NADIR

NADIR
Nadir ~ 2/3 Akhir


__ADS_3

Juni lari kebelakang sekolah, saat ia mendapatkan olokan olokan dari teman sekelasnya, Juni tidak tahan berlama lama berada disana.


Juni menyandarkan punggungnya kebatang pohon besar, kemudian mulai duduk perlahan. Juni menangis, ia merasakan sakit, semuanya sudah membenci dirinya.


Juni menenggelamkan kepalanya dengan tangan terlipat, isakan tangisnya terus keluar, tapi tak ada yang mendengarnya. Juni hanya sendirian dibelakang sekolah.


Angin kini bertiup lebih kencang, rambut Juni mulai berantakan. Tiba tiba tangan seseorang mulai merapikan rambut Juni, kepala Juni langsung mendongak melihat seseorang itu.


"Ternyata lo disini," ucap Arkan tersenyum.


"Arkan?"


Arkan mengambil posisi duduk disamping Juni, pandangannya lurus kedepan.


Juni yang melihat Arkan datang tiba tiba menjadi heran, "Lo ngapain disini? lo kok bolos? emang boleh anak unggulan bolos?" tanya Juni bertubi tubi. Arkan tertawa kecil mendengarnya. Anak unggulan tak sebaik yang kalian pikir, terkadang mereka juga ada merasa lelah dan mulai malas.


"Gue cuman liat lo lari kesini tadi, gue dari lab biologi, jadi karna gurunya gak masuk yaudah gue nyari lo aja." ucap Arkan masih menatap kedepan.


"Buat apa nyari gue?"


Arkan memalingkan pandangannya, matanya menatap wajah Juni yang sedikit pucat.


"Gue tau apa yang terjadi sama lo,"


Seketika Juni terdiam, bibirnya kaku berbicara. Juni takut jika Arkan marah padanya.


"Kenapa? kok tegang gitu?" Arkan menuatkan kedua alisnya karena melihat ekspresi wajah Juni yang tiba tiba berubah.


"Gak, gak papa. Gue ke kelas dulu." Juni berdiri tapi tangannya langsung dipegang oleh Arkan.


"Disini aja, nanti lo di buli lagi kalau ke kelas," ucap Arkan, Juni diam dan sedikit gugup. Juni kembali duduk disamping Arkan.


"Ar," panggil Juni.


Arkan menaikan satu alisnya, "Apa?"


"Lo marah sama gue yah? lo bencikan sama gue karna gue udah hianati Binar." Juni menunduk mengatakannya.


Arkan diam sejenak, dia seperti berfikir.


"Sebenarnya sih iya," Juni langsung memasang wajah takut, "tapi gue pikir pikir lo bagus juga buat gitu." ujar Arkan jujur.


"Kok bagus?" tanya Juni heran.


Arkan tersenyum tipis lalu mendekatan posisinya pada Juni, "Karna gue juga gak suka liat Binar dekat dekat sama Awan." bisik Arkan lalu tersenyum kecil.


*

__ADS_1


Binar masuk kedalam rumahnya, dia sudah sangat lelah satu harian diluar rumah tanpa makan bahkan minum. Binar langsung segera menuju dapur dan membuka kulkas dan memakan makanan yang bisa dimakan disana. Perut Binar benar benar sangat lapar sekali.


Binar membawa semangkut sereal dengan susu dan air dingin ke atas meja makan. Binar menyantapnya dengan lahap.


Mungkin seperti inilah yang akan terjadi jika seseorang kabur dari rumah dan lupa membawa dompet, yah Binar semalam lupa membawa dompetnya yang tertinggal di atas meja belajarnya.


Binar menghabiskan satu mangkuk sereal tanpa tersisa, sekarang perut Binar sudah terisi, dan dia merasakan perutnya hampir meledakan.


Binar mengelus pelan perutnya, "Jangan berojol dulu yah nak, kita cari papamu." ujar Binar terkekeh pelan.


Binar masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini, tidak diduga ternyata makanan mampu menghilangkan rasa sakit sementara.


Setelah makan, Binar membersihkan dapur dan ruang tengah lalu Binar naik keatas, masuk ke kamarnya.


Binar merebahkan badannya di atas kasur miliknya, matanya menatap langit langit kamarnya, seketika mata Binar terpejam, dia sangat lelah sekali.


