NADIR

NADIR
17. DI BAWAH LANGIT YANG SAMA


__ADS_3

Di lansekap malam yang maha lembut, kerlip gemintang seumpama pualam yang disapu berkas-berkas cahya. Indah kemilau. Seakan bersurat pada setiap pandang, bhawa dialah pemilik keindahan malam yang sempurna. Candra ibarat lampu halogenik super besar yang pernah ada, meyudutkan gelap dengan rekah sinarnya, menguarkan sejuk, menyingkap ketenangan. Memberi jeda para petani desa untuk menikmati masa tenangnya, setelah seharian bergemul dengan pekerjaan dan sengatan terik.


Saat malam menjelang pelosok desa, apabila angin menerpa, terciptalah kemerduan. Terciptalah gemerisik dari rumpun pea-pea―tumbuhan rumput yang batangnya bisa dijadikan anyaman tikar, bakul, dan topi―yang tumbuh lebat di daerah-daerah rawa tepi sungai koili.


Daun-daun tamalang kering yang meluruh di atas air sungai menciptakan lingkaran-lingkaran riak geometris yang ajaib, tepinya yang menggelembung memantulkan bias rembulan. Memberi kesempatan bagi kalong-kalong berpesta di pepohon jambu air yang sudah ranum buahnya. Apalagi di pohon tamalang tadi, anak-anak kolibri yang baru menetas, bercuit-cuit sesekali, mengundang harmoni yang dalam. Menenggelamkan.


Seperti yang kita sadari, alam adalah kanvas bagi malam, bersama pantulan sinar langit yang jauh lebih biru dan terang di bulan Mei, terciptalah siluet-siluet raksasa bak lukisan hitam-putih berfigura cahya yang kemilau. Sungguh, sebuah adikarya akbar Seniman nomor wahid yang pernah ada.


Dan, di antara siluet-siluet itu, kami merebahkan tubuh di punggung tanah yang lembab, menatap langit malam yang―sudah kukatakan―terlalu biru dan terang di bulan Mei. Tangan kami terlipat sebagai bantal, mata kami tajam menikam langit. Senyum pun tak putus melengkung. Ada asa yang tergambar di atas sana. Di antara rasi bintang yang bermain mata.


Aku dan Wira menikmati kelengangan di tepi sungai koili. Menunggu, umpan-umpan kami disambar ikan sungai yang pongah.


“Kau tahu, akan kuciptakan lagu untuk malam...,” Wira bergumam.


“Akan kusitir puisi tentang langit yang biru itu!”


“Demi mimpi!”


“Demi cita-cita!”


“Demi Melodi,” Tambahnya.


“Demi penantian panjang,” timpalku. Kami terkekeh, samar.


Telah kami sepakati, sepanjang malam ini kami akan terjaga, menemani sungai koili yang kesepian. Berkeluh-kesah, bercerita, atau sekdar tertawa dan mengenang bersamanya. Menjadikannya saksi semesta. Demi mimpi dan cita-cita, demi menghargai kebahagiaan, demi bunga cinta yang perlahan mekar di sepenggal hati, dan demi tahbisnya perkawanan.


Aku dan Wira semakin bersemangat ketika pelampung-pelampung kail kami timbul tenggelam, pertanda ada ikan yang tersangkut di kailnya. Sampailah kami pada puncak seni memancing. Melatih kesabaran. Sport jantung. Di bawah sana, si balik gelaran arus sungai, ada harapan dan kekecawaan, menarik. Terciptalah tarik ulur yang panjang, sampai ada yang mengalah. Apakah ikan pongah itu? Kail pancing? Senar? Atau bisa jadi si pemancing, karena tidak mampu menahan kesabarannya lebih lama. Ya, usaha adalah bukti dari kesabaran. Keputusasaan adalah kejumawaan.


Seperti itu kiranya, pandangan kami tentang olah raga memancing ini.


Di sebelahku Wira berseru. Ia berhasil mencapai puncak ketegangan dalam seni memancing. Seekor ikan patagan¹⁴ seukuran papan berhasil ia takhlukkan. Tangkapan pertama yang besar.


“Tak usah kau lihat aku, Kawan. Perhatikan pancingmu, jangan sampai kau kalah denganku!” serunya, sembari melepaskan ikan dari mata pancing.

__ADS_1


Aku kembali pada pancingku, adrenalinku terpacu melihat stik bambu mulai melengkung bersamaan dengan senar plastik meregang. Aku mengikuti tempo sang ikan, terciptalah desis-desis tipis di air. Aku tak mau kalah, aku harus menakhlukkan ikan itu, sebagaimana Wira. Namun sayang, karena dalam setiap pertarungan harus ada pihak yang kalah, hasilnya, senar pancingku putus. Jika Wira mendapatkan harapannya, aku kecewa. Tapi, tak apalah, setidaknya aku bisa memetik makna filosofis dari olahraga memancing ini. Lagilagi kesabaran.


Aku mendekati Wira yang sedang menghidupkan api.


“Kenapa, Kawan?”


“Senarku, putus!”


“Ah tidak apa!”


Setelah mengganti senar dan mata pancing, kutancapkan lagi stik bambu di pinggir sungai, berharap selanjutnya aku bisa mendapat ikan, seperti Wira. Ketika kutancapkan stik bambu ke tepi sungai, aku berubah takjub saat mataku menangkap kemilau biru di punggung sungai, menampakkan cetak-cetak cekung dengan sudut-sudut lengkung di sana. Kemilau.


