NADIR

NADIR
18. SELENGKUNG SENYUM DAN TISU


__ADS_3

Amat beruntunglah kami anak Desa terpencil ini, diberikan kesempatan untuk menikmati satu masa yang indah. SMA. Masa di mana kau mulai mafhum tentang hati yang berdesir seketika ketika mata saling menemukan. Masa yang akan menuntunmu untuk terlibat dalam banyak hal. Pembuktian jati diri. Tangga-tangga mimpi.


Sebagaimana aku dan Wira, bukan kepalang kebahagiaan kami di hari pertama menjadi siswa resmi di SMAN 1 Generasi Hebat ini. Seragam baru masih bau toko, ransel milenial, juga bau toko, bukan lagi ransel bermerk; berat bersih 10 kg, sepatu baru mengkilap-kilap yang durhaka rasanya kalau harus diinjakkan di jalanan berlumpur, potongan rambut pomade, trend masa kini. Oi, hebatnya. Terbusung-busung dada kami saat berjalan. Lihatlah! Lihatlah remaja yang tampan ini!


Sampai di depan gerbang SMA, Wira melepaskan topinya, menanggalkan ranselnya, entah apa yang ingin dilakukannya. Wira kemudian menggelar kardus bekas di depan gerbang itu, kemudian membungkuk, lalu ia sujud. Serendah-rendahnya, sedalam-dalamnya, sebagai ungkapan rasa syukurnya. Sontak aku langsung mengikutinya, karena memang, menurutku itu sangat perlu dilakukan. Tak ada manusia yang lebih baik daripada orang-orang yang pandai bersyukur.


Siswa-siswa baru yang sama bau tokonya dengan kami, berbisik-bisik melihat kelakuan kami. Sebagian meringis, sebagian lagi senyam-senyum geli. Tapi kami tak peduli. Dalam sujud panjang itu, kami memanjatkan puja-puji untuk-Nya yang memberi kami kesempatan menjadi bagian dari masa yang hebat ini.


Innallaha huwar-razzaaqu zul quwwatil matiin. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.


Aku dan Wira kemudian bangkit dengan mata berkaca-kaca. Beberapa siswa, pedagang somay, Pak Udin―satpam sekolah, dan guru-guru, masih mematung, mungkin terkesima melihat kelakuan kami dan berlalu begitu saja.


Seperti yang diumumkan pihak sekolah kemarin, saat kami melakukan pembayaran uang pendaftaran, Aku dan Wira langsung menuju papan informasi, mencaritahu di kelas mana kami ditempatkan. Ada sedikit kecut di hatiku saat mengetahui kalau aku dan Wira harus berlainan kelas. Wira berada di kelas IPS XB, sedangkan aku di kelas IPA XA, aku benci dengan peraturan pengkotak-kotakan ini. Hanya karena akumulasi nilai UN dan Ujian Seleksi Masuk, kami harus terpisah satu sama lain. Seakan nilai-nilai itu adalah partisi, mengintimidasi. Kenapa kami para siswa yang memiliki tujuan yang sama ini, tak diberi kebebasan untuk memilih jalannya sendiri? bukankah nilai di atas kertas tak bisa dijadikan jaminan kualitas seseorang?


“Menurutku, sistem seperti inilah yang dicontoh perusahaan-perusahaan, sehingga banyak mereka yang sebenarnya memiliki kemampuan, namun susah mendapatkan pekerjaan. Kuantitas selalu menjadi faktor penentu daripada kualitas!” aku mengomel, kepada Wira.


“Sudahlah, Kawan... ini bukan masalah... kita harus mengikuti sistem yang berlaku... mungkin sudah digariskan kita harus berlainan kelas untuk sementara, tapi aku janji, semester depan aku akan berusaha semampuku untuk masuk kelas IPA!” baru aku sadar, kalau Wira bukan lagi seorang anak kecil yang jahilnya naudzubillah, melainkan seorang remaja berpikiran terbuka.


Kami menuju kelas masing-masing, di lantai dua. Hebat rasanya mendapat kelas di lantai dua itu. Untungnya kelasku dan Wira tidak terpisah jauh, hanya dinding beton yang menjadi sekat, sehingga aku bisa menemuinya dengan mudah waktu istirahat.


