
Sejauh itu perhatian Kak Cantika pada kami, para alumni pertama SMP Anak Semua Bangsa. Pagi sekali, sesuai informasi yang kami terima darinya, kami datang ke sekolah, mengambil Ijazah dan SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional), sekaligus menerima beberapa formulir yang sudah disiapkan Kak Cantika dari Sekolah-sekolah Menengah atas dan Kejuruan di Kota. Dari formulir pendaftaran beberapa sekolah itu, kami dimintanya memilih, sekolah mana yang akan kami masuki nantinya. Kak Cantika melakukan itu, untuk meringankan beban kami agar kami tidak harus pulang-balik dari Kota ke Desa.
Aku dan Wira menanyakan SMA tempat Kak Cantika dulu bersekolah, kami ingin menimba ilmu di tempat yang sama dengan Anak Gadis Pak Kades itu.
“Semua sekolah itu sama, Uti, tergantung kita... kalau kita malas belajar, mau sebagus apapun sekolah, hasilnya pasti buruk... begitu juga sebaliknya.” Ucap Kak Cantika.
“Tapi, kami sudah berniat ingin masuk SMA yang sama dengan tempat Kak Cantik dulu.” Kataku.
Kak Cantika tersenyum, “Ya sudah, aku kasih kalian masing-masing dua formulir, supaya kalau kalian tidak lulus seleksi di salah satunya, kalian bisa masuk di sekolah yang satunya lagi!” begitu katanya.
Aku dan Wira masing-masing menerima satu formulir pedaftaran untuk SMA Negeri 1 Generasi Hebat tempat Kak Cantika dulu sekolah, dan satu lagi formulir SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Negeri 1 Pelita Bangsa. Semuanya ditegaskan dengan angka 1, dan kami mengartikannya sebagai perlambang bagi sekolah unggulan.
“Terimakasih, Kak.”
“Sama-sama... jangan lupa, formulir itu kalian kembalikan padaku paling lambat senin depan!” pesannya.
“Iya Kak!”
Aku dan Wira pulang membawa formulir-formulir itu. Di rumahnya kami mengisi formulir-formulir itu, kemudian, tanpa menunggu waktu seminggu, malamnya aku dan Wira langsung mengembalikan formulir kepada Kak cantika.
Sambil menunggu informasi selanjutnya dari Kak Cantika tentang waktu seleksi masuk SMA/sederajat. Aku dan Wira mengisi waktu kami dengan kembali bekerja di Gudang Kopra Pak Desa yang mulai aktif memproduksi kopra-kopra itu.
Siang itu, saat aku dan Wira beristirahat setelah mengisi kopra berkarung-karung. Seorang petugas kantor Pos, singgah di depan rumah Pak Kades. Dari bawah pohon kayu jawa di halaman gudang, tempat aku dan Wira berteduh, kulihat petugas Pos itu berbincang-bincang dengan Kak Cantika, kemudian pergi lagi.
Aku bertanya-tanya dalam hati saat Kak Cantika yang cantik itu berjalan sambil tersenyum-senyum ke arah kami. Kain daster selututnya berkibar-kibar di terpa angin. Sudah pasti mata kami terpaku pada betisnya yang mulus itu. Tapi, sungguh mati, aku tidak ada niat untuk berdoa agar angin bertiup lebih kencang lagi. Sumpah, tidak ada niatku begitu! Oh Ina, ampunilah anakmu yang naif ini.
Memang hampir setiap hari, saat kami bekerja paruh waktu di Gudang Kopra milik Amanya, Kak Cantika sering mengajak kami ngobrol atau membawakan kami makanan. Tapi kali ini, entah kenapa aku gugup, masalahnya di tangannya berkibar-kibar sebuah amplop putih yang ia terima dari petugas Pos tadi. Mungkinkah amplop itu berisi surat keterangan lulus seleksi dari SMAN 1 Generasi Hebat? Atau dari SMKN 1 Pelita Bangsa? Ah, tapi kami belum mengikuti ujian seleksi sekalipun, baru sekedar mengirimkan formulir pendaftaran.
Kak Cantika duduk di antara aku dan Wira, tanpa merasa risih dengan bau badan kami, yang sudah pasti jauh lebih wangi dari kambing-kambing milik Pak Dusun. Dekat sekali ia denganku, sampai-sampai jantungku kembang-kempis.
“Kalian sedang istirahat, Uti?” tanya Kak Cantika.
“Iya, Kak!”
“Ini ada surat untuk kalian!’ Kak Cantika memberikan amplop dari petugas Pos itu kepadaku.
“Surat dari siapa ini, Kak?” tanyaku, memperhatikan amplop surat yang hanya bertuliskan alamat rumah Pak Kades itu.
“Dari Melodi. Maaf, aku tadi sempat membacanya sedikit, soalnya aku kira surat itu untukku!” terangnya.
