NADIR

NADIR
8. INA


__ADS_3

Bulan baru mengawali perjalanannya di peraduan. Mengintip diam-diam di celah awan berpola fraktal di langit sana. Gemintang pun sama. Hanya beberapa yang kerlip-kemilaunya kentara. Bunyi kaleng-kaleng dan andongan (Baling-baling bambu) yang ditaruh Ama di sudut-sudut kebun untuk mengusir hama, menjadi keramaian malam yang lain. Menguarkan harmoni, mengundang simfoni.


Belalang-derik, dan kerikit jangkirik masih terdengar sesekali. Memberi kesan mistis malam di puncak bukit ini. Apalagi siluet pepohonan yang terkena tempias cahya, seperti gambaran makhluk astral yang pernah kulihat di TV Mangge Raden. Haiss... aku bergidik, ngeri.


Sebenarnya malam ini, cuaca sedang ramah. Cuman entah kenapa aku merasa lain. Ada mendung yang merangkak hati-hati di antara aku dan Ama.


Maka, pernahkah kalian melihat orang yang sedang rindu? Malam ini aku melihat orang itu. Amaku sedang memeluk kakacapi ondongnya. Bercerita tentang kekasihnya, Inaku. Aku tau dia sedang rindu. Dalam... dalam sekali, sampai hatinya ngilu. Aku yang duduk di depannya hanya bisa menunggu, menerka-nerka sedalam apa kerinduan Ama akan kisah indahnya bersama Ina dulu. Kerinduan yang sampai hati membuat hatiku ikut terenyuh.


Dalam petikan nada yang samar, suara serak Ama mulai terdengar. Merdu dan saru, bersama petikan kecapinya. Bibirnya kering, matanya seperti retak oleh riak-riak air di sana. Dan... Oi, lagunya kawan. Sungguh tak terperih dalamnya pesan pilu di tiap baitnya itu. Apalagi suara Ama yang serak basah, menambah tergarami perih di dada ini. Kau dengar saja.


Dan, bulan di malam itu


Bagai pualam di bungkus cahya


Aku terkulai tertunduk layu


Duhai merindu pilu rasanya


Bagai hujan singgah menggenang


Sejuk sebentar basah tertalang


Perih hatiku bukan kepalang


Menantikanmu tak kunjung datang


Wahai rindu

__ADS_1


Wahai rindu, jangan merayu


Lagu indah, rentak mendayu


Luka hati siapa yang tahu


Luka hati siapa yang tahu


Oh sungguh, tak bisa kutahan air mataku, sampai Ama selesai bernyanyi. Kudekati dirinya. Kuseka air mataku. Ku peluk tubuh Ama erat. Erat sekali sampai ia tersedak, sesak.


“Kenapa kau, Uti?” suaranya masih serak. Berat.


Aku tidak peduli, tetap kupeluk Ama sedemikian kuatnya. Tak ingin kulepas walau sebentar. Seakan lagu itu mengisyaratkan kalau aku akan berpisah dengan Ama. Oi, kalau itu terjadi, tak bisa kutanggung sakit hatiku.


“Jangan tinggalkan aku, Ama.” Bisikku, samar, sampai Ama tak mendengar.


Setelah pulang dari acara pelulusan, setelah sepanjang perjalanan Ama tak mau menurunkan tubuhku dari pundaknya, meski mendaki bukit sekalipun, kami langsung menuju makam Inaku, lima puluh meter sebelah selatan rumahku.


Menurut cerita Ama, dulunya di sana adalah lokasi rumah kami, di samping makam Ina, sampai Ina meninggal dunia tepat saat melahirkan aku ke dunia. Sembilan bulan Ina mengandungku, tulus, penuh kasih dan asih, tanpa pretensi. Ia tak peduli walau harus menukar nyawanya dengan kehidupan buah hatinya. Oh, betapa besar perjuangan seorang Ibu terhadap kita, anaknya. Maka, bersyukurlah kalian yang masih bisa melihat sosok seorang Ibu sampai saat ini. Hormati ia, cium pipinya, peluk erat tubuhnya, selalu. Karena, suatu hari nanti, jika ia sudah tidak bisa lagi ada di antara kita, penyesalan adalah satu hal yang percuma.


Di atas tanah peraduan terakhir Ina, aku dan Ama mengirmkan Al-fatihah. Berkaca-kaca mata kami. Untuk Ama wanita yang terbaring di dalam makam bernisan batu kali itu, adalah kekasih terhebatnya. Sedangkan aku, aku tak sempat mengingat seperti apa paras ayu seorang wanita nan jelita yang sanggup menumbangkan kokohnya pertahanan seorang lelaki Desa seperti Ama. Gambar-gambar samar itu terus bermain di kepalaku, membuatku hanyut dalam reka-reka wajah yang kuciptakan sendiri, sampai air mataku meluruh, tanpa sempat kuantisipasi. Kenyataan bahwa aku tak sempat memeluk ataupun dipeluk oleh Ina membuatku tak berdaya. Kuyu rasanya tubuh ini setiap kali menatap relaitas, bahwa terjauh yang kuketahui tentang sosok Ina hanyalah nama yang tergurat keras di nisan pusaranya.


