutan, bintang yang seharusnya terlihat banyak nan indah kini hanya terlihat awan hitam yang menutupinya.


Semua pelajar dari SMA Angkasa duduk melingkari api unggun yang cukup besar untuk menghangatkan badan mereka, suasana yang seharusnya bahagia kini menjadi hening.


"Kalian tau kan kalau ini hutan?" seseorang pembina osis berdiri berjalan mengelilingi mereka yang melingkar.


"Seharus kalian bisa tau kalau dihutan itu berbahaya. Lihat, apa yang terjadi." pembina itu menunjuk kearah Juni yang tengah duduk bersama gerombolan XI IPA 4, Juni menundukan kepalanya.


"Kejadian ini tidak akan terjadi jika kalian semua tidak ceroboh. Seharusnya kalian bisa menaati aturan, jangan pergi terlalu jauh dari tenda!"


Pembina osis itu terlihat sangat marah, dan semua raut wajah orang orang disana tampak lesu dan bersedih. Realita tak sesuai ekpetasi, seharusnya mereka bersenang senang sekarang, bukan malah di marahin seperti ini.


"Besok kita akan kembali ke sekolah, tidak ada lagi acara acara seperti ini." ucap pembina itu lalu pergi dari sana. Terdengar suara keluhan dari orang orang disana, mereka tidak terima, mereka menatap satu sama lain dengan tatapan sedih.


Rubi yang duduk bersama gerombolan teman temannya tersenyum kecil dan mulai berbisik bisik, kemudian Rubi berdiri dari tempat duduknya.


"Semuanya, dengar saya." semua orang yang berada disana melihat kearah Rubi.


"Apa kalian tau siapa penyebab dari semua ini? perjalan kita yang seharusnya seru menjadi tragis seperti ini." Rubi mulai memanas manasi orang yang berada disana, dan terlihat mereka semua mulai berbisik bisik.


"Kalian tau kan siapa dalangnya?" ucap Rubi, "Dia lah orangnya." Rubi menunjuk kearah Binar yang tengah duduk disamping Biru.


Semua mata tertuju kearah Binar, tatapan kesal dan amarah terpancar dimata mereka.


"Binar gak salah, dia gak dorong gue." Juni berdiri protes akan ucapan Rubi.


Rubi yang mendengarnya tertawa kecil, "Gue tau, lo bilang gitu karna Binar itu teman lo kan?"


Juni terdiam tak menjawab, hal itu membuat seolah olah Binar yang salah, Binar semakin terpojokan, semua tatapan tajam di terima oleh Binar. Binar menundukan kepalanya tak berani menatap balik, Biru yang ada disebelah Binar langsung memeluk Binar.


"Jangan dengerin ucapan mereka," bisik Biru, Binar tak mampu menahan bendungan air mtanya, sekarang air matanya mengalir begitu saja.


"Jangan sok nangis deh lo, lo itu dalang dari semuanya. Seharusnya lo gak usah ikut."


"Lo bisa gak tutup mulut lo, lo gak tau apa yang terjadi, Binar gak ada celakain Juni." sekarang Biru terbawa emosi ketika Rubi mulai melampaui batasnya, Biru tidak mau jika ada orang yang berbicara seenaknya pada Binar.


"Kalau gue gak tau, apa lo tau yang terjadi disana? apa jangan jangan lo juga ikut dalam kejadian itu,"


"Jaga mulut lo." Biru semakin marah di buat Rubi, ucapan Rubi membuat hati dan kupingnya panas, dia berbicara tidak sesuai kenyataan.


"Lo it-"


"Ru, udah jangan diladenin." Binar menarik tangan Biru agar dia dapat tenang, Biru menatap tajam kearah Rubi yang tersenyum licik. Biru semakin benci dengan gadis g**a itu.


"Tapi Nar dia ngomong gak sesuai sama kenyataan." ucap Biru sedikit kesal.


"Biarin aja, kalau kita ngelawan berarti kita yang bersalah. Jangan merasa kalau bukan kita pelakunya," ucap Binar, Binar mencoba tersenyum walaupun Binar juga merasakan sakit dari ucapan Rubi.


