NADIR

NADIR
27. RUMAH + SAKIT


__ADS_3

Ternyata tak seperti yang aku bayangkan, sakit Ama kali ini benar-benar serius. Bisa kulihat dari wajahnya yang pucat pasih dan kondisi tubuhnya yang turun drastis. Meski Ama masih bisa tersenyum, aku yakin sakitnya tidak main-main. Biasanya, meski Ama sedang sakit, ia akan tetap malaksanakan sholat dengan berdiri, kalau tak mampu menahan dia paling-paling sholat duduk. Tapi kali ini, kondisi Ama sungguh lemah. Jangankan untuk berdiri, dudukpun ia tak bisa. Terpaksa, ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim dengan cara berbaring di atas kasur. Ngilu hatiku melihat keadaan Ama.


Dari Mangge Raden dan Ina Siti aku baru tau, kalau Ama sudah seminggu terbaring.


“Terus, kenapa aku baru dikabari tadi sore?”


“Maaf, kami sudah mau memberitahumu sejak Amamu kami bawa turun dari kebun... tapi, Amamu, kau tau sendiri dia keras kepala, dia meminta kami untuk tidak memberitahumu dulu, katanya tak mau mengganggu sekolahmu, Uti!”


“Iya, Uti! Tadi sorepun kami tidak memberitahu Amamu kalau kami akan mengabarimu soal sakitnya!” sambung Ina Siti, “Oh iya, Uti, kenapa tak kau ajak pulang sekalian juga si Wira?”


“Tadinya dia mau ikut, tapi aku melarang. Karena, aku pikir sakit Ama kali ini sama dengan sakitnya yang kemarin-kemarin!” aku menunduk, sesak dadaku, “Lalu, menurut Ina dan Mangge, bagaimana?”


“Nah itu masalahnya, Uti, menurut keterangan Bu Bidan, Amamu harus dibawa ke rumah sakit. Tapi, Amamu menolak terus. Makanya, kami memintamu pulang, siapa tau dia mau dibawa kalau kau yang bujuk!”


“Iya, Uti, sudah habis cara kami membujuknya supaya mau di bawa ke rumah sakit, Pak Kades pun, sudah membujuknya. Tapi, kau tahu sendiri Amamu itu. banyak sekali alasannya, katanya dia tak apa-apalah, biaya rumah sakit mahal lah. Padahal dia tak perlu berpikir soal biaya, tak mungkin kami ini membiarkannya!”


Aku masuk ke kamar Ama. Kupijati punggungnya. Tak ada lagi daging di sana, hanya tulang yang dibungkus kulit. Entah ke mana perginya gumpalan otot-ototnya dulu. Lamat kupandangi tubuh Ama yang turun drastis. Kembang kempis dadaku mencoba menahan emosi yang mendesak. Perlahan pijatanku melemah berubah menjadi sapuan lembut. Tak bisa lagi kutahan rasa ngilu yang menohok hatiku. Air bening itu meluruh, menumbangkan pertahananku.


“Ama...,” berat suara itu keluar.


Ama berbalik, menatapku. Kubenamkan wajahku di perutnya.


“Kenapa kau, Uti?” tanya Ama, sembari mengusap-usap kepalaku. Dan itu membuatku semakin jatuh. Bergetar tubuhku menahan pekikan tangis agar tak keluar, namun sia-sia.


“Kenapa kau menangis, Uti?” tanya Ama lagi.


Aku tak bisa menjawab. Akupun tak tahu, kenapa aku menangis. Coba kukuasai diriku.


“Jangan menangis... kau ingat, Ama pernah bilang, laki-laki tak boleh cengeng?”


Kupandangi wajah Ama. Kutelan ngilu dihatiku, “Besok Nadir akan membawa Ama ke rumah sakit.” Kataku.


“Haiss... untuk apa, Uti? Ama tidak apa-apa, paling-paling beberapa hari lagi Ama sudah sembuh lagi.” Katanya, menolak.


