
Amaku senang ketika kupamerkan buku BIS Rp. 300.000 milikku. Di bolak-baliknya benda itu berkali-kali, diperhatikannya penuh rasa takjub. Aku senyam-senyum memperhatikannya, penuh rasa bangga.
“Bagaimana ceritanya, benda ini bisa menyimpan uang, Uti? Tak kutemukan satu sisinyapun yang mengandung makna uang, kecuali angka tiga ratus ribu itu.”
Aku tercekat ketika Ama menanyakan hal itu, tak pernah kuantisipasi pertanyaan seperti itu akan keluar dari benaknya. Kujawablah sekenanya, sesuai yang aku pahami. Bisa dikatakan sebagian besar dari jawabanku ini mengandung unsur karangan bebas.
“Begini Ama, buku tabungan ini hanyalah bukti bahwa kita telah menjadi nasabah di Bank BIS. Uang kita tak disimpan di buku tabungan ini, tapi di dalam benda elektronik yang super canggih bernama komputer. Ama tau bukan betapa canggihnya komputer itu?” terangku.
Ama manggut-manggut, “Oh, jadi maksudmu kita bisa mengambil uang tabungan kita, kalau kita memasukkan buku ini ke dalam komputer, begitu, Uti?”
“Bisa jadi!” jawabku.
“Oi, hebat betul buku tabungan ini!” pujinya. Aku bangga. Akhirnya Amaku yang hanya tamatan Sekolah Dasar itu bisa paham juga.
“Kalau begitu, jika nanti kau ke kota, kau bawa juga semua uang tabungan Ama ini, kau masukkan di komputer Bank yang canggih itu, Uti!” Ama menyerahkan dua bilah bambu batu sebesar paha kepadaku. Aku ingat, Ama selalu memasukkan sebagian uangnya ke dalam bambu-bambu itu.
“Baik Ama, nanti aku masukkan!”
Seperti yang telah kami sepakati bersama, aku dan Wira mulai bekerja keras mencari uang di Gudang Kopra milik Pak Kades setiap pulang sekolah dan hari libur saja, tentunya. Tak hanya di sana, saat masa panen jagung tiba, aku dan Wira tak segan-segan makan gaji sebagai penebas pohon jagung. Apabila panen padi, kami tak segan-segan membooking satu hektar sawah untuk kami arit lalu di giling, dan ketika musim tanam tiba, aku dan Wira orang paling pertama yang membungkuk-bungkuk di petak sawah atau kebun warga. Upah yang kami dapat dari pekerjaan-pekerjaan itu meski berpariasi, bisa dibilang lumayan. Dan di Desa Buga ini, kami menjadi terkenal. Tidak sedikit warga yang mengagumi kegigihan kami. Bagi mereka, kami adalah dua anak, sekawan, yang tak kenal lelah. Tak mau kalah oleh keadaan, seperti yang selalu Wira katakan kepadaku.
__ADS_1
Namun, semua pekerjaan yang menghasilkan itu hanya pada saat panen saja. Di luar masa-masa panen, aku dan Wira tak bisa berbuat apa-apa, berbulan-bulan kami tak mendapatkan pekerjaan. Apalagi ketika kelapak-kelapa, jagung, padi, singkong, dan segala rupa tanaman warga lainnya mengalami kegagalan karena serangan hama, aku dan Wira tak bisa berbuat banyak.
Kubuka buku tabunganku, setelah memasukkan semua upah dari pekerjaanku selama ini ditambah tabungan Ama, aku baru bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp. 2.000.000,00 di sana. ya, meskipun angka tabunganku masih lebih banyak 500.000 di banding Wira, bagiku itu tidak akan cukup untuk cita-cita kami menuntut ilmu ke Ibukota Jakarta.
“Bagaimana ini, Uti, sebentar lagi kita akan tamat dari SMP, artinya kita akan masuk SMA, pastilah membutuhkan biaya yang banyak... sungguh, melihat isi tabungan kita sejauh ini, aku tidak yakin semuanya cukup, apalagi kalau sampai ke perguruan tinggi!” kataku, kepada Wira, di rumahnya, saat kami berlatih mengerjakan kisi-kisi soal Ujian Nasional yang tinggal sebulan lagi.
Wira hanya tersenyum mendengarku, tak kusangka ia bisa setenang itu setelah semua ini.
‘Tak perlu kau riasu, Kawan. Biarlah tabungan kita yang sekarang ini, kita gunakan dulu untuk masuk SMA, nanti kalau kita sudah bersekolah di kota, aku yakin di sana pasti lebih banyak pekerjaan yang bisa kita kerjakan dan menghasilkan uang untuk tabungan kita nanti ke perguruan tinggi!”
