
Cinta membutakan orang orang yang merasakannya
Takdir mengatakan, dia akan mengejar kemana pun kita berlari. Meskipun sudah di ujung dunia, takdir tetaplah takdir.
Keadaan yang kacau bahkan hancur bisa terselesaikan, tapi kita harus tau cara apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikannya. Bukan melawannya hingga mati matian, tapi dengan membuka telapak tangan dan menerimanya dengan lapang dada, karna Tuhan tak akan pernah menguji hamba hambanya diluar kemampuan yang ia miliki.
*
Hari sudah sangat gelap, bulan dan bintang yang menghiasi hitamnya langit memberi cahaya untuk seseorang yang sekarang tengah duduk menenggelamkan kepalanya di tangannya.
Angin malam berhembus, suhu udara semakin dingin, serangga kecil pun mulai berisik bersuara.
Binar duduk sendiri, di pinggir danau yang entah dimana. Binar sengaja mencari tempat sepi untuk menenangkan hatinya.
Mungkin ini bukan untuk pertama kali Binar merasakan sakit seperti ini, tapi ini adalah rasa sakit yang pertama kali ia rasakan hingga menggores sampai ke lubuk hati.
Binar benar benar merasakan perihnya. Ketika semua orang pergi, ketika semua orang membenci dan ketika semua orang takan kembali.
Semuanya terjadi pada dirinya, entah kapan rasa bahagia itu bisa bertahan lebih lama pada dirinya, bahkan keperihan pun sudah bosan padanya.
Binar menangis terisak isak, suaranya mulai serak, matanya juga sembab, pikirannya sangat kacau. Semua ucapan yang di lontarkan Juni padanya tadi sangat menyakitkan.
Padahal Binar sudah menganggap Juni adalah sahabatnya, bahkan Binar beranggapan Juni bisa jadi saudaranya.
Tapi apa yang terjadi? Juni menghianatinya, dia membuat kehidupannya hancur. Seperti biasa, pikiran dan hati Binar selalu bertolak belakang.
Pikirannya mengatakan bahwa Juni adalah spesies sahabat yang fake dan dia harus membalasnya, sedangkan hatinya berkata, Juni melakukan itu karena dia juga memiliki hati.
Keadaan sangat rumit, bahkan lebih rumit lagi dari kata Aku suka dia, dia suka orang lain dan orang lain suka yang lain dan itu bukan aku.
Didalam situasi seperti ini, tak ada satu pun orang yang membantunya bangkit. Mungkin benar, dia hanyalah seseorang yang hadir untuk dikasihani, anak yang tak pernah diinginkan, dan sahabat yang tidak pernah berguna, menyedihkan sekali.
Binar mendongakan kepalanya, mengadu kepada semesta mengapa dirinya mendapat cobaan sekejam ini. Binar tidak sanggup.
*
Jam sudah menunjukan pukul 00:25 tapi Binar belum kunjung pulang. Awan sudah menelfon Binar berkali kali tapi Binar tidak mengangkatnya.
"Binar beneran gak ada dirumah pak?" tanya Awan lagi, mungkin ini adalah pertanyaan keseratus kali.
"Gak ada den," jawab Pak Harun.
"Coba cek lagi pak, siapa tau tadi ke kamar mandi atau kemana gitu."
"Maaf den, tapi saya tadi sudah mengecek kesemua ruangan tapi non Binar gak ada dirumah."
Awan mulai frustrasi, dia mengacak acak rambutnya, "Lo dimana Nar?" lirih Awan.
Awan kembali menelpon ponsel Binar, tidak dijawab.
Karena sudah lama Binar tidak kembali kerumah dan hari semakin malam Awan memutuskan untuk mencarinya.
"Yaudah pak, saya permisi yah pak, kalau Binarnya udah balik suruh dia hubungi saya." ucap Awan.
"Iya den nanti saya bilangin."
Awan langsung masuk kedalam mobilnya dan mengemudikannya mencari Binar.
Awan mencari kerumah Juni, karena Juni adalah orang satu satunya yang dekat dengan Binar, siapa tau Binar menginap disana.
Awan berhenti didepan rumah Juni, satpam membuka gerbang, "Cari siapa mas?" tanya satpam itu.
"Juni, boleh panggilin Juni."
