NADIR

NADIR
Nadir ~ Sedotan VS Sumpit


__ADS_3

I didn't really leave, only I gave room for a resting place


Binar keluar dari kelas bersama Juni, langkah mereka beriringan menuju kantin. Karena cuaca yang sangat terik, Binar menaikan satu tangannya menutupi kepalanya untuk menghalangi sinar matahari yang menyinari wajahnya habis habisan.


Juni yang berjalan disamping Binar berdacak pelan, "Lo kayak vampir tau gak," lirih Juni.


"Kulit lo aja yang kayak baja." balas Binar.


Juni memutar bola matanya malas, "Serah lo, yaudah cepetan keburu rame disana." Juni berlari kecil menuju kantin, Binar yang tertinggal tidak terlalu jauh mengejar Juni, "Tungguin gue."


Akhirnya mereka sampai di kantin, suasana kantin cukup ramai nan pengap. Suasananya juga sedikit panas karena tatapan mata yang tajam dari orang orang dikantin menuju Binar, tapi Binar tidak perduli, toh dia juga sudah sering mendapat tatapan seperti itu.


Binar berjalan menuju bangku yang kosong bersama dengan Juni.


"Gue pesan dulu, lo disini." ujar Juni lalu bangkit dari tempat duduknya menuju kepemesanan.


Binar menunggunya sambil mengeluarkan ponsel miliknya.


Saat Binar sedang asik mengecek sosial media miliknya, tiba tiba ada tangan yang menepuk bahunya, dengan cepat Binar langsung menoleh.


"Hei," sapa orang itu, Biru.


"Biru." kaget Binar.


Biru tersenyum lalu mengambil posisi duduk disebelah Binar dan meletakan jus yang ia bawa.


"Lo sendirian? " tanya Biru sambil meminum jus miliknya.


Binar menggeleng, "Enggak, sama Juni,"


Biru menaikan satu alisnya lalu mengangguk pelan, "Ooh."


Saat Juni masih memesan makanan, Biru dan Binar mengobrol asik, Binar sesekali tertawa dibuat Biru.


Dikejauhan sana, Juni melihat kearah Binar dan orang disebelahnya, Juni mendengus kasar. Dengan segera ia langsung berjalan cepat membawa pesanan mereka menuju mejanya.


"Ni punya lo." ucap Juni tiba tiba.


Binar menatap Juni, "Makasih," ujar Binar tersenyum.


"Hmm iya." balas Juni lalu duduk didepan Binar.


Juni menoleh kearah Biru yang sedang asik dengan jus didepannya, Biru sama sekali tidak melihat kearahnya.


"Dia ngapain disini? " tanya Juni langsung.


Biru menoleh kearah Juni karena sepertinya Juni sedang membicarakan dirinya, "Kenapa?" ucap Biru langsung.


Binar langsung menoleh kearah Juni, wajah Juni seperti tidak suka dengan kehadiran Biru.


"Biru teman Binar kok Jun, jadi dia datang kesini." ujar Binar.


"Terus gue gak teman lo gitu? "ketus Juni membuat Binar tertegun.


"Jangan ngegas dong," celetuk Biru karena tidak suka Juni berbicara dengan nada tinggi pada Binar.


"Lo siapa ha?"


"Lo yang siapa?"

__ADS_1


Sekarang mereka berdua saling adu mulut, Binar yang didekat mereka menutup kupingnya. Biru memegang sedotan sebagai alatnya perangnya dan Juni memegang sumpit.


"Apa lo, berani sini lo!" ketus Juni menunjuk nunjuk Biru dengan sumpit di tangannya.


Biru tak mau kalah, ia menyedot jus miliknya dengan sedotan lalu ujung sedotan itu ia tutup dengan telunjuknya agar air jus itu tidak jatuh.


"Gue kira gue takut ha," balas Biru ingin meniup ujung sedotan itu lalu melepas ujung sedotan satu lagi yang ia tutup dengan jarinya.