Memang benar, rasa sakit adalah konsekuensi wajar bagi realitas.


Sudah kudengar betapa hebatnya sosok Inaku dari Ama. Dia adalah gadis Desa yang hebat, cantik, cerdas, lain dari kebanyakan anak gadis di Desa ini. Parasnya seumpama prameswari―dalam benakku bermain potret wajah bidadari bulan dalam cerita si Tuan Kelana. Pekertinya secantik parasnya. Memang wajar kalau banyak yang mengatakan, kalau beliau adalah kembang desa yang digandrungi sejuta kumbang.


Beruntunglah lelaki kampungan yang hanya bermodal ijazah SD bernama Moh. Kahar ini, bisa memilikinya. Pun, patutlah aku bersyukur diberi kesempatan untuk lahir dari rahim seorang wanita yang hebat itu.

__ADS_1


Ina adalah wanita yang tangguh. Gigih. Pantang menyerah. Dia tak pernah tumbang oleh keadaan, bahkan saat kenyataan hidup sempat membuat keluarga kecilnya terseok-seok bertahan. Setelah menikah dengan Moh. Kahar, pemuda Desa yang hanya tamat SD, Ina berjualan keripik singkong yang bahan bakunya berasal dari kebun mereka. Tak putus asa ia menggendong sebakul keripik naik-turun bukit. Pagi-pagi ia sudah bertarung dengan waktu, membawa barang dagangannya ke kampung, mengetuk pintu rumah warga satu-persatu, berjalan kaki, tanpa mengeluh. Dan, baru pulang sore hari.


Tak jarang pula saat tanaman-tanaman kebun tak bisa menghasilkan apa-apa karena terserang hama, Ina membantu Ama makan gaji, mengarit dan membanting padi di sawah warga, demi mendapatkan beberapa liter beras. Bahkan, kata Ama, Inaku mampu melakukan pekerjaan berat seorang lelaki, seperti menarik kayu bantalan, memikul gabah berkarung-karung demi upah yang sedikit. Kalian lihat kawan, betapa hebatnya sosok Inaku ini?


Sudah pasti Ina merasa lelah, aku yang membayangkannya saja, sudah merasa sesak. Namun, kata Ama, tak pernah sekalipun ia mendengar Ina mengeluh.


Ama yang masih membawa sepenggal kebahagiaannya karena kelulusanku, menumpahkan beban hatinya ke pusara Ina. Ia berbicara pada dua batu yang terpasung dan berlumut di sana. Berkeluh kesah. Mengabarkan kepada angin. Menceritakan kepada semesta.


“Assalamualaikum. Mey... hari ini anak kita sudah lulus SD... sudah besar dia sekarang... sudah belasan umurnya.” Ama mengusap-usap puncak kepalaku, hatiku semakin tertusuk.


“Kau tau, matanya mirip sekali denganmu, hitam, tidak cokelat seperti milikku. Dan hidungnya, hidungnya mancung seumpama bukit tamalang ini. dan yang terpenting, anak kita ini juga pintar sepertimu. Dia adalah cetak biru dirimu, Mey... kau tau!”


Miris aku melihat Ama berbicara sendiri, seperti orang yang telah tewas kewarasannya. Tak kusangka takdir bisa seganas ini, membuat Amaku sanggup berbicara dengan dua batu kali berlumut. Mampu bersurat kepada kekasihnya yang telah lama meninggal, meski ia tahu, sehebat apapun suratnya itu tak akan pernah sampai. Karena sebenarnya ia hanya ingin berbicara pada dirinya sendiri.


“Seandainya kau ada di sini, Mey...,” Ucapan Ama terhenti, bisa kudengar ia mendengus-desah, “Oh, seandainya....” Suara Ama berat. Parau. Tak dapat ia tahan emosinya yang meledak-ledak. Mendesak sesak di dadanya. Sampai ari matanya tumpah ruah. Itulah untuk kali pertama aku melihat sosok Ama yang perkasa itu menangis.


Ternyata, cinta memang sangatlah hebat. Bahkan manusia gagah tak kenal lelah, pantang menyerah seperti amaku saja, dibuatnya seperti bocah SD yang tersedu-sedan karena tidak dibelikan sepatu.


Ama memelukku, mencium keningku, hangat. Kubalas pelukannya, erat. Seperti malam ini, setelah kami meninggalkan pusara bertuliskan; Mey Liza. Membiarkan peraduan terakhir Ina dibelenggu malam. Dipeluk kesunyian. Memberikannya jeda ketenangan. Kedamaian. Sendiri nan terasing di sana. Oh, Ina....


Kutatap wajah Ama. Sepasang bola matanya yang berkaca-kaca menyiratkan kepedihan yang dalam. Kepedihan yang hadir seketika oleh rindu yang dalam, sangat. Rindu akan sosok kekasih, cinta pertama sekaligus pelabuhan terakhir hatinya.


Oh Ina, kami merindukanmu.


۝


Tunggu part selanjutnya ya...😁

__ADS_1


jangan lupa ninggalin jejak... kritik sarannya sangat membantu


__ADS_2