“Tapi setidaknya, kita periksakan penyakitmu, Ama.”


“Tidak usah, Uti, Ama tidak apa-apa.” Ia mengusahakan senyum. Sorot matanya yang layu, mengiba, membuatku tak kuat lagi untuk mendesaknya. Aku berbaring di sampingnya. Memeluk tubuhnya. Sudah lama aku tidak memeluk Ama seerat itu.


۝


Ama tidak bisa tidur karena batuk dan sesak napasnya. Aku yang sempat tertidur, panik melihat Ama berkali-kali batuk dan memuntahkan darah kental. Melihat Ama hanya tersenyum lemah sambil bersandar di dinding, aku langsung ke luar kamar, membangunkan Mangge Raden dan Ina Siti. Subuh itu juga, kami membawa Ama ke rumah sakit, menggunakan mobil pikap milik Pak Kades. Bang Akiat siap mengantarkan kami.


Di atas mobil yang berguncang-guncang melewati jalan berbatu dan berlubang, kupangku kepala Ama yang terbaring ringkih. Ku usap keningnya yang legam itu. Air mataku kembali meluruh, untuk kali kesekian ketika probabilitas itu bermain di kepalaku. Oi, apajadinya nanti kalau itu benar terjadi. Amalah alasan terkuat perjuanganku selama ini.


Angin yang berembus terlalu dingin seperti tikaman kristal-kristal es, kurasa. Dingin nan menumbangkan. Merobek kulit, menembus sampai ke ulu hati.


“Sabar, Uti!” Ina Siti yang duduk di sebelahku, mengusap kepalaku.


“Iya, Amamu tidak apa-apa, itu. Yakinlah!” Mangge Raden menguatkan.


Kutatap kedua wajah orangtua itu. Dalam hati aku bersyukur memiliki kerabat sebaik mereka. Setidaknya, dengan kehadiran mereka, aku sedikit bisa tenang. Aku dan Ama tidak sendirian. Masih ada mereka, sanak famili yang peduli dengan kami.


“Terimakasih, Ina, Mangge,” ucapku berat.


Kondisi Ama semakin lemah, sesekali aku mengecek detak jantungnya. Sungguh mati aku takut kalau-kalau dadanya tak lagi kembang-kempis. Aku belum siap meneima kenyataannya.


Lepas dari jalan berbatu dan berlubang, memasuki aspal licin yang merdu di mata kami orang-orang Desa, Bang Akiat yang sudah biasa membawa pasien gawat darurat dari Desa kami ke Rumah Sakit Daerah langsung menekan pedal gas sedemikian dalamnya, tiba-tiba. Sontak tubuh kami terdorong ke bagian belakang mobil. Untung aku berpegang di kerangka besi gerbong belakang yang kusandari. Sementara Ina Siti yang tak sempat mengantisipasi, langsung terhuyung.


“Oi, Ina!” pekiknya.


Ina Siti yang tak bisa menguasai bobot tubuhnya yang sudah terlalu condong ke arah suaminya, langsung menghantam tubuh suaminya. Jadilah mereka berdua berpelukan. Kalau tak sedang menghawatirkan siatuasi Ama, mungkin aku sudah terpingkal-pingkal menertawai kejadian itu.

__ADS_1


“Kenapa kau ini? tidur kau Ina ni¹⁵ Wira?” Mangge Raden mendesis, bagian belakangnya terasa perih karena terantuk sisi gerbong mobil yang disandarinya sejak tadi.


“Maaf, Amanyo... salahnya akiat ini semua!” Ina Siti mesem-mesem memperbaiki posisi duduknya sambil menatap wajah suaminya yang mengencang.


Sampai di halaman rumah sakit yang luasnya kutaksir lima kali lipat luas lapangan sepak bola di Desa, aku hanya mematung, tak tau harus ke mana. Sama sekali tak ada pengalamanku di Rumah Sakit. Kuminta bantuan Mangge, katanya tak tahu juga. Ina Siti, hanya bisa menggeleng. Bang Akiat, katanya selama ini dia hanya mengantar orang sakit, tidak pernah mengurus ini-itu. Oi, ke mana Amaku ini akan kubawa?