Oi, Wira memanglah Wira, Kawan hebat yang tak cepat putus asa sepertiku. Tak mau kalah begitu saja oleh relaitas. Aku sedikit lebih tenang mendengar penjelasannya. Mendengar rencananya saat kami sekolah SMA di kota nanti.
“Jadi, menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku.
“Baiklah, Kawan.”
Selama sebulan penuh sampai hari UN (Ujian Nasional) dan UAS (Ujian Akhir Sekolah) tiba, tak terkecuali, atas permintaan Wira dan Mangge Raden, setiap malam aku dan Ama bermalam di rumah Wira. Kebetulan, di kebun kami tidak menanam jagung lagi, setelah terserang hama kemarin. Hanya beberapa bedeng singkong dan sawi-sawian. Bukan apa-apa, seperti permintaan Wira, dia ingin aku membantunya memahami mata pelajaran UN dan UAS. Sebagai Kawannya, aku sangat senang jika Kawanku yang bodoh itu mulai peduli dengan pelajaran. Aku tau, semua itu Wira lakukan demi janjinya sore itu, saat kami membakar jagung bersama melodi. Ya, semua itu demi janji cita-cita yang ia teriakkan kepada langit dan bumi. Kepada alam sekalian.
Melihat Wira mulai tekun belajar, semangatku juga ikut terpompa. Jika Wira menanamkan mananamkan dalam dirinya agar nanti ia bisa lulus dengan nilai memuaskan sebagai tiket hebatnya untuk masuk ke SMA jempolan di kota, aku katakan pada diriku, bahwa aku harus bisa mendudukkan Ama di bangku nomor satu saat hari kelulusan nantinya.
__ADS_1
Saban sore, aku mengajak Wira menemui Kak Cantika, wakil kepala sekolah SMP Anak Semua Bangsa, untuk meminta bimbingannya agar kami bisa melewati UN dan UAS nanti. Awalnya Wira ragu, tapi aku meyakinkannya demi kelulusan kami nantinya.
Kami senang, bisa mendapat bimbingan dari Kak Cantika yang secara tidak langsung telah menumbuhkan cita-cita mulia di hati kami itu. Dari Kak Cantika pula, kami mendapatkan buku kisi-kisi soal UN dan UAS “jitu”. Dan pada malam hari, demi menghargai waktu istirahat Kak Cantika, kami mengerjakan soal-soal yang telah diberikannya kepada kami berulang-ulang di rumah Wira.
Benar kata orang-orang hebat; ‘Kerja keras dan ketekunan tak akan menipu hasil!’
Setelah melalui proses belajar yang panjang, akhirnya aku dan Wira berhasil lulus dari SMP Anak Semua Bangsa dengan hasil memuaskan. Bukan main bahagianya orangtua kami. Apalagi Amaku, meski aku tak bisa mendudukkannya di bangku nomor satu, melainkan nomor dua seperti waktu lulus SD tiga tahun yang lalu, beliau sangat senang, sepanjang hari setelah pengumuman kelulusan itu, Ama, dalam setelan koboi kampungannya menaikkan aku ke pundaknya, mengangkatku tinggi, tinggi sekali. Dijunjungnya aku berkeliling kampung tanpa kenal lelah. Mengabarkan pada semua orang kalau putranya telah lulus SMP dan sebentar lagi masuk SMA.
Aku sayang Ama. Aku ingin kebahagiaan ini tak putus dari wajahnya.
Namun, dari semua konfigurasi kisah ini, yang membuat aku senang bukan main, adalah Wira. Ya, kawanku yang sinting tapi ajaib itu. Jika sejak kelas satu SD sampai kelas IX SMP semester ganjil dia menjadi juru kunci di kelas, alias peringkat pamungkas, di hari kelulusan kami, Pak Anwar, Kak Cantika, seluruh staf guru, tak putus-putus memuji capaiannya. Bagaimana tidak, siapa yang pernah menduga jika siswa se-dungu Wira bisa masuk lima belas besar di hari kelulusan, dari total empat puluh siswa. Coba bayangkan Kawan! Sudah sepatutnya kita mengimani; Man Jadda Wa Jadda. Jika kau bersungguh-sungguh pasti kau akan memetik hasilnya. Apapun itu. Meski seorang Wira, yang bodohnya tak ketulungan itu. Kalau kau bersungguh-sungguh belajar, kau akan pandai.
Camkan itu baik-baik!
ikutin terus update eps-nya ya, Sobat... jangan lupa, kritik dan sarannya...
__ADS_1
Notes :
Catatan kaki ada di sinopsis pisode pertama