Biru yang bingung jalan pikir Binar akhirnya mengalah, Biru berfikir dia harus menenangkan hatinya.

__ADS_1


Rubi yang melihat kearah mereka berdua berdesis sinis, "Liatlah mereka berdua, terlalu naif."


"Jaga ucapanmu," Awan yang merasa risih dengan ocehan Rubi akhirnya angkat suara.


"Seharusnya lo harus udah paham, Juni bilang bukan Binar lah pelakunya. Kalau lo bilang Juni mengatakan seperti itu karena Binar adalah temannya, apa hubungannya sama lo?" kata Awan.


Rubi terkejut karena Awan angkat suara, tapi dirinya kembali menetralkan raut wajahnya, "Yah jelas gue rugi, karna dia udah buat suasana acara yang harusnya bahagia jadi buyar kayak gini."


"Lo jamin suasana acaranya bakalan senang kalau gak ada kejadian ini? kalau ditengah acara lo yang buat rusuh, gimana? atau sebelum acara lo udah ngerusak mood semua orang, gimana? "


Rubi terbungkam dengan ucapan Awan, Awan yang tadinya tak ingin melawan Rubi akhirnya terpancing suasana.


Semua orang yang ada disana menatap mereka berdua layaknya pertunjukan seru, mereka menatap serius kearah Awan dan Rubi.


Awan berjalan kearah tengah lingkaran, menyapu semua pandanganmya kearah orang orang yang tengah duduk disana.


"Kalian mau suasana malam ini seru kan?" ucap Awan, mereka saling bertatapan sejenak lalu memgangguk.


"Jalankan acaranya, nanti gue yang bilang kepembina, gue yang tanggung jawab." ucap Awan membuat semua orang bersorak senang, tatapan Awan kemudian beralih kearah Rubi, "Kecuali ni anak jangan ikut dalam acara, takut nanti acaranya berantakan." ucap Awan menunjuk kearah Rubi tajam, Rubi menelan air ludahnya dalam dalam, mata Awan seakan ingin memakam dirinya.


Ucapan Awan berhasil membuat orang orang yang ada disana bersorak, mereka mulai mempersiapkan acara acara yang seharusnya terjadi.


Disaat mereka tengah mempersiapkan acaranya, pembina osis datang karena mendengar suara riuh, "Ada apa ini? " semua orang terdiam lalu melihat kearah sumber suara.


Awan yang tadinya tengah duduk bersama Binar dan Biru kini menghampiri pembina osis, "Maaf pak sebelumnya, kami hanya ingin menjalankan acara yang seharusnya terjadi, kami ingin menikmati perjalanan ini." ucap Awan berani.


"Siapa yang menyuruh kalian menjalankan acaranya?" ucap pembina itu tegas.


Pembina osis itu terdiam lalu melihat kearah orang orang yang menatapnya seperti memohon, "Baiklah, saya izinkan." ucap pembina itu, mata mereka semua membulat bahagia. "Tapi ingat! jangan ada kegaduhan."


"Siap pak." ucap mereka serempak.


"Baiklah, lanjutkan acaranya, kalau sudah diacara puncak, panggil bapak yah, bapak pengen ikut juga." ucap pembina itu sambil tertawa kecil, semua orang yang ada disana ikut tertawa juga, setelah itu mereka menjalankan tugas mereka.


Awan tersenyum melihatnya, semuanya akhirnya berjalan sesuai ekspetasi. Awan berjalan kembali kearah Binar dan Biru, disana juga ada Rian dan Agam.


Mereka duduk terpisah dari kerumunan orang orang yang sedang berasik riang disana. Perasaan Binar yang tadinya sakit berubah menjadi sedikit lebih tenang. Binar melirik kearah Awan, ternyata Awan mencuri curi pandang sejak tadi. Awan yang kepergo oleh Binar langsung memalingkan wajahnya, Binar tertawa kecil melihat ekspresi Awan.


"Lo kenapa?" tanya Biru ketika melihat Binar tertawa.