Mungkin iba melihat empat orang kampung berdiri di samping mobil pikap plus orang tua bertubuh kurus terus melawan batuknya setengah mati di atas tikar di dalam gerbong mobil, seperti pendaki yang kehilangan kompas di tengah hutan belantara, bingung menebak-nebak arah, seorang satpam rumah sakit berhati mulia menghampiri kami. Kemudian membawa kami menuju IGD.


“Urus administrasinya, di dalam.” Kata Pak Satpam.


“Terimakasih, Pak!” kataku.


Suster-suster rumah sakit langsung berlarian ke arahku yang sedang berdiri di depan pintu Instalasi sambil menggendong orangtua bertubuh kurus. Mereka memintaku untuk meletakkan tubuh Ama di atas kasur dorong―atau apalah namanya benda itu.


Gugup hatiku menghadapi perawat-perawat berparas ayu dengan senyum melengkung ramah itu. Hatiku bergemuruh sesak. Oi oi, seandainya ada Wira, sudah pasti dialah yang mengambil alih semua ini.


Seperti seorang napi yang sedang melakukan sesi interogasi, gugup aku menjawab pertanyaan-pertanyaan perawat.


“Sejak kapan beliau memuntahkan darah?”


“Se... semalam Dokter... Suster....”


“Suster saja!” katanya.


“Iya, suster.”


“Beliau punya BPJS?”


Aku melongo. Apalah BPJS ini?


“Hmm... mungkin, tidak ada Sus!”


“Hmm... tidak ada... ya, tidak ada!” aku menegaskan.


“Ada bawa SKTM?” tanya Suster lagi.


Oi, apalah lagi “SKTM” ini? perlukah pertanyaan-pertanyaan ini, sementara Amaku sudah setengah mati bertarung melawan batuk dan sesak napasnya? Rawatlah dulu! Haiss... aku mengomel dalam hati.


“Sejenis KTP kah itu, Sus?”


“Bukan... Surat Keterangan Tidak Mampu!” terangnya.


“Ada surat yang macam begitu?” tanyaku, baru kali ini aku mendengar ada surat yang bisa menerangkan tentang status ekonomi seseorang, dibuat di Desa pula.


“Iya, ada... jadi adik punya, SKTM?” tanyanya sekali lagi.


Aku menggeleng.


“Baiklah... orangtua adik, akan di bawa ke ruang bougenvill sal 2... nanti perawat yang mengantarkan!” terangnya, lagi.


“Oh, iya terimakasih, Sus!” kataku.


“Tapi sebelum itu, adik harus membayar administrasi sebanyak 100.000 rupiah terlebih dahulu!”


Nah, disinilah poin pentingnya.


“Tak boleh bayar di belakang, Sus? Soalnya Amaku sudah sekarat itu!”


“Maaf, Dik, ini sudah ketentuan rumah sakit!” katanya lembut. Namun terdengar sangat kasar ditelingaku.


“Kalau begitu tunggu sebentar, Sus!”

__ADS_1


Kutemui Ama-Inanya Wira, berharap mereka bisa meminjamkanku uang sebanyak itu , sebenarnya aku ada uang, tapi dalam rekeningku semua.


“Tak bawa uang kami ini, Uti!” ucap Mangge Raden, gelisah.


“Tak bisa di bayar nanti?” tanya Ina Siti.


“Tak bisa Ina.”


“Jadi?”


“Sebenarnya aku ada uang, tapi dalam rekening semua... rekening pun tak kubawa sekarang, kutitip sama si Wira di kos!” kataku.


“Jauh kosmu itu?”


Aku baru sadar, kalau Ina Siti belum pernah sekalipun menjenguk kami di kos. Hanya Mangge Raden, sesekali.


“Tidak begitu jauh, tapi percuma juga Ina, Bank baru buka besok pagi!”