“Tak apa, Kak!” jawabku. Aku dan Wira saling pandang. Seperti tak percaya, setelah bertahun-tahun, Melodi mengirimi kami surat.
“Ya sudah, aku ke rumah dulu, membantu Ina. Selamat membaca!”
__ADS_1
“Terimakasih, Kak.”
“Iya, sama-sama.”
Kak Cantika langsung beranjak. Dadaku kembali longgar rasanya. Beberapa detik, aku dan Wira tertegun menatap amplop putih itu.
“Cepat kau buka, Kawan, tak sabar aku ingin mendengar kabar dari Kawan kita itu dari pulau Kalimantan sana!” sergah Wira. Aku langsung mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop. Tulisan tangan melodi sangat rapih, beda jauh dengan tulisannya waktu SD dulu yang mirip tulisan steno. Melintang sini, menyimpang sana.
Gugup aku menunggu apa isi surat dari Kawan kami itu. Apa kabarnya? Apakah dia menemukan teman yang jauh lebih sinting dari aku dan Wira di Kalimantan sana?
Untuk Kawanku yang hebat.
Wira Sasono dan Nadir.
Sungguh pembuka yang luar biasa
*Assalamualaikum Apa kabar kalian sekarang?
Semoga kalian baik-baik saja. Amin. Kalau mungkin kalian bertanya tentang keadaanku juga, alhamdulillah aku sehat wal afiat, tak kurang sesuatu apapun*.
Hey Kawan, kalian tahu? Saban hari di sungai Barito dekat tempat tinggalku aku bertanya-tanya tentang kalian. Kapan surat-surat kalian akan datang kepadaku? Namun sayang, surat yang kurindukan itu tak jua sampai. Jujur aku kecewa. Kupikir kalian telah lupa denganku.
Sesak napasku kurasa. Wira diam, matanya mulai berkaca-kaca. Kalau memang kali ini dia menangis, maka, bisa jadi seumur kami bersama, ini pertama kalinya aku melihatnya.
Wira memintaku lanjut membacakan.
Nah, bagaimana dengan kalian? Aku yakin kalian pasti lulus. Tak ada Kawan hebat seperti kalian. Aku tahu itu!
“Alhamdulillah, Mel, kami lulus... Kawan kita yang satu ini yang membantuku!” lirih Wira, menjawab surat pertanyaan Melodi dalam suratnya, retoris.
Kiranya perlu juga kalian tahu, saat menulis surat ini, malam ini di kamarku aku berlinang air mata. Rindu aku ingin bertemu kalian, Kawan. Sungguh aku tidak berbohong.
Wira mulai meneteskan air mata. Aku juga tentunya. Sedih rasanya, mendengar ucapan seorang Kawan seperti Melodi hanya melalui tulisannya.
Oh iya, tolong kalian sampaikan salamku pada orangtua kalian, Pak Kades, Pak Dusun, Pak Hambali, Pak Rano Karno, seluruh guru-guru kita di SD dulu, kepada Kak Cantika, Pak Anwar, semua guru SMP dan stafnya, dan semua teman-teman dari SD sampai SMP. Dan satu lagi, pada Imam Nurdin, guru mengaji kita. Aku harap kalian mau menyampaikannya.
“Nanti kami sampaikan, Kawan!” aku menjawab.
Nah, aku hampir lupa, sekarang aku sudah banyak perubahan loh! Berat badanku turun drastis, karena aku sempat sakit selama sebulan. Jadi, untuk Nadir, kalau nanti kau ingin menggendongku seperti malam itu, aku jamin kau tak akan kesusahan. Aku tidak seberat dulu, kau tahu?!
Supaya kalian percaya, aku hantarkan dua lembar foto untuk kalian simpan, biar nanti kalau kalian rindu, kalian bisa melihat fotoku itu.
Wira langsung merampas amplop itu dari tanganku, diguncang-guncangkannya amplop itu sampai jatuhlah dua lembar foto yang dimaksudkan Melodi. Diberikannya selembar kepadaku. Oh bukan main kagetnya kami melihat perubahan Melodi. Tubuhnya tak lagi gempal seperti dulu, langsing mirip gitar spanyol. Dan mata sayunya itu? Hatiku berdesir menatapnya lama-lama.
__ADS_1
*Untuk kalian, Kawan terbaikku. Jangan menyerah dalam meraih cita-cita kita. Aku tunggu surat kalian. Terlebih lagi, aku berharap kalian bisa mengunjungiku di kota Barito ini. Ku tunggu... ku tunggu... ku tunggu!
Hmm... mungkin hanya sampai di sini aku sanggup menuliskannya. Kalian tahu bukan? Nilai Bahasa Indonesiaku selalu rendah. Hehehe... tapi tak apa, aku dedikasikan sepertiga malamku demi kalian. Kawan hebatku*
*Semoga waktu memberi ruang untuk kita bisa bertemu lagi.