Mungkin disinilah letak keistimewaan masa SMA, saat kau bisa mengenal kawan-kawan baru dari latar belakang yang beragam, dengan karakter yang berbeda-beda pula. Siswa-siswa itu membawa warna pemikiran mereka masing-masing, kemudian dipertemukan dalam satu ruang dan waktu bernama SMA ini, maka apabila warna-warna itu menyaru, terbentuklah garis-garis gradasi, seperti pelangi. Haiss... indahnya itu!


Tak bisa kubayangkan bagaimana ekspresi Wira saat aku mengabarkan kepadanya, kalau aku sekelas dengan Hanin, anak gadis Ko A Kiong yang digandrunginya itu. CIDAHA atau Cinta Dalam Hati-nya. Cieee... cieee... cieee! Haiss... sudah bisa kubayangkan bagaimana nasib Hanin kedepannya. Dia harus menyiapkan mental yang kuat menghadapi kesintingan seorang Wira.


Dan itu terbukti di hari pertama. Begini ceritanya :


Setelah kusampaikan padanya kalau aku sekelas dengan Hanin, tak ayal Wira langsung menemui Hanin, dipetiknya bunga mawar yang sengaja ditanam di depan halaman sekolah, kemudian, di depan seluruh teman-teman sekelasku, Wira yang otaknya sudah rusak karena cintanya itu, bersimpu di haribaan seorang Hanin, menawarkan setangkai mawar, bersabda dalam syair romantis yang entah dikutipnya dari buku mana.


Jika mawar adalah aku


Jika mawar adalah raga


Jika mawar adalah jiwa


Jika mawar adalah cinta


Biarkan ia tumbuh dan mekar di hatimu.


Seluruh siswa yang menyaksikan drama itu bersorak-sorak sambil bertepuk tangan, menyemangati Wira, mensupport perjuangannya. Ada juga yang bersuit-suit. Tidak sedikit juga yang mencibirnya.


Aku berdecak-decak, kagum. Hanin mematung, pipinya merah, kulit wajahnya tertarik kencang. Lantas ia marah, dirampasnya tangkai mawar itu dari tangan Wira, kemudian dibuangnya benda itu ke tong sampah. Hanin merutuk-rutuk kesal, meninggalkan sang pemujanya yang masih bersimpu.


“Gila kau! Bawa cintamu itu ke laut!” umpat Hanin.


Meski kena tolak mentah-mentah, di depan banyak orang pula, Wira sama sekali tak malu. Ia berdiri, menyeringai macam orang tak bersalah, langkahnya angkuh mengangkang―macam orang baru disunat. Dilambaikannnya tangan pada seluruh siswa yang menyoraki kegagalannya, ubahnya seorang artisa pada penggemarnya. Oi gayanya itu! dianggapnya sorakan yang berbunyi sarkasme itu sebagai pujian, padahal tak lebih dari makian. Haiss... memalukan betul tingkah Wira itu.


Karena dasarnya Wira memang muka tembok, tak mau kalah oleh keadaan, alias tak tahu malu, besoknya ia membawakan bunga matahari berikut potnya untuk Hanin. Hanin, yang sudah pasti kesal dengan perlakuan Wira, langsung melemparkan bunga itu ke Wira, lengkap dengan pot, tentunya. Bengkak kepala Wira kena pot. Aku terpingkal-pingkal.


Kuperingatkan Wira untuk berhenti mengejar Hanin, karena aku kasihan, saban hari ia kena tolak mentah-mentah. Tapi, dasarnya Wira, ia tak mau mendengar nasihatku.


Besoknya sepulang sekolah, Wira langsung mengajakku menemui Ko A Kiong untuk melamar kerja di tokonya. Aku tau itu hanya akal-akalan Wira biar dia bisa sering berjumpa dengan Hanin. A Kiong memberi kami pekerjaan, tapi bukan di tokonya, melainkan di dapur pembakaran tempurung untuk djadikan arang, di belakang tokonya.


“Owee, owe... besok kalian sudah boleh bekelja!”


۝

__ADS_1


Bukan main hebatnya cinta. Wajar kalau aku mengatakannya sebagai konstelasi paling rumit. Kau bisa disulapnya menjadi apa saja. Dibuainya hingga melayang, terbang, bahkan emnyentuh rembulan. Tak peduli betapa keras ujian yang mengalang, tak peduli seluas apa samudera, tak peduli seterjal apa jurang pemisah, sekali kau bersentuhan dengannya, semua itu bukan apa-apa. Tapi, hati-hati!