"Maaf mas sebelumnya, tapi ini sudah larut malam, non Juni tidak mungkin saya bangunin." ucap satpam itu, Awan tidak tau mau berbuat apa lagi.
"Kalau boleh tau, mas ini siapanya non Juni yah?" tanya satpam itu.
__ADS_1
"Saya teman sekelasnya."
"Ada keperluan apa yah mas?" tanya satpam itu lagi.
"Saya lagi nyari teman saya satu lagi namanya Binar,"
Satpam itu berfikir sejenak, seperti tidak asing namanya.
"Ooh Binar itu, Binar temannya non Juni." ucap satpam itu, Awan langsung membulatkan matanya.
"Iya, bapak tau dia dimana? ada didalam?" tanya Awan.
"Tadi iya, sekarang enggak. Udah pergi."
"Serius?"
"Lima rius mas, masa serius doang."
Awan menatap kearah rumah Juni, lalu tangannya mengetuk ngetuk diponselnya.
"Apa gue telpon Juni aja yah." gumam Awan.
Awan membuka ponselnya dan mencari nomor Juni didalam grup kelasnya, dan dapat.
Awan langsung menelpon Juni tanpa pikir panjang, "Angkat dong angkat." lirih Awan.
Panggilan terhubung, Awan langsung mengembangkan senyumnya.
"Hallo, Jun lo bisa keluar sekarang? gue ada diluar." ucap Awan sebelum orang yang ada disebrang sana bersuara.
"Ngapain malam malam gini?" jawab Juni.
"Gue lagi nyari Binar."
Tak ada sautan dari Juni, dia hanya diam.
"Hallo Jun, hallo."
"Iya gue tau, ta-"
panggilan langsung terputus begitu saja. Awan menganga melihatnya, What?
Awan mencoba menelpon kembali, tapi ditolak. Awan tak putus asa, kunci jawaban ada didepan mata jangan disia siakan.
Awan terus menelpon Juni sampai akhirnya Juni menganggakat panggilannya lagi.
"Apasih lo, ganggu tau gak!" ketus Juni.
Awan tidak takut dengan teriakan Juni, dia hanya menginginkan keberadaan Binar sekarang.
"Jun plisss, keluar bentar aja, gue mau nanyak soal Binar." ucap Awan memohon, Juni berdesis disebrang sana, Awan dapat mendengarnya.
"Plissss." mohon Awan lagi, akhirnya Juni menghela nafas pelan dan mengalah.
"Iya gue keluar." ucap Juni. Setelah itu Juni memutuskan panggilannya dan keluar dari rumah.
Awan menunggu Juni dengan senyuman semerkah di bibirnya.
Juni keluar dari pintu rumah itu dan menghampiri Awan.
"Apa?" tanya Juni to the point.
"Binar mana?" tanya Awan, wajah Awan seakan menambahkan Binar, hal itu membuat Juni semakin tidak suka.
"Gak tau." jawab Juni singkat.
"Kok gak tau, lo kan temannya."
__ADS_1
"Dulu, sekarang bukan." ketus Juni.
Awan langsung mengeritkan dahinya, alis matanya menyatu karena heran.
"Maksud lo?" tanya Awan tak paham.
Juni hanya diam tak menjawab, tujuan Juni hanya membuat Binar jauh dari Awan bukan dirinya yang jauh dari Awan.
"Maksud lo apa?" tanya Awan lagi. Juni menggeleng pelan, "Bukan apa apa."
Awan semakin heran, apa yang sebenarnya terjadi. Apa kepergian Binar ada sangkut pautnya dengan Juni?
"Gue nanya serius Jun." ujar Awan.
Juni tak berani menatap Awan, kepalanya ia tundukan.
"Lo nyari Binarkan? Binar gak ada disini, dia udah pergi dari beberapa jam yang lalu." ucap Juni lalu membalikan badannya, Awan menahan lengan Juni yang hendak pergi.
"Binar pergi kemana?" tanya Awan, Juni hanya diam, Juni meneguk air ludahnya, ini pertama kali Awan menyentuhnya bahkan memegang tangannya. Juni menatap kearah tangan Awan yang menggenggam tanganya kuat. Genggaman itu seolah memberi sinyal oada Juni supaya Juni tidak menepis rasa sukanya.