Binar yang melihat perkelahian antara mereka berdua merasa pusing, Binar langsung memukul meja dengan keras.


Brukkk


Hal itu sontak membuat Biru dan Juni kaget, bahkan bukan cuman mereka berdua tapi ada beberapa orang yang lata karena suara gubrakan Binar.


Karena Binar tiba tiba memukul meja dengan keras, Biru yang kaget tidak sengaja meniup ujung sedotan yang berisi jus itu, hal itu membuat jus yang didalam sedotan itu tersembur Ke Juni.


Biru membulatkan matanya begitu pula dengan Binar yang melihatnya.


"Astaga," lirih Biru pelan.


Juni melihat kearah bajunya yang basah, wajahnya tampak memerah.


Kemudian kepalanya mendongak melihat Biru yang terdiam dengan mata terbelalak. Juni menatap Biru dengan tatapan tajam, sangat tajam dari pisau bermata satu setengah.


"Dasar lo," lirih Juni dengan emosi. Biru meneguk ludahnya dalam dalam, dia sudah membangkitkan ratu vampir berdarah merah.


Binar menatap kearah Juni berusaha menenangkannya, "Jun maaf, gue yang salah. Sorry," lirih Binar, Juni tak menghiraukan,ia masih menatap dengan tajam kearah Biru.


Kemudian Binar menoleh kearah Biru yang terdiam, "Mending lo kabur, gue takut besok gue nyumbang buat lo." bisik Binar.


Biru masih terdiam, tatapan mata Juni membuatnya sedikit menciutkan nyalinya.


"Pergi," bisik Binar lagi, Biru mengangguk lalu berdiri dan pergi dari sana. Juni yang melihat Biru kabur ingin mengejarnya, tapi dengan cepar Binar menahan Juni.


"Jangan dikejar, dia gak sengaja tadi." ucap Binar menahan Juni.


"Lo belain dia dari pada gue?" sebal Juni.


"Gue gak belain siapa siapa Juni, dia emang gak salah, kalau gue gak mukul meja gak mungkin dia nyembur lo kayak tadi." ujar Binar.


Juni mendengus kasar, dirinya masih tetap marah dengan Biru, Awas aja anak itu.


*****


Les pelajaran kelima yang menegangkan terhenti karena terdengar suara seseorang dari lapangan sekolah berbicara menggunakan pengeras suara.


Binar dan teman teman sekelasnya yang sedang belajar tadi memberhentikan kegiatan mereka, ketika suara itu menimbulakan sorakan senang.


"Untuk semua pelajar kelas sebelas dan dua belas harap berkumpul dilapangan segera, terimakasih."


Suara itu berhenti dan membuat riuh seisi kelas XI IPA 4. Meteka bahagia sekali sekarang, pasalanya setelah pelajaran ke 5 mereka akan mengadakan ujian ulangan, tapi karena suara itu, ujian ulangan mereka dibatalkan.


"Baiklah, sampai sini pelajaran kita, minggu depan kita sambung materi kita sekaligus ujian ulangannya, kalian boleh keluar sekarang."


Ucap ibu guru yang baik hati dan tidak sombong itu kepada semua murid. Dengan cepat mereka semua yang berada dikelas berhamburan keluar dan berbaris dilapangan.


Teriknya matahari menyambut mereka tanpa malu malu.


Seseorang yang berdiri di atas podium akhirnya memulai pembicaraannya, "Selamat siang semua." sapa pak Radit, kepala sekolah di SMA Angkasa.

__ADS_1


"Siang pakkkk." teriak siswa siswi yang berbaris dilapangan serentak. Pak Radit tersenyum mendengarnya.


"Saya lihat kalian bersemangat sekali yah, mungkin karena kalian bisa bebas dari pelajaran atau mungkin ada yang ujian dadakan, makanya kalian seperti ini, iya?" ujar pak Radit.