Lihat saja Kawanku ini, barapun tak membuatnya jera. Bermandikan keringat tubuh kami di dapur pembakaran arang milik Ko A Kiong hanya demi mendapat simpati Hanin. Menurut teori Wira, gadis manapun akan jatuh hati pada lelaki yang tangguh. Dan lelaki tangguh adalah dia yang mau menjerang kulitnya dengan bara tempurung kelapa. Oi Ama, kalau tidak karena tahbisnya perkawanan, sudah lama aku mengundurkan diri dari pekerjaan yang sangat melelahkan ini.


Di dapur pembakaran yang lebih mirip neraka dunia ini, aku dan Wira mulai bekerja dari pukul 1 siang sampai jam 10 malam. Upahnya lumayan, lima puluh ribu tapi resikonya, jangan kau tanya, kalau hilaf sedikit saja bisa-bisa kau jadi manusia bakar. Kau bayangkan saja. Sehabis bekerja di pembakaran arang aku dan Wira langsung pulang. Sampai di kamar kos yang ukurannya tidak lebih dan tidak kurang dari 3 kali 4 meter, tak ada kasur hanya tikar pea-pea dan satu lemari kayu, aku langsung pulas. Tak ada diskusi panjang. Belajarpun tak sempat. Macam remuk tulang-tulangku kurasa. Tapi Wira, karena cinta yang gila itu, dia masih sanggup terjaga sampai tengah malam hanya untuk berbicara seperti orang senewen dengan selembar tisu pemberian Hanin waktu itu. Sesekali ia beralih pada lukisan gadis berambut panjang yang dilukisnya sendiri dengan cat minyak. Memang, semenjak mengenal Hanin Wira menjadi seorang seniman hebat. Tak hanya melukis, ia juga menjadi pandai menyitir puisi. Terutama puisi-puisi cinta.


“Wahai tisu, kau tau, aku mencintainya lebih dari apapun!” bisik Wira kepada tisunya.


Sang tisu menjawab, “Aku tau!”


Lantas Wira berkata lagi, “Menurutmu, pantaskah aku ini bersanding dengannya?”


Si tisu menjawab lagi, “Sangat pantas!”


“Oh, kau memang paling mengerti perasaanku!”


Lalu Wira beralih pada lukisan Hanin dengan bunga mawar terselip di rambutnya itu. Bergetar hati Wira melihat wajah Hanin yang tersenyum lembut padanya.


“Wahai Adindaku Hanin, tahukah kau senyummu itu adalah mantra yang mampu menyihir siapa saja? Tahukah kau sepasang matamu yang sipit adalah semesta yang menawarkan kenyamanan swarga? Oh....”


Lukisan itu tetap tersenyum, bisu.


“Maukah kau mendengarkan puisi yang kubuat untukmu?” tanya Wira retoris.


Lukisan itu menatap Wira intens.


“Oh, betapa mulia hatimu adindaku Hanin!” ucap Wira lagi.


Aku mengintipnya sesekali. Kupikir Kawanku benar-benar telah hilang waras.


Pada bulan, demi gemintang,


Pada surya, demi birunya hari,


Wajahmu adalah swarga yang kuimpikan


Karena aku mendamba cinta,


Kaulah ruang tempat cinta ini bertumbuh


“Oi indahnya!”


Begitu seterusnya kelakuannya setiap malam, sampai ia puas.


Pernah Wira mengajakku ke toko boneka saat kami baru menerima upah selama seminggu dari Ko A Kiong, dibelinya boneka lumba-lumba yang ukurannya paling besar untuk dihadiahkan kepada Hanin saat hari ulang tahunnya, tak peduli upahnya selama seminggu itu habis.


Seminggu setelahnya, Wira membeli sebuah gitar akustik meski dia tak tahu cara memainkannya, kutanya untuk apa dia membeli benda itu, katanya dia mendapat kabar dari Putri―teman sebangku Hanin yang sering disogok Wira dengan sepiring bakso demi informasi-infomrasi absurd seputar anak gadis Ko A Kiong itu―bahwa Hanin mengagumi orang yang pandai bermain gitar.