"Ternyata gini rasanya dipegang sama lo Wan, senang banget rasanya." ucap Juni dalam hati.
Perasaan Juni kembali hidup tentang Awan, rasa ingin memiliki yang sempat ia kubur beberapa menit yang lalu sekarang kembali bangkit. Juni tidak tau sampai kapan rasa ini terus bertahan, tapi hatinya selalu meyakinkan bahwa ini semua tidak akan berakhir sampai disini dan takan berakhir sampai Juni benar benar memiliki Awan.
Awan yang melihat Juni menatap kearah genggaman tanganya langsung melepas tanga Juni.
"Sorry," lirih Awan canggung.
Juni menggeleng pelan, "Iya gak papa."
Awan menjadi merasa gugup karena tidak enak hati, Awan takut Juni berfikir lain padanya.
"Ehm, Binar dimana?" tanya Awan lagi.
Juni menatap mata Awan, lekat lekat.
"Apa harus Binar yang elo cari?" ucap Juni, hal itu sontak membuat mata Awan menyipit.
"Maksud lo?" ucap Awan tak paham.
"Apa cuman Binar yang ada dimata lo? apa lo gak tau kalau ada orang lain yang menyayangi lo sejak dulu?" ucap Juni, wajahnya mulai memerah, tangannya mulai gemetar.
Awan yang mendengar kata kata Juni yang mulai aneh berjalan mendekati Juni. Kurasa Juni menjadi aneh sekarang karena genggamannya tadi.
"Lo kenapa?" tanya Awan tepat didepan Juni, jarak mereka hanya 30 cm saja kurasa.
"Lo gak pahan selama ini Wan?" tanya Juni, matanya mulai membendung air mata yang hampir jatuh.
"Apa?" tanya Awan yang benar benar tidak paham.
"Gue suka lo Wan, gue suka lo." Juni mulai berteriak. Awan terbelalak kaget mendengarnya. Apa karna ini dirinya menjadi aneh seperti ini.
"Gue suka lo udah dari lama Wan, tapi gue mendem sendiri, dan sekarang apa. Lo malah suka dan jadian sama Binar." ucap Juni mulai menangis.
Sekarang Awan paham, kenapa Juni mengatakan bahwa dirinya dengan Binar tidak berteman lagi. Awan juga sudah paham, mengapa Juni tidak ingin memberitahu keadaan Binar sekarang. Karena alasan dsri semua kejadian ini adalah, Juni menyukai dirinya.
Awan mendekatkan wajahnya kepada Juni menarik nafas dalam dalam, "Tapi maaf semaaf maafnya. Gue suka sama Binar, bukan lo." bisik Awan, setelah itu Awan menjauhkan wajahnya lalu pergi dari hadapan Juni yang sedang terdiam dan menangis hebat.
Ucapan Awan membuat hatinya benar benar sakit. Mungkin separah ini luka yang akan diterima seseorang ketika ia mencintanya secara berlebihan dan rasa ingin memilikinya sangat dalam sekali.
Juni menjatuhkan semua sakit yang ada dihatinya, air matanya terus mengalir, Juni terduduk ketanah. Satpam yang mendengar suara tangisan Juni langsung menghampiri Juni dan membantunya untuk bangkit berdiri.
"Non kenapa? ayo non diri." ucap satpam itu membantu Juni berdiri. Juni menolak ajakan satpam itu, sekarang Juni ingin melupakan semua sakit hatinya pada sang malam. Dirinya tidak berdaya lagi untuk berdiri dan masuk kedalam kamar lalu menghabiskan tangisnya disana.
Diluar sini melepaskan semuanya lebih baik, ditempat ia merasakan patah hati dari seseorang yang ia sayang.
Cinta bukanlah segalanya, tapi segalanya tentang cinta. Tidak takut berapa dalam kita akan tenggelam, jika sudah mengenal cinta, kita akan melakukannya.
__ADS_1
Untuk sang cinta, biarkan dirimu bebas sejenak, nanti akan kuraih dirimu dan kumiliki seutuhnya. Jika tidak bisa, orang lain pun takan bisa.
Hari ini, malam ini, Juni berjanji. Binar tidak akan memiliki Awan, atau Awan tidak akan memiliki Binar.