"Gak papa," ucap Binar, Biru menyipitkan matanya, kemudian pandanganya beralih kearah Awan. Tingkah absurd Awan membuat Biru paham, Biru memangut mangutkan kepalanya. Setelah itu Biru menendang pelan kaki Agam, "Ehm hm, kayaknya udaranya dingin banget yah." lirih Biru, Agam yang mendapat tendangan kecil dari Biru menyipit heran.


"Lo kenapa nendang nendang gue? " tanya Agam heran. Biru memutar bola matanya, dasar pria ini tidak pekaan, Biru mengedip ngedipkan matanya.


"Mata lo kenapa?" tanya Agam bergedik geli, Rian juga ikut geli melihat aksi Biru.


Biru mendengus kasar kemudian ia berdiri dan menarik Agam dan Rian dari sana, "Ehhh mau kemana main tarik tarik aja, lo kira gue lembu apa." ucap Agam.


"Iya, lo ngapain narik narik kita, kalau naksir bilang," sambung Rian.


Biru berdesis pelan mendengar ocehan mereka berdua, Biru tetap menarik Agam dan Rian menjauh dari posisi mereka tadi.

__ADS_1


Binar yang melihat Biru meninggalkannya ingin ikut mengejarnya, tapi tangan Awan menahannya, "Lo mau kemana? " tanya Awan.


"Ngejar Birulah, apa lagi."


Awan berdecak pelan, ternyata Binar tidak paham maksud dari kelakuan Biru, terkadang betina juga tidak pekaan.


"Lo disini aja, bareng gue." ucap Awan, Binar termenung sejenak lalu kembali duduk. Awan yang tadinya duduk berjauhan dengan Binar sekarang menggeser posisi duduknya mendekati Binar.


Binar menoleh kearah Awan yang sudah tepat disampingnya, Bianr tersenyum kecil kearah Awan.


"Kalau udah suka bilang yah, biar gue juga bilang, kalau gue udah suka sama lo."


Deppp


Ucapan Awan membuat mata Binar membulat, pipinya memerah, dan jantungnya? sangat mustahil jika dikatakan mereka biasa saja, rasanya sangat berisik sekali.


Awan ikut menoleh kearah Binar, membalas tatapan Binar, Awan tersenyum kecil.


Disisi lain ada Agam, Rian dan Biru yang cukup jauh dari posisi mereka. Agam merapikan bajunya yang sesikit berantakan karena ditarik oleh Biru, "Lo ngapain sih narik narik gue, sorry yah gue gak selera sama cewek kayak lo, gue udah ada yang punya." ucap Agam.


"Kalau gue belum ada sih, jadi kalau lo suka, yaudah gue juga suka." Rian menyengir mengucapkannya.


Biru yang mendengar ucapan mereka berdua yang tidak jelas itu mendengus, "Plis yah gue gak suka sama lo berdua." ucap Biru.


Agam dan Rian terkejut, "Lah terus? " ucap mereka serentak.


Biru menunjuk kearah Binar dan Awan, Agam dan Rian mengikuti arah tunjukan Biru. Seketika mata mereka berdua terpelongo melihatnya, Biru tertawa kecil melihat ekspresi mereka berdua.


"What? "


"Apa? "


"That's serious?"


"Itu serius?"


"Impossible."


"Mustahil."


Agam dan Rian berbicara bergantian, mereka berdua sangat kaget dengan apa yang mereka lihat. Ternyata Awan menyukai Binar.


Wajah terlihat sedih ketika melihat mereka berdua.


"My heart hurts so much, my feelings die instantly." ucap Agam.


"Inalilahi, Rip." balas Rian, bukan terjemahannya.


Agam mengigit jarinya kemudian memeluk Rian, Rian yang juga merasa sedih melihat nasib sahabatnya yang jomblo akut ini membalas pelukan Agam.


"Yang sabar yah, masih ada gue disini." lirih Rian.

__ADS_1


Biru melihat mereka berdua dengan mata terbelalak, ternyata hal seperti itu jika dilakukan oleh dua orang pria akan terlihat berbeda dengan dua orang wanita. Biru rasanya ingin muntah melihat tingkah mereka berdua.


__ADS_2