Lagi-lagi aku yang harus berkorban, saban malam aku dimintanya untuk mengajarinya bermain gitar. Hanya saja aku patut bersyukur karena tak butuh waktu lama bagi seorang Wira untuk pandai bermain gitar. Bertranspormasilah Wira menjadi seorang musisi yang tak luput dengan gitarnya. Ke tempat pembakaran pun dibawanya gitarnya itu. Semua itu ia lakukan demi simpati Hanin. Bisa dikatakan pada bagian ini Wira memperbudakkan dirinya pada cinta Hanin, aku yang kena tempiasnya.


Maka, demi semua anomali yang tercipta, demi beban yang sungguh mati tak sanggup lagi aku memikulnya, kutemui Hanin, kutanyakan kepadanya kenapa ia tak mau berbelas kasih kepada Wira untuk menerima saja cintanya sekalipun hanya sehari. Katanya, ia sama sekali tak punya perasaan terhadap Wira.


Dengan berat hati, kusampaikan kabar itu kepada Wira, tapi dia tidak percaya.


“Sumpah Kawan, Hanin sendiri yang mengatakannya padaku!” Kataku.

__ADS_1


“Ah, aku tidak percaya!”


“Apa sebabnya kau tak percaya?” tanyaku.


“Menurutmu, untuk apa Hanin memberikan tisu ini kepadaku, hari itu?” Wira, balas bertanya.


“Yaa... mungkin saja dia kasihan padamu!” aku berasumsi.


“Nah justru itu! kalau dia kasihan, berarti dia cinta kepadaku!”


“Apa hubungannya rasa kasihan dengan cinta?” tanyaku, bingung.


Wira tersenyum, kemudian merangkulku, “Wahai Kawanku yang tak mengerti apa-apa soal cinta, biar kujelaskan padamu... kau tau, akar kata dari kasihan itu adalah KA-SIH, dua suku kata, kemudian ditambah akhiran AN, dan tahukah kau apa arti kasih itu? itu artinya cinta... ya, cinta yang diungkapkan dengan cara paling samar!” Wira berteori.


Entah dari mana ia mendaparkan teori “cocoklogi” itu.


“Mengerti kau, Kawan?!” tambahnya.


Aku mendesah, susah juga menyadarkan orang yang sudah terlanjur tersesat dalam permainan cinta.


Hari selanjutnya, kutanyakan persoalan tisu itu kepada Hanin. Kenapa ia menawarkan tisu kepada Wira hari itu, sehingga benda itu menjadi landasan kuat teori Wira.


“Heh... itu tisu pembagian Bu Hamdana untuk seluruh siswa yang mengikuti ujian!” terang Hanin.


“Lalu, kenapa aku tidak melihat Bu Hamdana membagikannya waktu itu?”


“Mana aku tau, aku saja mendapatkan tisu itu dari siswa di sebelahku!”


Habislah kau Wira, sudah saatnya kau mengalah....


Kemudian, kujelaskan lagi kepada Wira perihal tisu itu. Tapi, dasarnya Wira, dia tetap tidak mau terima begitu saja. Baginya, Hanin adalah cinta pertamanya, dan akan selalu begitu sampai ia dapat menakhlukkan hatinya. Meski tanpa tisu yang setiap malam diajaknya bicara itu, atau apapun.


“Kawan, cinta itu perlu diperjuangkan... dan perjuangan takkan indah tanpa pengorbanan... makanya, untuk cintaku, demi hatiku, meski harus jatuh berkali-kali, aku akan tetap berjuang!” ucap Wira.


“Meski harus kena tolak berkali-kali?!”


“Meski!” Wira tersenyum.


“Walau Hanin tidak akan pernah membalas cintamu sampai mati?”


“Walau!”


“Lalu bagaimana jika ternyata Hanin sudah menjadi milik orang lain?”


“Aku akan tetap mencintainya!”


“Meski dia sudah menikah?!” aku mempertegas.


“Ya!” jawabnya mantap. Wira lalu duduk disampingku, “Aku akan mencintai Hanin sampai kapanpun! Tak peduli Hanin menolakku berkali-kali, atau bahkan ia telah memilih orang lain... bukankah mencintai, tak mesti harus memiliki?”


Aku takjub. Aku terpesona. Dalam betul makna kata-kata itu rasanya. Kalau ada yang patut diberikan penghargaan karena hebatnya perjuangan atas cinta, Wiralah orangnya.


۝


*Ikutin terus kelanjutannya... jangan lupa ninggalin jejak ya...😁

__ADS_1


**Notes :


catatan kaki ada di episode pertama***.


__ADS_2