Beberapa siswi disana berbisik bisik.


"Bisa gak sih dicepatin ngomongnya, bedak gue luntur ni." ujar salah satu siswi yang berdiri didekat Binar dan Juni.


Juni melihat kearah siswi itu lalu berdesis pelan, "Itu bedak apa tepung sajiku? Tebel amat." lirih Juni.


Binar menahan tawanya sambil menyenggol lengan Juni, "Sstt nanti orangnya denger," bisik Binar.


Pak Radit yang mencerocos didepan akhirnya memulai permbicaraan tujuan mengapa mereka di kumpulkan.


"Sebenarnya masih banyak yang ingin bapak sampaikan, tapi karena kalian seperti tidak sabar lagi, jadi bapak persingkat." ujar pak Radit.


"Singkat opo mene, astaga ingin ku berkata halus." lirih Juni, Binar lagi lagi menahan tawanya karena celetukan Juni.


"Baiklah saya masuk ke intinya sekarang, alasan saya mengumpulkan kalian disini karenaaaaaaaaaaaaaaaaaaa," pak Radit memanjangkan huruf a agar terdengar misterius.


"Sok misteris banget sumpah," celetuk Juni lagi.


"Karenaaaa besok adalah hari sabtu merah dan besoknya adalah minggu jadi kali libur semua."


Seketika semua orang yang berbaris disana terdiam, Juni menatap Binar, "Gitu doang? " ujar Juni tak percaya.


"Sst dengerin dulu," lirih Binar melihat kearah pak Radit serius, Juni memutar bola matanya lalu kembali menatap pak Radit malas.


"Karena besok hari sabtu merah dan minggu mungkin bapak akan rindu dengan kalian," ucap Pak Radit bertele tele.


Orang yang berbaris terkena sinar matahari panas mulai geram dengan Pak Radit.


"Pak langsung ke intinya aja, panas ni." teriak seorang siswa kelas dua belas. Pak Radit tersenyum mendengarnya.


"Yah itu intinya, besok hari sabtu merah dan besoknya lagi minggu, kalian bakal libur. Kalian gak senang apa?" ujar Pak Radit.


"Gakkk." teriak semua orang yang berada dilapangan serentak karena mulai geram.


"Ooh kalian tidak senang, yaudah berarti kalian tidak mau untuk touring di hari libur besok."


Seketika semua orang terdiam, touring? Besok?


"Maksudnya? " celetuk salah satu siswa.


"Tapi kalian tidak suka kare-"


"Bapakkkk," ujar semua pelajar disana, Pak Radit sedikit tertawa melihatnya.


Pak Radit adalah seorang kepala sekolah yang baik dan dekat dengan semua orang, jadi tidak heran jika Pak Radit kadang berbuat jahil dengan para pelajar di SMA Angkasa.


"Yauda yaudah bapak jelasin. besok itu sekolah kita ngadain jalan jalan buat kelas sebelas dan dua belas. Kita akan pergi touring ke gunung sekalian nginap disana. Acara disana juga akan banyak sekali, nanti setiap wali kelas akan memberitahunya. Acara ini diadakan sekaligus untuk merayakan pelepasan kelas dua belas nanti. Bapak ingin mengajak kelas sepuluh juga sebenarnya, tapi jika satu sekolah ikut touring, guru guru akan kesusahan untuk menjaganya, jadi bapak hanya mengajak kelas sebelas dan dua belas saja." ucap Pak Radit.


Keadaan yang sangat menjengkelkan tadi berubah menjadi riuh dan menyenangkan. Touring di hari libur, pasti seru.


"Tapi kalian bilang tadi tidak senang, jadi bapak bat-"


"Bapakkkkk."


Pak Radit tertawa mendengarnya, suara teriakan kesal para siswa itu sangat menyenangkan buat Pak Radit.

__ADS_1


__ADS_2