Malam semakin larut, rembulan masih tetap kentara, meski sesekali sinarnya terhalau awan-awan mamatus. Aku dan Wira, menikmati bekal nasi yang kami bawa dan ikan patagan bakar, plus sambal tomat yang khusus dipersiapkan Wira. Mencium aroma ikan bakar, yang menguar wangi saat Wira mulai membubuhkan sambalnya, liurku mencair. Tak sabar ingin kulahap habis menu kami malam ini. Oi.


Aku megap-megap, berkali-kali menenggak air. Wira mendesau-desau, seperti angsa milik Mangge Rustam, karena kepedisan setelah menyantap bekal. Padahal sejak awal aku sudah berencana untuk melahap semua hidangan itu sampai habis, karena lapar. Namun, ikan patagan bakar itu masih tersisa sebelah, terlalu besar untuk kuhabiskan. Meski kami masih ingin menghabiskan, apalah daya, perut kami tidak bisa lagi menampung.


Sebagaiman kegiatan kamping pramuka di acara PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu), kami telah menyiapkan segala sesuatunya, semua perlengkapan berkemah, termasuk kopi. Ya, kami membawa setermos kopi.


“Tenang sekali suasana malam ini, Kawan!” ucap Wira, sambil menyesap kopinya.


“Kau benar, apalagi langit sangat cerah. Rasanya, aku tak ingin meninggalkan tempat ini.”


“Bagaimana kabarnya, Melodi, di seberang sana?” Wira bertanya secara retoris, “Apa surat yang kita kirimkan untuknya sudah sampai? Ah, adakah dia menatap langit yang terlalu biru malam ini? sama seperti kita?”


Aku tak menggubris, hanya diam. Biarlah pertanyaan-pertanyaanku kusimpan sendiri.


“Tak terasa kita sudah sampai sejauh ini.” tambah Wira, lagi. “Aku tak menyangka, kalau kita bisa mewujudkan mimpi-mimpi kecil ini... sama sekali tak pernah!”


Kupangku kakacapi ondong yang sengaja kupinjam dari Ama untuk malam ini. Kupetik-petik samar. Sudah lama, sejak Ama mengajariku, baru malam ini lagi aku memainkan benda ini lagi. Enak juga kudengar petikanku diselimuti lengangnya malam ini.


Pelan-pelan kumainkan petikan lagu Rindu Merayu seperti yang dinyanyikan Ama malam itu. Terbayang pusara Ina, wajah Ama yang malam ini sendiri di rumah. Oh, cuaca hatiku secepat itu berubah rindu.


Wira mulai bersenandung samar. Sepertinya ia cukup tahu lagu ini. Kuhentikan petikan, kupejamkan mata, menikmati kesunyian yang merdu ini. Sekelumit kisah bermain dalam benakku. Dongeng-dongeng Ama, kisah hidupnya bersama Ina, dan lagi saat-saat di mana Ama menaikkan aku ke pundaknya, mendukungku berkeliling ladang, memelukku, menciumku lembut, maka entah kenapa air mataku meluruh seketika kuingat lagi waktu Ama terbaring lemah di kasurnya. Ngilu hatiku.

__ADS_1


“Kau kenapa, Kawan?” tanya Wira, karena aku tiba-tiba berhenti memainkan kakacapi, “Kau menangis?”


“Ah, aku hanya terharu saja, ternyata kita bisa sampai sejauh ini.”


“Memang, kalau diingat-ingat, semua ini mengharukan.” Wira menatap kosong ke keremangan di punggung sungai koili, “Tiba-tiba saja aku rindu pada seseorang?” Wira setengah berbisik, tapi aku bisa mendengar.


“Hanin, kah?” tebakku.


Wira tersenyum, “Haiss... kau ini! iringi aku bernyanyi!” pintanya.


“Cinta memang selalu punya sisi yang unik.” Gumamku, sambil mesem-mesem.


Kuubah seteman senar kakacapi. Aku sudah mempersiapkan lagu untuk remaja yang sedang dilanda kegandrungan seperti Kawanku ini. Saban malam, sejak hari pengumuman seleksi masuk SMA, saat pertama kali bertemu Hanin, aku sering mendengar lagu ini dinyanyikan Wira―Tak Bisa Ke Lain Hati―Kla Project.


Oh, bisa kurasakan dalamnya cinta Wira terhadap gadis Cina bernama Hanin itu. Suaranya yang halus namun tajam, membelah kesunyian malam di tepi sungai koili. Hatiku ikut nelangsa, mengiringinya. Tertarik kedunianya yang berbunga-bunga. Amboi....


Sinar rembulan yang membuat langit terlalu biru di atas sana, seakan meluruh. Menyapu dingin tubuh kami, menembus ke kedalaman kritis hati kami dengan merdu. Menguarkan rindu, menyiratkan asa, menyuratkan harapan, cita, dan cinta.


Di bawah langit yang sama kami berdiri,


Di bawah langit yang sama kami berlari,


Di bawah langit yang sama kami berjanji,


Di bawah langit yang sama, akan terwujud mimpi-mimpi.


۝


Jangan lupa kritik dan sarannya, di tinggalin di kolom...😁


Notes :


Catatan Kaki ada di episode pertama.

__ADS_1


__ADS_2