Dari Kawan yang sering menyusahkan kalian....
Melodi*.
Kulipat surat Melodi, kuselipkan fotonya di sana, lalu kusimpan di saku baju.
Aku kaget ketika Wira tiba-tiba berdiri sambil menuding ke arahku.
“Kau lihat?! Kau lihat itu, Kawan?! Melodi sangat ingin melihat kita sukses... dia ingin kita bisa mencapai cita-cita kita! Jadi, jangan sekalipun surut semangatmu... jangan pernah kau ragu dalam berjuang!”
Aku mengangguk-angguk, tak tahu maksudku apa. Yang pasti dalam hatiku ada harapan yang tumbuh pelan-pelan. Berakar di sana. Membentuk simpul semangat baru.
Malamnya, Wira mengajakku menuju Masjid Babussalam. Pertama ia meminta izin kepada Imam Nurdin untuk meminjam mik masjid, sebentar. Kemudian, melalui pengeras suara masjid, Wira menyampaikan salam seperti yang diinginkan Melodi dalam suratnya. Akibatnya, Imam Nurdin menceramahi kami setengah malam. Tak pantas katanya menggunakan pengeras suara masjid untuk sekedar menyampaikan salam dari seseorang.
“Ini bukan stasion Radio! Pengeras suara masjid hanya untuk mengumandangkan Adzan, Sholawat, dan mengaji, atau paling tidak, mengumumkan orang yang meninggal. Kalian ingat itu, Uti! Tak boleh menyalahgunakan... karena Allah melihat dan membalas perbuatan kita sekecil apapun!”
Besoknya, Aku dan Wira langsung mengirimkan surat balasan untuk Melodi melalui kantor pos. Seperti yang ia lakukan, bersama surat itu kami kirimkan selembar fotoku bersama Wira yang kami ambil dari kios foto di kota. Banyak harapan dan cerita yang kami guratkan dalam surat itu.
Sesuai keterangan Kak Cantika, bahwa ujian seleksi gelombang pertama SMAN 1 Generasi Hebat akan dimulai hari ini, pagi sekali aku dan Wira sudah berjalan kaki menuju SMAN 1 Generasi Hebat untuk mengikuti ujian seleksi pertama. Sebelumnya, kemarin kami mengunjungi Bank BIS untuk menyimpan uang upah selama kami bekerja di Gudang Kopra Pak Kades beberapa hari ini. Semuanya. Kemudian, mencari kos sewa paling murah untuk kami tempati untuk sementara selama masa seleksi.
Tak bisa kuhitung banyaknya siswa baru yang mengikuti ujian seleksi masuk di SMAN 1 Generasi Hebat ini. Kabarnya, jumlah pendaftar tahun ajaran baru ini, meningkat pesat. 1000 pendaftar. Bayangkan banyaknya itu!
Sambil menunggu Nomor Peserta Ujian (NPU) kami disebutkan, Wira mengajakku berkeliling lingkungan sekolah yang sangat luas dan megah ini. Tak putus rasa takjub kami melihat bangunan bertingkat-tingkat. Kalau aku bisa lulus seleksi dan menjadi siswa di SMAN 1 Generasi Hebat ini, aku ingin memilih kelas di tingkat dua. Oi, indahnya khayalanku itu.
Merasa puas berkeliling, aku dan Wira kembali ke tempat seleksi awal. Tak begitu lama, nomor ujian kami dipanggil. Deg-degan jantungku. Masalahnya, hari ini kami akan melalui tes fisik. Dalam pengetahuanku, ku kira tes fisik masuk SMA akan sama dengan tes fisik masuk tentara, seperti cerita yang kudengar dari Wira tentang Abangnya itu.
Ternyata apa yang ada dalam benakku jauh dari kenyataannya. Sangat jauh bahkan. Tak ada adu fisik semacam sparing dalam pelatihan bela diri militer. Tak ada push up, sit up, full up, atau tengkur-up. Tes fisik ini tidak lebih hebat dari apa yang aku alami saat mengikuti posyandu di balai desa waktu kecil dulu. Tes fisik ini tak lain hanya sekedar pengukuran tinggi badan, penimbangan, dan pertanyaan-pertanyaan kecil soal penyakit yang diderita.
Tes pertama sudah kami lewati, aku dan Wira yakin bisa lulus dari tes itu. Meski tubuh kami kurus seperti kurang gizi, Kawan, kau tak bisa menganggap remeh kualitas fisik anak Desa yang sudah biasa bekerja keras seperti kami ini.
Sampai di kamar kos kami, yang ukurannya tak lebih besar dari ukuran pondok jagung milik Amaku. Aku dan Wira langsung belajar lagi, mempersiapkan diri untuk menghadapi tes selanjutnya.
ikutin terus Nadir, ya sobat... kritik dan saran kalia. sangat membantu...
__ADS_1
Notes :
Catatan Kaki ada di episode pertama.