“Jadi, bagaimana ini?”


Lagi-lagi peruntunganku ditolong oleh seorang Satpam. Tidak di BIS, bukan pula di Rumah Sakit ini. Seakan dalam sekuens hidupku ini, Satpam adalah malaikat penolong yang dikirimakan Tuhan kapan dan di mana saja aku terdesak.


Hanya dengan stempel janji dan sumpah mati, Pak Satpam itu mau memberikan pinjaman uang sebesar itu kedapaku.


“Terimakasih, Pak... sekali lagi terimakasih... besok saya janji, akan mengembalikan uang Bapak!” kataku kepada Pak Satpam, sembari mencium tangannya.


“Ah, tak usah kau pikir itu, yang penting keselamatan orangtuamu dulu!” katanya. Oi, cantiknya hati Pak Satpam ini.


Maka, untuk kami orang Desa yang selalu punya potensi tersesat di Rumah Sakit yang memiliki banyak bangunan dan ruangan ini, Pak Satpam jugalah yang membantu kami membawa Ama ke ruang Bugenvil sal 2 itu. Karena kejadian malam ini aku bersyukur, kedepannya aku bisa akrab dengan Pak Satpam yang ringan tangan membantu sesamanya, itu.


Ruangan bernama Bugenvil sal 2 itu kupikir adalah sebuah ruangan luas dengan dua dipan dorong, kamar mandi khusus, kulkas tempat mendinginkan minuman, seperti kamar rawat yang sering kulihat di film-film. Ternyata sama sekali tidak. Jauh... jauh sekali bedanya.


Ruangan dengan nama seindah bunga itu, tak lain adalah kamar kelas 3 yang dihuni tidak kurang dari sepuluh pasien. Tak ada pembatas, semuanya bisa say-say Halo sambil menyeringai tanpa adanya tirai penghalang. Dan lebih parahnya lagi―sungguh aku geleng-geleng jika membayangkan ruangan itu, sampai saat ini―kamar mandinya jauh dari kata layak. Apalagi dikhususkan untuk orang-orang sakit.


Sudah airnya macet... lantainya licin berlumut, closetnya tersumbat sehingga telah disediakan sikat closet untuk mendorong kotoran sampai masuk dan meluncur bebas menuju sepiteng. Dan baunya, hmm... tak usah kau tanya, Kawan, sekali hirup saja bisa pusing kepala kau sampai berhari-hari. Macam zat halusinogen, begitu. Haiss... pokoknya kalau ada mesin pembunuh biologis paling kejam, bau kamar mandi ruangan inilah detonatornya.


Sepintas aku berpikir, kalau kondisi semua ruangan di rumah sakit seperti ini, mungkin namanya harus diganti. Bukan rumah sakit lagi, tapi, rumah bikin orang sakit.


۝


Pagi sekali, Ama dan Ina ni Wira pamit pulang. Katanya mereka ingin mengurus sesuatu di desa. Mereka janji untuk kembali lagi ke sini, nanti. Dengan berat hati, aku mengantar keperdian mereka. Sungguh aku sangat ingin mereka tetap ada di sini, menemaniku dan Ama. Tapi tak mungkin juga aku menahan mereka di sini, sementara mereka punya kebutuhan lain.


“Kau jaga baik-baik, Amamu itu, Uti!” peasn Ina Siti.


“Iya, Ina.”


“Kami pulang dulu, nanti kalau ada kesempatan kami ke sini lagi, menjenguk!” tambah Mangge.


“Iya, Mangge.”


“Nanti juga, kami akan singgah di kos, mengabari Wira... mudah-mudahan dia belum berangkat ke sekolah!”


“Terimakasih, Mangge, Ina, Bang Akiat, sudah mau membantu!”


Mobil pikap itu menderu, meninggalkan halaman rumah sakit. Dengan perasaan campur aduk, aku kembali ke ruangan Ama.


۝


Notes :


Catatan kaki ada di episode pertama.

__ADS_1


__ADS_2