Baru beberapa jam Binar memejamkan matanya, ponselnya sudah nyaring berdering, menganggu Binar untuk terlelap.


Binar membuka ponselnya, banyak sekali panggilan dari Biru, tapi Binar mengabaikannya.


Binar mulai memejamkan matanya kembali, tapi karena sudah merasa terganggu tadi, Binar tidak dapat kembali tidur.


Binar mengacak rambut, lalu Binar melihat jam dinding di kamarnya. Pukul 19:15, ternyata sudah malam.


Ini sangat melelahkan, satu hari penuh dengan kesunyian. Mungkin ini adalah tempat seharusnya bagi Binar.


Awan


Lo dimana?


Binar tersenyum tipis, tapi mengingat tentang Juni, Binar memudarkan senyumannya.


Binar


Kenapa?


Awan membalas pesan Binar dengan cepat


Awan


Gue mau ketemu lo, keluar sekarang, gue didepan rumah


Mata Binar langsung terbelalak, Binar berlari kearah jendela lalu membuak gorden jendelanya. Binar melihat ada Awan di bawah sana.


Dengan cepat Binar langsung turun kebawah.


Binar menghampiri Awan yang sedang berdiri bersandar di mobilnya.

__ADS_1


Saat Binar keluar dari pintu rumah itu, Awan langsung tersenyum dan berlari kearah Binar. Awan langsung memeluk Binar.


"Gue khawatir sama lo, lo gak papa kan?" ujar Awan, di wajahnya tampak bahwa dirinya benar benar khawatir.


Binar hanya diam tak membalas pelukan Awan, dirinya seolah olah sedang tidak menginginkan sosok Awan.


Binar masih tetap diam ketika Awan memeluknya lebih erat lagi, kerinduan dan kekhawatiran Awan dirasakan oleh Binar.


Binar membiarkan Awan memeluknya dengan sepuasnya, karna ini adalah hari terakhir Awan memeluk Binar.


"Lo gak papa kan?" tanya Awan lagi, Awan melepaskan pelukannya.


"Gak, gue gak papa kok."


Awan memegang pipi Binar yang terlihat pucat, "Muka lo pucat banget, lo sakit?"


Binar menggeleng pelan, senyum di bibirnya mengembang tipis.


"Awan." panggil Binar.


"Kenapa?"


Binar menarik nafas dalam dalam, ini adalah jalan terbaik untuknya, bahkan untuk Awan.


"Kita udahan yah."


Mata Awan terbelalak, apa ini? kenapa Binar mengatakan seperti itu.


"Gue sayang sama lo, banget." Binar menatap Awan penuh arti, "tapi gue juga sayang sama sahabat gue, gue gak mau liat sahabat gue kehilangan orang yang pernah dia sayang cuman karena gur, gue harap lo paham yah."


Awan yang tadinya bahagia karena bertemu Binar sekarang benar benar merasa kehilangan.


Binar langsung memeluk Awan, pelukan yang memberi kehangatan sekaligus kesedihan. Binar yang tak tahan menahan air matanya, kini mengalir begitu saja.


"Awan jaga diri baik baik yah, Binar sayang banget sama Awan." ujar Binar lalu melepas pelukannya dan berlari masuk kerumah.


Binar tak tahan jika ia berlama lama disana.


Awan yang ditinggal Binar hanya terdiam, matanya menatap kehampaan. Kepergian Binar membuat hilang arah, tentang kebahagia yang pernah ia rasakan mendadak pudar.


Mungkin inilah, pondasi yang terlalu rapuh diterjang berkali kali oleh badai maka akan runtuh.


Binar menutup pintunya rapat rapat, tak tsu apa yang dia perbuat itu adalah kebaikan atau kesalahan.


Binar hanya ingin melihat orang yang dia sayang bahagia.


Awan adalah pacar Binar, dan Juni adalah sahabatnya. Bagi Binar dia masih lebih membutuhkan sahabat dari pada pacar, tak masalah kehilangan cintanya untuk saat ini, setidaknya persahabatannya tetap terjalin dengan baik.

__ADS_1


Binar masuk ke kamar dan menghempaskan badannya keatas kasur. Kasur dan bantal milik Binar menjadi saksi bahwa Binar menangis habis habisan malam ini.


__ADS_2