NADIR

NADIR
Nadir ~ Bukan akhir


__ADS_3

Warnaku pernah kembali bersama orang yang pergi membawanya lagi


Awan mencari Binar semalaman penuh, mencari kesetiap sudut kota Jakarta bahkan sampai ke toko toko buku yang ada di Jakarta Awan juga mencarinya.


Sekarang sudah pukul 06:45 tapi Awan masih mencari Binar, Awan tidak perduli betapa lelahnya dirinya saat ini, kantuk yang ia rasakan di tepis jauh jauh.


Awan berhenti sejenak di indomaret, sekedar untuk membeli air mineral dan roti untuk sarapannya, setelah itu Awan kembali mengemudikan mobilnya.


Awan berhenti di taman dekat pekarangan rumah Binar, mungkin Binar berada disana, tapi sayangnya hasil tetap nihil.


Awan mendengus pelan, kemana anak itu menghilang, apa dia baik baik saja?


*


Binar membuka matanya perlahan, cahaya matahari yang sudah terbit menyilaukan matanya. Binar tidur semalaman di pinggir danau dibawah pohon.


Binar mengucek matanya, mencoba menyadarkan dirinya dari dunia mimpi.


"Gue dimana?" lirih Binar mulai duduk, Binar melirik kekanan dan kekiri.


"Astaga, gue ketiduran disini ternyata." ucap Binar, Binar mulai meraih ponselnya, sialnya ponselnya kehabisan baterai.


"Astaga, pakai acara habis baterai segala. Gue harus gimana ni?" Binar mulai berdiri, mencari tempat yang bisa ditumpangi untuk mengisi daya ponselnya.


Binar berjalan keluar dari pinggir danau itu dan dia baru menyadari bahwa dirinya membawa mobil untuk kesini.


Binar merasa legah, dia pikir dia akan kesulitan bahkan tersesat.


Binar segera masuk kedalam mobilnya, dan langsung mencharger ponselnya.


Binar tersenyum kecil ketika ponselnya menunjukan sedang mengisi baterai.


Setelah itu Binar meletakan ponselnya dan menatap kedepan lurus.


Secepat kilat ingatan ingatan tentang kesedihan yang sempat terlupakan kembali lagi. Binar menundukan kepalanya, menahan tangis yang mulai keluar. Dirinya harus kuat, ini adalah hidup, semua kehidupan memiliki cobaan.


Binar menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya kembali, matanya kembali menatap kearah depan.


Ini bukanlah akhir.


*


Binar mencari jalan menuju rumahnya, mungkin saat ini dia sedang tersesat. Binar tidak tau dirinya sedang dimana.


Binar berhenti sejenak dipinggir jalan, melihat ponselnya yang sudah terisi separuh.


Binar mengaktifkan ponselnya, dengan cepat ponselnya langsung bergetar. Banyak sekali pesan pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk.


Binar membuka pesan itu satu persatu, mulai dari pesan Biru, Agam, Asya dan Awan.


Binar melihat banyak sekali panggilan dari Awan yang tidak terjawab, bahkan pesannya hampir dua ratus lebih.


Apakah Awan sekhawatir ini padanya?


Perasaan Binar mulai bimbang, mengenai Juni menyukai Awan, apakah dirinya harus melepaskan Awan?


Ini sangat sulit, sebuah pilihan yang membuatnya takut. Binar tak ingin kejadian dulu terulang. Ketika Binar meminta pada Reygan untuk menjadi sahabatnya saja bukan pacarnya, Reygan malah menghilang dan Binar kehilangan keduanya, Persahabatan dan Cintanya.


Binar tak ingin itu terulang kembali, dia tak ingin kehilangan salah satu dari antara mereka. Ini rumit dan sulit, sangat.


Binar memejamkan matanya, mencoba untuk berfikir lebih tenang setenang mungkin.


Saat Binar sedang memejamkan matanya, ponselnya berbunyi, ada pesan, dari Biru.


Binar langsung membuka pesannya.


Biru


Nar lo dimana?


Biru


Lo gak tau kita khawatir sama lo?


Binar membaca pesan Biru lalu membalasnya.

__ADS_1


Binar


Kita?


Biru


Iya, kita


Semua teman sekelas nyariin lo


Binar menyipitkan matanya, bukannya mereka membenci dirinya.


Binar


Teman sekelas?


Binar menunggu pesan selanjutnya dari Biru, Biru mulai mengetik.


Biru


Iya, kita semua udah tau siapa dalang dari berita yang tersebar itu, mereka juga tau kalau itu bohongan


Banyak yang nyariin lo, mereka pengen minta maaf sama lo


Binar membulatkan matanya, dari mana mereka tau siapa orang dari semua ini?


Dirinya bahkan tidak ada bicara pada satu orang pun tentang ini.


Binar mulai mengetikan balasan.


Binar


Tau dari mana?


Biru


Awan


What?


Binar benar benar memikirkan sesuatu yang sudah membuatnya kehilangan.


Inilah Binar, seseorang yang menyayangi sahabatnya tanpa memikirkan keadaannya. Binar tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi padanya, dia hanya memikirkan orang orang yang pernah hadir dan memberi warna padanya. Tidak perduli seberapa terang warna itu, setidaknya dia pernah memberinya.


Binar membuka google map dan mencari jalan untuk kembali kerumahnya. Dia harus menyelesaikan semua yang terjadi.


Setelah Binar menemukan jalannya, Binar langsung mengemudikan mobilnya, Binar tidak memperdulikan pesan pesan dari Biru yang datang bertubi tubi, jika Binar meresponnya, itu akan membuang buang waktu.


*


Awan akhirnya sampai didepan gerbang sekolah, dia melihat gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Itu sudah sangat jelas, sekarang sudah pukul 10:35.


Awan turun dari mobilnya, dia menggunakan seragam sekolah tapi tidak membawa tas.


Awan berjalan kearah gerbang sekolah dan menyelinap masuk dari sana dengan bantuan orang dalam, yah dia di bantu oleh penjaga kantin yang berjualan didekat gerbang sekolah.


Setelah Awan berhasil masuk kedalam lingkungan sekolah, Awan langsung berlari menuju kelasnya, sebelumnya Awan sudah memberi pesan kepada kedua sahabatnya.


"Awan mana? lama banget sih keburu bu Siti datang." ucap Rian celingak celinguk melihat kearah koridor kelas.


"Nah nah nah, itu dia." ucap Agam menunjuk kearah Awan yang tengah berlari kearahnya.


"Lama banget sih, syukur waktu masih berpihak sama lo." ketus Rian.


"Buk siti belum masuk?" Awan melihat kedalam kelas, Rian menggeleng.


"Baguslah," setelah itu Awan masuk kedalam kelas begitu saja. Rian dan Agam yang melihatnya mengelus ngelus dada.


"Lo tau gak? gue heran banget sama anak itu. Datang sekolah jam segini, gak bawa tas pula. Kalau gue sering ketahuan klau gitu. " ujar Rian heran pada Awan.


"Itu namanya nasib anak ganteng dan baik hati."


"Jadi lo pikir gue gak ganteng sama gak baik hati," ketus Rian.


"Pikir aja sendiri." ucap Agam ala ala anak cewek lalu masuk kedalam kelas.

__ADS_1


Rian mengeleng geleng kepalanya heran, "Kadang punya teman gak ada akhl*k bikin kita gak ada akhl*k juga."


Dikelas Awan langsung melihat kearah kursi yang diduduki Binar, dan kosong. Awan berjalan menuju Biru yang tengah duduk.


"Binar mana?" ucap Awan sedikit mengebrak meja.


"Gue gak tau, dia gak ada kabar dari semalam."


Awan mengaruk kepalanya frustrasi, kemana dia harus mencari Binar lagi.


"Heran gue sama lo, ternyata lo benar benar suka sama anak p*****r kaya Binar." celetuk Rere tiba tiba.


Awan langsung menatap kearah Rere, tatapan nya sangat tajam sekali. Awan berjalan mendekati Rere.


"Lo tau? semua yang kalian terima tentang berita nyokapnya Binar itu bohong. Itu hanya berita hoax yang disebarkan oleh orang yang mementingkan dirinya sendiri." ucap Awan lalu melihat kearah Juni.


Juni tengah duduk sendiri disana.


"Emang lo ada bukti?" ucap Rere menaikan satu alisnya.


Awan langsung mengeluarkan ponselnya, Awan menunjukan semua bukti yang ia dapat.


Tadi malam saat Awan mencari Binar, Awan bertemu dengan Friska. Awan menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Binar, dan apa reaksi Friska?


Friska sangat shock sekali dan merasa menyesal.


Awan juga menanyakan tentang berita yang tersebar itu dan foto Friska dengan pria lain, dan Friska menjelaskan bahwa dirinya tidak ada hubungannya dengan pria itu.


Awan mencoba membuat penjelasan Friska itu sebagai bukti, Awan merekam semua penjelasan dari Friska. Bahkan bukan hanya dari Friska saja, pria yang bersama dengan Friska di foto itu pun Awan meminta penjelasan.


Awan menunjukan video itu pada semua, seisi kelas. Saat mereka melihat isi dari video itu, mereka mulai melihat satu sama lain, menyesali apa yang mereka perbuat pada Binar.


"Sekarang kalian udah taukan apa yang sebenarnya." ujar Awan.


Mereka semua menuduk malu, merutuki apa yang mereka perbuat.


Rere berjalan mendekati Awan dengan kepala menunduk, "Wan, gu gue minta maaf, gue salah." ucap Rere takut.


"Lo jangan minta maaf sama gue, bilang sama Binar."


"Binar dimana sekarang?" tanya Rere mendongakan kepalanya.


"Binar pergi, dia pergi karna seseorang dari dalang ini semua." ujar Awan tajam.


"Siapa?"


Awan diam, dia tidak menjawab. Awan hanya melihat kearah Juni yang sejak tadi duduk tertunduk disana. Sekarang semua mata mengikuti tatapan Awan, mereka semua menatap Juni heran.


*


Biru mencoba mengirim pesan pada Juni, dan akhirnya dibalas.


"Dibalas," ucap Biru senang.


Sontak Awan langsung merlari kearah Biru, "Mana?"


Biru menjauhkan ponselnya ketika Awan menariknya paksa.


"Plis yah, jangan kepo banget. Nanti gue kasih tau." ucap Biru.


Awan berdesis pelan, bibirnya dimajukan beberapa centi. Agam yang disebelah Awan langsung menyetil bibir Awan.


"So cute lo, enek gue liatnya." ujar Agam.


"Biasa bro, ketika seseorang udah bucin, sifat normalnya berubah jadi abnormal." ujar Rian.


"Emang sifat Awan pernah normal?"


Rian berfikir sejenak, "Entah, kayaknya sama ke lo. Abnormal garis keras." ucap Riab tertawa pelan.


"Kayak lo gak aja pentolan korek." ucap Agam menoyor kepala Rian.


Rian tidak terima, dia membalas menoyor tapi tidak kearah Agam melainkan ke Awan.


"G*la lo?" ujar Awan ketika kepalanya ditoyor.

__ADS_1


"Sahabat itu harus merasakan sakit bersama." ujar Rian lalu tertawa, Agam juga ikut tertawa bersama Rian.


__ADS_2